Teh Ely atanapi Kang Ely ieu teh ? 
Nepangkeun abdi Kebo Hideung anu tandukan anu sok ngagadil jalma anu sok 
ngajejeleh baturna sorangan bari jeung teu bener.

Punten Teh Ely/Kang Ely abdi ngiring mairan seratan Teh Ely/Kang Ely.

Alhamdulillah abdi diangken janten Anggota Millis KUSNET, abdi oge ngarasa 
reueus kuayana Millis KUSNET, kuayana millis Kusnet jadi nambahan duduluran, 
jadi manggihkeun wargi atawa nepangkeun baraya. 

Teu saeutik dulur Kusnet papanggih jeung sobat baheula alatan ngiluan millis 
Kusnet, loba oge dulur millis Kusnet anu manggihan atawa meunang jodo, pagawean 
jrrd syareatna kualatan ngiluan millis Kusnet. Malahan teu kaitung dulur Kusnet 
anu nimu kabungahan dina millis Kusnet, anu mana kabungahan atawa rasa bagja 
eta teu aya di imah, di kantor oge di balong.

Teh Elly/Kang Elly anu sok ngurusan masalah masyarakat, (duka masyarakatna, 
masyarakat naon?), peupeujeuh tong osok nyandak kasimpulan saupamana can 
ngarti... 


Kebo Hideung


  ----- Original Message ----- 
  From: ely evalita 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, August 02, 2007 10:38 AM
  Subject: [Urang Sunda] Mangga nyanggakeun.



  Wilujeng tepang akang anu kasep teteh anu geulis.

  Pribados ngartos anggauta milist KUSNET moal tertarik kana soal anu rada 
serius atanapi anu rada berat. Hal ieu dilantarankeun anggauta milist samodel 
kieu mah umumna jalmi anu  pangangguran matuh atanapi pensiunan anu teu aya 
pacabakan deui, dari pada nganggur ngantosan maot. Aya oge sih mahasiswa, tapi 
umumna mahasiswa kuuleun malih panginten mahasiswa abadi ............. kitutah 
panalungtikan pribados anu sapopoena ngurus masalah sosial masarakat.........

  Tapi pribados bade nyobian posting e-mail anu rada serius, sanaos pribados 
yakin moal aya hiji oge anu bakal ngabahas ieu posting kulantaran daya nalar nu 
maca moal dugi, malah meureun aya baraya anu mikir dina utekna, tong boro 
ngabahas atawa  mikiran posting Teh Ely, mikiran keur eusi beuteung pribadi 
jeung kulawarga wae teu nepi.

  Mangga atuh geura di aos ieu posting hasil "copy-paste" ti rerencangan di 
Bandung

  wass
  Ely anu geulis.


  Subject: Orang-orang Terkaya Indonesia dan Masa Depan
  Kita

  Orang-orang Terkaya Indonesia dan Masa Depan Kita

  Siapa saja sih orang-orang terkaya di negeri ini?

  Dari angkatan lama ada Sukanto Tanoto, Putera
  Sampoerna, Eka Tjipta Widjaja, Rachman Halim, Robert
  BudiHartono, dan Liem Sioe Liong yang selalu jadi
  langganan Forbes. Ada juga pengusaha lokal seperti
  Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro dan yang baru
  seperti Eddie William Katuari, Trihatma Haliman, atau
  Chairul Tanjung.

  Ada juga beberapa junior seperti Sandiaga Salahuddin
  Uno dan Patrick S Walujo yang kelak berpotensi menjadi
  yang terkaya di Indonesia. Sandi adalah Ketua HIPMI
  dan mantan *credit officer* Bank Summa. Tahun 1998
  Sandi dan Edwin Soeryadjaya mendirikan Saratoga
  Capital. Mereka mengantongi US$ 1 miliar dan
  investasinya masuk kemana-mana. Sandi kini juga
  mengejar proyek Tol Cikampek-Palimanan dan tambang
  emas Newmont di NTB.

  Sedangkan Patrick adalah mantan bankir Goldman Sachs
  yang kini nahkoda Northstar Pacific. Walau baru 3
  tahun, ia sudah mengantongi Alfa Retailindo dan Alfa
  Mart yang dulu di bawah Sampoerna. Northstar juga
  memiliki perusahaan LNG dan ladang migas di Sumatera
  Selatan. Dana yang dikelolanya sekitar US$ 100 juta
  dan sebagian dari Texas Pacific Group. Mereka juga
  sedang memburu Garuda Indonesia dan Blok Cepu.

  Ada pula Rosan P Roeslani, yang bersama Sandi
  membangun Recapital Advisors; dan Tom Lembong, yang
  mengakuisisi BCA lewat Farindo. Recapital mengantongi
  Bank BTPN dan memenangi tender Dipasena, tambak udang
  terbesar Asia Tenggara. Sedangkan Tom adalah jebolan
  Morgan Stanley dan mantan Kadiv *Asset Management
  Investment* BPPN yang kini mendirikan Principia
  (Quvat). Quvat punya US$ 150 juta dan memegang Adaro
  serta Blitz Megaplex Cinema. Dalam pembelian Adaro;
  Sandi, Patrick, dan Tom tergabung dalam konsorsium
  dibantu Edwin dan Teddy; plus Erick Tohir, pemilik
  Grup Mahaka.

  Mahaka sendiri pemegang sahamnya adalah M Lutfi, bekas
  ketua HIPMI yang jadi Kepala BKPM. Lutfi adalah putra
  Gunadarma yang sebelumnya adalah menantu Hartarto
  (Menperin Orde Baru). Bekas istrinya punya sekolah
  desain, ESMOD, dan istri Lutfi kini adalah Bianca
  Adinegoro. Ada juga Erick Tohir dan Boy Garibaldi
  Tohir. Erick sedang menggenjot JakTV bersama Artha
  Graha Group, sambil memosisikan Republika di 3 besar.
  Sedang Boy Garibaldi adalah salah satu direktur Adaro.
  Erick pernah mengatakan bahwa Lutfi dan Wisnu Wardhana
  tak aktif di Mahaka. Barangkali Wisnu sekarang sibuk
  mengurus perusahan sekuritas dan pembangunan apartemen
  di depan BEJ.

  Nama lain yang cukup berkibar adalah Hary
  Tanoesoedibjo dari Bhakti Asset Management dan Global
  Mediacom. Bhakti pernah sukses membeli Salim
  Oleochemical dari BPPN. Hary Tanoe pernah mendirikan
  Indonesia Recovery Company Limited bersama Asia Debt
  Management. Ia juga dikenal dekat dengan George Soros
  dan sering dititipi dana investasi para konglomerat
  papan atas, termasuk Salim. Belakangan Harry dikenal
  sebagai raja media dengan bendera MNC.

  Ada juga *rising star* grup Axton yang baru memulai
  bisnis. Pemiliknya konon anak muda berusia 25 tahun
  yang merangkak dari nol. Mereka mengelola dana
  investor dengan menerapkan *value investing* ala
  Warren Buffett. Sayang saya kurang informasi mengenai
  mereka. Ada yang bisa menambahkan? Yang jelas, mereka
  semua adalah anak-anak muda brilian, berlimpah harta,
  lulusan luar negeri, punya pengalaman segudang, dan
  *closely-related each other*.

  Bagaimana Mereka Membangun Kekayaan Keberadaan
  orang-orang terkaya di sebuah negara penting untuk
  menggerakkan ekonomi secara agregat dan memberi efek *
  multiplier*. Mereka juga bisa menghitamputihkan
  bangsa, dan bahkan, sampai jadi bahan gosip tak
  berkesudahan. Mereka jualah yang sebenarnya menggambar
  cerita masa depan bangsa.

  Di Amerika, banyak pengusaha kecil yang kemudian jadi
  besar. Tengok Google.
  Mereka punya kapitalisasi di atas Coca Cola (US$ 137
  milyar) dan hanya sedikit di bawah Intel. Jaringan
  ritel Wal-Mart yang dimulai Sam Walton dari nol, kini
  kapitalisasi pasarnya hampir US$ 200 milyar. Dan yang
  fenomenal tentu Microsoft dengan kapitalisasi hampir
  US$ 300 milyar. Kalau tahun 1991 lalu saham MSFT
  dihargai cuma US$ 5, kini sudah lebih dari US$ 80 per
  lembar. Angka ini cuma bisa dilampaui Exxon Mobil yang
  memang sudah mapan lebih dari seabad dengan
  kapitalisasi US$ 473 milyar.

