--- In [email protected], "kibroto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Allah tidak punya sekutu. Wujud pun demikian karena wujud satu yang
> lain adalah ketiadaan. Jika emboh yang anda sebutkan tadi bisa 
> disamakan dengn Tuhan apakah realitas dan makna sama. Tentu saja 
> tidak karena emboh = tidak ada.
> Tuhan = ada.
> 
> # Siapa yang bilang embuh = tidak ada? 
> Jika ada yang tanya, Sby ada <dirumah> ndak? Jawabannya adalah embuh 
> maka yang njawab embuh tadi ndak tahu Sby ada (dirumahnya) apa 
> tidak. 

+intinya adalah ketika saya membicarakan Allah, Ada. Kedua-duanya
nyambung. Karena realitas dan makna sama. Tapi  tiba-tiba anda
mengatakan embuh yang tidak memiliki persamaan realitas dan makna
dengan Allah/Ada. Ya jelas gak ngambung.

> > Allah tidak punya sekutu. Wujud pun demikian karena wujud satu yang
> lain adalah ketiadaan.
>  
> # Berarti Tuhan punya `saingan', dong? Tuhan <= ada> baru ada kalau 
> ada ketiadaan? 

+ Apa yang anda maksud dengan "Tuhan = Ada "baru" ada kalau ada
ketiadaan"? Ada = Tuhan tidak mengalami baru. Baru membutuhkan
perubahan. Perubahan dari ada adalah tiada. Masa Ada dapat menjadi
tiada (mustahil). Apa yang anda maksud dengan saingan? Ketiadaan
saingan. Kok tidak ada disebut saingan. Dimana-mana juga tiada itu
tiada. Saingan itu harus ada. Si A saingan si B. Berarti Si A dan si B
 ada. Kalo si B tidak ada mah. si A tidak punya saingan. 

> + Bagaimana dia tahu telah mengetahui telah mengetahui realitas
> mutlak? Jika jawabannya teknis dia tahu bahwa yang membuat anda
> bergerak adalah Tuhan. Yang membuat anda bisa tidur adalah Tuhan.
> Dan hal ini berhubungan dengan kesadaran.
>  
> # Jadi, yang mengetahui realitas mutlak adalah orang2 yang mengerti 
> bahwa yang membuat kita bergerak adalah Tuhan? 

Apa yang anda maknai sebagai "penggerak" di kalimat diatas? Itu adalah
bahasa teknisnya. Kalo bahasa filsafat ketuhanan penyebab utama.

Dan ini berhubungan dengan kesadaran? 
>  
> + Pakai piranti apa dia? Pirantinya adalah dia itu sendiri. Artinya
> semakin dia sadar bahwa yang realitas mutlak bukan hal/sesuatu
> terindra. Maka semakin yakin bahwa realitas mutlaklah yang
> memberikan dampak.
>  
> # Dia itu sendiri? Tubuhnya, indranya, perasaannya, emosinya, 
> nalurinya, intuisinya, kenangannya, impiannya, harapan2nya, 
> kesenangannya, kebenciannya, kekecewaannya, keprihatinannya, 
> fantasinya, kayalannya, imajinasinya, kebahagiaannya, dst, dst. ?
  
> Bigimana kita bisa tahu bahwa beliau benar? Sebab, kayalan, 
> keinginan, dst, tidak dijamin benar. Sama saja dengan indra, akal, 
> emosi, dll. Salah2 mlulu 

+Dia sendiri yang menentukan dengan akal. Akal disini adalah alat yang
berfungsi untuk menentukan benar/salahnya sesuatu/hal. Akal berfungsi
sebagai pemilih benar/salah saja . Sedangkan katagori salah/benar itu
kadang sebagian manusia beranggapan realtif. Tapi menurut saya kalo
berhubungan dengan suatu benar/salah  Maka harus mutlak satu. Lalu
siapakah yang berhak menentukan katagori benar/salah. yaitu Tuhan
melalui ajarannnya. Jadi katagori benar/salah itu ada pada ajaran
Tuhan sedangkan akal hanya memilih saja. Dan derajat Akal dan untuk
memahami suatu ajaran dan mengamalkannnya dapat dikatakan dengan
"kesadaran".

> > Bagaimana orang tahu bahwa Nabi Muhammad itu Nabi? pertama Nabi
> mengatakan bahwa saya adalah Nabi Allah. Kedua Menunjukkan bahwa
> Muhammad layak menjadi Nabi Allah. Dengan Akhlak mulia dan mukjijat.

> # Gandi misalnya aklaknya mulia dan ia bisa menunjukken mukjijat 
> dengan berpuasa sendirian pertikaian Hindu-Islam berhenti. Itu 
> mukjijat bukan? Kalao bukan, mengapa yang ditunjukken Muhammad 
> disebut mukjizat? 

+Emang Gandi mempunyai akhlak mulia dan bisa menunjukkan hal2 di luar
kebiasaan (menurut anda mukjijat). Tapi apakah Gandi mengaku utusan
Tuhan? Apakah Gandi benar-benar utusan seperti Rasul Muhammad?
Kenapa Nabi Muhammad adalah Nabi? Memang bila kita menggunakan akal
saja tidak cukup mengetahui bahwa Muhammad adalah Nabi. Tapi kita
membutuhkan bantuan Tuhan melalu kitab2 dan rasul yg lain. Nabi yang
lain termasuk nabi Isa memberitahukan bahwa akan datang seorang Nabi
akhir zaman yang mempunyai ciri2 seperti ini.

