Mas Pras dan Mas Denny, Saya ikut nimbrung soal "manusia" ini ya...
Benar sekali apa yang dipaparkan Mas Pras; yang membedakan manusia dari binatang adalah kemampuan refleksi dirinya. Dalam arti ini, kesadaran diri tersebut yang membuatnya mampu merajut masa lalu, kekinian dan masa depannya. Namun, menjadi dilematis juga kekhasan manusia ini. Kierkegaard menyebutnya dengan "kejatuhan" dari taman Eden, yaitu adanya kesadaran diri. Adanya kesadaran diri ini membuat manusia justru mengalami suatu dilema eksistensial. Bayangkan saja, kesadaran dirinya juga berhasil menyadari bahwa kemampuan untuk mengakses dunia simbolik melalui kesadaran diri tersebut akhirnya dibatasi oleh dimensi kebertubuhannya. Secara sederhana, setiap keinginan manusia dan daya imaginatifnya tidak serta merta dapat teraksualisasi justru karena kodrat kebertubuhannya. Lha, yang seperti inilah yang membuat manusia mengalami "kejatuhan" -dalam arti, ada konsekuensi yang 'mengerikan' yang muncul dari potensi kekhasannya sebagai manusia. Si Heidegger mungkin akan bilang inilah salah satu unsur inheren dalam "dasein" yang disebutnya dengan si "being-in-the-world", yaitu kegelisahan eksistensial. Sekali lagi karena kebebasannya tidak sepenuhnya dapat teraktualisasi; justru karena tubuhnya membatasi dimensi transendental dari kesadaran diri tersebut. Atau mungkin dapat dianalogkan dengan konsep "etre-pour-soi"-nya Sartre, si Filsuf juling dari Perancis itu....boleh jadi juga lho, hanya Sartre bermuara pada konsep hidup sebagai yang absurd, yang sangat berseberangan dengan si Heidegger. Jadi, cirikhas manusia yang membedakannya dengan binatang adalah kesadaran dirinya, meskipun secara kodrati, ia masih mewarisi kodrat animalitas juga....yaitu kodrat biologis, kebertubuhannya. Dua dimensi yang ada-bersama inilah yang menjadikan cirikhasnya sebagai manusia tidak lepas dari masalah, dilema eksistensial. Lha, ini yang membuatnya cocok untuk disebut sebagai makhluk paradoksal. tabik agoengdegandjoeran
