Dear All, Dear Fabby dan Mbak Widi,
Sedikit nimbrung tentang polemik rencana pembangunan PLTP Bedugul. Pendapat saya ini tentu tidak bermaksud untuk memperkeruh suasana, karena baik Pak Fabby maupun Mbak Widi adalah 2 rekan saya yang saya hormati, sebab mereka berdua adalah orang-orang yang kritis dan menempatkan kepentingan masyarakat didepan. Keduanya juga rekan dalam satu perjuangan mengkritisi pembangunan PLTGU Pemaron. Bahwa kemudian dalam masalah pembangunan Pembangkit Listrik Geothermal di Bedugul menempatkan mereka dalam sudut pandang yang berbeda, mestilah dilihat sebagai bagian dari "saling memperkaya pandangan kita". Dan hendaknya perbedaan2 seperti itu dihargai demi kepentingan Bali juga. Bahkan bila masih ada perbedaan2 lainnya, mestinya dimunculkan juga dan kita tidak perlu saling "ewuh pakewuh" sesama teman membicarakannya.


Sebagaimana kita ketahui, bahwa sesungguhnya ada banyak jenis pembangkit listrik berdasarkan sumber energinya, yaitu pembangkit listrik batubara, pembangkit listrik tenaga diesel, pembangkit listrik tenaga gas berbahan bakar minyak dan pembangkit listrik tenaga gas berbahan bakar gas alam, pembangkit listrik tenaga nuklir, pembangkit listrik tenaga panas bumi, pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik non-konvensional seperti dari tenaga matahari, angin, ombak, biogas dll. Dari semua jenis pembangkit itu, dibedakan atas pembangkit yang ramah lingkungan dan yang tidak ramah lingkungan. Pembangkit yang ramah lingkungan, disebut demikian, karena tidak mengeluarkan emisi (keluaran) gas dari hasil pembakaran fossil, seperti batubara dan minyak bumi. Jadi, pembangkit listrik panas bumi termasuk yang ramah lingkungan. Sementara PLTGU Pemaron adalah pembangkit listrik tenaga gas berbahan bakar minyak, jadi termasuk yang tidak ramah lingkungan. Hal ini perlu dikemukakan agar persoalan menjadi jelas. Bahwa selama ini PLTGU Pemaron ditolak semata-mata karena kita khawatir akan pencemaran residu minyaknya ke laut.

Lalu, kalau PLTP Bedugul sudah ramah lingkungan mengapa masih ada polemik tentang pembangunannya ? Nah tanpa harus berputar-putar, persoalannya adalah bahwa ada yang mengkhawatirkan tentang kemungkinan pembukaan lahan hutan di lokasi sumber panas bumi tersebut, sehingga jika hutan dibuka maka akan mengancam resapan air didaerah tersebut. Beralasankah kekhawatiran tsb ? Inilah yang harus dicari jawabannya secara jujur.

Ada beberapa fakta yang saya ketahui sbb:
1. Masyarakat setempat tidak menolak rencana keberadaan PLTP bedugul tersebut.
2. Sampai tahun 2006 untuk rencana tahap I sebesar 10 MWe tidak akan ada penebangan hutan yang baru.
3. Lahan hutan yang digunakan sejak tahun 1997 sebesar kurang lebih 25 ha, adalah bagian sangat kecil dari 15000 ha kawasan hutan Batukaru.
4. Ada ketentuan yang mengharuskan, bahwa kontraktor harus membuat hutan baru seluas 2 kali dari luas hutan yang dibuka, dan hutan pengganti ini harus disekitar hutan yang dibuka, karena tujuannya adalah untuk menjamin fungsi hidrologis hutan tersebut tetap untuk kawasan dibawahnya.
5. Pengeboran dilakukan tidak di dalam wilayah cagar alam maupun hutan lindung, melainkan dipilih didaerah hutan buatan.


Selama ini saya mengamati pemberitaan di koran khususnya menyangkut masalah hutan ini seperti "sengaja" di blow-up, entah oleh pakar atau koran. Jadi, koran menjadi laris manis, akhirnya orang luar Bali mesem-mesem melihat bahwa orang Bali mudah berantem.


Diskusi akan menjadi lebih sulit, ketika setiap pihak tidak mau beranjak dari posisinya (ini sifat manusia kali ye ), dan akhirnya mungkin akan sulit ketemu, ketika salah satu pihak membawa alasan "niskala" atau "kepercayaan" dalam sebuah diskusi ilmiah.


Secara jujur saya mengatakan, bahwa proses yang dilakukan dalam rencana pembangunan PLTP Bedugul sudah sangat berbeda dengan rencana pembangunan PLTGU Pemaron. Dalam proses mengenalkan proyek PLTP Bedugul ini sudah terjadi proses keterbukaan kepada masyarakat. Bali Energy Limited /BEL yang menjadi kontraktor proyek ini telah membangun Information Centre di Denpasar yang terbuka untuk umum. Bagi yang ingin tahu tentang proyek PLTP Bedugul dipersilakan untuk ke info center ini. Juga sosialisasi pernah dilakukan ke Mal-mal di Denpasar dan singaraja untuk mendatangi langsung masyarakat. Bagi saya ini sebuah proses baru dalam pengenalan sebuah kegiatan dan perlu dipertahankan untuk kedepan. Seandainya saja PLTGU Pemaron melakukan hal yang sama, tentu indah sekali. Rasanya tidak perlu ada demo, adu otot dan bersitegang.

Salam
Gde Wisnaya Wisna



On Sun, 3 Oct 2004 22:59:59 -0700 (PDT)
 nimade widiasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Fabby, semua saran anda sangat betul.
Keterbukaan bukan cuman searah, tapi dua arah. Itupun
yang kita harapkan dari dulu/awal. Masalahnya adalah
seringkali celetukan2 dari teman2 yang seharusnya
konstruktif, kok malah sekedar nimbrung. Aku jadi
heran, kok kayak makai akal sehat lagi, tapi lebih
berpretensi ke arah "yang penting buka mulut". Kalau
itu menjadi hal yang tidak dipahami, itulah gunakan
information center, untuk dikunjungi, ditanya ini-itu,
didebat, bila perlu bawa tim ahli. Tapi khan nggak
"ngetop" kalau cuman berdebat disana. he..he....Saat
ini hutan yang existing belum diapa2kan, sesuai
kondisi selama ini (yang ditinggal California Energy).

Kalaupun nanti akan buka hutan, tentu mereka harus
ganti dengan lahan yang fungsi hidrologisnya sama
(dikawasan yang cathcment areanya sama), pohon yang
ditebang dibayar, kayunya diserahkan kepada kehutanan
(tentu dengan harapan akan dipakai untuk hal2 yang
positif bagi hutan). Semua persyaratan tersebutlah
yang perlu diawasi, kalau ganti hutan Bedugul dengan
lahan di Tejakula atau Bali Barat, jelas nggak
nyambung. Masalah amdal dari California energy khan ijinnya
tadinya 400 MW, tapi karena sekarang ganti 175 MW,
tentu harus ganti, biarpun lokasinya disana-sana juga.
Amdalnya sekarang sedang disusun oleh UNUD, kita harap
masukannya independent. jadi kalau yang nggak boleh
ya..nggak boleh, yang boleh ya..boleh, dll.
Tim dapur RUKD adalah Elektro UNUD, silahkan tanya
mereka. Setahuku, aturan2 atau dasar2 pemilihan jenis
pembangkit sudah ditentukan. Hasilnya silahkan hubungi
Bappeda Prop Bali atau Elektro UNUD. Pada prinsipnya
ramah lingkungan adalah syarat utama, kemudian ada
least cost, dll. Kalau least cost juga khan harus aple
to aple. Kalau pakai Batubara misalnya, berapa
kerusakan hutan ditempat penggalian, juga kapal
pengangkut, dll. Tapi pertimbangan2 lain, menyangkut keamanan Bali,
juga menjadi perhatian. Maklum kita khan bergerak di
pariwisata, karena kedatangan banyak bule,
eh...dianggaplah kita ini sama dengan USA-lah, negara
anu-lah...he..he....kok selalu jadi inceran ya????
Pada prinsipnya, saya sebagai orang hidrology melihat
pengaruh suatu kegiatan dari neraca ketersediaan air
di Bali. Kalau menjadi lebih baik, atau nggak cuman
menjadi Kawasan bedugul lebih baik fungsi
hidrologisnya, tetapi juga bisa bantu hutan2 lain di
Bali, kenapa tidak? Toh kita tahu ratusan hektar hutan
rusak di bagian lain dicuekin, nggak ada yang
ngurusin, apalagi diributin. Ujung2nya neraca air
diBali bukannya tambah baik, tapi tambah buruk. Kalau
benar-benar sayang dengan hutan diBali, mana yang
membuat hutan tambah buruk, mana yang bisa bertambah
baik, dan itu nggak cuman hitung2an diatas kertas,
tapi nyata di lapangan. Artinya, secara fakta
kerapatan hutan menjadi bertambah baik apa tidak?
Selama ini, aku kalau survey kondisi hutan ya
bersedikit kawan, kalau nanam pohon dengan para
pemilik hotel atau travel ya..harus bayar bibit,
katanya sih Dishut punya bibit gratis, dengan anggaran
sekian Milyar. Tapi kok, setiap bikin acara nanam
pohon, harus beli. Kalau memberi alternatif mata
pencaharian kepada masyarakat pinggir hutan, mesti
urunan sendiri. Untung aku ada teman, punya usaha
kerajinan, desain dan biasa memenuhi permintaan dari
buyers luar. Mana ada duit dari instansi terkait untuk
pendampingan masyarakat pinggir hutan? Jadinya
percepatan perambahan hutan oleh masyarakat,
dibandingkan pelatihan alternatif income dari kita
ya....kalah. Tapi apa ada yang bantuin teriak????
he..he...
Harga yang ditawarkan CDM saat ini adalah 3-20 USD per
ton CO2. Kalau ada yang bilang CDM ini bohong2an, saya
mohon mereka menuntut menteri, atau memPTUNkan negara
kita yang udah sign. Karena berarti sayapun udah
dibohongi juga. he..he....
Kita sedang menunggu pembentukan komisi di DPRD Bali,
pada prinsipnya, kita ingin difasilitasi untuk bisa
saling tahu. Mari kita buktikan ide2 atau alternatif2
yang lebih baik yang bisa direalisasikan, karena saya
sudah 2 tahun menunggu gerakan teman saya untuk
mengundang investor dan merealisasikan pembangkit
listrik tenaga ombak, tapi nggak kunjung jadi. Angin
juga masih kecil2an di Nusa Penida, karena kita di
Bali nggak punya angin dengan kecepatan sebaik NTT.
Airpun juga begitu, masih ribut antara subak,
pengusaha rafting, dan PDAM. Mari kita duduk bareng,
supaya nggak saling sangka. Kalau kita bilang PLN
bohong tentang kondisi ketersediaan listrik di Bali,
apa kalau nanti ternyata terbukti PLN nggak sanggup
dan ada pemadaman bergilir, ada yang mau menjaminkan
diri?? saya bukan hanya mikirin usaha keluarga, tapi
teman juga punya usaha tekstil, media, hotel dan
lain-lain. Berani terima tuntutan ganti rugi mereka ke
PLN, untuk dialihkan menjadi tagihan kepada
sekelompok/seseorang yang mengatakan ketersediaan
listrik kita masih cukup. Saya belajar untuk
independent, ribut saja tanpa memberikan solusi
alternatif, sama dengan "tukang kibul".
Welltest sudah jalan, sekarang kita sedang amati
karakter uapnya, sama sekali tidak ada gas yang
beracun, malah H2S nya rendah sekali. Perbandingan
antara uap dan air nya 90:10, di sumur yang sudah
ditest.Ok segitu dulu, aku nggak bisa bicara normatif
doang, tapi apa yang kelihatan dan dialami di
lapangan.


Cheers: widi

--- Fabby Tumiwa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dear all,

mau sedikit kontribusi pendapat soal PLTP Bedugul.
Maaf, saya sebenarnya
orang Jakarta yang tidak punya kepentingan apa-apa
di Bali. Tapi berhubung
masalah energi itu terkait dengan masalah national
energy security, saya
tergerak buat nimbrung. Selain itu, ini tidak ada
urusannya dengan
pro-kontra tetapi sekedar kontribusi saya sebagai
bagian dari masyarakat
Indonesia.

Pertama, mengenai proses. Saya kira usulan Viebeke
bagus sekali, coba lihat
dan evaluasi kembali apakah segala macam sosialisasi
yang sudah dilakukan
Widi dkk untuk PLTP memang sudah tepat? Bagaimana
hasilnya? Sungguh sayang,
karena seharusnya apa yang dilakukan oleh Widi
seharusnya dilakukan oleh
pihak pemda sehingga masyarakat tidak punya
penilaian macam-macam mengenai
keterlibatan kawan-kawan.

Selain itu, apakah hal itu adalah akhir dari proses
sosialisasi atau justru
awal untuk memancing pendapat dan reaksi masyarakat,
terlepas pro dan
kontra-nya terhadap proyek tsb. Saya kira masyarakat
(khususnya masyarakat
Bali) berhak mendapatkan informasi
sebanyak-banyaknya dan
selengkap-lengkapnya mengenai proyek ini, misalnya
AMDALnya, Social Impact
assesment, economic impact asesment, project
information documents, etc;
kemudian mencermati dan meng-kritisi
informasi-informasi tersebut sehingga
pada akhirnya ada semacam konsensus di kalangan
masyarakat Bali mengenai
apakah proyek itu acceptable atau tidak. Mungkin
para enginer dan investor
meng-klaim bahwa proyek ini sustainable dan baik
bagi pembangunan Bali
tetapi dari pengalaman saya selama ini, logika
masyarakat dan logika para
pembuat kebijakan maupun proyek developer sering
tidak ketemu. Saya kira,
proses urun-rembug dan mencapai konsensus bersama
ini yang sejak awal
republik Indonesia berdiri seringkali diabaikan oleh
para pengambil
kebijakan di negeri ini. Oleh karena itu, tidak
heran hampir seluruh proyek
pembangunan menimbulkan dampak sosial, lingkungan
dan ekonomi yang besar.
Bukan pembangunan yang mensejahterahkan melainkan
memiskinkan.  Kasus PLTGU
Pemaron kiranya jadi pelajaran berharga. Sekarang
sudah mulai ada tumpahan
solar yang mengotori pantai.

Soal proyeknya sendiri, sebenarnya tidak terlepas
dari strategi dan skenario
penyediaan listrik di Indonesia dan P. Bali. Saya
dengar, PLTP Bedugul sudah
masuk dalam RUKD Bali. Nah pertanyaannya adalah apa
dasar/prinsip penyusunan
RUKD tsb? Apakah sudah berdasarkan kajian ekonomi,
teknis dan sosial yang
layak? Saya dari dulu sangat setuju desentralisasi
perencanaan
ketenagalistrikan bukan melulu tersentralisasi.
Walaupun demikian, proses
penyusunan RUKD saat ini sudah seharusnya di-kritisi
sehingga hasilnya dapat
sesuai/selaras dengan kaidah perencanaan energi  dan
sistem
ketenagalistrikan yang handal, least-cost dan
optimal demi manfaat publik
yang sebesar-besarnya.

Dalam email sebelumnya, Widi menyebutkan mengenai
CDM. Kalau boleh tahu,
berapa kira-kira dana CDM yang dapat diterima oleh
proyek ini (dengan asumsi
kapasitas pembangkitnya 165 MW)? Apakah sudah ada
CDM buyer-nya? Untuk biaya
pengembangan PLTP sehingga 165 MW, berapa besar dan
siapa saja investor-nya
yang akan mendanai, apakah pemda terlibat? Selain
itu hingga saat ini sejauh
mana sih pengembangan PLTP tersebut. Seingat saya
bulan Juni/Juli lalu
dilakukan well-test? bagaimana hasilnya?

