>>>>Kalau nonton bioskop di Canada seperti nonton bioskop di Indonesia, mungkin >>>>saya akan lebih mending nonton di bioskop.
Faktor ini (i.e. harga tiket) memang yang harus kita perhatikan demi keberlangsungan bioskop di Indonesia. Pa Wi kemarin bilang Rp 25rb sekali nonton, yg mana itu hanya utk Jumat, Sabtu-Minggu. Sementara hari lain......Rp 15rb saja....($1.5) di semua bioksop jaringan 21 (kecuali Premiere). Bahkan di Tim 21 hanya 10rb !! Semua tarif tiket itu juga berlaku untuk bioskop 21 yg baru dan bertempat di mall termewah semacam Senayan City atau Pondok Indah. Cek di www.21cineplex.com Secara kasat mata sih...dengan harga tiket segitu, berat banget bisnisnya.... (bukannya mau sok kasihan sama 21). Tapi seperti kemarin saya bilang, harga meteri copy film aja sudah segitu mahal, padahal masih harus bayar pegawai, listrik, sewa gedung dll. Di Senayan City yg hitungan sewa per-m2 saja bisa sampai ratusan dollar...apalagi untuk bioskop yg samapi ambil lahan lebih dari seribu meter persegi!!! Belum lagi, bohlam proyektor yg tidak mau tahu 5 atau 100 orang yg nonton...tetap saja setiap hitungan jam tertentu harus diganti. Dan harganya.... cek aja ke penjual lampu sorot 500w... nah yg ini bisa sampai 1500 watt, halogen dan Xenon pula!!! Saya rasa, di sini ada bermain "budi baik" dari pemegang hak edar (Hollywood cs) yg tidak men-charge biaya sewa film setinggi di AS atau Canada atau negara maju lainnya, selain juga"budi baik" dari pemilik gedung yg men-charge harga khsus untuk bioskop (karena bioskop kan menjadi daya tarik bagi orang ke mall itu juga) Sebenarnya, mau nonton di USA atau Singapore atau Sydney atau Jakarta..... mau bayar $12, $7 atau Rp 15rb...sajian di layar seharusnya sama saja. Karena proyektor yg dipakai hampir setipe, begitu juga audio systemnya. Tinggal "man behind the gun" -nya yg harus lebih peka dalam mengoperasikannya. Jadi kesimpulannya, perlu kita (yg cinta audio-visual) untuk lebih cerewet kalau melihat kekurangan dengan berbicara ke projectionist (saya sih lewat mba yg di pintu itu aja). Terbukti, kemarin begitu diingatin, si projectionist langsung membetulkan dan karena tahu da yg memperhatikan, dia stand by terus di depan proyektor. Sedikit saja out of focus, dia langsung benarkan. cheers, winbert www.winbert.co.cc _________________________ Mencari Piringan Hitam (PH) Rock, Progressive, Metal, Blues, Jazz, Country, Pop, Punk, New Age, New Wave, dll? kunjungi www.piringanhitam.co.cc utk koleksi langka. List tersedia!! ----- Original Message ----- From: David Susilo To: [email protected] Sent: Wednesday, January 28, 2009 10:18 PM Subject: RE: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop Kalau nonton bioskop di Canada seperti nonton bioskop di Indonesia, mungkin saya akan lebih mending nonton di bioskop. Sayangnya kalau nonton bioskop di Canada akhirnya keluar duit sama atau lebih banyak daripada beli BD. Bioskop average harganya $12 per orang, kalau bioskop bagus harganya $18 per orang. Tapi nggak ada yang sebagus Premier XXI. Coming to Indonesia in October 2009 Book Your ISF Calibration Seminar Today 3-day seminar/exam hosted by Joel Silver (ISF Founder) & David Susilo (Calibrator / Photographer) [total solutions] for your home cinema and marketing needs [email protected] take a gander at www.davidsusilo.com ------------------------------------------------------------------------------ To: [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 28 Jan 2009 12:52:24 +0700 Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop Sampai saat ini film di bioskop masih pakai beberapa roll untuk satu film. Soalnya masih ada cigarette burn setiap kali saya nonton di bioskop dan berasa perpindahan projectornya. Jika nonton bioskop disini satu kali 25 ribu, beli 1 keping BD bisa untuk nonton belasan kali. Mungkin ini alasan saya masih suka nonton bioskop karena bioskop disini masih murah dan menyenangkan. Kalau urusan kualitas gambar saya sih tidak berani bilang BD jauh lebih bagus dari bioskop. Wiyono ----- Original Message ----- From: Daniel H.T. To: [email protected] Sent: Tuesday, January 27, 2009 11:32 PM Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop Pak Wiyono, pertunjukan film yg terputus karena alasan tukang antar film yang terlambat, bukankah cerita lama? Khususnya untuk bioskop2 modern saat ini? Kalau saya tidak salah, bioskop2 modern kelas atas sekarang ini hanya menggunakan satu rol film, atau palingbanyak untuk satu film. Jadi tidak perlu ganti2 rol film untuk satu film yg terbagi atas beberapa rol?? Tolong koreksi kalau saya salah. Ya, memeng betul, ke bioskop untuk nonton film baru, yang belum ada format DVD/BD original-nya, tetapi kalau mau sabar, 'kan bisa menontonnya DVD/BD originalnya sekitar 3-4 bulan sesudah main di bioskop? Itu tidak terasa karena sepanjang waktu tunngu tsb telah antri film2 lainnya format DVD/BD yg kita tonton di rumah. Yang kita dapatkan adalah kualitas gambarnya yang jauh di atas bioskop. Kecuali kalau memang tidak sabar, ya, "terpaksa" nonton di bioskop..:-) Maka itu untuk film2 tertentu, saya nonton di bioskop. Kalau bagus, ketika BD-nya dirilis saya beli untuk koleksi pribadi. Terma kasih ----- Original Message ----- From: Wiyono To: [email protected] Sent: Tuesday, January 27, 2009 10:59 AM Subject: Re: [avifans] Re: Problem menonton di bioskop Bioskop kan untuk nonton film baru pak Daniel. Kalau mau nonton film baru di rumah kan cuma ada bajakannya. Home theater saya kebanyakan untuk mengulang film yang lagi pingin ditonton. Film jaman dulu memang ada intermissionnya kadang diawal dan ditengah film. Biasanya intermision dibuat selain untuk istirahat ke wc juga untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan penjualan snack dan minuman. Kalau di indonesia intermision mungkin dibuat untuk menunggu tukang antar film yang kena macet dijalan. Wiyono
