RMC <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Disharmoni itu menurut saya dapat ditengarai dalam ketakutan yang dialami
manusia secara permanen dan tak terelakan, boleh jadi menjadi suatu "teror"
dalam hidupnya. Lha, ini apa? Saya kok masih berpikir2 dan belum menemukan ide
yang "mak-cling"...mungkin mas Pras bisa membantu mencerahkan?
nb. dari salah satu tafsir atas psikoanalisa (yang berusaha memasuki ranah
eksistensialisme), kejatuhan ke ekstrim "kebertubuhan" membawa manusia pada
suatu tingkat "depresi" tertentu; atau sebaliknya jika terlalu condong ke
ekstrim "kesadaran-diri", manusia akan jatuh dalam "schizophrenia" tingkat
tertentu. Masing-masing dituduh berusaha menciptakan konsep "kekekalan" yang
semu.....apakah muara disharmoni manusia itu ada pada ketakutan, dia akan
mati???
Pras:
mas Agung terima kasih tanggapannya, ini justru pertanyaan yg sama sulitnya.
Tapi memang kita harus memulai dari pertanyaan sulit untuk akhirnya mencari
jawabannya dg lebih sulit pula....saya kira "ketakutan" eksitensial manusia
adalah kematian. Semua orang takut mati saya kira. Tapi lebih dari itu
kematianlah yg secara eksistensial melahirkan misteri terdalam. Ada apa setelah
kematian? Paham spiritualis tentu akan mengatakan spirit atau jiwa itu kekal
maka jiwa tidak "kena" kematian. tapi apa selesai? menurut saya kok tidak. Jika
disepakati manusia sekaligus tubuh dan jiwanya, berarti jiwa saja tak dapat
disebut manusia, akhirnya mereka menghadapi problem yg kira2 begini:"tubuh
macam apa yg diperlukan bagi jiwa itu?" Ini yg menjadi spekulasi filsafat
eksistensial, tapi khususnya teologi khas Rahner dan Ladislav Boros, sekaligus
mempertanyakan konsep eskatologi agama2 tradisional.
Jika kita menganut materialisme, semua selesai seiring kematian, tapi
benarkah? bukankah sejak hidupnya manusia jelas sekali secara eksistensial dan
hakiki memiliki ciri 'transenden', selalu melampaui tubuhnya, jika tubuh kena
kehancuran tidak demikian dg jiwanya, atau sebut saja cinta, harapan dan
lainnya?
Bagaimana dg teman2 yang lain. Saya lihat ada ahli mengenai Bauman di milis
ini, hehe..ada baiknya kalau mau memberi pencerahan....
Apakah memang sejak awal "dualitas" ini hanya cara mengatakan adanya kesatuan
konsep tubuh dan jiwa yg telanjur dipahami demikian sejak awalnya, ataukah
mirip paham Yudaisme bahwa manusia bukanlah "spirit and body" melainkan
"spirited body" (Nancy Murphy), tapi jika demikian saya lari ke teologi karena
'spirited body" langsung mengandaikan Tuhan atau Causa Prima.
Pras
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com