Oke, sebagai penutup saya menyarankan untuk baiknya
mungkin kawan-kawan di
Bali, termasuk Pemda menyelenggarakan suatu seminar
ilmiah dan debat terbuka
antar berbagai pihak masyarakat yang pro dan kontra
untuk masalah ini.
Seminar misalnya dapat diarahkan untuk menguji
apakah PLTP layak secara
ekonomi, teknis, sosial dan lingkungan? tanpa
ber-pretesi mendukung atau
menolak PLTP tsb. Yah, semacam proses interaksi lah
antar komponen
masyarakat dan pihak-pihak yang terkait. Dengan
demikian ada proses
pendidikan publik (bukan indoktrinasi
publik)...hehehehe....Maaf, jika
terlalu banyak berceloteh. Dari lubuk hati yang
terdalam saya berharap
bangsa kita menjadi bangsa yang maju dan makmur.
Semoga dapat mendorong
diskusi yang lebih konstruktif.

Salam,
Fabby

nb: sekedar mengingatkan, bagaimana kawan-kawan
merespon indikasi pencemaran
laut di Pemaron? Salah satu aset Pemaron yang
terpenting adalah pantai
Lovina. Jika rusak, maka akan menimbulkan dampak
negatif yang tidak sedikit.


Fabby Tumiwa (Coordinator) Working Group on Power Sector Restructuring (WGPSR) Jl. Mampang Prapatan XI/23 Jakarta, 12790 Tel: +62-21-79196721/22 Fax: +62-21-7941577 Email: [EMAIL PROTECTED] Website: www.wgpsr.org


----- Original Message ----- From: "Asana Viebeke Lengkong" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, October 04, 2004 3:07 PM
Subject: [sos-bali] Re: Oil on Lovina Beach!!!



> Dear Widi, > > Kita boleh cape tapi tidak boleh berenti selagi hidup - datanya kan ada - > dan itu perlu di distribusi lagi. > > Memang kalau soal sosialisasi produk - program - kita harus menyediakan > banyak bahasa untuk dapat disajikan sesuai dengan pengertian kelompok > masyarakat - it is all about language - lebih banyak dibicarakan di sajikan > supaya menjadi biasa di dengar dan di baca - agregasi dari hal-hal yang > dibutuhkan dan sesuai dengan expectation masyarakat maka akan terjadi > interaksi- dibuka terus dialognya - sampai semua ikut membangun makna. Kita > sajikan dengan bahasa yang bisa menghubungkan masyarakat dengan persoalan > riil. Siapa kira-kira bisa jadi fasilitator yang bisa buat formulasinya > ya - soalnya aku nggak pinter - cuma bisa mikir aja. Tapi aku percaya kalau > 'if we can imagine it - we can achieve it' > > Channelnya yang harus di cari terus - connectionnya - eh ini pendapat lho - > mungkin kita harus mulai evaluasi apa-apa saja yang sudah kita kerjakan - > effektif nggak - jadi kita bisa revisi approach kalau belum efektif. > > Masyarakat kita banyak yang masih ignorance - tidak atau belum peduli - atau > yang peduli sering mau menyederhanakan permasalahan dengan alasan agar hidup > jadi sederhana - mimpi kali. > > Kita semua ada tendensi lupa atau melupakan dan mengabaikan permasalahan > (rumit nggak sederhana, jadi lupain aja) - jadi pada waktu permasalahan ada > kita lupa apa yang harus di lakukan. > > Ya udahlah - namanya juga hidup dalam satu dunia - kata Anton dimana-mana > tendensinya sama. Jadi yang penting "what is our contribution!"

=== message truncated ===




__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail



-- Bali In Danger, a Mailing List for people who concern with Bali Island See <http://www.bali-in-danger.net> for further info.

SALAM Gde Wisnaya Wisna ============================================= Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004 =============================================


-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.


Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke