Kalau ga salah seperti penerapan bus transjakarta di Denpasar dan
Badung deh.. Lebih jelasnya ntar saya tanyakan lagi..

Klo menurut saya sih tetep bisa, asalkan lingkaran setannya diputuskan..

Orang banyak beli motor karena praktis dan cukup mudah
mendapatkannya.. Karena banyaknya penumpang beralih ke motor, maka
angkutan jadi sepi..Angkutan sepi maka tarif di naikkan..Kenaikan
tarif menyebabkan penumpang yang tadinya menggunakan angkutan mulai
tertarik sama motor..lama kelamaan matilah angkutannya.. Kalau mau
berhasil dengan mass transport, maka haruslah penggunaan mass
transport itu lebih menguntungkan dari pada menggunakan sepeda motor..
Harus cepat, murah dan rutenya banyak..

Klo menurut saya mass transport itu dapat mengangkut penumpang banyak
dengan operator yang sedikit. Seperti busway, monorail dan subway. Klo
angkot sih tetep masal dan dibeberapa kota seperti bandung dan bogor
malah jadi biang kemacetan..

suksma

NB. saya cowok bukan ibu ibu hehehehehe

http://proletarman.wordpress.com
--- In [email protected], "siapa_heru" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> selain niat, juga kemauan supaya mass transport bisa optimal.
> 
> jakarta salah satu contoh konyol pengelolaan mass transport.
> peninggalan belanda, jakarta punya jalur kereta trem. tapi
> dihilangkan, karena kebijakan mengarah ke pemilikan kendaraan pribadi.
> 
> eh, belakangan nyesel jalur trem dulu dihapus. trus pengen bikin lagi.
> jadilah rencana monorail.
> 
> tentang mass transport di bali, boleh tau parameter berhasil tidaknya
> survey itu (yang teman bu eka lakukan) apa ya? survey itu di semua
> kabupaten di bali atau hanya salah satu kabupaten? ada berapa trayek
> yang disurvey?
> 
> maaf, saya meragukan survey tersebut. karena bisa saja hanya satu
> sudut pandang yang dilihat, dan mengabaikan sekian banyak sudut
> pandang yang lain.  
> 
> beberapa kali saya bertemu mobil pribadi, di kaca belakang mobil itu
> tertempel tulisan "nusa dua". mobil lain lagi bertuliskan "dalung".
> setelah beberapa kali saya lihat di jalan. akhirnya saya ketemu salah
> satu mobil itu dibengkel. wawewawe sama sopirnya. ternyata angkutan
> "gelap". (kalo saya ketemu lagi, saya foto deh...) 
> 
> mobil-mobil itu melayani beberapa rute denpasar, kuta, nusa dua,
> sanur. pelanggannya para pekerja di tempat-tempat tersebut. sistem
> pembayaran bulanan. mereka tidak berani terang-terangan, takut
> berhadapan dengan sopir-sopir bemo. bukankah mobil-mobil ini
> sebenarnya adalah mass transport? atau yang sering dan umum dilihat,
> mobil antar jemput anak sekolah. itu pun mass transport. 
> 
> nah, kalau potensi gagal mass transport begitu besar, kenapa ada
> mobil-mobil semacam ini? 
> 
> dalam logika bisnis, justru potensi pasar sangat besar. tinggal
> pemerintahnya mau atau tidak.
> 
> salam,
> heru
> http://kataheru.com
> 
> --- In [email protected], "sairameka_diva"
> <sairameka_diva@> wrote:
> >
> > Setuju mass transport sebagai solusi, tapi coba kita lihat contoh dari
> > transjakarta. Warga pondok indah malah melakukan protes agar tidak
> > melewati perumahan mereka. Selain itu jalur mereka sering diserobot
> > oleh pengguna jalan lain. Sering juga diserobot oleh para pejabat.
> > Jadi peraturan harus tegas klo mau menggunakan mass transport.
> > 
> > Pembatasan kendaraan sangat bagus. Tapi pasti cuman jadi sekedar ide
> > doang. Karena kalau sampai digertak perusaaan otomotif, maka
> > pemerintah pastilah akan bergeming. Katanya pajak otomotif sangat
> > besar dan mempekerjakan tenaga yang sangat banyak. Jadi sekali ngancam
> > pemerintah pasti keder.
> > 
> > teman saya pernah melakukan penelitian untuk penggunaan mass transport
> > di Bali. Hasilnya: Kemungkinan berhasil cuman 0.0000% (kebanyakan
> > nolnya, sampai lupa angka pastinya). Jadi klo ga ada nita yang kuat,
> > sangat sulit menerapkan mass transport di Bali.
> > suksma
> > 
> > http://proletarman.wordpress.com
>


Kirim email ke