Ustadz model kieu anu kedah dilobaan kwantitasna...identifikasi Islam..sacara nalar...
On 1/5/08, Deny Suwarja <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hi *urang sunda*, > Teman Anda, *Deny Suwarja*, merekomendasikan artikel berjudul '*Amerika > Negeri Islami?*' untuk Anda baca. > > *Berikut tanggapannya:* > Punten teu ditarjamahkeun. Mugia janten bahan renungan kango urang Islam > sadayana! Nuhun > > *Amerika Negeri Islami?* > Dikirim oleh admin pada 20 Nopember 2007 (4:06) di > Agama<http://www.oyr79.com/news/category/agama/> > > Indonesia harus bangga memiliki Syamsi Ali, imam asal Bulukumba yang > menjadi jurubicara Muslim di Amerika Serikat. Ia adalah penyiar Islam di > negara adidaya yang sekarang sedang berperang melawan terorisme, yang > celakanya sering dikait-kaitkan dengan Islam.Syiar Islam dan dakwah Ustadz > Syamsi Ali (40), tidak terbatas kepada jemaah warga Indonesia saja, > melainkan juga Muslim Amerika. Khususnya di New York dan Washington DC. > > Selain sebagai imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New York, > Syamsi Ali juga dipercaya menjadi Direktur Jamaica Muslim Center, sebuah > yayasan dan masjid di kawasan timur New York yang dikelola komunitas Muslim > asal Asia Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan dan India. > > Syamsi berasal dari sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan. Kepintarannya > berdakwah sudah tampak sejak menjadi santri di pondok pesantren Bulukumba. > Ia pergi ke Arab Saudi untuk memperdalam ilmu agama dan ke Pakistan untuk > belajar ilmu dunia, sebelum menjadi lokal staf di Perwakilan Tetap RI di New > York. Ia mengharumkan citra Islam Indonesia yang moderat dengan pandangan > dan aktivitasnya di berbagai forum internasional. > > Misalnya saja ia pernah tampil berdakwah di mimbar "A Prayer for America" > di Stadion Yankee, kota New York, 23 September 2004. Sekitar 50 ribu orang > memadati stadion itu. Tua-muda, lelaki dan perempuan, kulit putih dan kulit > hitam, dan pelbagai ras dan bangsa di Amerika "tumplek blek" di situ. > > Di panggung, hadir ratu acara bincang-bincang televisi Oprah Winfrey, > mantan Presiden Bill Clinton, senator Hillary Clinton, Gubernur Negara > Bagian New York George Pataki, Wali Kota New York Rudolph Giuliani, artis > Bette Midler dan penyanyi country Lee Greenwood. Di New York, statistik > menunjukkan terdapat lebih 800.000 kaum Muslimin. > > Di podium, Syamsi membacakan dan mengupas surat Al-Hujurat ayat 13 yang > intinya bercerita tentang asal-usul manusia yang dijadikan berbangsa-bangsa > dan bersuku-suku. Tidak ada bangsa yang paling tinggi derajatnya, karena > yang termulia adalah yang paling bertakwa. > > Dengan mengurai makna ayat itu, Syamsi ingin menceritakan kepada publik > Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persaudaraan umat manusia. > > "Islam tak membenci umat lain. Justru Islam datang untuk mengangkat > derajat semua manusia," kata Syamsi Ali, berusaha mengurangi kebencian > sebagian warga Amerika terhadap Islam pasca serangan teroris 11 September > 2001. > > Sejak peristiwa itu, semakin banyak orang di Amerika Serikat yang ingin > tahu lebih mendalam mengenai Islam. "Inilah tugas kami untuk memberi > penjelasan sebenarnya tentang Islam yang rahmatan lil alamin," katanya. > > *Amerika negara Islami?* > > Ustadz Ali juga punya kebiasaan menulis kegiatan dakwahnya di "mailinng > list". > > Tanggal 22 Oktober lalu, misalnya, ia berkisah tentang pengalamannya > menjadi pembicara bersama Rabbi Marc Shneier dari East New York Synagogue > dalam acara "Dialog Muslim-Yahudi: Tantangan dan Peluang Hubungan di Masa > Depan". Acara yang dihadiri lebih dari 400-an mahasiswa dan professor > Universitas New York (NYU) itu, menurut Syamsi Ali, berjalan hangat dan > seru. > > Moderator diskusi, Joel Cohen, mantan jaksa dan penulis buku "Moses and > Jesus in Dialogue" bertanya mengenai bagaimana Syamsi Ali menyikapi jika > suatu ketika ada Muslim, yang dalam bahasa Cohen "a Mullah", ingin > mendirikan negara Islam di Amerika. > > Jawaban Syamsi Ali mengejutkan peserta. Banyak di