On Wed, 04 Jun 2003 01:21:02 -0700, dwi yani wrote
Ysh. sdri Dwi Yani

Terimakasih atas responnya. Menurut saya protes tidak ada yang melarang. Toh 
dalam milis ini, salah satu manfaat yang bisa kita petik adalah sharing 
pengalaman dan bertukar pikiran.
Saya sendiri juga bukan ahli dalam bidang seperti ini, maka dari itu saya 
sampaikan saja uneg-uneg saya kepada Pak Popo Danes.

Terus terang saya agak khawatir, sasaran yang ingin dituju sebenarnya lebih 
untuk kepentingan pariwisata, namun dibungkus dengan bumbu-bumbu budaya. 
Disamping itu, dana yang digunakan adalah pinjaman yang sudah tentu mesti 
kita bayar. Nanti yang ngutang siapa, yang ngantongin duit siapa, eh...kita 
mesti yang bayar.
Hal lain yang juga perlu kita perhatikan yaitu kelanjutan dari proyek ini. 
Untuk membiayai bangunan-bangunan lama, khan perlu biaya renovasi yang tidak 
sedikit. Setelah sekian tahun berlalu, atau sekian puluh tahun berlalu, biaya 
renovasinya dari mana ?
Kita tahu bersama, banyak kegiatan di Indonesia dilihat hanya sebagai proyek. 
Setelah proyek selesai, yah sudah. Biaya pemeliharaan selanjutnya sering kali 
dilupakan. Mudah-mudahan dalam proyek ini, biaya renovasi lanjutannya sudah 
dipikirkan.

Mari kita berdiskusi lewat milis ini, dan bila kita berbeda pendapat, saya 
nilai adalah hal yang wajar-wajar saja. Sekali lagi trim's atas responnya.
Okey segitu dulu, sampai jumpa.

salam sejahtera dari
Nyoman Bangsing

> Dear Pak Nyoman Bangsing
> 
> Aku protes yah. Pariwisata itu tidak merusak heritage, mungkin kita 
> perlu luruskan yang namanya revitalisasi. Karena menurut saya 
> konservasi disisi arsitektur adalah revitalisasi peninggalan yang 
> ada. Sebab kalau saya ke Mesir, saya justru ingin tahu ruin nya 
> piramid, seperti juga saat saya ada di Siem Reap, Kamboja. Ngeri 
> juga sih, tapi pengalaman itu memberi pelajaran bagi saya, bahwa 
> kemampuan generasi sekarang jauh ''terbelakang'' dibanding generasi 
> yang mewariskan kawasan itu. Untuk pelabuhan Buleleng? Pariwisata 
> tidak menjanjikan pelabuhan modern ala sekarang, tetapi tatanan 
> ruang pelabuhan masa lalu yang ''bersih'' nyaman dinikmati, aman 
> dari tindak kriminal. Untuk menyajikan pelabuhan jaman baheula itu,
>  kita perlu revitalisasi sisanyakan? Ngkali yah, maaf saya bukan 
> ahlinya, cuman ahli ngecap.
> 
> Dwi
> 


--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke