Kang Ferizal,

Kalau Anda bilang saya bukan siapa2 bukan berarti saya tidak tahu apa2, juga 
jangan diartikan banyak tahunya. 

Tulisan saya "wajib bagi ummat Islam menentangnya" lebih bermakna menentang = 
MENOLAK DALAM HATI ajaran yg menyimpang, 
dan tetaplah berpegang pada tali Allah. Jangan juga dianggap menggurui, tolong 
kaitkan dengan email terdahulu.

Maaf kalo dianggap galak, tidak ada niat itu. Juga tidak ada niat menyalahkan 
siapa2. 

Ferizal Ramli wrote:
Jangan-2 setelah anda teriak nentang sana-sini, ngomong si ini salah 
atau si itu salah dengan berbusa-busa, mulut lantang plus kutap-kutip 
ayat Qur'an atau Hadist, tahu-2 nya anda sendiri yang keliru =))

Comment:
ayat Qur'an atau Hadist apa yang telah saya kutip?

Salam


  ----- Original Message ----- 
  From: Ferizal Ramli 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, August 04, 2007 9:21 PM
  Subject: [WongBanten] Re: Hati-hati


  Ah Mayra,

  Anda terlalu merasa benar dengan pendapat anda pribadi. Seakan-akan 
  orang lain tidak mampu melihat kebenaran selain anda seorang. Saran 
  saya banyak lah membaca. Ini tips dari saya, sebelum anda mengadili 
  orang lain salah, ada baiknya anda membaca dulu tulisan-2 polemik 
  antara Al Ghazali dan Ibnu Rusy. 

  Percayalah, semakin anda banyak membaca akan banyak mengambil hikmah 
  atas suatu perbedaan. Diharapkan kedepan anda tidak mudah 
  mengeluarkan kata: "wajib bagi kita untuk memnentangnya" hanya karena 
  mereka berpikir berbeda dari anda. 

  Toh, orang santun seperti Buya Syafii Maarif (Tokoh Muhammadyah) atau 
  Kyai Mustofa Bisri (Tokoh NU), bisa memaknai secara positif perbedaan 
  pemikiran dengan Cak Nur. Kok Mayra, yang karya intelektualnya ndak 
  jelas malah gualak buanget :)) 

  Jangan-2 setelah anda teriak nentang sana-sini, ngomong si ini salah 
  atau si itu salah dengan berbusa-busa, mulut lantang plus kutap-kutip 
  ayat Qur'an atau Hadist, tahu-2 nya anda sendiri yang keliru =))

  Salam,
  Ferizal

  --- In [email protected], "mayra" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > yusuf marwoto wrote:
  > Paradigma kita dalam beragama harus dirubah. Tidak lagi dalam 
  perspektif konflik, tapi perspektif harmoni.
  > 
  > comment: 
  > Kalau agama Anda Islam tentu tahu Islam menjunjung tinggi kehidupan 
  yang harmonis dalam beragama. Orang Islam dicontohkan pernah hidup 
  berdampingan dengan orang Yahudi di Madinah pada masa Nabi Muhammad 
  SAW. Yang bilang Islam itu selalu berkonflik cuma orang barat yang 
  tidak tahu atau mau memfitnah Islam.
  > 
  > Orang Yahudi jelas agamanya Yahudi. Orang Kristen jelas agamanya 
  Kristen. Tapi kalau orang ngakunya Islam menyebarkan ajaran non 
  Islam, wajib bagi ummat Muslim menentangnya.
  > 
  > wassalam
  > 
  > 
  > ----- Original Message ----- 
  > From: yusuf marwoto 
  > To: [email protected] 
  > Sent: Saturday, August 04, 2007 9:57 AM
  > Subject: Re: [WongBanten] Hati-hati
  > 
  > saya setuju dengan bung achmad hidayat. Paradigma kita dalam 
  beragama harus dirubah. Tidak lagi dalam perspektif konflik, tapi 
  perspektif harmoni. Ini mendasar. Sebab kalau terus-terusan dilihat 
  dalam paradigma konflik, ya yang ada konflik terus. Artikel ini kan 
  hanya mau menyalahkan mengapa ada orang hitam mengapa ada orang 
  putih, mengapa ada orang Amerika, Indonesia, China, Palestina, 
  Yahudi, Afrika? Mengapa ada orang Islam, kristen, katolik, Budha, 
  Hindhu, animisme, dinamisme? PERBEDAAN kok disalahkan, inilah 
  kekeliruan logika kita. Perspektif yang menyalahkan perbedaan dengan 
  mengambil setting konflik hanya akan membuat dunia ini gak pernah 
  tenang. Ribut mulu. Curiga mulu. Perang mulu. Hidup kok dibuat repot. 
  Kalau orang-orang pinter, intelektual muslim, kontribusinya ke negara 
  ini juga jelas, diapresiasi oleh sekian banyak orang, lalu dianggap 
  tulisannya dan pikirannya harus kita perlakukan seperti virus flu 
  burung, lha..kapan negara ini akan maju. 
  > 
  > Sentimen agama itu boleh, tapi ya jangan keterlaluan, karena kita 
  hidup di dunia ini kan gak sendiri. Jangan kayak jualan kecap 
  ah......malu. Islam itu agama besar, yang harus disikapi dengan 
  pemikiran-pemikiran besar, berjiwa besar...bukan sebaliknya dengan 
  pemikiran-pemikiran sempit, dan eklusif. Maaf kalau 
  menyinggung...tiada maksud, cuman pingin berkontribusi pemikiran 
  saja.....
  >



   

Kirim email ke