Dear Pak Nyoman Bangsing Aku protes yah. Pariwisata itu tidak merusak heritage, mungkin kita perlu luruskan yang namanya revitalisasi. Karena menurut saya konservasi disisi arsitektur adalah revitalisasi peninggalan yang ada. Sebab kalau saya ke Mesir, saya justru ingin tahu ruin nya piramid, seperti juga saat saya ada di Siem Reap, Kamboja. Ngeri juga sih, tapi pengalaman itu memberi pelajaran bagi saya, bahwa kemampuan generasi sekarang jauh ''terbelakang'' dibanding generasi yang mewariskan kawasan itu. Untuk pelabuhan Buleleng? Pariwisata tidak menjanjikan pelabuhan modern ala sekarang, tetapi tatanan ruang pelabuhan masa lalu yang ''bersih'' nyaman dinikmati, aman dari tindak kriminal. Untuk menyajikan pelabuhan jaman baheula itu, kita perlu revitalisasi sisanyakan? Ngkali yah, maaf saya bukan ahlinya, cuman ahli ngecap.
Dwi --------- Original Message --------- DATE: Wed, 04 Jun 2003 14:39:44 From: popodanes <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Cc: >Pak Nyoman Bangsing di Bandung, > >Terimakasih untuk uneg-uneg positifnya. Saya juga menaruh concern yang sama dengan >anda. Untuk heritage, di Bali memang belum ada pemetaan yang jelas. >Baru saja bulan lalu diresmikan berdirinya Bali Heritage Trust, dengan >ketuanya Tjokorda Raka Kerthyasa dari Ubud. Kita bisa berharap kepada >lembaga ini untuk mendudukkan secara benar permasalahan-permasalahan yang >anda kemukakan tadi. > >Khusus untuk yang di Buleleng, Ujung Karangasem dan Gilimanuk, itu dibuat >melalui proses studi yang dibuat sejak tahun 1996. Saya sendiri baru diminta >terlibat kurang dari 2 bulan yang lalu, dan setelah melihat banyak >implementasi yang tidak tepat dari hasil study itu, langsung saya open the >file dalam milist ini. Saya hanya merasa, kerjaan seperti ini memang wajib >dipelototin orang banyak yang menaruh perhatian, sehingga tidak sambil lalu >dan kita sesali bersama kemudian. > >Anyway, thanks untuk semua supportnya pak, saya akan print semua comment >yang masuk hingga sore ini untuk bisa kita sebarkan pada pertemuan nanti >malam. > >Salam, >Popo > > > >----- Original Message ----- >From: "Nyoman Bangsing" <[EMAIL PROTECTED]> >To: <[EMAIL PROTECTED]> >Sent: Wednesday, June 04, 2003 1:16 PM >Subject: [bali] Re: Buleleng & Cultural Heritage Conservation > > >> Ysh. Pak Popo Danes dan teman-teman lp3b >> >> Pak Popo, saya merasakan ada pertanyaan yang terus menggayut dalam hati >saya. >> Pertanyaan saya yang pertama, apakah dalam proyek ini diperlukan tenaga >ahli >> asing, yang tentunya mesti dibayar dengan dollar ? >> Pertanyaan ini saya ajukan, mengingat dalam proyek-proyek sejenis ini, hal >> seperti itu sudah jamak dilakukan. >> Hal lain yang ingin saya sampaikan, yaitu kekhawatiran saya, bahwa proyek >ini >> lebih membela kepentingan pariwisata, bukannya budaya. >> Mungkin kita bisa saja berkilah, toh pariwisata juga bagian dari budaya. >> >> Kenapa saya katakan demikian ? >> Coba kita lihat obyek-obyek yang akan digarap, dua diantaranya yaitu >> pelabuhan Buleleng dan Taman Ujung Karangasem. >> Saya hanya mereka-reka, mungkin nanti skenario ceritanya akan seperti >berikut >> ini : >> >> Pelabuhan Buleleng penting, mengingat wisatawan asing yang berkunjung ke >Bali >> pertama kali mendarat di Pelabuhan Buleleng. >> Taman Ujung, menurut artikel yang pernah saya baca, sarat dengan >arsitektur >> Barat. Tolong saya dikoreksi kalau saya salah. >> Bila alur ceritanya seperti itu, secara tidak langsung, patron yang ingin >> disampaikan yaitu bahwa Belanda(baca penjajah) berjasa besar dalam >> pengembangan pariwisata Bali. Sementara andil penduduk lokal, rasanya >tidak >> mendapat porsi untuk diketengahkan. >> Bahwa mereka berjasa ya, hanya saja porsi penyampaiannya mesti imbang >dong. >> Kenapa Pura Beji(desa Sangsit), Pura Penegil Dharma(Kubutambahan), Pura >Pulaki >> (Yeh Poh) nggak digarap ? >> Rasanya sih memang pesan sponsornya gitu. >> >> Coba kita lihat dalam dunia seni lukis. Orang-orang Bali akan demikian >> fasisnya menyebut nama-nama Rudolf Bonnet, Walter Spies, Blanco, Arie >Smith >> dsb. Mereka ditulis dan selalu ditulis,seolah mereka adalah God father-nya >> pelukis Bali. >> Lalu apanya yang salah ? >> Kita memang mesti mengakui bahwa mereka berjasa dalam perkembangan seni >lukis >> di Bali, khususnya Ubud. Hanya saja kita tidak perlu mendewakannya. >> Kalau anda iseng-iseng coba cari informasi apakah mereka-mereka itu >> diperhitungkan di negara asalnya ? >> Kalau kita mau mengukurnya lebih fair, coba telusuri museum terkemuka >dunia >> mana yang mengoleksi karya mereka ? >> Saya terkadang mendapat kesan, beberapa kalangan di Bali terlalu melebih- >> lebihkan mereka. >> Jika kita mau fair, kita juga punya nama-nama besar yang bisa diekspos >yaitu >> Tjokot, Lempad, Ida Bagus Tilem, Jro Dalang Diah dan masih banyak lagi >> seniman Bali yang tidak kalah dengan orang asing di atas. >> Tjokot menurut saya adalah jenius, mengingat beliau melahirkan aliran baru >> dalam seni patung yang dikenal dengan Tjokotisme. >> Jro Dalang Diah saya beri nilai plus, mengingat beliau belajar melukis >> otodidak, dan tidak seperti rekan-rekan mereka di Ubud yang diuntungkan >> dengan adanya kelompok Pita Maha yang disponsori oleh kalangan Puri di >Ubud. >> Kenapa kita tidak mengekspos mereka ? >> Kenapa wartawan Bali Post begitu getol menyebut nama orang asing di atas ? >> >> Coba kita lihat dalam bidang seni tari. Koreografer tari yang terkenal >dari >> Tabanan yaitu I. Maria. Orang asing menulis Mario, dan kitapun latah ikut >> menulis Mario. Bahkan PEMDA Tabanan ikut membangun gedung kesenian, dimana >> gedung tersebut diberi nama Gedung Mario. >> Acara tiga bulanan(nelubulanin) anak di Bali, saat dimana manusia Bali >diberi >> nama oleh orang tuanya, khan mahal dan sakral. Kok seenaknya mengubah-ubah >> nama orang. >> Mestinya kita meluruskannya. Nama aslinya khan Maria(baca Marie), bukan >Mario. >> Kenapa orang asing berbuat kesalahan kita ikut-ikutan salah ? >> What is wrong with our society ? >> Apakah ini hasil dari penjajahan selama tiga setengah abad ? >> >> Pak Popo dan kawan-kawan, maaf saya menuangkan uneg-uneg saya. Saya >khawatir >> jangan sampai kita hanya menjadi perpanjangan tangan kepentingan pihak >asing. >> >> Maaf kalau tulisan saya ini terasa menggangu teman-teman. Semoga kedamaian >> selalu menyertai kita. >> >> salam sejahtera dari >> Nyoman Bangsing >> >> On Tue, 03 Jun 2003 22:03:37 +0800, popodanes wrote >> > Hallo rekan-rekan peduli Buleleng, >> > >> > Hari Rabu yang lalu, kita lanjutkan pertemuan lagi yang dihadiri >> > oleh Agus Sulendra, Yudi Gautama, Darma Dipta, Ngurah Paramartha, >> > Yudha Saka, Cahyo Prassetyo, Agus Agam, Ketut Rana Wiarcha, Popo >> > Danes, Nyoman Gde Suardana, dr. Soegianto, Wayan Silur, Putu Rumawan >> > Salain, Putu Agus Budiana, Purnomo. >> > >> > Peretemuan banyak diisi dengan presentasi visual oleh Bp. Putu >> > Rumawan Salain, yang menjelaskan, apa yang telah menjadi hasil >> > bahasan studi Cultural Heritage Conservation untuk kota Singaraja. >> > satu hal yang penting, dalam studi juga dijelaskan bahwa bangunan >> > Bea Cukai di pelabuhan Buleleng yang akan dirobohkan atas perintah >> > pak Bupati itu termasuk yang akan dikonservasi. Nah .... >> > >> > Saya, Popo, beserta Bp. Ida Bagus Rai dari Bappeda Bali, dan Bp. >> > Purnomo dari PPCU Bali melakukan kunjungan ke Singaraja hari Senin >> > kemarin, dan diterima oleh Bapak Wakil Bupati, Ketua Bappeda, dan >> > mereka yang terlibat dalam proyek ini. Kita sudah jelaskan kepada >> > mereka tentang misi dari proyek ini, juga memperjelas apa yang telah >> > kita bicarakan bersama minggu lalu dengan Wakil Gubernur, Bp. Alit >Putra. >> > >> > Bagaimanapun, kita ingin tetap meluruskan apa yang semestinya >> > dilakukan di Buleleng, terutama untuk visi-visi yang lebih jelas ke >> > depan. Terimakasih untuk rekan-rekan yang sudah memberikan opininya >> > dalam milist ini, juga kepada Sdr. N G Suardana, arsitek dari >> > Jagaraga yang sempat membeberkan catatannya selama mengikuti >> > pertemuan- pertemuan yang lalu. >> > >> > Selanjutnya, kita rencana bertemu kembali pada hari Rabu, 4 Juni >> > 2003, waktu tetap 19.30 wita, tempat tetap, Jl. Hayam Wuruk 159 >Denpasar. >> > >> > Terimakasih dan sampai jumpa, >> > >> > Popo Danes >> >> >> >> >> >> >> -- >> Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. >> >> Publikasi : http://www.lp3b.or.id >> Arsip : http://bali.lp3b.or.id >> Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> >> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> >> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> >> > > >-- >Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > >Publikasi : http://www.lp3b.or.id >Arsip : http://bali.lp3b.or.id >Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> >Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> >Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Need a new email address that people can remember Check out the new EudoraMail at http://www.eudoramail.com -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
