Yth.Pak Popo dkk,
 Agak menyedihkan, bahwa dalam pelaksanaan proyek ini, prosedur dan mekanismenya ternyata amburadul. Kontraktor tidak melihat hasil studi Culturtal Heritage Conservation, dan pejabat pemda yang di lapangan juga tidak memahami hal-hal yang harus dikerjakan. Jelas terlihat adanya 'gap' antara rencana, perencanaan, pelaksanaan, pelaksana, monitoring dan controlling. Rencana dan perencanaannya yang baik serta sempurna tapi tidak dilaksanakan tentu harus dicari penyebabnya.
 
Sangat diperlukan juklak untuk mengatasi masalah kelemahan pemahaman 'pelaksana proyek' atas  spirit dari rencana yang telah dibuat. Pengawas harus menjaga agar pelaksana bekerja sesuai dengan perencanaan.
 
Saya kira mutlak dilakukan kajian dalam segala aspek dari proyek ini, setelah kita mengetahui adanya penyimpangan pelaksanaan dan hasil studi. Jika terlambat kajian ini, maka kita khawatir pinjaman dari worldbank akan sia-sia untuk melestarikan peninggalan budaya.
 
Saya ingin mengusulkan, bagaimana sekali-sekali evaluasi ulang proyek ini dilakukan di singaraja ? LP3B Buleleng siap memfasilitasi pertemuan tersebut.
 
Rahayu
Gde Wisnaya 
----- Original Message -----
From: popodanes
Sent: Monday, May 26, 2003 3:28 PM
Subject: [bali] Buleleng & Cultural Heritage Conservation

Dear all,
 
Pertemuan yang lalu, pada hari Senin, 19 Mei, dihadiri oleh Bp. Suhadi Hadiwinoto dari Worldbank, Purnomo dari PPCU Bali, Wayan Hartana dari PPCU Bali, Putu Rumawan Salain,  dari team ahli project CHC, Popo Danes, Demer, Yudha Saka, Ngurah Paramartha, Yudi Gautama, Agus Sulendra, Ketut Sarjana, Wayan Silur, Ketut Englan, Nyoman Suma Argawa, dan Anindya Putra dari Bappeda Kodya Denpasar.
 
Pertemuan ini menyambung pertemuan sebelumnya, serta menyampaikan hasil peninjauan lapangan di Singaraja pada pagi hingga siang hari yang sama. Permasalahan-permasalahan yang ditemui merupakan konfirmasi dari sinyalemen sebelumnya yang tidak melihat adanya keterkaitan antara apa yang dilakukan di lapangan dengan hasil study yang dibuat terdahulu.
 
Ada beberapa hal yang konyol, perencana proyek yang dilaksanakan sekarang, CV. Sad Cipta Laras, tidak pernah melihat hasil study Cultural Heritage Conservation yang harus diimplementasikan. Pada saat kunjungan ke lokasi Pelabuhan Buleleng, seorang pejabat pemda menyampaikan bahwa proyek segera dimulai. Untuk itu mereka akan segera membongkar bangunan bergaya art-deco kantor bea dan cukai yang ada di pelabuhan. Pembongkaran itu katanya atas perintah pak Bupati. Saat ditanyakan, apakah memang sudah ada perencanaan yang konkret, kenapa sampai bangunan itu dibongkar, katanya biar lokasi diratakan dulu, setelah itu akan dibuat perencanaannya. What a surprise ! Kok bisa ya, mereka mikirnya seperti itu.
 
Juga ada rencana bupati untuk membangun patung Ki Barak Panji Sakti di depan Puri, di bekas bangunan kantor camat, dan sampai saat ini masih belum memiliki konsep yang jelas.
 
Forum menginginkan untuk mengagendakan rapat berikutnya untuk menyusun beberapa point penting yang sangat perlu diperhatikan untuk kelangsungan proyek ini, yang ingin kita sampaikan langsung ke Bupati Buleleng.
 
Untuk itu, kami sangat mengharapkan kehadiran rekan-rekan lebih banyak lagi untuk hadir dalam pertemuan berikutnya pada hari Rabu, 28 Mei 2003, jam 19.30 wita, bertempat di Jalan Hayam Wuruk 159 Denpasar.
 
Terimakasih dan salam,
Popo Danes

Kirim email ke