Assalamu'alaikum Wr,Wb

Afwan saya kurang sependapat dengan Kalimat tersebut seperti yg ditulis oleh 
saudara amrinal gustian : Politik itu penuh dengan kebohongan semuanya 
memberikan janji entah apapun partainya partai berasas Islamkah, 
Nasionaliskah sama saja.

Untuk lebih detail kenapa ? silahkan Baca!

Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah. Oleh sebab itu, 
di dalam buku-buku para ulama salafush shalih dikenal istilah siyasah 
syar'iyyah, 
misalnya. Dalam Al Muhith, siyasah berakar kata sâsa - yasûsu. Dalam kalimat 
Sasa addawaba yasusuha siyasatan berarti Qama 'alaiha wa radlaha wa adabbaha 
(mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). Bila dikatakan sasa al amra 
artinya dabbarahu (mengurusi/mengatur perkara).

Jadi, asalnya makna siyasah (politik) tersebut diterapkan pada pengurusan 
dan pelatihan gembalaan. Lalu, kata tersebut digunakan dalam pengaturan 
urusan-urusan manusia; dan pelaku pengurusan urusan-urusan manusia tersebut 
dinamai politikus (siyasiyun). Dalam realitas bahasa Arab dikatakan bahwa 
ulil amri mengurusi (yasûsu) rakyatnya saat mengurusi urusan rakyat, 
mengaturnya, dan menjaganya. Begitu pula dalam perkataan orang Arab 
dikatakan : 'Bagaimana mungkin rakyatnya terpelihara (masûsah) bila 
pemeliharanya ngengat (sûsah)', artinya bagaimana mungkin kondisi rakyat 
akan baik bila pemimpinnya rusak seperti ngengat yang menghancurkan kayu. 
Dengan demikian, politik merupakan pemeliharaan (ri'ayah), perbaikan 
(ishlah), pelurusan (taqwim), pemberian arah petunjuk (irsyad), dan 
pendidikan (ta`dib).

Rasulullah SAW sendiri menggunakan kata politik (siyasah) dalam sabdanya : 
"Adalah Bani Israil, mereka diurusi urusannya oleh para nabi (tasusuhumul 
anbiya). Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. 
Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak para khalifah" (HR. Bukhari 
dan Muslim). Teranglah bahwa politik atau siyasah itu makna awalnya adalah 
mengurusi urusan masyarakat. Berkecimpung dalam politik berarti 
memperhatikan kondisi kaum muslimin dengan cara menghilangkan kezhaliman 
penguasa pada kaum muslimin dan melenyapkan kejahatan musuh kafir dari 
mereka. Untuk itu perlu mengetahui apa yang dilakukan penguasa dalam rangka 
mengurusi urusan kaum muslimin, mengingkari keburukannya, menasihati 
pemimpin yang mendurhakai rakyatnya, serta memeranginya pada saat terjadi 
kekufuran yang nyata (kufran bawahan) seperti ditegaskan dalam banyak hadits 
terkenal. Ini adalah perintah Allah SWT melalui Rasulullah SAW. Berkaitan 
dengan persoalan ini Nabi Muhammad SAW bersabda :

  "Siapa saja yang bangun pagi dengan gapaiannya bukan Allah maka ia 
bukanlah (hamba) Allah, dan siapa saja yang bangun pagi namum tidak 
memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia bukan dari golongan mereka." (HR. 
Al Hakim)
Rasulullah ditanya oleh sahabat tentang jihad apa yang paling utama. Beliau 
menjawab : "Kalimat haq yang disampaikan pada penguasa" (HR. Ahmad).

Berarti secara ringkas Politik Islam memberikan pengurusan atas urusan 
seluruh umat Muslim.

Namun, realitas politik demikian menjadi pudar saat terjadi kebiasaan umum 
masyarakat dewasa ini baik perkataan maupun perbuatannya menyimpang dari 
kebenaran Islam yang dilakukan oleh mereka yang beraqidahkan sekularisme, 
baik dari kalangan non muslim atau dari kalangan umat Islam. Jadilah politik 
disifati dengan kedustaan, tipu daya, dan penyesatan yang dilakukan oleh 
para politisi maupun penguasa. Penyelewengan para politisi dari kebenaran 
Islam, kezhaliman mereka kepada masyarakat, sikap dan tindakan sembrono 
mereka dalam mengurusi masyarakat memalingkan makna lurus politik tadi. 
Bahkan, dengan pandangan seperti itu jadilah penguasa memusuhi rakyatnya 
bukan sebagai pemerintahan yang shalih dan berbuat baik. Hal ini memicu 
propaganda kaum sekularis bahwa politik itu harus dijauhkan dari agama 
(Islam). Sebab, orang yang paham akan agama itu takut kepada Allah SWT 
sehingga tidak cocok berkecimpung dalam politik yang merupakan dusta, 
kezhaliman, pengkhianatan, dan tipu daya. Cara pandang demikian, sayangnya, 
sadar atau tidak mempengaruhi sebagian kaum muslimin yang juga sebenarnya 
ikhlas dalam memperjuangkan Islam. Padahal propaganda tadi merupakan 
kebenaran yang digunakan untuk kebathilan (Samih 'Athief Az Zain, As Siyasah 
wa As Siyasah Ad Dauliyyah, hal. 31-33). Jadi secara ringkas Islam tidak 
bisa dipisahkan dari politik.



Sumber:  Wikipedia Indonesia

----- Original Message ----- 
From: "amrinal gustian" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP" 
<[email protected]>
Sent: Tuesday, January 30, 2007 11:00 PM
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Ingat2 40 hari lagi Ingat Nomer 4 'SADAR'


> Disayangkan sekali kalo milis ini sudah mengarah ke
> yang tidak adil dan jadi ajang Kampanye politik, benar
> adanya adil dekat dengan taqwa, rekan2 milis Politik
> itu penuh dengan kebohongan semuanya memberikan janji
> entah apapun partainya partai berasas Islamkah,
> Nasionaliskah sama saja, Lebih baik milis ini jadi
> sarana peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan kita supaya
> kita tidak terjebak dengan pertentangan sesama muslim.
>
> Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.
>
>
> Wassalam 


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke