Sistem Ekonomi Kapitalis Self-Destructive! 
<http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2007/07/02/sistem-ekonomi-kapitalis-self-destructive/>
 


Pengantar:

Krisis ekonomi diperkirakan akan terjadi lagi di negeri ini, juga di negara 
lain. Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu juga sudah memberi 
warning tentang kemungkinan bakal munculnya krisis ekonomi 'jilid 2'. Bagaimana 
ini bisa terjadi? Mengapa krisis ekonomi saat ini sepertinya terus berulang. 
Dimana akar persoalannya? Bagaimana pula solusinya yang sangat mendasar menurut 
Islam? 

 

Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, Jubir HTI HM Ismail Yusanto 
memberikan pandangannya yang tajam di seputar persoalan ini. Berikut petikan 
wawancara Redaksi dengan beliau.

 

Krisis ekonomi sepertinya menjadi siklus yang terus berulang secara berkala. 
Apakah memang demikian?

 

Memang benar. Dr. Thahir Abdul Muhsin Sulaiman dalam buku Ilâj al-Musykilah 
al-Iqtishâdiyah bi al-Islâm menyebut krisis dalam sistem ekonomi kapitalis itu 
memang bersifat siklik. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang terjadi hanyalah 
putaran menuju puncak untuk kemudian jatuh ke lembah krisis kembali. Begitu 
seterusnya. 

Hal itu terjadi di semua negara di seluruh dunia. Hanya saja, kurun siklusnya 
berbeda-beda. Untuk negara-negara maju dengan fundamental ekonomi yang cukup 
baik seperti Jepang, negara di Eropa atau Amerika Serikat, siklusnya sekitar 25 
tahunan. Indonesia, Thailand dan negara serupa sekitar 7 tahunan. Indonesia 
pernah mengalami krisis meski tidak parah di tahun 90-an. Perbaikan terus 
berlangsung. Pertengahan 1997 krisis ekonomi hebat melanda Indonesia. Setelah 
itu, saat recovery belum lagi sempurna, guncangan kembali terjadi sekitar tahun 
2005, utamanya setelah kenaikan BBM, dan terus berlangsung hingga sekarang. 
Indikasinya adalah terus melemahnya daya beli masyarakat, kemiskinan yang terus 
meningkat, pertumbuhan ekonomi yang melambat hingga pengangguran terus 
membengkak. 

 

Apakah itu memang menjadi karakter sistem ekonomi kapitalis?

 

Ya. Salah satu penyebab utama adalah adanya praktik riba dan judi. Keduanya 
membentuk sektor non-real dalam sistem ekonomi kapitalis baik dalam bentuk 
perbankan, asuransi, maupun perdagangan saham. Dalam sistem kapitalis, money 
(juga capital) memang dipandang sebagai private goods. Dalam pikiran mereka, 
baik diinvestasikan dalam proses produksi atau tidak, semua capital  harus 
menghasilkan uang. Faktanya,  investasi di sektor non-real saat ini memang 
cenderung terus meningkat, jauh melampaui uang yang beredar di sektor produksi. 
Inilah yang disebut oleh Paul Krugman (1999) sebagai "ekonomi balon" (bubble 
economy).

 

Bagaimana hal itu terjadi di Indonesia?

 

Ada lebih dari Rp 230 triliun dana masyarakat yang dikumpulkan oleh berbagai 
bank dengan susah-payah, juga Rp 90 triliun dana milik Pemda seluruh Indonesia, 
yang ternyata idle (menumpuk tak bergerak) di Bank Indonesia. Hal ini membuat 
pertumbuhan ekonomi yang dicapai tidak secara otomatis berpengaruh terhadap 
penyerapan tenaga kerja. Jika pada tahun 2000 setiap pertumbuhan ekonomi 1% 
menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, tahun 2003 menurun menjadi hanya 
253.000, bahkan tahun 2006 lalu pertumbuhan 1% hanya membuka 42 ribu. 

Sementara itu, di lantai bursa setiap hari beredar uang hingga Rp 3 triliun. 
Kapitalisasi bursa saham di Indonesia memang terus meningkat. Bila tahun 2005 
lantai bursa menyumbang 36% dari PDB, tahun 2006/2007 ini, bursa saham 
Indonesia menyumbang 42 % PDB atau sekitar Rp 1.800 triliun. Meski begitu, 
keadaan ini tidak menggembirakan Wapres Jusuf Kalla karena perfomance bursa 
saham Indonesia, yang katanya termasuk paling bagus di dunia, tidak otomatis 
mempengaruhi sektor real. Bila pasar modal tidak dapat menggerakkan sektor real 
maka pasar modal tidak ada artinya. Itu kata Jusuf Kalla di depan Indonesia 
Investor  Forum di Jakarta akhir Mei lalu. Karenanya, ia menghimbau agar bursa 
saham memperhatikan sektor real;  sebuah himbauan yang sia-sia karena keduanya 
memang tidak berhubungan.  

 

Apakah bisa dikatakan bahwa sistem ekonomi kapitalis itu rapuh? 

 

Bukan hanya rapuh, sistem ekonomi kapitalis juga bersifat self-destructive 
(menghancurkan diri sendiri). Inilah watak dasar dari sistem sekular. Dia tidak 
akan pernah bisa menyelesaikan persoalan manusia secara menyeluruh dan benar. 
Alih-alih bisa menyelesaikan persoalan, sistem ekonomi kapitalis secara faktual 
justru telah menimbulkan berbagai persoalan serius di berbagai belahan dunia. 
Kemiskinan dan kesenjangan kaya-miskin, kerusakan lingkungan, proses 
dehumisasi, bahkan perang dan penindasan ada di mana-mana.

 

Mengapa rapuh?

 

Faktornya banyak. Namun, saya ingin menyebut dua faktor utama. Pertama: 
persoalan mata uang. Saat ini nilai mata uang suatu negara pasti terikat dengan 
mata uang negara lain (misalnya rupiah terhadap dolar AS), tidak pada dirinya 
sendiri. Akibatnya, nilainya tidak pernah stabil. Bila nilai mata uang tertentu 
bergejolak, pasti akan mempengaruhi kestabilan mata uang tersebut. Bila mata 
uang tidak stabil maka kegiatan ekonomi secara keseluruhan juga tidak akan 
pernah stabil. Pasalnya, mata uang, ibarat kereta, adalah lokomotif penggerak 
gerbong kegiatan ekonomi. Kedua: kenyataan bahwa uang tidak lagi dijadikan 
sebagai alat tukar saja, namun  juga sebagai komoditi yang diperdagangkan 
(dalam bursa valuta asing), dijadikan komoditas judi (dalam bursa saham dan 
kegiatan sejenis-yang oleh Allaise Maurice disebut a big casino) dan ditarik 
keuntungan (interest) alias bunga atau riba dari setiap transaksi peminjaman 
atau penyimpanan uang.

 

Jadi bisa dikatakan, pemicunya adalah sektor non-real. Begitu?

 

Benar. Pemicu krisis ekonomi adalah sektor non-real atau moneter yang memang 
dikenal sebagai sektor penuh spekulasi. Kekacauan di sektor ini menyebabkan 
kekacauan di sektor real (produksi, perdagangan dan jasa). Harga-harga barang 
dan jasa naik bukan karena hukum permintaan dan penawaran (supply and demand), 
namun karena suku bunga perbankan naik dan terjadinya depresiasi rupiah 
terhadap dolar AS. 

Dari pengalaman krisis tahun 1997 lalu, jelas terbukti bahwa bunga bank memang 
selalu akan memberikan tekanan terhadap kegiatan ekonomi. Sistem perbankan 
dengan bunga sangat berpengaruh terhadap bergairah-tidaknya serta 
sehat-tidaknya kegiatan ekonomi masyarakat. Riba memang akan selalu menjadi 
sumber labilitas ekonomi. Tatanan ekonomi masyarakat yang ditopang dengan 
sistem ribawi tidak akan pernah betul-betul sehat. Kalaupun suatu ketika tampak 
sehat, ia sesungguhnya sedang menuju ke satu  titik kolaps setelah mencapai 
puncaknya dari sebuah siklus krisis ekonomi. Karena itu, dengan tegas Dr. 
Thahir Abdul Muhsin Sulaiman menyebut bahwa bunga bank merupakan salah satu 
sumber labilitas perekonomian dunia. Al-Quran menyebutnya sebagai orang yang 
tidak dapat berdiri tegak melainkan secara limbung bagai orang yang kemasukan 
setan. Ketidakstabilan ini sering disebut dengan  random walk-suatu istilah 
statistik yang mengambarkan langkah-langkah yang tidak berpola, persis seperti 
langkah orang yang sedang mabuk berat. Orang-orang yang tetap mengambil riba 
setelah tiba larangan dari Allah, diancam akan dimasukkan ke neraka. Lihat QS 
al-Baqarah (2) ayat 275-276.

 

Lalu bagaimana ketahanan ekonomi itu bisa diwujudkan oleh sistem ekonomi Islam?

 

Secara i'tiqâdi, sebagai sistem yang diturunkan oleh Allah, sistem ekonomi 
Islam pasti paling baik dan memiliki ketahanan tinggi. Islam menjadikan 
paradigma ekonomi berhubungan dengan perintah dan larangan Allah, yakni dengan 
pendapat, pemikiran dan hukum Islam. Inilah pengertian kegiatan ekonomi dalam 
Islam sebagai bagian dari ibadah kepada Allah yang implikasinya tidak berhenti 
di dunia saja, namun sampai ke negeri akhirat, karena  semua itu  akan dimintai 
pertanggungjawabannya di sana kelak.  

Keyakinan Islam juga mengatakan bahwa syariah pasti membawa rahmat. Artinya, di 
dalam syariah pasti terkandung kebaikan-kebaikan. Dengan keyakinan seperti itu, 
kegiatan ekonomi yang baik adalah apa yang dikatakan baik oleh syariah, dan 
yang buruk adalah apa yang dikatakan buruk oleh syariah. Jadi, melaksanakan 
sistem ekonomi Islam berarti melaksanakan syariah Islam di bidang ekonomi. 

 

Bagaimana Islam memandang sektor moneter?

 

Islam membedakan money (uang) dengan capital (modal). Money sebagai public 
goods adalah flow concept, sedangkan capital sebagai private goods adalah stock 
concept. Money adalah milik masyarakat. Karena itu, penimbunan uang (atau 
dibiarkan tidak produktif) dilarang karena akan mengurangi jumlah uang beredar; 
bila diibaratkan dengan darah, perekonomian akan kekurangan darah atau 
mengalami kelesuan alias stagnasi. Semakin cepat money berputar dalam 
perekenomian akan semakin baik bagi ekonomi masyarakat. Jadi, uang harus 
dibelanjakan. Kalau tidak, sebagai private goods, dana itu diinvestasikan, 
diproduktifkan baik secara langsung atau dengan melakukan kerjasama bisnis 
dalam bentuk syarikah dengan orang lain; bisa juga disedekahkan, atau 
dipinjamkan tanpa riba, dan dikeluarkan zakatnya dan dilarang untuk modal judi. 
Secara makro, langkah-langkah itu akan membuat velocity of money akan bertambah 
cepat. Ini berarti merupakan tambahan darah baru bagi perekonomian secara 
keseluruhan. 

 

Apakah sistem ekonomi Islam bisa mengatasi semua problem tersebut?

 

Tentu. Islam sangat bisa mengatasi krisis ekonomi yang hingga kini masih terus 
berlangsung. Di samping harus menata sektor real, yang paling penting adalah 
meluruskan pandangan yang keliru tentang uang tadi. Bila uang dikembalikan pada 
fungsinya sebagai alat tukar saja, lantas mata uang dibuat dengan basis 
emas/dinar (1 dinar  syar'i beratnya 4,25 g) dan perak/dirham (1 dirham syar'i 
beratnya 2,975 g), maka ekonomi akan betul-betul digerakkan oleh hanya sektor 
real saja. Tidak akan ada sektor non-real (dalam arti orang berusaha menarik 
keuntungan dari mengkomoditaskan uang di pasar uang, bank, pasar modal dan 
sebagainya). Kalaupun ada usaha di sektor keuangan, itu tidaklah lebih sekadar 
menyediakan uang untuk modal usaha yang diatur dengan sistem yang benar 
(misalnya bagi hasil). Dengan cara itu, sistem ekonomi yang bertumpu pada 
sektor real akan berjalan mantap, tidak mudah bergoyang atau digoyang seperti 
saat ini. 

Islam mengajarkan untuk hanya memfungsikan uang sebagai alat tukar saja. Dengan 
itu, dimana uang beredar, ia pasti hanya akan bertemu dengan barang dan jasa, 
bukan dengan sesama uang seperti yang terjadi pada transaksi perbankan atau 
pasar modal dalam sistem kapitalis. Semakin banyak uang beredar, semakin banyak 
pula barang dan jasa yang diproduksi dan diserap pasar. Akibatnya, pertumbuhan 
ekonomi akan terus meningkat sehingga lapangan pekerjaan terbuka, pengangguran 
bisa ditekan, kesejahteraan masyarakat meningkat. Pada akhirnya, krisis sosial 
(kriminalitas, perceraian, stress pada masyarakat dan sebagainya) dapat 
dihindari. Semua pertumbuhan itu berlangsung secara mantap  (steady growth), 
tanpa ada kekhawatiran terjadi kolaps seperti pertumbuhan ekonomi balon (bubble 
growth) yang semu dalam sistem kapitalistik yang bersifat siklik tadi. 

 

Kemudian, bagaimana dengan kestabilan mata uang dinar dan dirham itu?

 

Dengan mata uang dinar dan dirham,  nilai nominal dan nilai intrinsik dari mata 
uang dinar dan dirham akan menyatu. Artinya, nilai nominal mata uang yang 
berlaku akan dijaga oleh nilai instrinsiknya (nilai uang itu sebagai barang, 
yaitu emas atau perak itu sendiri), bukan oleh daya tukar terhadap mata uang 
lain. Seberapa pun dolar Amerika naik nilainya, misalnya, mata uang dinar akan 
mengikuti senilai dolar menghargai 4,25 gram emas yang terkandung dalam 1 
dinar. Depresiasi (sekalipun semua faktor ekonomi dan non ekonomi yang 
memicunya ada) tidak akan terjadi. Gejolak ekonomi seperti yang pernah terjadi 
pada tahun 1997, insya Allah, juga tidak akan terjadi.

Penurunan nilai dinar atau dirham memang masih mungkin terjadi, yaitu ketika 
nilai emas yang menopang nilai nominal dinar itu, mengalami penurunan (biasa 
disebut inflasi emas). Di antaranya akibat ditemukannya emas dalam jumlah 
besar. Namun, keadaan ini kecil sekali kemungkinannya. Pasalnya, penemuan emas 
besar-besaran biasanya memerlukan usaha eksplorasi dan eksploitasi yang memakan 
investasi besar dan waktu yang lama. Andai pun hal ini terjadi,  emas temuan 
itu  akan disimpan menjadi cadangan devisa negara, tidak langsung dilempar ke 
pasaran. Secara demikian, pengaruh penemuan emas terhadap penurunan nilai emas 
di pasaran bisa ditekan seminimal mungkin. Di sinilah pentingnya ketentuan emas 
sebagai milik umum harus dikuasai oleh negara. 

 

Selain itu, apa yang juga penting dan mendesak untuk dilakukan?

 

Menata dunia perbankan. Fakta empirik dunia perbankan mutakhir menunjukkan 
bahwa perbankan konvensional yang berbasis bunga ternyata sangat labil dan 
mudah sekali terserang problem. Negative-spread yang dialami oleh perbankan 
nasional hingga membuat sejumlah bank berdarah-darah beberapa tahun lalu jelas 
bukan karena faktor moral hazard semata, namun yang utama adalah karena ia 
bertumpu pada sistem ribawi yang memang bersifat self-destructive tadi. 
Tegasnya, sistem ribawi itulah yang membuat dunia perbankan terus terpuruk dan 
tidak pernah stabil.  Bagaimana ekonomi akan berjalan baik bila bertumpu pada 
lembaga intermediari yang tidak stabil? Karena itu, sistem perbankan 
konvensional berbasis bunga mesti dihilangkan. Sebagai gantinya, pengelolaan 
lembaga keuangan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Ini merupakan 
satu-satunya pilihan. ?  

 
Regards
Daryono
 
Process Engineer
Process Engineering B (Machining)
PT. Astra Honda Motor
phone : 021-89981818 
ext : 8572 / 8574

________________________________

From: [EMAIL PROTECTED] on behalf of Mohamad Shaleh
Sent: Fri 7/20/2007 1:55 PM
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] FW: [perisai] Pendidikan Beraroma Pasar



Benar .... Boing itu buatan Amrik,

Yang buatan eropa itu Airbus.

Memang di Jerman itu pendidikan gratis, mulai dari TK sampe ke Universitas 
untuk semua orang meskipun dia bukan warga Negara Jerman. Tapi.... Disana Pajak 
Penghasilan yang dibebankan ke rakyat-nya 30%, apa mau gaji kita dipotong 30 
persen trus anak kita kalo sekolah gratis ? Kalo UMR kita 900 ribu trus 
dipotong 30% apa nggak bebabe tuh ?

 

To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP; Saksi (E-mail)
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] FW: [perisai] Pendidikan Beraroma Pasar

 

Sedikit menambahkan.

Kayaknya Boing buatan USA..

Terima kasih

        -----Original Message-----
        From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Rudy 
Swardani
        Sent: Friday, July 20, 2007 2:55 PM
        To: Saksi (E-mail); FUPM-EJIP (E-mail)
        Subject: [ FUPM-EJIP ] FW: [perisai] Pendidikan Beraroma Pasar

        Bila negara Jerman yang sumber daya alamnya minim bisa menggratiskan 
biaya pendidikan

        tapi kenapa Indonesia yang kaya sumber alam, sekolah malah dijadikan 
sumber bisnis ??

        Hasilnya Jerman bisa menghasilkan sumberdaya manusia yang unggul dan 
menghasilkan

        product yang Qualified seperti Boing, Mercedes, BMW, VW, Siemens, 
Blaupunkt, SAP dll

        sedang Indonesia kaya emas, minyak, batubara tidak bisa kelola dan 
banyak dibawa lari oleh negara asing..

         

        Wassalam..

        Rudy.S

         

<<winmail.dat>>

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke