Dari dulu bangsa ini di hadapkan oleh permasalahan yang basic dan kadang
kadang mengundang rasa jengkel dalam hati,

Lihat aja apa nasib generasi penerus bangsa ini jika pendidikan sangat
sulit tersentuh dan dicicipi oleh orang yang berotak encer tapi tidak
punya uang untuk mencicipi pendidikan, beasiswa yang hanya basa basi dan
berlaku bagi kapitalis yang memegang peranan penting.

Para pejabat kita tidak punya sikap yang jelas dalam mengantisipasi
dampak dunia pendidikan yang cenderung meninggi, di hati mereka asal
anak2nya bisa sekolah sementara yang lain tidak, itu tidak menjadi
persoalan, bangsa kita ini sudah memiliki krisis mental yang
berkepanjangan sejak zaman penjajahan sampai sekarang,

Dan bangkitpun susah karena mental yang sudah di cekoki egoisme.dalam
arti lain kita masih di jajah oleh bangsa kita sendiri.

Di Negara Negara yang SDA nya tidak seperti kita mampu membebaskan biaya
uang bersifat umum, seperti air atau listrik yang khusus buat kepeluan
rumah tangga saja,

Tapi kenapa kita tidak?,,,

Banga kita Rakus dan serakah,

Saya setuju jika pemerintahan memasukkan pendidikan dalam APBN dan
menomor satukan dan menjadi priority,

Bangsa ini masih bisa kok mengambil dari sector lain untuk biaya yang
bisa mendukung dunia pendidikan di Indonesia 

Sedih melihat drama tragedy di Negara sendiri yang penjahatnya dari
Negara sendiri juga, tidak tahu sampai kapan ini berakhir

Yang pasti jangan biarkan orang2 di sekeliling anda tidak mencicipi
dunia pendidikan tanpa berbuat apa2,

 

Wasalam 

 

Reo

 

 

________________________________

From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Rudy Swardani
Sent: Friday, July 20, 2007 12:55 AM
To: Saksi (E-mail); FUPM-EJIP (E-mail)
Subject: [ FUPM-EJIP ] FW: [perisai] Pendidikan Beraroma Pasar

 

Bila negara Jerman yang sumber daya alamnya minim bisa menggratiskan
biaya pendidikan

tapi kenapa Indonesia yang kaya sumber alam, sekolah malah dijadikan
sumber bisnis ??

Hasilnya Jerman bisa menghasilkan sumberdaya manusia yang unggul dan
menghasilkan

product yang Qualified seperti Boing, Mercedes, BMW, VW, Siemens,
Blaupunkt, SAP dll

sedang Indonesia kaya emas, minyak, batubara tidak bisa kelola dan
banyak dibawa lari oleh negara asing..

 

Wassalam..

Rudy.S

 

-----Original Message-----
From: Syarif NurBani [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 20 Juli 2007 9:31
To: asep supriawan; herna; Rudy Swardani
Subject: FW: [perisai] Pendidikan Beraroma Pasar 

________________________________

 

Pendidikan Beraroma Pasar 

Emat S Elfarakani 
Guru PKn SMA Negeri 9 Bogor dan SMK Taruna Andigha Bogor

Setelah beberapa bulan yang lalu orangtua direpotkan dengan Ujian
Nasional (UN), sekarang orang tua dipusingkan lagi dengan berbagai
kebutuhan untuk memulai tahun ajaranbaru. Sepertinya, beban yang
bertubi-tubi itu memang harus dipikul oleh para orangtua sendiri. Animo
masyarakat yang begitu besar untuk mencerdaskan purta-putrinya ternyata
belum sebanding lurus dengan kebijakan pemerintah. Lalu di mana
sebetulnya peran negara, yang katanya tidak bersistem kapitalis ataupun
sosialis komunis, tapi bertumpu pada sistem keadilan sosial ini?

Kita setuju bahwa pendidikan berkualitas memang memerlukan biaya yang
mahal, namun haruskan semua itu dibebankan kepada rakyat? Haruskan
masalah pendidikan juga diserahkan kepada mekanisme pasar, sedangkan
kemampuan setiap individu untuk mendapatkan hak dasarnya pasti berbeda?

Sejak awal bangsa ini berdiri, sepertinya bidang pendidikan termasuk
yang paling tertinggal, sehingga tidak aneh kualitas pendidikan kita
jalan di tempat, bahkan cenderung mundur. Karena pendidikan merupakan
sistem rekayasa sosial, maka kenyataan ini bukanlah terjadi karena
siklus alamiah, melainkan lebih disebabkan oleh sistem pendidikan yang
tidak jelas arahnya.

Bisnis sekolah
Satu yang tampak jelas dari sistem pendidikan kita adalah menjadikan
sekolah sebagai coorporate education yang kental nuansa bisnisnya, baik
di sekolah negeri apalagi swasta. Lalu siapakah yang diuntungkan? Jelas
yang sangat diuntungkan oleh situasi ini adalah pemerintah. Semakin
besar peran dan tanggung jawab masyarakat dalam dunia pendidikan,
semakin kecil peran dan tanggung jawab pemerintah dan semakin kecil pula
subsidi yang bakal dikeluarkan. Bahkan ini akan menjadi alasan
pemerintah untuk lepas dari tanggung jawab, karena rakyat sudah diangap
mampu. 

Situasi ini diperjelas lagi dengan akan disahkannya RUU Badan Hukum
Pendidikan (BHP). Singkatnya, RUU ini akan melegalkan badan hukum atau
semacam badan usaha yang berhak 'menjual' jasa pendidikan kepada rakyat.
Atau dengan kata lain, RUU ini akan menjadikan sektor pendidikan sebagai
komoditas yang layak dijual sesuai mekanisme pasar.

Semakin tinggi permintaan, maka akan semakin mahal daya tawarnya. SD
sampai perguruan tinggi yang dianggap 'favorit' semakin tak terjangkau
oleh rakyat banyak. Padahal, tidak sedikit putra-putri bangsa ini yang
berotak encer yang tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya (lihat
Pasal 5 UU No 20 Tahun 2003). Betul, memang ada beasiswa, tapi dalam
sistem pendidikan yang cenderung kapitalis beasiswa tidak lebih dari
sekadar basa-basi. Bisnis jasa pendidikan di lembaga-lembaga swasta
mungkin masih bisa dipahami, namun yang menyesakkan dada, ternyata ini
juga terjadi di lembaga milik pemerintah. UI, ITB, IPB, UGM yang lebih
dulu diprivatisasi menjadi BHMN atau plesetan dari BUMN di sektor jasa
pendidikan, menjadikan lembaga ini harus memutar otak untuk mencari dana
operasional pendidikan agar tetap survive. 

IPB menkonversi aset-asetnya menjadi Botani Squer, Plaza Ekalokasari,
jasa konsultan pertanian. Selain membuka jalur khusus, UI harus membuka
PT Daya Makara yang bergerak di bidang perdagangan, komunikasi dan
pendidikan. UGM harus membuka Gama Wisata, PT Gama Techno, Gama Book
Store, dan lain sebagainya (Bisnis Indonesia, 22/06/06).

Ada hal yang patut dipertanyakan dengan kasus-kasus tersebut. Jika
usaha-usaha itu tidak bisa menutup biaya operasional pendidikan, kepada
siapakah PT tersebut meminta biaya tambahan untuk menutupi kekurangan
tersebut? Lagi-lagi rakyat mejadi taruhan. Kemudian kalau para akademisi
kita disibukkan dengan mengelola pundi-pundi bisnisnya, kapan mereka
menyempatkan waktu untuk meningkatkan kualitas intelektualnya? Kapan
mereka melakukan penelitian? Ternyata kualitas pendidikan menjadi
taruhan. 

Lalu, kalau RUU BHP ini jadi disahkan, bagaimana nasib SMA, SMP, SD
terutama negeri? Sepertinya nasibnya tidak akan jauh dengan PT negeri,
harus menjadi semacam Badan Hukum Milik Daerah (BHMD) atau istilah
lainya BUMD di bidang pendidikan. Sebenarnya ada peluang bagi bangsa ini
untuk mewujudkan pendidikan gratis bagi rakyatnya di semua jenjang,
andai pemerintah komitmen dengan amanat UUD Negara 1945 Pasal 31 ayat 4,
bahwa anggaran pendidikan minimal 20 persen APBN.

