Pak Wis dan kawan-kawan yang baik, Saya sangat senang karena tawaran untuk mendiskusikan masalah PLTP Bedugul di milis ini ternyata bergulir. Saya kira hasil diskusi di milis ini akan jadi lebih positif jika moderator/owner milis ini dapat membuat resume dan membuat rekomendasi kepada stakeholder yang terkait...sekedar usulan.
Pak Wis, mbak Widi dan kawan-kawan yang lain saya kira walaupun dalam beberapa hal kita sama, tetapi kadang kita juga memiliki perbedaan dalam menyikapi hal-hal tertentu. Saya kira itu wajar, karena bagaimana seseorang bereaksi akan tergantung pada cara pandang seseorang terhadap suatu perkara. Dalam konteks PLTP Bedugul pun saya kira demikian. Tetapi saya kira dapat kita sepakati bersama adalah, PLTP Bedugul adalah isu publik oleh karena itu pembahasannya pun harus dilakukan dalam rangka mencari manfaat publik yang sebesar-besarnya dari proyek ini. Saya sangat sepakat dengan pernyataan Pak Wis, bahwa jika ada perbedaan pandangan, hal itu justru lebih memperkaya pandangan kita semua, dalam rangka mencari konklusi yang terbaik bagi masyarakat Bali dan bagi rakyat Indonesia secara keseluruhan. Memang sebaiknya, semua orang turut masuk, ikut berpolemik dan mengutarakan pandangan-pandangan kritisnya atas masalah ini. Pak Wis dan rekan-rekan lainnya, saya sepakat dengan anda semua bahwa kita harus memanfaatkan teknologi pembangkit listrk yang 'ramah lingkungan', salah satunya dari sumber-sumber energi non-fossil. Sejak tahun 1996, saya terlibat dalam pengembangan energi alternatif tenaga matahari dan biogas, jadi hal ini bukan hal yang baru bagi saya. Isu perubahan iklim adalah isu yang sangat serius, khususnya bagi negara kepulauan seperti Indonesia, kalau kita tidak ingin jutaan hektar kawasan pesisir pantai kita dan pulau-pulau kecil hilang dari peta nusantara 20-30 tahun lagi. Tapi harus dipahami juga bahwa tanggung jawab masalah perubahan iklim yang terbesar ada pada negara-negara maju. 15 negara maju (G-15) bertanggung jawab atas 80% emisi global. Sisanya baru lah diusung oleh sekitar 150-an lebih negara berkembang dan miskin. Oleh karena itu, sejak 1990-an, lebih banyak lagi aktifis lingkungan di negara maju mulai heboh campaign soal perlunya pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan untuk menggantikan energi fossil. LSM lingkungan seperti Greenpeace sejak tahun 2000, mengkampanyekan gerakan 'Clean Energy Now' dan baru-baru ini WWF heboh dengan kampanye jutaaan dollar berjudul 'Power Switch', yang mencoba mendorong pemanfaatan energi terbarukan di negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Walaupun demikian, biaya teknologi untuk energi terbarukan masih cukup tinggi. PLT Angin berkisar antara $ 8-10 cent/kWh; PV berkisar sekitar $ 10-12 cent/kWh, biomassa dan mikro-hidro harganya cukup menarik tetapi belum bisa mass-scale. Bagi negara-negara maju yang highly dependent on fossil fuel dan nuklir, alternatif switch ke energi terbarukan adalah pilihan kebijakan ekonomi dan politik sekaligus proses transisi sementara sampai sumber-sumber energi baru yang lebih murah dan aman, seperti fuel cell dan fusi nuklir telah dapat dimanfaatkan secara massal. Untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, pengembangan energi terbarukan penting tetapi dalam rangka economic competitivenes, saya kira optimalisasi pemanfaatan energi fossil yang kita punya harus mendapat prioritas utama. Switching ke energi terbarukan dapat dilakukan setelah ada soft-path scenario dari fossil fuel economy to non-fossil fuel economy (mungkin baru 30-40 tahun dari sekarang). Sayangnya pemerintah saat ini tidak 'ngeh' sama masalah ini. Saya baca Kebijakan Energi Nasional (KEN), pemerintah memang punya target 5% dari pasokan energi th 2010 berasal dari sumber energi terbarukan. Caranya gimana dan apa strateginya, bagaimana mekanisme pendanaannya, ternyata nggak jelas....serahkan aja ke mekanisme pasar...mungkin aja ada investor yang tertarik. Oke, itu tadi pengantar sebelum masuk ke PLTP Bedugul. Pak Wis bilang bahwa PLTP Bedugul 'ramah lingkungan', apa kira-kira kriteria-nya. Apakah karena tidak mengeluarkan emisi GRK? atau ada lagi yang lainnya. Mungkin ini sekedar klarifikasi saja. Nah soal urusan polemik yang terjadi, saya kira adalah wajar, walaupun menurut Pak Wis, karena masyarakat setempat tidak menolak, maka saya mengartikan yang berpolemik pasti orang diluar masyarakat Bedugul. Mengapa orang berpolemik, saya kira salah satu sebabnya adalah ketimpangan informasi. Tidak semua orang punya informasi seperti yang dimiliki investor, pln atau Pemda dan kawan-kawan yang terlibat dalam sosialisasi PLTP tsb. Saya tahu dari Pak Wis dan mbak Widi, bahwa telah ada sosialisasi masalah PLTP Bedugul. Saya kira itu adalah awal yang baik dalam rangka memperkenalkan 'barang apa' PLTP itu! Tetapi sosialisasi itu kan baru sebatas penyampaian informasi sepihak, dan belum terjadi dialog, adu-argumentasi,dsb. Saya menduga materi yang dibagikan, pastinya informasi yang 'baik-baik saja', belum menyampaikan informasi kritis, salah satunya mengenai hasil AMDAL atau Project information document yang detail. Walaupun demikian, untuk tahap awal sangat baik, masyarakat di Bali jadi punya gambaran dasar. Tetapi sosialisasi saja belum cukup. Saya kira langkah selanjutnya adalah menyediakan ruang untuk berdiskusi, berdialog dan berpolemik (seperti yang kita lakukan di milis ini) tetapi bagi seluruh masyarakat P. Dewata, khususnya yang berkepentingan dengan kawasan Bedugul. Ruang dan forum ini bisa dibuat oleh calon investor dan kawan-kawan organisasi masyarakat tetapi adalah lebih baik jika itu dilakukan oleh Pemda Bali sendiri. Dengan demikian, 'semua orang' memang terlibat dalam pengambilan keputusan. Saya agak 'miris' mendengar kalau di TV Bali ada iklan mengenai PLTP Bedugul, yang isinya (kalau tidak salah) kira-kira menyatakan 'kalau tidak tahu tidak usah bicara'. Wah...justru tugas rekan-rekan dan kita semua adalah memberi informasi yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat umum sehingga mereka dapat ikut berpolemik dan menentukan nasib sendiri. Jangan sampai proses pengambilan keputusan 'dibajak' oleh kelompok-kelompok intelektuil dan aktifis LSM saja, sebagaimana proses reformasi 'dibajak' oleh para tokoh dan politisi yang doyan KKN. Oleh karena itu menurut saya, pemaparan informasi yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat adalah sangat penting dalam rangka menstimulus diskusi yang konstruktif. Bukankah masyarakat berhak tahu, hal-hal yang menyangkut kelayakan teknis-ekonomis dan lingkungan dari rencana PLTP ini. Misalnya, 1) berapa biaya untuk eksplorasi dan eksploitasi, 2) berapa biaya modal dari pengembangan PLTP Bedugul untuk 165 MW, 3) berapa tingkat rate of return yang diminta oleh investor; 4) berapa harga jual uap panas (steam) yang ditawarkan, 5) berapa harga listriknya per kWh dan 6) bagaimana dengan AMDAL dan Social Impact assesmentnya (SIA).. Khusus mengenai AMDAL dan SIA, perlu sekali diberikan akses kepada publik. Saya mengacu pada kebijakan dari ADB, misalnya yang mensyaratkan publikasi ringkasan AMDAL dan SIA dari sebuah proyek dan mendapatkan komentar publik. Nah mungkin juga PLTP Bedugul ini melakukan hal yang sama dan membuka waktu dan ruang untuk public comment. Tindakan ini sekaligus dapat mencegah 'AMDAL-AMDAL' -an, yang dibuat oleh berbagai konsultan AMDAL yang tidak bertanggung jawab. Saya kira keterbukaan informasi sangat penting. Lalu jika ada polemik yang sangat tajam dan tidak ada konsensus, adakanlah referendum untuk menentukan kelangsungan dari proyek itu. Saya pun ingin sekali terlibat dalam disksui-diskusi mengenai masalah ini dan kalau bisa malah mendengarkan langsung dari pihak Bali Energy mengenai kelayakan dan rencana-rencana mereka. Hal lain terkait dengan rencana membuka hutan di Bedugul. Saya dengar dari seorang kawan yang ahli geothermal yang bilang kalau kawasan Bedugul itu potensi geothermal-nya tidak besar. Oleh karena itulah pihak California Energy kemudian menjual sumur-sumurnya ke Bali Energy. Benar atau tidak keterangan ini, sayat tidak tahu. Setahu saya, ilmu geologi itu serba tidak pasti. Ada geolog yang bilang kalau di tempat X ada sumber minyak, setelah di bor ternyata tidak ketemu dan akhirnya lokasi-nya dijual. Ternyata geolog lain, malah menenmukan tempat, karena lokasi pemborannya tepat, akhirnya perusahaan yang membeli untung besar dan yang menjual pun gigit jari. Oleh karena itu, pembukaan hutan-pun terkait dengan rencana pengeboran sumur panas bumi. Semakin banyak lokasi pengeboran, semakin besar lahan yang akan dibuka, bukan? Nah, kalau boleh tahu, berapa banyak sumur yang akan di-bor? Berapa tingkat kemungkinan (probabilitas) dari keberhasilan pengeboran sumur untuk mendapatkan sumur yang potensi panas buminya besar? Kalau misalnya tidak ketemu, bagaimana nasib sumur-sumur yang sudah di-bor tsb. Apakah akan ditutup ulang? Karena cukup dalam lho..kira-kira 2000 m. Saya kuatir kalau ada orang jalan yang meleng kemudian terjerumus ke dalamnya..hehehehe (just kidding)! Untuk masalah hutan pengganti. Disebutkan bahwa kontraktor harus menanam hutan yang luasnya 2x dari yang sudah ditebang. Kalau boleh tahu, apa jenis hutan di Bedugul dan dimana lokasi penanaman hutan yang baru itu .Apakah di lokasi yang sama? Apa jenis tanamannya? Sudah kah pernah dikaji, dampak penghilangan sekian ha kawasan hutan saat ini terhadap daur hidrologi dan kesetimbangan ekologi? Wah, saya kira saya sudah banyak banget menuliskan pokok-pokok pikiran saya. Harapan saya, tulisan yang panjang ini dapat memancing diskusi yang lebih seru. Saya sendiri tidak pada posisi 'menolak/menerima' ide PLTP Bedugul. Bagi saya, kalau memang proyek ini lebih bersih, aman dan ramah lingkungan serta layak secara teknis dan ekonomis serta dapat memberikan listrik bagi masyarakat Bali, kenapa tidak didukung? Tetapi untuk sampai pada tahap tersebut, informasi dan proses diskusi yang sehat akan sangat membantu. Salam lestari, Fabby Tumiwa (WGPSR - Jakarta) ----- Original Message ----- From: "Gde Wisnaya Wisna" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, October 13, 2004 7:26 AM Subject: [sos-bali] Re: Mendiskusikan PLTP Bedugul - Re: Oil on Lovina Beach!! > Dear All, Dear Fabby dan Mbak Widi, > Sedikit nimbrung tentang polemik rencana pembangunan PLTP > Bedugul. Pendapat saya ini tentu tidak bermaksud untuk > memperkeruh suasana, karena baik Pak Fabby maupun Mbak > Widi adalah 2 rekan saya yang saya hormati, sebab mereka > berdua adalah orang-orang yang kritis dan menempatkan > kepentingan masyarakat didepan. Keduanya juga rekan dalam > satu perjuangan mengkritisi pembangunan PLTGU Pemaron. > Bahwa kemudian dalam masalah pembangunan Pembangkit > Listrik Geothermal di Bedugul menempatkan mereka dalam > sudut pandang yang berbeda, mestilah dilihat sebagai > bagian dari "saling memperkaya pandangan kita". Dan > hendaknya perbedaan2 seperti itu dihargai demi kepentingan > Bali juga. Bahkan bila masih ada perbedaan2 lainnya, > mestinya dimunculkan juga dan kita tidak perlu saling > "ewuh pakewuh" sesama teman membicarakannya. > > Sebagaimana kita ketahui, bahwa sesungguhnya ada banyak > jenis pembangkit listrik berdasarkan sumber energinya, > yaitu pembangkit listrik batubara, pembangkit listrik > tenaga diesel, pembangkit listrik tenaga gas berbahan > bakar minyak dan pembangkit listrik tenaga gas berbahan > bakar gas alam, pembangkit listrik tenaga nuklir, > pembangkit listrik tenaga panas bumi, pembangkit listrik > tenaga air dan pembangkit listrik non-konvensional seperti > dari tenaga matahari, angin, ombak, biogas dll. Dari semua > jenis pembangkit itu, dibedakan atas pembangkit yang ramah > lingkungan dan yang tidak ramah lingkungan. Pembangkit > yang ramah lingkungan, disebut demikian, karena tidak > mengeluarkan emisi (keluaran) gas dari hasil pembakaran > fossil, seperti batubara dan minyak bumi. Jadi, pembangkit > listrik panas bumi termasuk yang ramah lingkungan. > Sementara PLTGU Pemaron adalah pembangkit listrik tenaga > gas berbahan bakar minyak, jadi termasuk yang tidak ramah > lingkungan. Hal ini perlu dikemukakan agar persoalan > menjadi jelas. Bahwa selama ini PLTGU Pemaron ditolak > semata-mata karena kita khawatir akan pencemaran residu > minyaknya ke laut. > > Lalu, kalau PLTP Bedugul sudah ramah lingkungan mengapa > masih ada polemik tentang pembangunannya ? Nah tanpa harus > berputar-putar, persoalannya adalah bahwa ada yang > mengkhawatirkan tentang kemungkinan pembukaan lahan hutan > di lokasi sumber panas bumi tersebut, sehingga jika hutan > dibuka maka akan mengancam resapan air didaerah tersebut. > Beralasankah kekhawatiran tsb ? Inilah yang harus dicari > jawabannya secara jujur. > > Ada beberapa fakta yang saya ketahui sbb: > 1. Masyarakat setempat tidak menolak rencana keberadaan > PLTP bedugul tersebut. > 2. Sampai tahun 2006 untuk rencana tahap I sebesar 10 MWe > tidak akan ada penebangan hutan yang baru. > 3. Lahan hutan yang digunakan sejak tahun 1997 sebesar > kurang lebih 25 ha, adalah bagian sangat kecil dari 15000 > ha kawasan hutan Batukaru. > 4. Ada ketentuan yang mengharuskan, bahwa kontraktor harus > membuat hutan baru seluas 2 kali dari luas hutan yang > dibuka, dan hutan pengganti ini harus disekitar hutan yang > dibuka, karena tujuannya adalah untuk menjamin fungsi > hidrologis hutan tersebut tetap untuk kawasan dibawahnya. > 5. Pengeboran dilakukan tidak di dalam wilayah cagar alam > maupun hutan lindung, melainkan dipilih didaerah hutan > buatan. > > Selama ini saya mengamati pemberitaan di koran khususnya > menyangkut masalah hutan ini seperti "sengaja" di blow-up, > entah oleh pakar atau koran. Jadi, koran menjadi laris > manis, akhirnya orang luar Bali mesem-mesem melihat bahwa > orang Bali mudah berantem. > > > Diskusi akan menjadi lebih sulit, ketika setiap pihak > tidak mau beranjak dari posisinya (ini sifat manusia kali > ye ), dan akhirnya mungkin akan sulit ketemu, ketika salah > satu pihak membawa alasan "niskala" atau "kepercayaan" > dalam sebuah diskusi ilmiah. > > Secara jujur saya mengatakan, bahwa proses yang dilakukan > dalam rencana pembangunan PLTP Bedugul sudah sangat > berbeda dengan rencana pembangunan PLTGU Pemaron. Dalam > proses mengenalkan proyek PLTP Bedugul ini sudah terjadi > proses keterbukaan kepada masyarakat. Bali Energy Limited > /BEL yang menjadi kontraktor proyek ini telah membangun > Information Centre di Denpasar yang terbuka untuk umum. > Bagi yang ingin tahu tentang proyek PLTP Bedugul > dipersilakan untuk ke info center ini. Juga sosialisasi > pernah dilakukan ke Mal-mal di Denpasar dan singaraja > untuk mendatangi langsung masyarakat. Bagi saya ini sebuah > proses baru dalam pengenalan sebuah kegiatan dan perlu > dipertahankan untuk kedepan. Seandainya saja PLTGU Pemaron > melakukan hal yang sama, tentu indah sekali. Rasanya tidak > perlu ada demo, adu otot dan bersitegang. > > Salam > Gde Wisnaya Wisna > -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
