From: Self <Single-user mode>
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],Subject: Al-Qur'an itu bukan KUHAP
Copies to: "Reformasi Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>
Date sent: Fri, 26 Feb 1999 15:41:58 + 1.0
Posting lama, sekedar untuk mengingatkan beberapa posisi saya.
Disitu saya menulis:
"Saya ulangi: yang kudu dicari di al-Qur'an itu adalah arah
pembaruan yang dibawanya. Arahnya adalah, menurut hemat saya:
persamaan hak bagi semua manusia didunia ini, laki-laki atau
perempuan, hitam, kuning, putih atau sawo matang.
Islam itu adalah agama egalitarian.
Agama perdamaian!
Agama kasih sayang!"
Dan kebetulan saya lagi baca buku Fazlur Rahman Islam &
Modenity.
Disitu ditulis (edisi paper back, halaman 19):
"The basic elan of ghe Qur'an - the stress on socio econommic
justice and essential human egalitarisnism.
Posisi saya ini - setelah setahun berdiskusi - saya koreksi
sedikit - tanpa saya tinggal seluruhnya:
Tapi orang Islam kudu berani meninggalkan ayat-ayat madiniyah
yang biadab dan kudu berani menarik pelajaran dari kemajuan
pikiran manusia, termasuk kemajuan pikiran yang dicapai oleh
orang-orang Yahudi, orang Nasrani, agnostid dan atheis.
Jusfiq
============================
>
>
> Para penganut agama Islam yang alpa memakai neuronnya sering
> berusaha, dalam menentukan sikapnya, untuk bertolak dari ayat-ayat
> al-Qur'an yang dibacanya secara harifiah.
>
> Demikianlah, mereka masih berusaha, diakhir abad ke XX ini
> menolak persamaan hak antara perempuan dan laki-laki.
>
> Perempuan tidak boleh jadi imam di mesjid.
>
> Perempuan tidak boleh jadi pemimpin, artinya jadi presiden negara.
>
> Dan semua ini, didasarkannya kepada ayat-ayat al-Qur'an.
>
> Betul, dan memang betul.
>
> Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah bisa kita, diakhir abad ke XX
> ini membaca ayat-ayat al-Qur'an itu secara harafiah?
>
> Atau - setali tiga uang - membacanya seperti kitab undang-undang
> hukum pidana?
>
> Jadi, masih dalam urusan perempuan, kesaksian perempuan itu masih kita
> anggap hanya berlaku separoh dari kesaksian laki-laki.
>
> Dan perempuan itu tidak boleh menjatuhkan talak.
>
> Dst.
>
> Ini semua kan taik kucing?
>
> Ini semua kan taik babi?
>
> Ini semua kan biadab?
>
> Tapi, itulah, al-Qur'an yang bilang, kok!
>
> Dan neuron, neuron itu nggak perlu dipakai untuk berfikir?
>
> Buat apa tu neuron ada didalam batok kepala?
>
> Mari kita ingat:
>
> Ayat-ayat al-Qur'an itu diturunkan diabad ke VII Masehi dan kita
> sekarang ini berada di abad ke XX.
>
> Di akhir abad ke XX.
>
> Inilah yang dilupakan orang:
>
> Bahwa ayat-ayat al-Qur'an itu sendiri menerima bahwa sesuatunya
> itu berubah, bahwa tidak ada yang tetap dalam aturan itu!
>
> Termasuk aturan di al-Qur'an itu sendiri!
>
> Kiblat sembahyang, misalnya, mula-mula kiblat itu Darussalam.
>
> Lalu dialihkan ke Makkah.
>
> Apakah artinya perpindahan kiblat ini?
>
> Menurut al-Qur'an itu sendiri, tiap peraturan bisa berubah!
>
> Ambil contoh lain, aturan tentang khamar misalnya!
>
> Mula-mula ayat al-Quran berkata bahwa alkohol itu, seperti juga
> daging babi, perlu dihindarkan, tapi kalau tidak bisa dihindarkan juga
> tidak apa-apa
>
> Tapi ketika nabi melihat salah seorang sahabatnya datang ketempat
> sembahyang sempoyongan karena mabuk, maka turunlah ayat yang berbunyi
> bahwa khamar itu adalah minuman setan.
>
> Sekali lagi: al-Qur'an itu menerima bahwa larangan dan suruhan itu
> bisa berubah.
>
> Dan perubahan yang saya amabil sebagai contoh itu terjadi dalam
> jangka waktu dua puluh tahun, yaitu saat nabi menerima wahyu
> pertama dan saat nabi menerima wahyu terakhir.
>
> Dua puluh dua tahun.
>
> Jadi, adalah salah, menurut contoh yang diberikan al-Quran itu
> sendiri untuk menurutkan larangan dan suruhan ayat-ayat al-Qur'an itu
> secara harafiah diakhir abad ke XX ini!
>
> Dengan kata lain, adalah salah untuk berpendapat bahwa di abad ke XX
> ini perempuan masih nggak boleh jadi imam, masih nggak boleh jadi
> kepala negara.
>
> Dan adalah salah untuk menyatakan alkohol itu terlarang untuk
> diminum disegala kesempatan.
>
> Mabukpun, tidak mesti perlu dihindarkan secara sitematis.
>
> Dan sayapun akan menyerahkan kepada orang-orang yang bersangkutan
> untuk memutuskan baik buruknya untuk mereka poliandri atau poligami..
>
> Saya ulangi: yang kudu dicari di al-Qur'an itu adalah arah
> pembaruan yang dibawanya.
>
> Arahnya adalah, menurut hemat saya: persamaan hak bagi semua
> manusia didunia ini, laki-laki atau perempuan, hitam, kuning, putih
> atau sawo matang.
>
> Islam itu adalah agama egalaitarian.
>
> Agama perdamaian!
>
> Agama kasih sayang!
>
>
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo
=====================================
* Ijtihad untuk mencerdaskan ajaran Islam yang sekarang ini penuh ketololan,
kedunguan, kegoblokan dan kebodohan
* Ijtihad untuk memanusiawikan ajaran Islam yang sekarang ini biadab, keji dan nista