Namun, sepertinya peluang itu semakin tertutup. Andai di tahun 2009
anggaran pendidikan mencapai 20 persen APBN, pendidikan tidak akan
lantas menjadi gratis. Pemerintah telah menyiapkan aturan seperti UU dan
PP, yang memberikan peluang kepada satuan pendidikan untuk mengelola
diri sendiri (manajemen berbasis sekolah) dengan dalih otonomi sekolah.
Sehingga tidak aneh jika ada sekolah yang menolak BOS atau walau
mendapatkan BOS tetap sekolah diperbolehkan mengutip iuran dari
masyarakat dengan berbagai alasan. Jika kondisinya seperti ini, harapan
sekolah gratis di semua jenjang tinggalah impian.

Sekolah bisnis
Setelah para orangtua dibebani kebijakan pemerintah yang sangat
memberatkan, ternyata masalahnya tidak sampai di situ. Orangtua juga
ingin anaknya setelah lulus sekolah mendapat pekerjaan yang layak. Sudah
mendarahdagingnya paham materialisme di kalangan masyarakat kita,
membuat dunia pendidikan pun diukur dengan materi. Gejala ini terlihat
dengan semakin banyaknya orangtua yang mencari sekolah yang menjamin
anaknya bisa langsung kerja. Program atau jurusan berbau bisnis yang
prosfektif selalu menjadi incaran orangtua.

Kondisi ini diperparah dengan kurikulum kita yang cenderung sekuler,
memisahkan pendidikan agama dan pendidikan umum (pasal 15 UU Sisdiknas
No 20 Tahun 2003). Sudah sejak lama pendidikan kita kering, hampa, dan
jauh dari nilai-nilai spiritual. Konsep yang diajarkan kepada peserta
didik lebih menekankan kepada bagaimana anak pintar, bagaimana anak
sukses dalam berbisnis, kompeten dalam teknologi dan akhirnya sukses
mendapatkan pekerjaan.

Pelajaran yang sifatnya normatif seperti agama dan Pkn menjadi sesuatu
yang absurd. Etika dan moral atau budi pekerti hanya sebagai pelajaran
pelengkap. Akibatnya, kita sering mendengar pelajar atau mahasiswa
tawuran, terlibat narkoba, nyambi jadi PSK, aborsi, dan juga tindakan
kriminal lainnya. 

Benar, tujuan pendidikan nasional kita memang membentuk manusia
Indonesia yang beriman dan bertakwa seperti diamanatkan UU No 20 Tahun
2003. Namun iman dan takwa dalam perspektif sekuler, artinya iman dan
takwa dalam urusan pribadi dan tidak dalam urusan publik, sehingga tidak
aneh ada profesor doktor yang terlibat korupsi.

Di tengah kondisi sekolah yang mahal, kualitas pendidikan yang masih
mengkhawatirkan, tidak maching-nya antara dunia pendiddikan dengan dunia
kerja, maka sudah saatnya negara mengambil solusi yang tepat. Mari kita
belajar dari Jerman yang bisa menggratiskan pendidikan di semua jenjang
untuk warganya, bahkan warga negara asing. Jerman paham betul jika
pendidikan kepada mekanisme pasar, maka kualitas rakyatnya menjadi
taruhan. Sebagai bangsa yang besar dan kaya akan sumber daya alam, kita
yakin bahwa Indonesia bisa mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan
gratis. 

Ikhtisar - Komersialisasi pendidikan bergerak semakin parah dan kian
memberatkan para orangtua.
- Kondisi ini membuat mimpi tentang berjalannya pendidikan gratis secara
massal di negeri ini menjadi semakin sulit untuk diwujudkan.
- Dampak yang juga serius dari komersialisasi pendidikan ini adalah
diukurnya hasil pendidikan hanya dari hal-hal yang bersifat materi.
- Negara semestinya bertanggung jawab untuk menjalankan pendidikan yang
membuat rakyatnya beriman dan bertakwa dalam semua area.

( ) 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke