Dear Miliser yang budiman, Den Boedhi bisa aja bikin ungkapan baru yang bisa mengundang multitafsir. Untung saja selanjutnya diberikan penjelasan tentang maksud ungkapan baru tersebut.
Kelihatannya saya tidak perlu jalan-jalan ke daerah untuk menyaksikan SDM DJPBN yang diceritakan oleh Den Boedhi. Dulu waktu saya Kepala KPPN Cilacap saya pernah main di KPPN Purwokerto dan juga KPPN Surakarta yang cukup terkenal dihuni oleh banyak SDM yang PC Phobia. Feeling saya mengatakan, kalaupun akhirnya keputusan pemberhentian/penonaktifan pegawai tersebut dilakukan, Pimpinan Ditjen PBN pasti akan memperjuangkan pilihan kebijakan pemberhentian pegawai dengan cara softlanding daripada hardlanding. Kalau saya adalah Menkeu yang mempunyai kewenangan untuk menetapkan kebijakan tersebut, mungkin saya akan mencari titik dimana separuh dari pegawai Ditjen PBN akan tergoda untuk secara sukarela mendaftar untuk diberhentikan. Tetapi sayang sekali saya bukan Menkeu. Salam, budisan --- On Thu, 2/12/09, Den_Boedhi <[email protected]> wrote: From: Den_Boedhi <[email protected]> Subject: [Forum Prima] Re: Masalah Kelebihan/Kekurangan Pegawai DJPBN To: [email protected] Date: Thursday, February 12, 2009, 8:07 PM Dear budisan yang budiman, Menurut pendapat saya hanya bermodalkan procesor Pentium III yang lambat bin lemot ini, permasalahan yang dihadapi oleh DJPBN bukanlah pada persoalan "the right man on the right place" tetapi adalah banyaknya "the wrong man in the wrong place". Maksud saya dengan perkembangan TI, sekarang ini banyak sekali SDM DJPBN yang sebenarnya ...mohon maaf..sudah tidak layak untuk dipertahankan keberadaannya di DJPBN. Jika bapak berkesempatan jalan jalan ke daerah, maka Bapak akan dengan mudah menjumpai SDM yang sekedar menyentuh keyboard komputer saja takut. Saya sangat setuju dengan Bapak, bahwa mau tidak mau, suka tidak suka kita harus mengorbankan (baca merugikan) separuh lebih pegawai Ditjen PBN. Karena "best solution" itu nampaknya hanyalah sebuah impian. Oleh kaena itu suka tidak suka kita harus memikirkan "the Second Best Solution" (yang realistis, dapat dilaksanakan dan bisa segera diperoleh hasilnya). Salam hangat dari Kendari HaBeWe --- In forumpr...@yahoogro ups.com, budisan <budisan_2005@ ...> wrote: > > Dear Miliser yang budiman, > .... Apalagi dalam beberapa momen pertemuan dengan para pegawai/pejabat di daerah, pimpinan Ditjen PBN selalu menekankan (menjanjikan) bahwa solusi apapun yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah kelebihan pegawai tersebut pada prinsipnya ia tidak akan merugikan (mengorbankan) para pegawai Ditjen PBN. > .... Suatu hari ketika saya berkonsultasi dengan Profesor Manfred Bieneveld (dosen dan sekaligus ketua jurusan studi saya) tentang paper assignment yang harus saya selesaikan, beliau memberikan suatu pesan yang hingga kini sulit untuk saya lupakan. “Kalau kita tahu bahwa pilihan the Best Solution adalah mimpi, maka tidak ada pilihan lain selain harus memilih the Second Best Solution (yang realistis, dapat dilaksanakan dan bisa segera diperoleh hasilnya)”. > > Semoga yang telah saya sampaikan tersebut di atas bermanfaat untuk Anda, saya dan juga Mereka. > > > Salam, > budisan >

