Neng, oga baraya sadaya, kahade bilih lepat, ceuk iklan mah "taliti samemeh
meuli" Teh Elly tangtos seueur, anu nyerat panjang perkawis jalmi2 kaya di
Indonesia teh anu nyeratna pameget mung nyalindung dina jenengan istri saur
wargi urang, dina ieu milis.. Anjuena ngarefensi tulisan anjeunana kuanjeun.
Palebah dieu saleresna mah teu sakedik diantawis saderek urang anu "isin"
atanapi "teu wantun jujur" nyerat jenengan anu saleresna. Palebah dieu oge duka
tah pasipatan sewang sewangan. Sigah teu bangga ka sepuhna anu masihan jenengan
anjeuna, eleh ku manuk tikukur. Eta manuk embungeun dilandi jadi manuk heulang
atanapi manuk anu sanesna.
Sami oge sigah anu kirang hormat ka isteri upami pameget, padahal anjeuna
dilahirkeun jeung diurus jadi kitu ku indung. Kitu deui ka istri jigah anu teu
hormat ka pameget, padahal lamun teu aya bapa, pamohalan urang hadir didunia
ieu. Kuring jadi sedih ngabandungan postingan sarupi kitu, malah jadi isin
lamun mutu milis ieu mung sigah kitu. Mugi-mugi kuring salah mandang.
mojang_akank <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wilujeng tepang deui Teh Ely anu geulis.
Euleuh geuning meni panjang bacaanana. Ah abi mah da nuju damel,
nuju sibuk. Ke we komentarna mun nuju nganggur jeung geus beunghar.
Neng Iva
--- In [email protected], ely evalita <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Wilujeng tepang akang anu kasep teteh anu geulis.
>
> Pribados ngartos anggauta milist KUSNET moal tertarik kana soal
anu rada serius atanapi anu rada berat. Hal ieu dilantarankeun
anggauta milist samodel kieu mah umumna jalmi anu pangangguran
matuh atanapi pensiunan anu teu aya pacabakan deui, dari pada
nganggur ngantosan maot. Aya oge sih mahasiswa, tapi umumna
mahasiswa kuuleun malih panginten mahasiswa abadi .............
kitutah panalungtikan pribados anu sapopoena ngurus masalah sosial
masarakat.........
>
> Tapi pribados bade nyobian posting e-mail anu rada serius,
sanaos pribados yakin moal aya hiji oge anu bakal ngabahas ieu
posting kulantaran daya nalar nu maca moal dugi, malah meureun aya
baraya anu mikir dina utekna, tong boro ngabahas atawa mikiran
posting Teh Ely, mikiran keur eusi beuteung pribadi jeung kulawarga
wae teu nepi.
>
> Mangga atuh geura di aos ieu posting hasil "copy-paste" ti
rerencangan di Bandung
>
> wass
> Ely anu geulis.
>
>
> Subject: Orang-orang Terkaya Indonesia dan Masa Depan
> Kita
>
> Orang-orang Terkaya Indonesia dan Masa Depan Kita
>
> Siapa saja sih orang-orang terkaya di negeri ini?
>
> Dari angkatan lama ada Sukanto Tanoto, Putera
> Sampoerna, Eka Tjipta Widjaja, Rachman Halim, Robert
> BudiHartono, dan Liem Sioe Liong yang selalu jadi
> langganan Forbes. Ada juga pengusaha lokal seperti
> Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro dan yang baru
> seperti Eddie William Katuari, Trihatma Haliman, atau
> Chairul Tanjung.
>
> Ada juga beberapa junior seperti Sandiaga Salahuddin
> Uno dan Patrick S Walujo yang kelak berpotensi menjadi
> yang terkaya di Indonesia. Sandi adalah Ketua HIPMI
> dan mantan *credit officer* Bank Summa. Tahun 1998
> Sandi dan Edwin Soeryadjaya mendirikan Saratoga
> Capital. Mereka mengantongi US$ 1 miliar dan
> investasinya masuk kemana-mana. Sandi kini juga
> mengejar proyek Tol Cikampek-Palimanan dan tambang
> emas Newmont di NTB.
>
> Sedangkan Patrick adalah mantan bankir Goldman Sachs
> yang kini nahkoda Northstar Pacific. Walau baru 3
> tahun, ia sudah mengantongi Alfa Retailindo dan Alfa
> Mart yang dulu di bawah Sampoerna. Northstar juga
> memiliki perusahaan LNG dan ladang migas di Sumatera
> Selatan. Dana yang dikelolanya sekitar US$ 100 juta
> dan sebagian dari Texas Pacific Group. Mereka juga
> sedang memburu Garuda Indonesia dan Blok Cepu.
