> Tapi secara sepintas makna segala sesuatu/hal yang ada di benak kita. Dan sebaliknya realitas merupakan segala sesuatu apa yang ada di luar benak kita.
# Realitas = diluar pikiran Makna = didalam pikiran Kebenaran adalah jika diluar = didalam pikiran? > Sebelumnya kita harus mengetahui bahwa yang namanya realitas harus berdampak? # Maka yang namanya realitas ada (1) diluar pikiran dan (2) berdampak? > Salah satu tolak ukur realitas adalah indra. Itu bukti bahwa indra tidak bisa ukuran realitas mutlak. Saya rasa, saya lihat, saya dengar,? tidak bisa jadi ukuran. # Jika indra tidak bisa dipakai sebagai tolok ukur realitas, piranti lain apakah gerangan yang bisa dipakai? Insting? Insting tidak dijamin benar. Misalnya, insting melariken diri kalo ada bahaya. Kita bohongi orang dengan teriak2 ... bom ... bom ... bom !!! Sebagian lari ketrakutan. Maka insting ndak bisa dipakai sebagai tolok ukur Emosi? Pikiran? Perasaan/feeling? Nurani? Naluri? Firasat? Ilham? Hidayah? Imajinasi? Apa? Jika indra, pikiran, emosi, dst, ndak ada satupun yang bisa dipakai sebagai tolok ukur, pegimané kita bisa memahami suatu realitas? Pakai apa? Sebutken satu saja maka secara langsung maupun ndak langsung piranti itu ... pada akirnya, ... bergantung dari indra. Jika indra diraguken sebagai piranti pendeteksi realitas maka realitas apapun yang kita tangkap tidak dijamin bener. Pakai instrument? Thermometer, misalnya. Untuk membaca thermometer kita pakai indra. Untuk mendeteksi sinar/suara ultra/infra kita bisa pakai instrument. Tetapi, ... pada akirnya ... indra kita jua yang dipakai. > "Ada adalah sesuatu yang tidak bisa dbagi, maka sesuatu yang bisa dibagi adalah ketiadaan" # Ini apa? Axioma, definisi, postulat, hipotesis, asumsi, teori, prediksi, pengandaian, kayalan, fantasi, ilusi, delusi, halusinasi, fatamorgana, atau `kebenaran'? Jika kita bilang itu kebenaran, bagaimana kita tahu bahwa itu benar wong kita tidak memiliki satupun piranti yang bisa dipakai sebagai tolok ukur kebenaran. > Jadi yang benar-benar realitas adalah wujud mutlak, ada, being, the real, Tuhan, Allah, The God, Nur. secara wujud dan makna kata-kata tersebut adalah satu. Tapi hanya perbedaan lafaz. # Bigimana kita tahu bahwa itu realitas? Lha wong kita ndak punya piranti tolok ukurnya, jé. Mengapa diberi nama Tuhan? Kenapa bukan `X", bukan `ANU', bukan `embuh'? Sebab, jika diberi nama Tuhan maka orang akan berpantasi tentang suatu siluman yang anu anu anu. Padahal kita tahu bahwa pantasi bukan realitas. Jika bukan real maka kita ndak bakalan menemuken kebenaran. Kalau diberi nama `embuh', maka kita mengalami macet total dan kelimpungan ndak bisa menangkap apa itu real. > Jadi sungguh bahagialah orang yang merasakan keberadaan realias sempurna. Jauh dari ketiadaan kegelapan. # Pakai apa kita `merasakan keberadaan realias sempurna' Indra, pikiran, emosi, perasaan, feeling, intuisi, nurani, naluri, insting, ... ? Mengapa diberi nama Tuhan? Mengapa bukan embuh wae? * Embuh = bahasa Jowo, artinya = ndak tahu ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