antara mereka > geleng-geleng kepala. Syamsi menegaskan bahwa "syariat phobia" yang masih > menggeluti kebanyakan warga Amerika seharusnya dikurangi. > > "Amerika, dalam banyak hal lebih pantas untuk dikatakan negara Islam > ketimbang banyak negara yang diakui sebagai negara Islam saat ini," ujar > Syamsi Ali. > > Amerika, katanya, telah lebih banyak menegakkan syariat Islam ketimbang > negara-negara yang mengaku mengusung syariat. Untuk itu, seorang Muslim yang > paham tentang konsep masyarakat dalam Islam, tidak akan pernah > mempermasalahkan itu lagi. Sebaliknya, non-Muslim juga seharusnya tidak > perlu "over worried" mengenai hal tersebut. > > Dalam pandangan Syamsi Ali, syariat adalah landasan hidup seorang Muslim. > Berislam tanpa bersyariat adalah sesuatu yang mustahil. Hukum-hukum yang > mengatur kehidupan seorang Muslim, mulai dari masalah-masalah keimanan, > ritual, hingga kepada masalah-masalah mu`amalat (hubungan antar makhluk) > masuk dalam kategori syariah. Untuk itu, memutuskan hubungan antara > kehidupan seorang Muslim dengan syariat sama dengan memisahkan antara daging > dan darahnya. > > Amerika yang didirikan di atas asas kebebasan, kesetaraan dan keadilan > untuk semua, sesungguhnya didirikan di atas asas nilai-nilai dasar Islam. > Islam juga didasarkan kepada nilai-nilai kebebasan (al-hurriyah), keadilan > (al `adaalah) dan persamaan (al musawah). > > Atas dasar itu, Syamsi Ali dengan keyakinan penuh menegaskan bahwa > kehadiran Islam di Amerika adalah ibarat benih subur yang terjatuh di atas > lahan yang subur. Dia akan tumbuh dengan baik dan subur karena memang lahan > yang ditempatinya sesuai dengan kebutuhan benih tanaman ini. > > Kelak, lanjut Syamsi, tanaman ini pasti akan dirasakan karena memang > manusia yang mendiaminya telah lama marasakan kehausan untuk itu. > > Di mana-mana dan dalam acara apapun, seperti dikemukakan sesepuh warga > Indonesia di New York Achyar Hanif, Syamsi Ali selalu mengatakan kehadiran > umat Islam di Amerika itu tidak perlu dikhawatirkan, tapi sebaliknya harus > disyukuri. Umat Islam akan memberikan sumbangsih yang besar untuk > menampakkan ke seluruh penjuru dunia bahwa tanah Amerika memang subur untuk > menanamkan nilai-nilai Syaria`h yang universal itu. > > "Amerika bukan musuh, tapi Amerika adalah lahan subur untuk Islam. Inilah > pesan yang selalu disampaikan Ustadz Syamsi dalam berbegai kesempatan," kata > Achyar Hanif yang tahun ini kembali berangkat haji dari kota New York. > > Pada 5 Nopember 2007 lalu, Syamsi Ali juga tampil dalam acara talk show > televisi "Face to Face, Faith to Faith". Acara yang dimoderatori oleh Ketie > Couric, pembawa acara televisi AS yang masyhur itu, menampilkan tiga > panelis, Rabbi Rubin Stein, Senior Rabbi pada Central Synagogue, Rev. > Michael Lindvall, Senior Pastor The Brick Church dan Syamsi Ali. > > Lebih 500 tamu yang hadir memenuhi ruangan Gotham building di Broadway > yang terkenal rela membayar mahal. Meja utama dijual dengan harga 50.000dolar > AS per meja dengan kapasitas delapan orang. > > Ketie Couric sebelum memulai acara dialogu malam itu mengatakan dirinya > sudah mempelajari semua agama, seperti Kristen, Yahudi dan Islam. Makin > dalam ia mempelajari agama-agama itu, makin dalam pula penyesalan dirinya > karena telah salah persepsi terhadap agama, khususnya Islam. Mulai saat itu, > Ketie bersumpah untuk lebih menghargai dan menghormati Islam dan kaum > Muslimin. > > Syamsi sendiri mengaku acara itu sangat membanggakannya. Selain karena > pujian terhadap agama Islam begitu besar di saat media kurang bersahabat dan > masih luasnya salah paham terhadapnya, juga karena Ia telah menyampaikan > agama ini secara lugas dan apa adanya. > > Banyak di antara warga AS yang pernah mendengarkan syiar Islam Syamsi Ali > berkunjung ke Islamic Center yang dipimpinnya. Sebagian ingin mempelajari > lebih dalam lagi masalah Islam, sebagian lagi malah langsung ingin > di-Islam-kan. > > Penulis: Akhmad Kusaeni > Antara > > Artikel diambil dari O! News - http://www.oyr79.com/news > URL artikel: http://www.oyr79.com/news/amerika-negeri/ > > >