> > Jika orang2 bersih hatinya akan melihat bahwa nabi mempunyai akhlak
> mulia maka apapun yang Nabi katakan adalah benar adanya. Tapi jika
> orang2 kurang bersih hatinya akan meminta lebih. 
>  
> # Bagaimana kita tahu bahwa seseorang bersih/kotor hatinya? Jika 
> percaya maka hatinya bersih? Yang ndak percaya hatinya kotor? 

Kita tidak berkewajiban tahu bahwa hati seseorang itu bersih/kotor.
Tapi yang kita ketahui adalah tampak luar (sikap). Artinya kembali
ketingkat kesadaran seseorang? Jika tingkat kesadaran cukup untuk
menerima ajaran Tuhan maka dia dapat menerima ajaran tuhan dan
sebaliknya. Kesadaran dalam konteks ini adalah menerima kebenaran apa
adanya. Jika ada hal/sestau yang mempengaruhi penerimaan kebenaran
maka hal itu menjadikan hati terhalang dari ajaran Tuhan.
Misalnya:
jika seseorang bersih hatinya akan menerima argumen bahwa "hal-hal
terindra adalah nisbi" (seperti yang telah dijelaskan argument yang
lalu). hal yang anda sebutkan tadi tidak bisa menjadi tolak ukur
kebenaran.
Maka jika seseorang yang kurang bersih hatinya akan mencari argument
yang bisa menentang pernyataan diatas. Walaupun argumentnya salah. 


> > Maka Nabipun
> menunjukkan bahwa realitas mutlak itu ada dengan mukjijat.
> Pakai piranti apa? Bagaimana orang tahu bahwa yang dikatakan orang
> yang mengetahui realitas mutlak itu bahwa realitas mutlak itu ada.
> Hal itu bergantung kepada orang yang ingin tahu. Jika yang ingin
> tahu adalah orang yang percaya kepada orang yang mengetahui realitas
> mutlak maka ia akan membenarkannya. Jika orangnya tidak percaya maka
> dia akan meminta lebih kepada orang yang mengetahui realitas mutlak
> itu. Meminta lebih seperti yang dijelaskan diatas.
>  
> > Jadi, kata kuncinya adalah percaya. Kebenaran tergantung dari 
> percaya ndak percaya? Apakah anda paham curcular reasoning? Sadarkah 
> bahwa yang barusan disampaiken adalah circular reasoning? 
>  
> > Dibenak sy "Realitas mutlak adalah ada yang tidak mempunyai
> batasannya, yang batasannya adalah ketiadaan".
>  
> # Kok ndak konsisten? Katanya `ndak ada batasannya', lantas 
> bilang `ada batasannya' yaitu ketiadaan. 

Apa bedanya "ndak ada batasan" dengan "ada batasannya yaitu ketiadaan"
  secara realitas dan makna? tidak ada bedanya. Batasan untuk ada
adalah ketiadaan itu sendiri. Alias batas untuk ada itu tiada. Jadi
tetep aja  "ada batasannya yaitu ketiadaan " realitas dan maknanya
sama dengan "ada tidak ada batasannya". Itu hanya permainan kata  atau
simbol.
misalnya:
1 + 2 + 3 = 6    sama dengan 3  + 2 + 1 = 6

> Seterusnya tidak bisa saya tanggapi lagi karena memasuki wilayah 
> iman alias kepercayaan yang penuh dengan dogma2 yang ndak bisa 
> dibantah. Dari pernyataan anda bahwa "Realitas mutlak adalah ada 
> yang tidak mempunyai batasannya, yang batasannya adalah ketiadaan"; 
> saya langsung tahu bahwa saya terlalu dungu untuk memahami uraian 
> anda. 

+Hal yang paling jelas dan benar-benar jelas adalah ada. artinya
dengan tidak dijelaskanpun ada itu ada di akal kita. Tapi karena
tingkat kesadaran kita lemah. Untuk membedakan antara ada dan tiada
pun  kita kerepotan minta ampun. Makanya kita membutuhkan suatu
penyadaran yang berpegang kepada nilai-nilai universal untuk
membedakan ada dan tiada. Tanpa berpihak kepada suatu ajaran apapun.
Adapun jika ada implikasi kesesuaian suatu ajaran dengan nilai-nilai
universal si ada maka itu merupakan kebenaran kedua yang harus
diterima setelah menerima kebenaran yang kesatu. Kebenaran yang kesatu
 adalah mengetahui dan memahami Ada dan Tiada (yang dengan
kedua-duanya kita menentukan kebenara) berdasarkan nilai-nilai
universal. Artinya argument universal, tidak relatif, tidak nisbi dan
dapat diterima oleh semua orang yang berakal.
Adapun jika suatu ajaran tertentu itu datang (menurut anda dogma)
setelah kita mengetahui kebenaran secara nilai-nilai universal dan
ternyata kedua-duanya sama. Maka tentulah ajaran tersebut merupakan
nilai-nilai universal juga. Bukan kepunyaan berdasarkan tempat,
negara, waktu, seseorang, individu, ras, dan hal-hal lain yang
bertentangan nilai-nilai universal.

Terima kasih
Semoga bermanfaat.










******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke