Dear bro Sindhu,

Izinkan saya untuk memberi sedikit tanggapan atas tulisan ini. Saya sangat senang dengan mengetahui ada satu lagi seseorang yang menjunjung tinggi ajaran Buddha seperti anda. Sebagaimana kita ketahui bahwa sang Buddha membimbing para makhluk hidup berdasarkan kapasitas kemampuannya dalam menyerap makna dharma. Bagi mereka yang berkompetan atau bertalenta tinggi, maka secara alami mereka akan mempraktikkan ajaran Buddha di tingkatan yang halus dan mendalam, atau dengan istilah yang berkesan lebih superior yakni tingkatan yang tinggi. Sedangkan bagi mereka yang masih penuh dengan kemelekatan dan noda-noda batin, maka mereka hanya sanggup mempraktikkan ajaran yang masih berada di tataran bawah. Tetapi semuanya adalah sebuah proses pelatihan, di mana yang tinggi juga dahulunya berasal dari tingkatan bawah, sedangkan yang berada di tataran bawah suatu saat juga akan mencapai tingkatan tinggi. Jika memahami akan prinsip ini, maka kita akan menyadari bahwa baik Theravada maupun Mahayana tidaklah saling terpisah, dan merupakan satu kesatuan dari seluruh rangkaian ajaran Buddha. Dengan sikap merendahkan Theravada, secara tidak langsung telah merendahkan ajaran Buddha sendiri, karena serendah apapun Theravada dari sudut pandang anda, dia tidak lain tetaplah ajaran mulia dari sang Buddha. Jadi tidaklah pantas untuk secara terbuka merendahkan ajaran yang berasal dari guru kita sendiri. Bagi mereka yang belum sanggup menerima pendapat anda, tidak perlu lantas hal ini dihubung-hubungkan ke dalam tulisan ini yang berkesan ingin membuktikan betapa Mahayana yang anda agungkan itu lebih hebat dan maha tinggi. Ini sungguh bertentangan dengan sila bodhisattva yang notabene berasal dari kitab Brahmajala Sutra versi Mahayana sendiri.

            Kemudian penjabaran anda tentang 5 periode ajaran Buddha itu, saya rasa perlu adanya check dan recheck terlebih dahulu apakah telah menjabarkannya secara tepat dan benar atau setidaknya telah proporsional. Sebab sejauh yang saya ketahui, 5 waktu Buddha kotbah menjadi 5 kitab suci, kalimat ini sepertinya kurang tepat.

Perlu diketahui bahwa periode ajaran Buddha terbagi atas 5 periode ini merupakan hasil rumusan dari mazhab Tientai. Secara konkrit, kitab suci Buddha tidak menyatakan 5 periode ajaran ini. Tetapi rumusan dari mazhab Tientai ini memang diakui menjadi momentum yang terbaik bagi perkembangan ajaran Mahayana di Tiongkok. Saya sendiri menganggap rumusan ini sangat brillian dari master Zhiyi sang pendiri Tientai, dan tidak heran beliau sampai dijuluki Little Sakyamuni dari Timur.  Master Zhiyi mengklasifikasi seluruh rangkaian ajaran Buddha ke dalam 5 periode ajaran.

Pada periode pertama, disebut Periode Avatamsaka (Huayen).

Ini adalah periode saat sang Buddha mencapai pencerahan sempurna di mana selama 3 minggu pertama dalam kondisi Samadhi, Beliau membabarkan Avatamsaka Sutra kepada para bodhisatva. Jadi bukan Lankavatara Sutra seperti yang anda tuliskan. Periode ini diasumsikan sebagai periode pembabaran dharma kepada bodhisatva2 tingkat tinggi, di mana para makhluk yang berada di tatataran bawah tidak akan sanggup memahami dharma yang sangat mendalam ini. Atas dasar ini, maka sang Buddha kemudian melanjutkan pembabaran dharma yang lebih mudah dipahami kepada para makhluk hidup di mana tahapan ini adalah periode lanjutan, yakni:

Periode ke dua yang disebut periode Agama sutra.

 Dikatakan bahwa periode ini berlangsung selama 12 tahun. Secara umum, periode ini dianggap sebagai periode yang membabarkan kitab2 Hinayana. Namun tidaklah tepat mempersempit istilahnya dengan mengatakan pembabaran tentang Catvari Arya Saccani, karena Empat kebenaran mulia hanyalah salah satu dari sekian banyak prinsip ajaran yang dikotbahkan sang Buddha di dalam periode ini. Sedangkan Catvari Arya Saccani itu tidak terbatas pada ajaran Hinayana, karena bodhisattva pun mendalami Catvarari Arya Saccani dalam konsep yang lebih dalam lagi , atau dengan kata lain, Catvari Arya Saccani itu meliputi seluruh rangkaian sistem ajaran Buddha.

Kemudian periode ketiga disebut Periode Vaipulya (FangDeng) yang berlangsung selama 8 tahun. Ini adalah periode di mana konsep konsep dan keagungan Mahayana mulai diangkat oleh sang Buddha. Periode ini tidak lah tepat juga disebut periode kotbah tentang kitab Shuranggama saja seperti yang anda tuliskan. Shuranggama hanyalah salah satunya dari sekian banyak kotbah yang diberikan, seperti Lankavatara, Vimalakirti, Maharatnakuta, Mahasamnipata, Svarnaprabhasa dll. Kitab2 ini disebut sebagai kitab Vaipulya, maka disebut periode Vaipulya, bukan terbatas pada satu kitab saja seperti yang anda tulis "kotbah ttg Shuranggama". Mungkin anda bermaksud menyingkatnya, tapi bukankah akan lebih mengaburkan pemahaman orang ttg Mahayana seperti yang anda agungkan?

 

Periode ke empat adalah periode Prajna.

Ini adalah periode yang sangat penting di mana sang Buddha membabarkan ajaran Prajna selama 22 tahun. Setelah para makhluk hidup dapat menerima prinsip ajaran Mahayana, maka sang Buddha menekankan pentingnya kebijaksanaan di dalam menyeimbangkan sikap kemelekatan pada sikap superior pada Mahayana itu sendiri. Jika periode Vaipulya adalah ajaran Mahayana yang berprinsip "ada", maka di periode Prajna ini sang Buddha menetralisir ke prinsip Sunyata. Ini adalah gambaran umumnya, dan rumusan rumusan ini memang kadang menimbulkan berbagai perbedaan pendapat dikalangan scholar, namun itu tidaklah penting, karena mengaplikasikan ajaran nya dirasa lebih mendesak.

 

Periode ke lima disebut periode Saddharmapundarika dan Nirvana.

 Dimana ini adalah periode pembabaran tentang Saddharmapundarika selama 8 tahun untuk memanunggalkan Triyana menjadi Ekayana. Dimana Triyana adalah kendaraan Sravakayana, Pratyekayana dan Bodhisatvayana. Semua periode ajaran ini adalah sebuah upaya kausalya untuk menarik para makhluk hidup memasuki kendaraan tunggal yang disebut Eka Buddhayana. Atau dengan kata lain, sepanjang hidup sang Buddha membabarkan dharma hanya agar para makhluk dapat memasuki ke pemahaman dan pencapaian kendaraan sejati yakni kendaraan Buddha. Dalam periode ini sang Buddha mendorong semangat kepada para siswa untuk melangkah maju demi cita2 pencapaian Buddha dan meramalkan pencapaian mereka. Setelah periode ini maka sang Buddha pun mengakhiri jodoh dharma-Nya dengan dunia ini melalui pembabaraan dharma terakhir selama satu hari yang terangkum dalam Mahaparinirvana Sutra.

 

Jika mengatakan bahwa titik berat kotbah sang Buddha adalah Mahayana bukan Hinayana, saya rasa masih ada ketimpangan. Makna Mahayana terkesan berhadapan dengan Hinayana, jika ada sikap dualitas seperti ini maka ini bukan lagi Mahayana yang dititik beratkan sang Buddha. Jika ingin memaksakan diri untuk mencari titik berat itu maka lebih tepat disebut sebagai Buddhayana (Kendaraan Buddha). Lalu Buddhayana adalah sebuah kendaraan yang diajarkan sang Buddha dalam Saddharmapudarika, di mana beliau menyatakan bahwa awalnya beliau memang mengajarkan Hinayana, dan juga Mahayana (yang sebenarnya Bodhisatvayana), namun semua ini ditarik ke satu puncak yakni Buddhayana. Jadi Buddhayana tidak lagi tepat disebut Mahayana atau apapun. Satu puncak itu tidak lagi memiliki dualitas, sehingga baik Mahayana maupun Hinayana tidak lagi merupakan titik sentral. Tapi perlu diketahui bahwa baik Mahayana maupun Hiinayana sama sama memiliki tujuan tertingi yakni SamyakSambodhi.

 

Tidaklah benar beranggapan Hinayana atau Theravada seperti yang anda sebutkan itu sebagai ajaran bawah. Karena Theravada itu juga tidak menolak pencapaian Samma Sambuddha. Pilihan itu bersifat opsi belaka, semuanya terserah pada para praktisi sendiri. Menjadi Arahat silahkan, mau memilih menjadi Buddha silahkan. Ini terbukti di dalam kitab Buddhavamsa milik Theravada. Jadi tidak semua praktisi Theravada hanya memlilih tingkat kesucian Arahat, yang memilih menjadi Buddha juga ada. Jadi tidak ada alasan untuk mengatakan ajaran mana yang lebih agung.

 

Akhir kata, saya juga tidak mungkin luput dari kesalahan, tapi jika ada rekan sedharma yang mungkin melakukan kesalahan di dalam penjabaran tulisan, maka saya hanya bermaksud membantu meluruskan. Seandainyapun memang saya yang salah, maka dengan rendah hati saya mohon saran dan kritiknya. Toh kita sama sama belajar dharma dan sama sama mencapai kesucian, semoga kesalahan saya dapat dimaafkan oleh sdr. Sindhu beserta orang orang yang tidak sependapat dengan tulisan ini.

 

 

Amitofo

 

 

Cg ik 

 



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke