Wah Bp. Stefanus Dewanto, nggak jadi disambung yaa udah banyak pendukungnya,
pada intinya yg penting (setelah 1 s.d 3) adalah ;
4.  Daya tahan suatu sistem terletak pada manusianya bukan pada
peraturan/hukum(an).  Kita tentu ingat ketika Lee Kuan Yee masih khawatir dg
rakyat Singapura yg terkenal tertib dan bersih itu, karena beliau tahu
persis bahwa rakyatnya demikian itu karena *takut dg peraturan. *Sekedar
guyon saja, kenapa reformasi yg diusung mahasiswa kadang masih disangsikan?
Yaa jelas saja orang kita liat mahasiswa tawuran disana sini.  Begitulah
kira2, sehingga ketika ketika kita menemui fakta penyimpangan dalam proses
reformasi birokrasi, tidak hanya kita arahkan pada sanksi, tapi juga mesti
kita gali penyebabnya dalam suatu rumusan kritis.  Karena rumusan tersebut
sangat bermanfaat bagi keberlangsungan proses reformasi.

5. Kita khawatir, hujatan yg kita arahkan pd pelaku, membuat malu dan
kontraproduktif terhadap teman2 "bersih" yg berada unit bersangkutan.
Alangkah malu dan gelisahnya teman di Bogor dan Sukabumi.  Kalau saya posisi
disana udah pasti bakal pake helm kemana2 (ungkapan saking malunya).
Jangankan mau kerja enak, makan tidur pun jadi sulit, badan kurus, padahal
banyak uang...padahal pula bukan pelakunya...

6.  Walaupun demikian, hukuman itu amat efektif kalau bentuknya kita
mutilasi tangannya terus dipajang di kantor pusat, terus dibuat duplikatnya
dan dipasang di setiap kantor, diberi catatan "akibat buah terlarang.." ..eh
kok jadi tambah kejem ya Bp Stefanus ?

Kirim email ke