Milliser yang kami hormati Membaca kalimat Bapak Dedi saya merasa miris, bukan saya sok suci, sok bersih ataupun menggurui, tapi realitas bathin saya berkata bahwa pernyataan seperti ini mestinya tidak dikeluarkan dari lubuk hati kita. Kita bekerja adalah untuk negara, kita mementingkan urusan negara, seharusnya bukan urusan sempit spt masalah Ditjen Perbendaharaan saja, masalah DJA saja bahkan mungkin bukan masalah Depkeu saja. Masalah Ditjen Pajak yang berkaitan dengan Ditjen Perbendaharaan, menurut saya adalah masalah Ditjen Pb juga, dan mungkin masalah pihak2 lain yang ada kaitannya. Soal nantinya pihak lain yang dapat nama, atau reward. Harusnya jangan kita pikirkan. Kita harusnya berjiwa besar apa yang kita lakukan toh bukan pekerjaan mereka, kita mengerjakan pekerjaan kita sendiri tapi ada pihak yang membutuhkan kenapa tidak kita berikan? Harusnya kita bangga dan senang karena pekerjaan kita selesai tapi orang lain juga butuh tanpa mereka harus repot2 mencari data sendiri.
Ideal dan betapa indahnya bila semua orang melakukan tugasnya tanpa pamrih dan mengajak semua orang untuk bekerja dengan ikhlas. Bila kita melakukan kebaikan atau pekerjaan tanpa imbalan berupa materi akan tetapi pihak lain merasa bahagia dan senang atas pekerjaan kita, tentu kita harusnya merasa bahagia. Kita dapat nilai plus disamping dapat gaji bulanan juga mendapat pahala dari Allah SWT akan pekerjaan yang ikhlas dan menyenangkan hati orang. Besar-kecilnya reward yang kita terima tentu sudah ada yang mengurusinya, dan orang yang mengurusi/menilai kelayakan suatu penghasilan pegawai seharusnya juga melakukan yang terbaik dan menjalankan tugasnya dengan amanah dan seadil-adilnya serta tidak ada pilih kasih apalagi sekedar menguntungkan dirinya. Bila unit tertentu tugasnya berat dan strategis harusnya rewardnya juga strategis. Maka sebagai abdi negara tentu tidak menanyakan apa yang akan saya dapat dari negara tetapi apa yang dapat saya perbuat untuk negara serta melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan sesuai porsi kita. Walaupun saya sendiri terkadang untuk iklas dan tersenyum terasa pahit, karena kadang2 orang yang kita layani justru seolah2 memanfaatkan kebaikan kita... untuk ucapan terima kasih dan senyum pun tidak kita terima. Ketika menghadapi hal tersebut, hati kita dongkol dan menggerutu.. tapi ketika tersadar, maka akan berucap itulah cobaan ikhlas ... SMOS (Senang melihat orang susah dan susah melihat orang lain senang) harusnya diganti dengan "Senang Melihat Orang Lain Senang, dan Susah Melihat Orang Lain Susah" Kenapa kita mesti tidak ikhlas bila orang lain yang menikmati hasilnya, toh gaji kita tidak berkurang, kalau memang orang lain lebih pantas untuk menerima imbalan lebih tentu kita pun jangan terlalu risau.. Allah Maha Tahu akan semua amal hambaNya. Mari berpositif thinking, mudah2an dengan begitu akan mendatangkan hal2 yang positif bagi diri kita. Ada lagi tulisan milliser, untuk berterima kasih kepada jasa koruptor . . ., menurut saya agak kontroversi. Mudah2an bukan bermaksud mengajak institusi untuk melakukan korupsi agar penghasilannya dinaikkan. Sekali lagi mohon maaf bila ada yang kurang berkenan mudah2an bisa menjadi bahan renungan, dan bermanfaat untuk diri saya sendiri khususnya dan milliser semua pada umumnya. Terima kasih. Wassalam --- In [email protected], "dedicahriadi" <dedicahri...@...> wrote: > kutipan yang pertama koment saya : "kita yang kerja orang lain yang menuai > hasilnya" pengalaman saya ketika akhir tahun anggaran 2008 KPPN jadi bahan > "obok-obok kantor KPP Pratama/Madya" mereka minta data "jadi" MPN ke KPPN > alasannya target Pajak menjadi incaran mereka yang ujung-ujungnya "reward" > bagi KPP, KPPN dapat reward apa??? > > kedua sekedar info : ini terjadi bahwa KPP /ketika akhir tahun telah > "berkantor" di bank untuk mengawasi penerimaan persepsi... asik ya kita saja > belum pernah nongkrongin kerjaan orang. > Jadi mudah2 apa yang disampaikan pa budisan tentang pembagian tupoksi pada > MPN bisa dijelaskan lebih lanjut buat para punggawa KPPN. > > Thanks.. > > Dedi > > > >

