Dear budisan yang budiman,

Menurut pendapat saya hanya bermodalkan procesor Pentium III yang
lambat bin lemot ini, permasalahan yang dihadapi oleh DJPBN bukanlah
pada persoalan "the right man on the right place" tetapi adalah
banyaknya "the wrong man in the wrong place". Maksud saya dengan
perkembangan TI, sekarang ini banyak sekali SDM DJPBN yang sebenarnya
...mohon maaf..sudah tidak layak untuk dipertahankan keberadaannya di
DJPBN. Jika bapak berkesempatan jalan jalan ke daerah, maka Bapak akan
dengan mudah menjumpai SDM yang sekedar menyentuh keyboard komputer
saja takut. Masih banyak SDM kita yang lebih "cinta" kepada mesin
ketik ketimbang komputer. "Cinta" kepada mesin ketik karena mereka
tidak mampu menunjukkan kemampuannya kepada yang namanya Madame Kompi.

Saya sangat setuju dengan Bapak, bahwa mau tidak mau, suka tidak suka
kita harus mengorbankan (baca merugikan) separuh lebih pegawai Ditjen
PBN. Karena "best solution" itu nampaknya hanyalah sebuah impian. Oleh
kaena itu suka tidak suka kita harus memikirkan "the Second Best
Solution" (yang realistis, dapat dilaksanakan dan bisa segera
diperoleh hasilnya). hanya disini yang harus juga dipersiapkan adalah
potensi tuntutan hukum dari piohak yang merasa dirugikan oleh the
second best solution tadi. Angka 6.000 sudah lebih dari cukup untuk
melakukan class action atau yang lebih mengerikan demo anarkis.

Semoga masih ada the third, fourth atau bahkan fifth best solution
yang dapat meminimalisir kerugian pegawai DJPBN.

Salam hangat dari Kendari

HaBeWe


--- In [email protected], budisan <budisan_2...@...> wrote:
>
> Dear Miliser yang budiman,
> 
....
Apalagi dalam beberapa momen pertemuan dengan para pegawai/pejabat di
daerah, pimpinan Ditjen PBN selalu menekankan (menjanjikan) bahwa
solusi apapun yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah kelebihan
pegawai tersebut pada prinsipnya ia tidak akan merugikan
(mengorbankan) para pegawai Ditjen PBN.           
> 
....
Suatu hari ketika saya berkonsultasi dengan Profesor Manfred Bieneveld
(dosen dan sekaligus ketua jurusan studi saya) tentang paper
assignment yang harus saya selesaikan, beliau memberikan suatu pesan
yang hingga kini sulit untuk saya lupakan. “Kalau kita tahu bahwa
pilihan the Best Solution adalah mimpi, maka tidak ada pilihan lain
selain harus memilih the Second Best Solution (yang realistis, dapat
dilaksanakan dan bisa segera diperoleh hasilnya)”.
> 
> Semoga yang telah saya sampaikan tersebut di atas bermanfaat untuk
Anda, saya dan juga Mereka.
> 
> 
> Salam,
> budisan
>


Kirim email ke