Punten manawi tiasa pangnaroskeun ka Kang Emha:
Saupamina urang teu ngajalankeun hukum potong tangan
ka para koruptor nu tos maling artos nagara padahal
hukum eta teh Fardhu Kifayah dupi urang masih kasebat
jalmi beragama?
Saupamina urang teu ngajalankeun hukum Qishos ka
setiap tindak pidana padahal hukum Qishos teh Fardhu
Kifayah dupi urang masih kasebat jalmi beragama?
Saupamina urang teu ngajalankeun sadaya Hukum Islam nu
dilungsurkeun Ku Gusti Nu Maha Agung anu teu wungkul
perkawis ibadah sareng akhlak dupi urang masih kasebat
jalmi beragama?
Hayu atuh urang berjuang sareng2 supados ISLAM tiasa
UTUH tegak di muka bumi ieu margi Islam teu wungkul
perkawis ibadah, akhlak, beramal, atanapi nulungan
jalmi nu katabrak tapi SADAYANA oge kedah
dilaksanakeun oge Hukum Hudud na, Hukum
Kemasyarakatana, Hukum Ekonomina, jeung sajabina
nganggo Jalan Anu Damai pastina mah siga perjuangan
Rasulullah nuju di Mekah. Teu aya deui salian Dakwah
kanggo penegakkan Islam Secara Menyeluruh. Alloohu
Akbar...
--- mj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak Ndeso
>
>
>
> Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan
> beruntun. "Cak Nun," kata
> sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan
> tiba-tiba sampeyan menghadapi
> tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi
> ke masjid untuk shalat
> Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar
> tukang becak miskin ke rumah
> sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
>
>
>
> Cak Nun menjawab lantang, "Ya, nolong orang
> kecelakaan."
>
>
>
> "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?"
>
> kejar si penanya.
>
>
>
> "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.
>
> "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau
> masuk surga tidak
> ngajak-ngajak. Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan
> ke surga orang yang
> memperlakukan sembahyang sebagai credit point
> pribadi."
>
>
>
> Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga
> harus ditolong, Tuhan
> tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang
> yang kecelakaan itu. Tuhan
> mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
> Kata
>
> Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah
> yang sakit itu. Kalau
> engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang
> kesepian itu. Kalau engkau
> memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan
> itu.
>
>
>
> Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira
> Tuhan suka yang mana dari
> tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima
> waktu, membaca al-quran,
> membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua,
> orang yang tiap hari
> berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan
> hidup sederhana, tapi dia
> sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat
> permusuhan.
>
> Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca
> al-quran, tapi suka beramal,
> tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
>
>
>
> Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
>
> Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun
> neraka, bukan membangun
> masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan
> membaca al-quran, tapi
> menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu
> namanya tidak sembahyang,
> tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka
> beramal, tidak korupsi, dan
> penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya
> sembahyang dan membaca
> al-quran. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya
> diukur lewat shalatnya.
> Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat
> dari banyaknya dia hadir di
> kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya
> adalah output
> sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis,
> cinta kasih, kemesraan
> dengan orang lain, memberi, membantu sesama.
>
> Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa,
> atau ikut kebaktian, tetapi
> juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun
> dan berkasih sayang.
>
>
>
> Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama
> adalah sikap. Semua agama
> tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta
> kasih sesama. Bila kita
> cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian,
> misa, datang ke pura,
> menurut saya, kita belum layak disebut orang yang
> beragama. Tetapi, bila
> saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara,
> meyantuni fakir miskin,
> memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih,
> maka itulah orang beragama.
>
> Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan
> dari kesalehan personalnya,
> melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan
> kesalehan pribadi, tapi
> kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang
> bisa menggembirakan
> tetangganya. Orang beragama ialah orang yang
> menghormati orang lain, meski
> beda agama. Orang yang punya solidaritas dan
> keprihatinan sosial pada kaum
> mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi
> dan tidak mengambil yang
> bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya
> memunculkan sikap dan jiwa
> sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan
> dahinya ke lantai masjid,
> sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin
> meronta kelaparan.
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs