Seperti juga saya, anda itu bukan siapa-2 jika dibandingkan dengan Cak Nur atau Syafii Maarif atau Mustofa Bisri. Seperti juga saya, anda juga tidak atau belum punya karya apapun dalam pemikiran Islam. Jangan memaksakan diri untuk meninggikan diri sendiri, sementara faktanya anda (seperti juga saya) terlalu rendah kok dibandingkan mereka. Lha orang setinggi Syafii Maarif saja begitu santun dan sangat menghormati perbedaan dengan Cak Nur kok. Jadi, atas alasan apa anda begitu galak terhadap perbedaan?
Kalau saya menulis begitu kritis terhadap anda karena saya pikir itu perlu. Atas dasar apa anda begitu berani mengatakan bahwa Cak Nur itu telah menyebarkan ajaran non Islam? sehingga "wajib bagi ummat Islam menentangnya". Hanya karena Itjihad Cak Nur tidak sesuai dengan selera anda pribadi lalu enteng saja anda mengatakan itu ajaran non muslim. Men-judge kebenaran Itjihad seseorang itu bukan hak anda. Itu hak preogratif Allah Maha Pencipta. Jawara dan jumawa sekali berani mengambil hak progratif Sang Maha Pencipta. Jika anda tidak setuju dengan Cak Nur, silahkan kemukakan ketidaksetujuannya. Beri alasan yang rasional. Percayalah, saya atau kita semua bisa belajar dari situ dan berterima kasih untuk itu. Bahkan lebih dari itu kita bisa tahu sisi yang "salah" dari pendapat Cak Nur, tapi jangan se-enaknya men-judge bahwa ajaran Cak Nur itu adalah non Islam. Sekali lagi, urusan men-judge kebenaran itu bukan hak anda tapi hak preogratif Allah Maha Pembenar. Salam, Ferizal Ramli PS. Tidak selalu setuju dengan pendapat Cak Nur tetapi tetap menghormati Itjihad-nya --- In [email protected], "mayra" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kang Ferizal, > > Kalau Anda bilang saya bukan siapa2 bukan berarti saya tidak tahu apa2, juga jangan diartikan banyak tahunya. > > Tulisan saya "wajib bagi ummat Islam menentangnya" lebih bermakna menentang = MENOLAK DALAM HATI ajaran yg menyimpang, > dan tetaplah berpegang pada tali Allah. Jangan juga dianggap menggurui, tolong kaitkan dengan email terdahulu. > > Maaf kalo dianggap galak, tidak ada niat itu. Juga tidak ada niat menyalahkan siapa2. > > Ferizal Ramli wrote: > Jangan-2 setelah anda teriak nentang sana-sini, ngomong si ini salah > atau si itu salah dengan berbusa-busa, mulut lantang plus kutap-kutip > ayat Qur'an atau Hadist, tahu-2 nya anda sendiri yang keliru =)) > > Comment: > ayat Qur'an atau Hadist apa yang telah saya kutip? > > Salam > > > ----- Original Message ----- > From: Ferizal Ramli > To: [email protected] > Sent: Saturday, August 04, 2007 9:21 PM > Subject: [WongBanten] Re: Hati-hati > > > Ah Mayra, > > Anda terlalu merasa benar dengan pendapat anda pribadi. Seakan-akan > orang lain tidak mampu melihat kebenaran selain anda seorang. Saran > saya banyak lah membaca. Ini tips dari saya, sebelum anda mengadili > orang lain salah, ada baiknya anda membaca dulu tulisan-2 polemik > antara Al Ghazali dan Ibnu Rusy. > > Percayalah, semakin anda banyak membaca akan banyak mengambil hikmah > atas suatu perbedaan. Diharapkan kedepan anda tidak mudah > mengeluarkan kata: "wajib bagi kita untuk memnentangnya" hanya karena > mereka berpikir berbeda dari anda. > > Toh, orang santun seperti Buya Syafii Maarif (Tokoh Muhammadyah) atau > Kyai Mustofa Bisri (Tokoh NU), bisa memaknai secara positif perbedaan > pemikiran dengan Cak Nur. Kok Mayra, yang karya intelektualnya ndak > jelas malah gualak buanget :)) > > Jangan-2 setelah anda teriak nentang sana-sini, ngomong si ini salah > atau si itu salah dengan berbusa-busa, mulut lantang plus kutap-kutip > ayat Qur'an atau Hadist, tahu-2 nya anda sendiri yang keliru =)) > > Salam, > Ferizal > > --- In [email protected], "mayra" <e2maza33@> wrote: > > > > yusuf marwoto wrote: > > Paradigma kita dalam beragama harus dirubah. Tidak lagi dalam > perspektif konflik, tapi perspektif harmoni. > > > > comment: > > Kalau agama Anda Islam tentu tahu Islam menjunjung tinggi kehidupan > yang harmonis dalam beragama. Orang Islam dicontohkan pernah hidup > berdampingan dengan orang Yahudi di Madinah pada masa Nabi Muhammad > SAW. Yang bilang Islam itu selalu berkonflik cuma orang barat yang > tidak tahu atau mau memfitnah Islam. > > > > Orang Yahudi jelas agamanya Yahudi. Orang Kristen jelas agamanya > Kristen. Tapi kalau orang ngakunya Islam menyebarkan ajaran non > Islam, wajib bagi ummat Muslim menentangnya. > > > > wassalam > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: yusuf marwoto > > To: [email protected] > > Sent: Saturday, August 04, 2007 9:57 AM > > Subject: Re: [WongBanten] Hati-hati > > > > saya setuju dengan bung achmad hidayat. Paradigma kita dalam > beragama harus dirubah. Tidak lagi dalam perspektif konflik, tapi > perspektif harmoni. Ini mendasar. Sebab kalau terus-terusan dilihat > dalam paradigma konflik, ya yang ada konflik terus. Artikel ini kan > hanya mau menyalahkan mengapa ada orang hitam mengapa ada orang > putih, mengapa ada orang Amerika, Indonesia, China, Palestina, > Yahudi, Afrika? Mengapa ada orang Islam, kristen, katolik, Budha, > Hindhu, animisme, dinamisme? PERBEDAAN kok disalahkan, inilah > kekeliruan logika kita. Perspektif yang menyalahkan perbedaan dengan > mengambil setting konflik hanya akan membuat dunia ini gak pernah > tenang. Ribut mulu. Curiga mulu. Perang mulu. Hidup kok dibuat repot. > Kalau orang-orang pinter, intelektual muslim, kontribusinya ke negara > ini juga jelas, diapresiasi oleh sekian banyak orang, lalu dianggap > tulisannya dan pikirannya harus kita perlakukan seperti virus flu > burung, lha..kapan negara ini akan maju. > > > > Sentimen agama itu boleh, tapi ya jangan keterlaluan, karena kita > hidup di dunia ini kan gak sendiri. Jangan kayak jualan kecap > ah......malu. Islam itu agama besar, yang harus disikapi dengan > pemikiran-pemikiran besar, berjiwa besar...bukan sebaliknya dengan > pemikiran-pemikiran sempit, dan eklusif. Maaf kalau > menyinggung...tiada maksud, cuman pingin berkontribusi pemikiran > saja..... > > >
