Teman-teman yang peduli pelabuhan Buleleng,
saya memang tidak sempat mencerna satu persatu usulan para pakar yang mengadakan pertemuan tentang penataan Buleleng di rumah Popo beberapa waktu lalu. Semua ide baik, tapi sedikit ruwet. Tidak ada salahnya kalau ambil fokus untuk tahap awal : Pelabuhan Buleleng ! Untuk sekitarnya pelan-pelan. Yang penting selamatkan areal mungil yang bernilai sejarah dahsyat itu!
Usulan saya untuk dibuat museum sang pelabuhan itu nampaknya banyak yang setuju. Sebagian ruangan lain nampaknya cocok untuk kegiatan berkesenian, misalnya mengadakan pameran secara bergiliran untuk siapapun yang layak memamerkan karyanya. Ini tugas kongkrit FKIP Singaraja (Kang Hardiman & Pak Artika!-yang bisa menggerakkan seniman). Sementara untuk bangunan dan sekitarnya pertahankan dan cukup ditata (tugas Popo dan para pakarnya!).
Kalau perlu, Dinas Pariwisata Buleleng (atau sejenisnya) berkantor di pelabuhan Buleleng, biar sense of belonging-nya tumbuh. Nampaknya saya suka bagi-bagi tugas. Sebab, saya cuma bisa siaran di radio!(Mohon maklum).
Asti Musman-Radio Global FM
Bali
Karyasa Wayan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Karyasa Wayan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sangat terkesan dengan ide dan komitmen(semoga) untuk
menjadikan pelabuhan Buleleng menjadi museum.
Terkenang dengan tahun 1988, waktu saya pertama kali
menginjakkan kaki di Singarja dan melihat suasana
malam minggu di pelabuhan Buleleng. Saya tak tahu
sekarang apa masih ramai seperti dulu dikunjungi anak
muda atau justru menjadi tempat yang serem...):
Mungkin suatu event yang bagus kalau suatu saat ada
pameran atau sejenisnya tentang foto-foto sejarah dan
perkembangan pelabuhan Buleleng yang dikaitkan dengan
keadaan saat ini, mungkin ada baiknya membandingkannya
dengan museum pelabuhan yang di Hamburg atau yang
dok-nya Liverpool. Paling tidak kebersihan sungai di
sebelah pelabuhan Buleleng pikirkan juga disamping
penataindahan lingkungan sekitar.
Semoga sepenggal sejarah ini masih bisa menjadi
kenangan generasi mendatang.
Salam kenal untuk semuanya,< BR>
iwk
Berlin
--- asti musman <[EMAIL PROTECTED]>wrote: >
Teman-teman yang peduli pelabuhan Buleleng,
> Ketika saya menonton sinetron Api Cinta Antonio
> Blanco di TV beberapa tahun lalu, saya lihat salah
> satu lokasi syuting yang digunakan adalah pelabuhan
> Buleleng. Dalam sinetron itu, kantor-kantor di
> pelabuhan difungsikan lagi tanpa merombak sedikit
> pun bangunannya. Asli dan penuh makna, hingga saya
> pikir bangunan itu masih difungsikan hingga kini.
> Lantas, bulan Februari 2003, saya bersama mbak
> Restu(USAID) serta mbak Widi sempat melakukan clean
> up di pelabuhan itu. Saya lihat, banyak bangunan
> yang nampaknya berusaha dialihfungsikan sebagai
> kafe, namun bangkrut(apa ditutup?). Barangkali
> karena bangunannya nampak serem di malam hari,
> hi,hi,hi
> Sementara bangunan lainnya tidak terawat.
> Tapi biarlah semuanya utuh seperti adanya. Usulan
> saya bangunan itu untuk museum saja. Makanya
> berkaitan dengan diskusi di markasnya Popo,
> sebaiknya memang harus segera ada langkah kongrit.
> Sambutan hangat pak Wisnaya sebagai warga Buleleng
> untuk rembug soal penataan pelabuhan Buleleng
> (khususnya) dan tempat bersejarah lain juga perlu
> dipikirkan realisasinya.
> Yang pasti, cepat bertindak -lah bagi yang mampu
> melakukannya. Saya dorong, dorong dan dorong.
>
> Asti Musman - Radio Global FM
>
> Gde Wisnaya Wisna <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
> Yth.Pak Popo dkk,
> Agak menyedihkan, bahwa dalam pelaksanaan proyek
> ini, prosedur dan mekanismenya ternyata amburadul.
> Kontraktor tidak melihat hasil studi Culturtal
> Heritage Conservation, dan pejabat pemda yang di
> lapangan juga tidak memahami hal-hal yang harus
> dikerjakan. Jelas terlihat adanya 'gap' antara
> rencana, perencanaan, pelaksanaan, pelaksana,
> monitoring dan controlling. Rencana dan
> perencanaannya yang baik serta sempurna tapi tidak
> dilaksanakan tentu harus dicari penyebabnya.
>
> Sangat diperlukan juklak untuk mengatasi masalah
> kelemahan pemahaman 'pelaksana proyek' atas spirit
> dari rencana yang telah dibuat. Pengawas harus
> menjaga agar pelaksana bekerja sesuai dengan
> perencanaan.
>
> Saya kira mutlak dilakukan kajian dalam segala aspek
> dari proyek ini, setelah kita mengetahui adanya
> penyimpangan pelaksanaan dan hasil studi. Jika
> terlambat kajian ini, maka kita khawatir pinjaman
> dari worldbank akan sia-sia untuk melestarikan
> peninggalan budaya.
>
> Saya ingin mengusulkan, bagaimana sekali-sekali
> evaluasi ulang proyek ini dilakukan di singaraja ?
> LP3B Buleleng siap memfasilitasi pertemuan tersebut.
>
> Rahayu
> Gde Wisnaya
> ----- Original Message -----
> From: popodanes
> To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, May 26, 2003 3:28 PM
> Subject: [bali] Buleleng & Cultural Heritage
> Conservation
>
>
> Dear all,
>
> Pertemuan yang lalu, pada hari Senin, 19 Mei,
> dihadiri oleh Bp. Suhadi Hadiwinoto dari Worldbank,
> Purnomo dari PPCU Bali, Wayan Hartana dari PPCU
> Bali, Putu Rumawan Salain, dari team ahli project
> CHC, Popo Danes, Demer, Yudha Saka, Ngurah
> Paramartha, Yudi Gautama, Agus Sulendra, Ketut
> Sarjana, Wayan Silur, Ketut Englan, Nyoman Suma
> Argawa, dan Anindya Putra dari Bappeda Kodya
> Denpasar.
>
> Pertemuan ini menyambung pertemuan sebelumnya, serta
> menyampaikan hasil peninjauan lapangan di Singaraj a
> pada pagi hingga siang hari yang sama.
> Permasalahan-permasalahan yang ditemui merupakan
> konfirmasi dari sinyalemen sebelumnya yang tidak
> melihat adanya keterkaitan antara apa yang dilakukan
> di lapangan dengan hasil study yang dibuat
> terdahulu.
>
> Ada beberapa hal yang konyol, perencana proyek yang
> dilaksanakan sekarang, CV. Sad Cipta Laras, tidak
> pernah melihat hasil study Cultural Heritage
> Conservation yang harus diimplementasikan. Pada saat
> kunjungan ke lokasi Pelabuhan Buleleng, seorang
> pejabat pemda menyampaikan bahwa proyek segera
> dimulai. Untuk itu mereka akan segera membongkar
> bangunan bergaya art-deco kantor bea dan cukai yang
> ada di pelabuhan. Pembongkaran itu katanya atas
> perintah pak Bupati. Saat ditanyakan, apakah memang
> sudah ada perencanaan yang konkret, kenapa sampai
> bangunan itu dibongkar, katanya biar lokasi
> diratakan dulu, setelah it u akan dibuat
> perencanaannya. What a surprise ! Kok bisa ya,
> mereka mikirnya seperti itu.
>
> Juga ada rencana bupati untuk membangun patung Ki
> Barak Panji Sakti di depan Puri, di bekas bangunan
> kantor camat, dan sampai saat ini masih belum
> memiliki konsep yang jelas.
>
> Forum menginginkan untuk mengagendakan rapat
> berikutnya untuk menyusun beberapa point penting
> yang sangat perlu diperhatikan untuk kelangsungan
> proyek ini, yang ingin kita sampaikan langsung ke
> Bupati Buleleng.
>
> Untuk itu, kami sangat mengharapkan kehadiran
> rekan-rekan lebih banyak lagi untuk hadir dalam
> pertemuan berikutnya pada hari Rabu, 28 Mei 2003,
> jam 19.30 wita, bertempat di Jalan Hayam Wuruk 159
> Denpasar.
>
> Terimakasih dan salam,
> Popo Danes
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Free online calendar with sync to Out look(TM).
__________________________________________________
Yahoo! Plus - For a better Internet experience
http://uk.promotions.yahoo.com/yplus/yoffer.html
--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators :
Berlangganan :
Henti Langgan :
Do you Yahoo!?
Free online calendar with sync to Outlook(TM).
