Betul Pak Boing adalah punyak USA tapi pabriknya ada juga di Jerman dan
Pak Habibi adalah orang Asia pertama yang pernah menjadi direktur disana
Airbus merupakan konsorsium empat negara Eropa yaitu Inggris, Prancis, Spanyol, 
dan Jerman
Terimakasih atas koreksinya..
Wassalammualaikum Wr.Wb.
Rudy.S
 
 
 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Rely
Sent: 20 Juli 2007 15:04
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP; Saksi (E-mail)
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] FW: [perisai] Pendidikan Beraroma Pasar


Sedikit menambahkan.
Kayaknya Boing buatan USA..
Terima kasih

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Rudy Swardani
Sent: Friday, July 20, 2007 2:55 PM
To: Saksi (E-mail); FUPM-EJIP (E-mail)
Subject: [ FUPM-EJIP ] FW: [perisai] Pendidikan Beraroma Pasar


Bila negara Jerman yang sumber daya alamnya minim bisa menggratiskan biaya 
pendidikan
tapi kenapa Indonesia yang kaya sumber alam, sekolah malah dijadikan sumber 
bisnis ??
Hasilnya Jerman bisa menghasilkan sumberdaya manusia yang unggul dan 
menghasilkan
product yang Qualified seperti Boing, Mercedes, BMW, VW, Siemens, Blaupunkt, 
SAP dll
sedang Indonesia kaya emas, minyak, batubara tidak bisa kelola dan banyak 
dibawa lari oleh negara asing..
 
Wassalam..
Rudy.S
 
-----Original Message-----
From: Syarif NurBani [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 20 Juli 2007 9:31
To: asep supriawan; herna; Rudy Swardani
Subject: FW: [perisai] Pendidikan Beraroma Pasar 



  _____  


 

Pendidikan Beraroma Pasar 

Emat S Elfarakani 
Guru PKn SMA Negeri 9 Bogor dan SMK Taruna Andigha Bogor

Setelah beberapa bulan yang lalu orangtua direpotkan dengan Ujian Nasional 
(UN), sekarang orang tua dipusingkan lagi dengan berbagai kebutuhan untuk 
memulai tahun ajaranbaru. Sepertinya, beban yang bertubi-tubi itu memang harus 
dipikul oleh para orangtua sendiri. Animo masyarakat yang begitu besar untuk 
mencerdaskan purta-putrinya ternyata belum sebanding lurus dengan kebijakan 
pemerintah. Lalu di mana sebetulnya peran negara, yang katanya tidak bersistem 
kapitalis ataupun sosialis komunis, tapi bertumpu pada sistem keadilan sosial 
ini?

Kita setuju bahwa pendidikan berkualitas memang memerlukan biaya yang mahal, 
namun haruskan semua itu dibebankan kepada rakyat? Haruskan masalah pendidikan 
juga diserahkan kepada mekanisme pasar, sedangkan kemampuan setiap individu 
untuk mendapatkan hak dasarnya pasti berbeda?

Sejak awal bangsa ini berdiri, sepertinya bidang pendidikan termasuk yang 
paling tertinggal, sehingga tidak aneh kualitas pendidikan kita jalan di 
tempat, bahkan cenderung mundur. Karena pendidikan merupakan sistem rekayasa 
sosial, maka kenyataan ini bukanlah terjadi karena siklus alamiah, melainkan 
lebih disebabkan oleh sistem pendidikan yang tidak jelas arahnya.

Bisnis sekolah
Satu yang tampak jelas dari sistem pendidikan kita adalah menjadikan sekolah 
sebagai coorporate education yang kental nuansa bisnisnya, baik di sekolah 
negeri apalagi swasta. Lalu siapakah yang diuntungkan? Jelas yang sangat 
diuntungkan oleh situasi ini adalah pemerintah. Semakin besar peran dan 
tanggung jawab masyarakat dalam dunia pendidikan, semakin kecil peran dan 
tanggung jawab pemerintah dan semakin kecil pula subsidi yang bakal 
dikeluarkan. Bahkan ini akan menjadi alasan pemerintah untuk lepas dari 
tanggung jawab, karena rakyat sudah diangap mampu. 

Situasi ini diperjelas lagi dengan akan disahkannya RUU Badan Hukum Pendidikan 
(BHP). Singkatnya, RUU ini akan melegalkan badan hukum atau semacam badan usaha 
yang berhak 'menjual' jasa pendidikan kepada rakyat. Atau dengan kata lain, RUU 
ini akan menjadikan sektor pendidikan sebagai komoditas yang layak dijual 
sesuai mekanisme pasar.

Semakin tinggi permintaan, maka akan semakin mahal daya tawarnya. SD sampai 
perguruan tinggi yang dianggap 'favorit' semakin tak terjangkau oleh rakyat 
banyak. Padahal, tidak sedikit putra-putri bangsa ini yang berotak encer yang 
tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya (lihat Pasal 5 UU No 20 Tahun 2003). 
Betul, memang ada beasiswa, tapi dalam sistem pendidikan yang cenderung 
kapitalis beasiswa tidak lebih dari sekadar basa-basi. Bisnis jasa pendidikan 
di lembaga-lembaga swasta mungkin masih bisa dipahami, namun yang menyesakkan 
dada, ternyata ini juga terjadi di lembaga milik pemerintah. UI, ITB, IPB, UGM 
yang lebih dulu diprivatisasi menjadi BHMN atau plesetan dari BUMN di sektor 
jasa pendidikan, menjadikan lembaga ini harus memutar otak untuk mencari dana 
operasional pendidikan agar tetap survive. 

IPB menkonversi aset-asetnya menjadi Botani Squer, Plaza Ekalokasari, jasa 
konsultan pertanian. Selain membuka jalur khusus, UI harus membuka PT Daya 
Makara yang bergerak di bidang perdagangan, komunikasi dan pendidikan. UGM 
harus membuka Gama Wisata, PT Gama Techno, Gama Book Store, dan lain sebagainya 
(Bisnis Indonesia, 22/06/06).

Ada hal yang patut dipertanyakan dengan kasus-kasus tersebut. Jika usaha-usaha 
itu tidak bisa menutup biaya operasional pendidikan, kepada siapakah PT 
tersebut meminta biaya tambahan untuk menutupi kekurangan tersebut? Lagi-lagi 
rakyat mejadi taruhan. Kemudian kalau para akademisi kita disibukkan dengan 
mengelola pundi-pundi bisnisnya, kapan mereka menyempatkan waktu untuk 
meningkatkan kualitas intelektualnya? Kapan mereka melakukan penelitian? 
Ternyata kualitas pendidikan menjadi taruhan. 

Lalu, kalau RUU BHP ini jadi disahkan, bagaimana nasib SMA, SMP, SD terutama 
negeri? Sepertinya nasibnya tidak akan jauh dengan PT negeri, harus menjadi 
semacam Badan Hukum Milik Daerah (BHMD) atau istilah lainya BUMD di bidang 
pendidikan. Sebenarnya ada peluang bagi bangsa ini untuk mewujudkan pendidikan 
gratis bagi rakyatnya di semua jenjang, andai pemerintah komitmen dengan amanat 
UUD Negara 1945 Pasal 31 ayat 4, bahwa anggaran pendidikan minimal 20 persen 
APBN.

Namun, sepertinya peluang itu semakin tertutup. Andai di tahun 2009 anggaran 
pendidikan mencapai 20 persen APBN, pendidikan tidak akan lantas menjadi 
gratis. Pemerintah telah menyiapkan aturan seperti UU dan PP, yang memberikan 
peluang kepada satuan pendidikan untuk mengelola diri sendiri (manajemen 
berbasis sekolah) dengan dalih otonomi sekolah. Sehingga tidak aneh jika ada 
sekolah yang menolak BOS atau walau mendapatkan BOS tetap sekolah diperbolehkan 
mengutip iuran dari masyarakat dengan berbagai alasan. Jika kondisinya seperti 
ini, harapan sekolah gratis di semua jenjang tinggalah impian.

Sekolah bisnis
Setelah para orangtua dibebani kebijakan pemerintah yang sangat memberatkan, 
ternyata masalahnya tidak sampai di situ. Orangtua juga ingin anaknya setelah 
lulus sekolah mendapat pekerjaan yang layak. Sudah mendarahdagingnya paham 
materialisme di kalangan masyarakat kita, membuat dunia pendidikan pun diukur 
dengan materi. Gejala ini terlihat dengan semakin banyaknya orangtua yang 
mencari sekolah yang menjamin anaknya bisa langsung kerja. Program atau jurusan 
berbau bisnis yang prosfektif selalu menjadi incaran orangtua.

Kondisi ini diperparah dengan kurikulum kita yang cenderung sekuler, memisahkan 
pendidikan agama dan pendidikan umum (pasal 15 UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003). 
Sudah sejak lama pendidikan kita kering, hampa, dan jauh dari nilai-nilai 
spiritual. Konsep yang diajarkan kepada peserta didik lebih menekankan kepada 
bagaimana anak pintar, bagaimana anak sukses dalam berbisnis, kompeten dalam 
teknologi dan akhirnya sukses mendapatkan pekerjaan.

Pelajaran yang sifatnya normatif seperti agama dan Pkn menjadi sesuatu yang 
absurd. Etika dan moral atau budi pekerti hanya sebagai pelajaran pelengkap. 
Akibatnya, kita sering mendengar pelajar atau mahasiswa tawuran, terlibat 
narkoba, nyambi jadi PSK, aborsi, dan juga tindakan kriminal lainnya. 

Benar, tujuan pendidikan nasional kita memang membentuk manusia Indonesia yang 
beriman dan bertakwa seperti diamanatkan UU No 20 Tahun 2003. Namun iman dan 
takwa dalam perspektif sekuler, artinya iman dan takwa dalam urusan pribadi dan 
tidak dalam urusan publik, sehingga tidak aneh ada profesor doktor yang 
terlibat korupsi.

Di tengah kondisi sekolah yang mahal, kualitas pendidikan yang masih 
mengkhawatirkan, tidak maching-nya antara dunia pendiddikan dengan dunia kerja, 
maka sudah saatnya negara mengambil solusi yang tepat. Mari kita belajar dari 
Jerman yang bisa menggratiskan pendidikan di semua jenjang untuk warganya, 
bahkan warga negara asing. Jerman paham betul jika pendidikan kepada mekanisme 
pasar, maka kualitas rakyatnya menjadi taruhan. Sebagai bangsa yang besar dan 
kaya akan sumber daya alam, kita yakin bahwa Indonesia bisa mewujudkan 
pendidikan yang berkualitas dan gratis. 

Ikhtisar - Komersialisasi pendidikan bergerak semakin parah dan kian 
memberatkan para orangtua.
- Kondisi ini membuat mimpi tentang berjalannya pendidikan gratis secara massal 
di negeri ini menjadi semakin sulit untuk diwujudkan.
- Dampak yang juga serius dari komersialisasi pendidikan ini adalah diukurnya 
hasil pendidikan hanya dari hal-hal yang bersifat materi.
- Negara semestinya bertanggung jawab untuk menjalankan pendidikan yang membuat 
rakyatnya beriman dan bertakwa dalam semua area.

( ) 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke