Sangat setuju dengan pernyataan P Sihombing, Masalah bisa teratasi bila hati kita tertata rapi, punya jiwa sosial yang tinggi, berjiwa negarawan sejati, dan yang lebih penting lagi bahwa pekerjaan yang kita lakukan adalah merupakan ibadah kepada Ilahi Rabbi.
Bila landasan kita sekedar remunerasi, maka tdk akan punya arti bila tidak diiringi dengan rasa ikhlas di hati apalagi bila mengikuti ambisi yang melupakan hati nurani Tidak mudah memang, apalagi seringkali godaan datang dari si pemberi bukan pada diri sendiri... Termasuk juga: TELADAN DAN TINDAKAN DARI ATASAN SERTA PIMPINAN. Maka wajib hukumnya atasan dan pimpinan yang bergaji besar memberikan tauladan dan contoh yang benar, bila bawahan sudah diberikan contoh yang baik, namun anak buah tetap juga bengal dan menyalahi aturan maka harus ambil tindakan TEGAS,---->TURUN GAJI atau PECAT. Demikian, semoga bermanfaat!! Bila ada salah kate dan menyinggung perasaan mohon maaf, akhirul kalam menjelang akhir Ramadhan kami mengucapkan " Taqqabalallaahu minna waminkum, minal 'aidin wal faizdin, Selamat menjelang Idul Fitri 1430 H, MOHON MAAF LAHIR & BATHIN. Kepada yang mudik selamat mudik, selamat di jalan dan selamat sampai tujuan. Jangan lupa selalu berbagi dan banyak2lah memberi. --- In [email protected], wibawa sihombing <drpram2...@...> wrote: > > Kalo menurut saya ada masalah yang lebih fundamental dari yang disebutkan pak > Cipto; > > Pakta integritas ---> hanya akan menjadi macan kertas > Lay out percontohan ---> hanya akan menjadi hiasan > Satker tidak boleh masuk kedalam ----> toh kalo mau suap kok harus kedalam? > kan bisa pake sms banking > > Jadi menurut saya "hati" nya yang harus dirubah > > marilah memulai dari hati yang bersih dengan niat yang baik > > sistem, layout, pakta integritas, SOP dan sebagainya tidak berarti apa apa > kalo "hati" masih belum bersih > dan ini yang paling berat, tidak ada yang tau isi hati orang kecuali dia > sendiri dan "yang diatas" > > > > >