>
> Ada pula Rosan P Roeslani, yang bersama Sandi
> membangun Recapital Advisors; dan Tom Lembong, yang
> mengakuisisi BCA lewat Farindo. Recapital mengantongi
> Bank BTPN dan memenangi tender Dipasena, tambak udang
> terbesar Asia Tenggara. Sedangkan Tom adalah jebolan
> Morgan Stanley dan mantan Kadiv *Asset Management
> Investment* BPPN yang kini mendirikan Principia
> (Quvat). Quvat punya US$ 150 juta dan memegang Adaro
> serta Blitz Megaplex Cinema. Dalam pembelian Adaro;
> Sandi, Patrick, dan Tom tergabung dalam konsorsium
> dibantu Edwin dan Teddy; plus Erick Tohir, pemilik
> Grup Mahaka.
>
> Mahaka sendiri pemegang sahamnya adalah M Lutfi, bekas
> ketua HIPMI yang jadi Kepala BKPM. Lutfi adalah putra
> Gunadarma yang sebelumnya adalah menantu Hartarto
> (Menperin Orde Baru). Bekas istrinya punya sekolah
> desain, ESMOD, dan istri Lutfi kini adalah Bianca
> Adinegoro. Ada juga Erick Tohir dan Boy Garibaldi
> Tohir. Erick sedang menggenjot JakTV bersama Artha
> Graha Group, sambil memosisikan Republika di 3 besar.
> Sedang Boy Garibaldi adalah salah satu direktur Adaro.
> Erick pernah mengatakan bahwa Lutfi dan Wisnu Wardhana
> tak aktif di Mahaka. Barangkali Wisnu sekarang sibuk
> mengurus perusahan sekuritas dan pembangunan apartemen
> di depan BEJ.
>
> Nama lain yang cukup berkibar adalah Hary
> Tanoesoedibjo dari Bhakti Asset Management dan Global
> Mediacom. Bhakti pernah sukses membeli Salim
> Oleochemical dari BPPN. Hary Tanoe pernah mendirikan
> Indonesia Recovery Company Limited bersama Asia Debt
> Management. Ia juga dikenal dekat dengan George Soros
> dan sering dititipi dana investasi para konglomerat
> papan atas, termasuk Salim. Belakangan Harry dikenal
> sebagai raja media dengan bendera MNC.
>
> Ada juga *rising star* grup Axton yang baru memulai
> bisnis. Pemiliknya konon anak muda berusia 25 tahun
> yang merangkak dari nol. Mereka mengelola dana
> investor dengan menerapkan *value investing* ala
> Warren Buffett. Sayang saya kurang informasi mengenai
> mereka. Ada yang bisa menambahkan? Yang jelas, mereka
> semua adalah anak-anak muda brilian, berlimpah harta,
> lulusan luar negeri, punya pengalaman segudang, dan
> *closely-related each other*.
>
> Bagaimana Mereka Membangun Kekayaan Keberadaan
> orang-orang terkaya di sebuah negara penting untuk
> menggerakkan ekonomi secara agregat dan memberi efek *
> multiplier*. Mereka juga bisa menghitamputihkan
> bangsa, dan bahkan, sampai jadi bahan gosip tak
> berkesudahan. Mereka jualah yang sebenarnya menggambar
> cerita masa depan bangsa.
>
> Di Amerika, banyak pengusaha kecil yang kemudian jadi
> besar. Tengok Google.
> Mereka punya kapitalisasi di atas Coca Cola (US$ 137
> milyar) dan hanya sedikit di bawah Intel. Jaringan
> ritel Wal-Mart yang dimulai Sam Walton dari nol, kini
> kapitalisasi pasarnya hampir US$ 200 milyar. Dan yang
> fenomenal tentu Microsoft dengan kapitalisasi hampir
> US$ 300 milyar. Kalau tahun 1991 lalu saham MSFT
> dihargai cuma US$ 5, kini sudah lebih dari US$ 80 per
> lembar. Angka ini cuma bisa dilampaui Exxon Mobil yang
> memang sudah mapan lebih dari seabad dengan
> kapitalisasi US$ 473 milyar.
>
> Iklim investasi di Amerika memang sudah terbangun
> sedemikian rupa dan tersedia berbagai insentif bagi
> (calon) wirausahawan yang bermaksud membangun bisnis
> baru. Berbagai peraturan dan *rule of the game* juga
> jelas ditegakkan dan menjamin kelangsungan usaha
> mereka. Dan memang bisa dikatakan bahwa cukup banyak
> orang-orang terkaya di Amerika yang memulai usahanya
> dari nol karena memang dikondisikan demikian. Berbeda
> 180 derajat dengan di Indonesia.
>
> Di Indonesia, orang-orang terkaya cenderung (maaf)
> masih *rent seeking* dan kurang kreatif. Calon
> orang-orang terkaya masa depan itu berangkat bukan
> dari bawah. Mereka jago *finance*, punya *linkage*
> dengan *funding body* di luar negeri -- namun tak
> punya fondasi industri yang kokoh. Mereka "cuma"
> pinjam uang ke luar, membeli perusahaan yang dihajar
> krisis moneter 1997, lalu tinggal menuai panen. Mereka
> membentuk semacam *private equity* atau *hedge fund*
> untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. BPPN atau PPA-lah
> yang jadi *makcomblang* tender jual-beli ini.
> Namun naluri su'udzon saya bilang bahwa mereka juga
> berinvestasi di politik.
>
> Misalnya, ingat kasus BLBI. Seperti kita tahu, tender
> biasa dilakukan di Gedung Bidakara, milik BI. Kita
> juga tahu bahwa petinggi BPPN kebanyakan merupakan
> keluarga BI. Lucunya, ada salah satu parpol yang juga
> dekat dengan BPPN dan sering mengadakan hajatan di
> Gedung Bidakara. Partai tersebut juga mencak-mencak
> ketika namanya disangkutkan dengan kasus DKP dan
> mengancam siapapun yang mengungkit dana DKP dengan
> alasan *character assasination*.
>
> Kalau tidak salah, partai tersebut juga yang
> meloloskan Anwar Nasution sebagai ketua BPK. Anwar
> adalah mantan Deputi Gubernur BI dan BPK adalah
> lembaga superior satu-satunya yang bisa "mengaudit"
> kinerja BPPN dan BI.
>
> Nah, pertanyaan su'udzon saya, apakah
> perusahaan-perusaha an murah tersebut memang dijual
> kepada *bidder* terbaik dengan harga tertinggi; atau
> orang-orang terkaya masa depan Indonesia tersebut
> mendapatkannya lewat cara lain? Silakan simpulkan
> sendiri.
>
> Tentang Temasek dan Singapura.
>
> Yuk beralih sebentar ke Singapura.
>
> Temasek<http://www.temasekholdings.com.sg/>,
> bagi saya, adalah model bisnis yang sangat bagus.
> Temasek adalah ramuan antara talenta bisnis, visi
> strategik, dan kekuatan politik yang rancak.
> Mereka mengumpulkan aset yang nilai intrinsiknya di
> bawah nilai pasar, lalu dibeli dan dipoles, sampai
> harganya membumbung
> tinggi<http://nofieiman.com/2006/09/how-to-create-shareholder-
value/>
> .
> Kendati mengendalikan portofolio senilai lebih dari
> $80 milyar, sejak ditangani Ho Ching tahun 2002,
> organisasi Temasek bisa dibilang *plain* dan simpel.
> Sangat efisien. Temasek cuma punya tiga *senior
> managing director*dan delapan *managing director*.
> Mereka inilah yang berburu aset-aset strategis untuk
> dibeli -- terutama di luar negeri. Mereka membeli
> perusahaan-perusaha an yang "nampak" kurang sehat dan
> mengambil dengan proporsi yang sangat besar sehingga
> memegang kontrol pengambilan keputusan.
>
> Direksi Temasek juga merupakan tokoh terkemuka dari
> kalangan pemerintahan dan politik, seperti S
> Dhanabalan, Kua Hong Pak, Koh Boon Hwee dan Kwa Chong
> Seng, Lim Siong Guan, Sim Kee Boon, yang sangat
> berpengaruh dan dipercaya oleh pemerintah. Mereka juga
> menjadi direktur di perusahaan pemerintah lainnya. Di
> Temasek, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas
> persetujuan Presiden Singapura. Jelas, operasional
> Temasek sangat terbantu oleh kekuatan politis ini.
>
> Talenta bisnis orang-orang Temasek juga jempolan.
