Nampaknya pemikiran Bp Stefanus sejalan dengan yg saya pikirkan. Maka, mohon saya bantu menterjemahkan maksud Bp Stefanus Dewanto untuk Bp Joni Ito.
1. Tentang sanksi anggap saja kita telah sepakat, yaitu seberat2nya. Kita abaikan dulu motivasi kita "menghukum" apakah karena takut kehilangan remun dll. 2. Pelaku bukan mesin, artinya pungli bukan akibat kesalahan mesin, tetapi tindakan manusia. 3. Kita tentu mengharapkan 2 hal; solusi dan reformasi jalan terus. Jadi, jangan sampai sikap yg kita buat bukan merupakan solusi, atau bahkan mengakibatkan reformasi kandas. Karena mengandung unsur solusi, maka saya katakan hukuman bukan solusi. Artinya, kita tidak ingin menegakkan hukuman di satu tempat, tahu2 muncul masalah di tempat lain. Saya ingin berbagi cerita untuk memperjelas maksud ini, seorang teman pernah mengalami kejadian rumahnya disatroni maling. Dua pelaku sedang sibuk mengemas barang2 rumahtangganya. Maling tsb tidak tahu bahwa pemilik rumah seorang polisi. Sang polisi (ayah teman tsb) ketika sadar rumahnya di 'tamuin' langsung berusaha menyergap si maling. Dan, maling memang tertangkap basah, tetapi bukan dg tembakan atau borgol, walaupun itu bisa dilakukan. Sang polisi menanya secara lembut maksud kedatangan maling (dan si maling malah tobat2 minta ampun). akhir kisah si polisi justru menitipkan rumah tsb kepada maling karena akan ditinggalkan pulang selama 2 minggu ke Jawa Tengah (tentu dg memberi sejumlah ongkos). Dan si maling menjaga rumah tsb dg penuh amanah, bahkan sekarang kabarnya 2 maling tsb telah menjadi pekerja yg sukses. Nah, selama ini kita selalu bicara tentang prosedur dan mekanisme dg bangga. Mungkin kita lupa dg proses 'konselling', pembinaaan, pendekatan, humanisme, bekerja dg hati, memuliakan bawahan. Bukan hanya penegakan hukum, ingat dalam reformasi birokrasi ini kita baru memperbaiki sistem lho, belum memperbaiki SDM. Dlm pengertian merubah SDM yg sebelumnya malas menjadi rajin, sebelumnya culas jadi jujur dll. Tapi mungkin baru taraf membuat sebelumnya tidak tahu menjadi lebih tahu, atau yg lebih fatal adalah menyingkirkan orang2 yg dianggap tidak berarti?? (bersambung)

