Terimakasih Mas Trisulo... Sambungannya ditunggu...Emang kalo orang pinter bahasanya enak dibaca dan runtut.. Hehehe...
Pada 15 September 2009 14:47, treezy zullo <[email protected]> menulis: > > > Nampaknya pemikiran Bp Stefanus sejalan dengan yg saya pikirkan. > Maka, mohon saya bantu menterjemahkan maksud Bp Stefanus Dewanto untuk Bp > Joni Ito. > > 1. Tentang sanksi anggap saja kita telah sepakat, yaitu seberat2nya. Kita > abaikan dulu motivasi kita "menghukum" apakah karena takut kehilangan remun > dll. > 2. Pelaku bukan mesin, artinya pungli bukan akibat kesalahan mesin, tetapi > tindakan manusia. > 3. Kita tentu mengharapkan 2 hal; solusi dan reformasi jalan terus. Jadi, > jangan sampai sikap yg kita buat bukan merupakan solusi, atau bahkan > mengakibatkan reformasi kandas. Karena mengandung unsur solusi, maka saya > katakan hukuman bukan solusi. Artinya, kita tidak ingin menegakkan hukuman > di satu tempat, tahu2 muncul masalah di tempat lain. > Saya ingin berbagi cerita untuk memperjelas maksud ini, seorang teman > pernah mengalami kejadian rumahnya disatroni maling. Dua pelaku sedang > sibuk mengemas barang2 rumahtangganya. Maling tsb tidak tahu bahwa pemilik > rumah seorang polisi. Sang polisi (ayah teman tsb) ketika sadar rumahnya di > 'tamuin' langsung berusaha menyergap si maling. Dan, maling memang > tertangkap basah, tetapi bukan dg tembakan atau borgol, walaupun itu bisa > dilakukan. Sang polisi menanya secara lembut maksud kedatangan maling (dan > si maling malah tobat2 minta ampun). akhir kisah si polisi justru > menitipkan rumah tsb kepada maling karena akan ditinggalkan pulang selama 2 > minggu ke Jawa Tengah (tentu dg memberi sejumlah ongkos). Dan si maling > menjaga rumah tsb dg penuh amanah, bahkan sekarang kabarnya 2 maling tsb > telah menjadi pekerja yg sukses. > Nah, selama ini kita selalu bicara tentang prosedur dan mekanisme dg > bangga. Mungkin kita lupa dg proses 'konselling', pembinaaan, pendekatan, > humanisme, bekerja dg hati, memuliakan bawahan. Bukan hanya penegakan > hukum, ingat dalam reformasi birokrasi ini kita baru memperbaiki sistem lho, > belum memperbaiki SDM. Dlm pengertian merubah SDM yg sebelumnya malas > menjadi rajin, sebelumnya culas jadi jujur dll. Tapi mungkin baru taraf > membuat sebelumnya tidak tahu menjadi lebih tahu, atau yg lebih fatal adalah > menyingkirkan orang2 yg dianggap tidak berarti?? (bersambung) > >

