Saya setuju dengan mas Pras. "ketakutan eksistensial" manusia adalah  kerna 
kematian atau semacam nihilum. Dari eksistensi bermuara ke  nihilum atau apapun 
namanya post existence itulah yang banyak harus  kita renungkan. Saya ingat 
tulisan almarhum MAW Brouwer: Melihat  peristiwa kematian saya bisa. Saya 
melihat tubuh pucat tak bergerak dan  seluruh eksistensi manusia hilang. Tetapi 
mengalami kematian bagaimana  mungkin (bagaimana saya bercerita kepada anda 
kalau saya mati). Seluruh  peristiwa hidup adalah kejadian dalam kejadian, 
eksistensi dalam  ekssistensi. Dalam kematian, seluruh panggung eksistensi 
runtuh dan tak  ada jawaban apa-apa. Barangkali Tuhan, keabadian atau apapun 
yang ada  diluar spatio-temporal... tetapi itu semua bagi saya juga masih  
Barangkali....
  
  Salam

Kirim email ke