  Iklim investasi di Amerika memang sudah terbangun
  sedemikian rupa dan tersedia berbagai insentif bagi
  (calon) wirausahawan yang bermaksud membangun bisnis
  baru. Berbagai peraturan dan *rule of the game* juga
  jelas ditegakkan dan menjamin kelangsungan usaha
  mereka. Dan memang bisa dikatakan bahwa cukup banyak
  orang-orang terkaya di Amerika yang memulai usahanya
  dari nol karena memang dikondisikan demikian. Berbeda
  180 derajat dengan di Indonesia.

  Di Indonesia, orang-orang terkaya cenderung (maaf)
  masih *rent seeking* dan kurang kreatif. Calon
  orang-orang terkaya masa depan itu berangkat bukan
  dari bawah. Mereka jago *finance*, punya *linkage*
  dengan *funding body* di luar negeri -- namun tak
  punya fondasi industri yang kokoh. Mereka "cuma"
  pinjam uang ke luar, membeli perusahaan yang dihajar
  krisis moneter 1997, lalu tinggal menuai panen. Mereka
  membentuk semacam *private equity* atau *hedge fund*
  untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. BPPN atau PPA-lah
  yang jadi *makcomblang* tender jual-beli ini.
  Namun naluri su'udzon saya bilang bahwa mereka juga
  berinvestasi di politik.

  Misalnya, ingat kasus BLBI. Seperti kita tahu, tender
  biasa dilakukan di Gedung Bidakara, milik BI. Kita
  juga tahu bahwa petinggi BPPN kebanyakan merupakan
  keluarga BI. Lucunya, ada salah satu parpol yang juga
  dekat dengan BPPN dan sering mengadakan hajatan di
  Gedung Bidakara. Partai tersebut juga mencak-mencak
  ketika namanya disangkutkan dengan kasus DKP dan
  mengancam siapapun yang mengungkit dana DKP dengan
  alasan *character assasination*.

  Kalau tidak salah, partai tersebut juga yang
  meloloskan Anwar Nasution sebagai ketua BPK. Anwar
  adalah mantan Deputi Gubernur BI dan BPK adalah
  lembaga superior satu-satunya yang bisa "mengaudit"
  kinerja BPPN dan BI.

  Nah, pertanyaan su'udzon saya, apakah
  perusahaan-perusaha an murah tersebut memang dijual
  kepada *bidder* terbaik dengan harga tertinggi; atau
  orang-orang terkaya masa depan Indonesia tersebut
  mendapatkannya lewat cara lain? Silakan simpulkan
  sendiri.

  Tentang Temasek dan Singapura.

  Yuk beralih sebentar ke Singapura.

  Temasek<http://www.temasekholdings.com.sg/>,
  bagi saya, adalah model bisnis yang sangat bagus.
  Temasek adalah ramuan antara talenta bisnis, visi
  strategik, dan kekuatan politik yang rancak.
  Mereka mengumpulkan aset yang nilai intrinsiknya di
  bawah nilai pasar, lalu dibeli dan dipoles, sampai
  harganya membumbung
  tinggi<http://nofieiman.com/2006/09/how-to-create-shareholder-value/>
  .
  Kendati mengendalikan portofolio senilai lebih dari
  $80 milyar, sejak ditangani Ho Ching tahun 2002,
  organisasi Temasek bisa dibilang *plain* dan simpel.
  Sangat efisien. Temasek cuma punya tiga *senior
  managing director*dan delapan *managing director*.
  Mereka inilah yang berburu aset-aset strategis untuk
  dibeli -- terutama di luar negeri. Mereka membeli
  perusahaan-perusaha an yang "nampak" kurang sehat dan
  mengambil dengan proporsi yang sangat besar sehingga
  memegang kontrol pengambilan keputusan.

  Direksi Temasek juga merupakan tokoh terkemuka dari
  kalangan pemerintahan dan politik, seperti S
  Dhanabalan, Kua Hong Pak, Koh Boon Hwee dan Kwa Chong
  Seng, Lim Siong Guan, Sim Kee Boon, yang sangat
  berpengaruh dan dipercaya oleh pemerintah. Mereka juga
  menjadi direktur di perusahaan pemerintah lainnya. Di
  Temasek, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas
  persetujuan Presiden Singapura. Jelas, operasional
  Temasek sangat terbantu oleh kekuatan politis ini.

  Talenta bisnis orang-orang Temasek juga jempolan.
  Sebutlah Kua Hong Pak, direktur PSA sekaligus orang
  dekat Lee Hsien Loong; Goh Yew Lim, direktur Direktur
  CIMB-GK Pte Ltd; dan tak kalah penting, Ho Ching,
  mantan dirut SingTel, *executive director* Temasek,
  dan istri Lee Hsien Loong. Temasek juga punya
  eksekutif dengan latar belakang mumpuni, misalnya
  Simon Israel (Sara Lee Corporation/ Danone), Manish
  Kejriwal (McKinsey), Frank Tang (Goldman Sachs),
  Francis Rozario (Citibank). Wajar kalau Temasek selalu
  dapat yang terbaik: BII, Danamon,
  
Telkomsel<http://papafariz.wordpress.com/2007/05/24/monopoli-temasek-di-telkom-kita-digugat-kppu/>,
  Indosat, atau Astra.

  Sayangnya Temasek tak melakukan *assessment *terhadap
  risiko politik yang mungkin dihadapi. Temasek terlalu
  naif berinvestasi hanya dengan melihat aspek finansial
  -- apalagi masuk di negara berkembang yang sarat
  dengan gonjang-ganjing politik. Mereka mungkin lupa
  bahwa jaminan hukum dan iklim bisnis yang kondusif tak
  selalu ada dan terjaga. Ho Ching juga punya reputasi
  tukang bikin bangkrut saat membeli produsen harddisk
  Micropolis sampai nyaris dipecat dari SingTel. Beliau
  juga membuat blunder terkait dengan pembelian Shin
  Corp di Thailand baru-baru ini. Ho juga orang yang
  tertutup, tak bersahabat, dan sulit dimengerti.

  Manuver Temasek dan Singapura Sekarang Temasek kini
  juga mencengkeram
  Astra<http://www.majalahtrust.com/fokus/fokus/1301.php>.
  BusinessWeek menyebut Astra perusahaan terbaik 94 di
  Asia dan terbaik kedua di Indonesia (setelah Telkom).
  Lini bisnis Astra juga berkibar di berbagai sektor
  <http://nofieiman.com/2005/03/bagaimana-menjadi-konglomerat-2/>,
  sebutlah Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG
  Life, Asuransi Astra Buana, Federal International
  Finance, Astra Credit Company, sampai Bank
  
Permata<http://indrariawan.wordpress.com/2007/04/29/efisiensi-di-teller-bank-permata/>
  .
  Proses akuisisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak
  krisis. Tapi puncaknya mungkin tahun 2003 ketika 39,5%
  saham Astra dijual BPPN ke konsorsium Cycle & Carriage
  Mauritius yang dimodali DBS. Mereka kemudian terus
  menambah kepemilikannya di Astra. Sekarang, 50,11%
  saham Astra dikuasai Temasek lewat Jardine Cycle &
  Carriage (JCC) -- perusahaan yang sebenarnya dulu
  pernah akan dibeli Astra Otoparts. Dengan pendapatan
  Rp 55 triliun, Astra jadi mesin uang buat Temasek.

  [image: Competitive Countries]
  Yang paling saya "suka" dari Temasek, ia bisa memasuki
  bisnis agro, otomotif, alat berat, infrastruktur,
  telekomunikasi, keuangan dan menguasai pangsa pasar
  yang disentuhnya. Tapi hebatnya, manuver Temasek
  begitu rapi, bertahap, dan *low-profile*. Nyaris tak
  terdengar. Ironisnya, pelaku pasar kebanyakan kurang
  "*ngeh*" dengan manuver Temasek. Repotnya lagi, kita
  lantas terbuai bahwa kalau perusahaan dikuasai
  imperium Temasek, dijamin pasti bawa untung.

  Sejak 2004 Temasek memang banyak berburu di luar
  Singapura, dan hampir seluruhnya di sektor jasa
  keuangan dan telekomunikasi. Investasi terbesarnya
  antara lain BII, Danamon, Bank of China, Stanchart,
  dan Shin Corp. *Silent expansion* ini menyiratkan
  ambisi Singapura untuk menjadi *financial hub* di
  kawasan Asia: menguasai perbankan, mengendalikan
  telekomunikasi. Ke depannya, sektor apa sih yang bisa
  lebih "*hot*" dari dua industri itu?
  Dan yang tak boleh diabaikan, ingat kasus transaksi
  derivatif
  
Indosat<http://ihedge.wordpress.com/2007/06/10/menilik-transaksi-derivatif-indosat/>?
  Temasek sampai mendatangkan mantan wakil Menteri
  Pertahanan Amerika untuk melobi pejabat-pejabat
  Indonesia. Tangan-tangan Temasek juga menggerayangi
  wartawan untuk mempengaruhi pemberitaan di media.
  Beberapa kasus yang membuat nama Temasek negatif
  seperti ini membuat mereka memasang Myrna Thomas
  sebagai *managing director for corporate affairs*
  untuk menetralisir persepsi orang. Belakangan fungsi
  kehumasan ini dianggap lebih strategis karena mereka
  memang banyak berekspansi ke luar negeri.
  Nama "temasek" sebenarnya mengacu pada "*sea town*"
  atau nama purba Singapura. Lucunya, gara-gara sumpah
  Mahapatih Gajah
  Mada<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Palapa>,
  Singapura (Tumasik) dulu pernah berada di bawah
  kekuasaan Nusantara.

  Sekarang, terlalu naif membandingkan negeri ini dengan
  Singapura<http://nofieiman.com/2005/12/singapura-dan-kita/>.

  Walau cuma sebesar Jakarta, Singapura merupakan negara
  ke-17 terkaya di dunia. Repotnya, kendati mengeruk
  duit di Indonesia, Singapura terkenal kurang ramah
  terhadap negara kita.

  Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat (Singapura)
  Teorinya, membangun negara harus bertumpu pada
  infrastruktur untuk kemaslahatan umat. Di Amerika,
  mereka justru pertama-tama membangun rel kereta agar
  mobilitas rakyat (terutama menengah ke bawah) lancar
  dan menggerakkan kegiatan perekonomian serta
  pertumbuhan. Walau dicap kapitalis, mereka sebetulnya
  sangat berorientasi pada rakyat kecil. Jepang dan
  Eropa juga demikian. Di Indonesia justru terbalik
  keadaannya. Kita malah memprogram jalan tol 1000 km
  dan mengabaikan kereta api. Yang diuntungkan jelas
  para penggede, bukan rakyat kecil.

  Saat sekarang, makroekonomi sudah beranjak pulih.
  Namun perusahaan-perusaha an bagus milik bangsa ini
  sudah *kadung* diambil (mayoritas) oleh Singapura.
  Sementara pembangunan, seperti tersebut di atas, tak
  berorientasi ke rakyat kecil. Jadi, lengkaplah sudah
  kesialan kita. Sementara kita tak sadar malah
  ber-haha-hihi mengikuti Tukul mengolok-olok diri
  sendiri.
  Kembali ke orang-orang terkaya tersebut di atas,
  hubungan Sandi dengan keluarga Soeryadjaya memang
  sudah sejak lama. Sandi pernah menangani perusahaan
  Edward (kakak Edwin) di Canada. Sandi dan Edwin pernah
  membangun situs *e-marketing* rumah123.com. Boleh jadi
  Sandi ada di bawah bayang-bayang Edwin. Sedangkan
  Patrick adalah menantu Teddy Rachmat, mantan petinggi
  Astra. Rosan P Roeslani adalah teman dekat Sandi.
  Mereka sangat dekat dengan Astra dan keluarga
  Soeryadjaya, anak pendiri Astra.

  Sementara Astra, kita tahu, sudah dikuasai Temasek.
  Keluarga orang-orang terkaya lainnya -- baik angkatan
  lama atau angkatan muda -- juga dekat dengan lingkaran
  ini. Pendek kata, pemilik aset-aset strategis negeri
  ini kalau bukan Singapura ya orang-orang Indonesia
  yang dekat dengan Singapura.
  Jadi, salahkah saya kalau berteori bahwa masa depan
  negeri ini sebenarnya ada di tangan Singapura?
  Mudah-mudahan sedikit coretan ini bisa memotivasi
  pembaca sekalian -- agar tak cuma berpacu mengejar
  kekayaan, tetapi juga memperjuangkan *nation pride *.
  Saya, Anda, siapa pun juga pasti pengen jadi kaya.
  Masalahnya siapa yang ingin memulai dan siapa yang
  cuma ingin mengamati, atau *ngrasani* saja?
  Jujur saja, saya lebih senang bertransaksi dengan
  orang kita sendiri; yang jelas-jelas mengembalikan
  sebagian keuntungannya buat fakir miskin dan anak
  yatim. Tapi mau gimana lagi?

  Ada komentar? 

  Sumber: 
  
<http://nofieiman.com/2007/07/orang-orang-terkaya-indonesia-dan-masa-depan-kita/
  <http://nofieiman.com/category/investment/>





------------------------------------------------------------------------------
  Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
  Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

   

Kirim email ke