> Sebutlah Kua Hong Pak, direktur PSA sekaligus orang
> dekat Lee Hsien Loong; Goh Yew Lim, direktur Direktur
> CIMB-GK Pte Ltd; dan tak kalah penting, Ho Ching,
> mantan dirut SingTel, *executive director* Temasek,
> dan istri Lee Hsien Loong. Temasek juga punya
> eksekutif dengan latar belakang mumpuni, misalnya
> Simon Israel (Sara Lee Corporation/ Danone), Manish
> Kejriwal (McKinsey), Frank Tang (Goldman Sachs),
> Francis Rozario (Citibank). Wajar kalau Temasek selalu
> dapat yang terbaik: BII, Danamon,
> Telkomsel<http://papafariz.wordpress.com/2007/05/24/monopoli-
temasek-di-telkom-kita-digugat-kppu/>,
> Indosat, atau Astra.
>
> Sayangnya Temasek tak melakukan *assessment *terhadap
> risiko politik yang mungkin dihadapi. Temasek terlalu
> naif berinvestasi hanya dengan melihat aspek finansial
> -- apalagi masuk di negara berkembang yang sarat
> dengan gonjang-ganjing politik. Mereka mungkin lupa
> bahwa jaminan hukum dan iklim bisnis yang kondusif tak
> selalu ada dan terjaga. Ho Ching juga punya reputasi
> tukang bikin bangkrut saat membeli produsen harddisk
> Micropolis sampai nyaris dipecat dari SingTel. Beliau
> juga membuat blunder terkait dengan pembelian Shin
> Corp di Thailand baru-baru ini. Ho juga orang yang
> tertutup, tak bersahabat, dan sulit dimengerti.
>
> Manuver Temasek dan Singapura Sekarang Temasek kini
> juga mencengkeram
> Astra<http://www.majalahtrust.com/fokus/fokus/1301.php>.
> BusinessWeek menyebut Astra perusahaan terbaik 94 di
> Asia dan terbaik kedua di Indonesia (setelah Telkom).
> Lini bisnis Astra juga berkibar di berbagai sektor
> <http://nofieiman.com/2005/03/bagaimana-menjadi-konglomerat-2/>,
> sebutlah Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG
> Life, Asuransi Astra Buana, Federal International
> Finance, Astra Credit Company, sampai Bank
> Permata<http://indrariawan.wordpress.com/2007/04/29/efisiensi-di-
teller-bank-permata/>
> .
> Proses akuisisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak
> krisis. Tapi puncaknya mungkin tahun 2003 ketika 39,5%
> saham Astra dijual BPPN ke konsorsium Cycle & Carriage
> Mauritius yang dimodali DBS. Mereka kemudian terus
> menambah kepemilikannya di Astra. Sekarang, 50,11%
> saham Astra dikuasai Temasek lewat Jardine Cycle &
> Carriage (JCC) -- perusahaan yang sebenarnya dulu
> pernah akan dibeli Astra Otoparts. Dengan pendapatan
> Rp 55 triliun, Astra jadi mesin uang buat Temasek.
>
> [image: Competitive Countries]
> Yang paling saya "suka" dari Temasek, ia bisa memasuki
> bisnis agro, otomotif, alat berat, infrastruktur,
> telekomunikasi, keuangan dan menguasai pangsa pasar
> yang disentuhnya. Tapi hebatnya, manuver Temasek
> begitu rapi, bertahap, dan *low-profile*. Nyaris tak
> terdengar. Ironisnya, pelaku pasar kebanyakan kurang
> "*ngeh*" dengan manuver Temasek. Repotnya lagi, kita
> lantas terbuai bahwa kalau perusahaan dikuasai
> imperium Temasek, dijamin pasti bawa untung.
>
> Sejak 2004 Temasek memang banyak berburu di luar
> Singapura, dan hampir seluruhnya di sektor jasa
> keuangan dan telekomunikasi. Investasi terbesarnya
> antara lain BII, Danamon, Bank of China, Stanchart,
> dan Shin Corp. *Silent expansion* ini menyiratkan
> ambisi Singapura untuk menjadi *financial hub* di
> kawasan Asia: menguasai perbankan, mengendalikan
> telekomunikasi. Ke depannya, sektor apa sih yang bisa
> lebih "*hot*" dari dua industri itu?
> Dan yang tak boleh diabaikan, ingat kasus transaksi
> derivatif
> Indosat<http://ihedge.wordpress.com/2007/06/10/menilik-transaksi-
derivatif-indosat/>?
> Temasek sampai mendatangkan mantan wakil Menteri
> Pertahanan Amerika untuk melobi pejabat-pejabat
> Indonesia. Tangan-tangan Temasek juga menggerayangi
> wartawan untuk mempengaruhi pemberitaan di media.
> Beberapa kasus yang membuat nama Temasek negatif
> seperti ini membuat mereka memasang Myrna Thomas
> sebagai *managing director for corporate affairs*
> untuk menetralisir persepsi orang. Belakangan fungsi
> kehumasan ini dianggap lebih strategis karena mereka
> memang banyak berekspansi ke luar negeri.
> Nama "temasek" sebenarnya mengacu pada "*sea town*"
> atau nama purba Singapura. Lucunya, gara-gara sumpah
> Mahapatih Gajah
> Mada<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Palapa>,
> Singapura (Tumasik) dulu pernah berada di bawah
> kekuasaan Nusantara.
>
> Sekarang, terlalu naif membandingkan negeri ini dengan
> Singapura<http://nofieiman.com/2005/12/singapura-dan-kita/>.
>
> Walau cuma sebesar Jakarta, Singapura merupakan negara
> ke-17 terkaya di dunia. Repotnya, kendati mengeruk
> duit di Indonesia, Singapura terkenal kurang ramah
> terhadap negara kita.
>
> Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat (Singapura)
> Teorinya, membangun negara harus bertumpu pada
> infrastruktur untuk kemaslahatan umat. Di Amerika,
> mereka justru pertama-tama membangun rel kereta agar
> mobilitas rakyat (terutama menengah ke bawah) lancar
> dan menggerakkan kegiatan perekonomian serta
> pertumbuhan. Walau dicap kapitalis, mereka sebetulnya
> sangat berorientasi pada rakyat kecil. Jepang dan
> Eropa juga demikian. Di Indonesia justru terbalik
> keadaannya. Kita malah memprogram jalan tol 1000 km
> dan mengabaikan kereta api. Yang diuntungkan jelas
> para penggede, bukan rakyat kecil.
>
> Saat sekarang, makroekonomi sudah beranjak pulih.
> Namun perusahaan-perusaha an bagus milik bangsa ini
> sudah *kadung* diambil (mayoritas) oleh Singapura.
> Sementara pembangunan, seperti tersebut di atas, tak
> berorientasi ke rakyat kecil. Jadi, lengkaplah sudah
> kesialan kita. Sementara kita tak sadar malah
> ber-haha-hihi mengikuti Tukul mengolok-olok diri
> sendiri.
> Kembali ke orang-orang terkaya tersebut di atas,
> hubungan Sandi dengan keluarga Soeryadjaya memang
> sudah sejak lama. Sandi pernah menangani perusahaan
> Edward (kakak Edwin) di Canada. Sandi dan Edwin pernah
> membangun situs *e-marketing* rumah123.com. Boleh jadi
> Sandi ada di bawah bayang-bayang Edwin. Sedangkan
> Patrick adalah menantu Teddy Rachmat, mantan petinggi
> Astra. Rosan P Roeslani adalah teman dekat Sandi.
> Mereka sangat dekat dengan Astra dan keluarga
> Soeryadjaya, anak pendiri Astra.
>
> Sementara Astra, kita tahu, sudah dikuasai Temasek.
> Keluarga orang-orang terkaya lainnya -- baik angkatan
> lama atau angkatan muda -- juga dekat dengan lingkaran
> ini. Pendek kata, pemilik aset-aset strategis negeri
> ini kalau bukan Singapura ya orang-orang Indonesia
> yang dekat dengan Singapura.
> Jadi, salahkah saya kalau berteori bahwa masa depan
> negeri ini sebenarnya ada di tangan Singapura?
> Mudah-mudahan sedikit coretan ini bisa memotivasi
> pembaca sekalian -- agar tak cuma berpacu mengejar
> kekayaan, tetapi juga memperjuangkan *nation pride *.
> Saya, Anda, siapa pun juga pasti pengen jadi kaya.
> Masalahnya siapa yang ingin memulai dan siapa yang
> cuma ingin mengamati, atau *ngrasani* saja?
> Jujur saja, saya lebih senang bertransaksi dengan
> orang kita sendiri; yang jelas-jelas mengembalikan
> sebagian keuntungannya buat fakir miskin dan anak
> yatim. Tapi mau gimana lagi?
>
> Ada komentar?
>
> Sumber:
> <http://nofieiman.com/2007/07/orang-orang-terkaya-indonesia-dan-
masa-depan-kita/
> <http://nofieiman.com/category/investment/>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your
story.
> Play Sims Stories at Yahoo! Games.
>
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.