On Thu, 7 Aug 2003 10:05:58 +0700
[EMAIL PROTECTED] wrote:

> Dalam pandangan saya, pola fikir para pengambil keputusan masih
> terpaku pada "quick yielding", sehingga tentu pandangannya akan
> mengarah kepada trading business, kalau tidak mau disebut lebih miris
> lagi mengarah pada broker business. 

Masak sih ?
Apakah Regulasi dibidang telekomunikasi kita sekarang di tangani oleh
Singapore ?
Apakah regulasi Semen kita sekarang ditangani Mexico ?

> Sudah selayaknya kita berkaca ke negara-negara tetangga seperti Korea,
> atau bahkan Malaysia, yang dengan gigih dan sangat berfihak kepada
> industri mereka selama kurun waktu 15 - 25 tahun terakhir. Sepertinya
> selama ini(atau paling tidak akhir-akhir sejak orde baru runtuh), kita
> lebih berkaca kepada Singapura dan Hongkong, yang mengandalkan trading
> dan services. Negara kita adalah negara besar dengan 200 juta
> penduduk, tidak bisa hanya mengandalkan trading and services.
> Singapura dan Hongkong yang kecil tentu bisa mengandalkan ini, dengan
> asumsi bahwa production center mereka adalah negara-negara sekitarnya.

Sudah lihat China yg habis-2x an melakukan privatisasi ?
Penduduk dan luas negaranya berlipat dari kita lho.

Sudah lihat bagaimana BUMN di Singapore beroperasi ?
http://www.gic.com.sg

Singapore memang kecil, cuma segede Jakarta Barat doank, coba tengok
apakah ada Kabupaten di negara kita yg gedenya se Jakarta Barat yg punya
kapabilitas spt Singapore ?

Pemerintah pada khitahnya ngurusin regulasi/kebijakan, boleh saja dia
menyuntik modal, membuat perusahaan negara jika memang diperlukan, tp
hanya sementara pada saat diperlukan, nanti jika sdh running well, cabut
lagi dari situ. Mirip-2x Modal Ventura atau Bank Syariah gitulah.

-- 
syafril
-------
Syafril Hermansyah



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke