A.w.w.
 
Berikut adalah Artikel tentang Fakta Sistem Ekonomi Kapitalisme...
 
semoga bermanfaat
 
w.w.w.
 
Pangkal Kerapuhan Ekonomi Kapitalisme 
<http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2007/07/02/pangkal-kerapuhan-kapitalisme/>
 

dari Sudut Pandang Islam


Kapitalisme adalah istilah yang dipakai untuk menamai sistem ekonomi yang 
mendominasi dunia Barat sejak runtuhnya feodalisme pada abad ke-16 (Dillard, 
1987). Milton H. Spencer dalam bukunya, Contemporary Macro Economics (1977), 
mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah organisasi ekonomi yang dicirikan 
oleh kepemilikan individu atas alat-alat produksi dan distribusi serta 
pemanfaatan kepemilikan individu itu untuk memperoleh laba dalam 
kondisi-kondisi yang sangat kompetitif (Winardi, 1990). 

Tak dapat dipungkiri, Kapitalisme sebagai sistem ekonomi kini tengah berjaya di 
tingkat global, terutama setelah momentum hancurnya Sosialisme pada awal 
1990-an. Hampir seluruh negara di dunia menerapkan Kapitalisme dengan berbagai 
variasinya. Robert Gilpin dan Jean Millis Gilpin dalam bukunya, The Chalenge of 
Global Capitalism (2000), bahkan memuji Kapitalisme sebagai "sistem ekonomi 
pencipta kesejahteraan paling berhasil yang pernah dikenal di dunia." 

Namun, para pemuja fanatik Kapitalisme itu lupa untuk menyoal, siapa yang 
menikmati kesejahteraan itu. Penikmat kesejahteraan sebagian besarnya hanyalah 
negara-negara penjajah kaya. Kapitalisme justru gagal total dalam 
mendistribusikan pendapatan global. Pada tahun 1960, 20% penduduk dunia terkaya 
menikmati 75% pendapatan dunia; sedangkan 20% penduduk termiskin hanya menerima 
2,3% pendapatan dunia. Pada tahun 1997 ketimpangan global itu bukan makin 
berkurang, namun makin parah. Sebanyak 20% penduduk terkaya itu menikmati 
pendapatan global makin banyak, yakni 80%. Sebaliknya, 20% penduduk termiskin 
menerima pendapatan global makin sedikit, yakni menjadi 1% saja (Spilanne, 
2003). 

Tak hanya gagal dalam distribusi, Kapitalisme saat ini tengah meluncur menuju 
jurang kehancuran. Tanda-tanda kerapuhan Kapitalisme makin terlihat. Harry 
Shutt dalam bukunya, Runtuhnya Kapitalisme (2005), menyebutkan bahwa 
Kapitalisme kini sedang mengalami "gejala-gejala utama kegagalan secara 
sistemik". Misal: semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dan semakin seringnya 
krisis keuangan. 

Jelas, ada yang salah dalam Kapitalisme. Kesalahan ini bagaikan cacat bawaan 
yang melekat pada Kapitalisme sejak kelahirannya. Cacat ini sedemikan fatalnya 
sehingga yang diperlukan bukan lagi koreksi berupa pembaruan atau perbaikan 
pada lapisan kulitnya saja, namun perombakan total untuk membentuk sistem yang 
sama sekali baru (Jerry Mander dkk, 2004). 

Tulisan ini berusaha menguraikan faktor-faktor paling mendasar yang 
mempengaruhi kerapuhan Kapitalisme dan akan langsung dibandingkan dengan solusi 
alternatifnya menurut Islam.


Ekonomi Berbasis Moneter 

Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan monetary based economy (ekonomi 
berbasis sektor moneter/keuangan/non-real), bukan real based economy (ekonomi 
berbasis sektor real). Artinya, Kapitalisme dominan bermain di level atas dari 
ekonomi real. Rente (keuntungan) ekonomi diperoleh bukan melalui kegiatan 
investasi produktif (produksi barang dan jasa), melainkan dalam investasi 
spekulatif melalui sektor non-real (keuangan); misalnya melalui kredit 
perbankan serta jual-beli surat berharga seperti saham dan obligasi (Harahap, 
2003). Dalam ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan inilah, Kapitalisme tidak 
dapat dilepaskan dengan bunga (riba).

Sistem ekonomi non-real ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan 
secara keseluruhan. Menurut The Morgan Stanley yang dikutip David Ignatius 
(Washington Post, 15/11/2002), pada tahun 2001 dan 2002 jumlah obligasi yang 
default (gagal bayar) sebesar Rp 1.650 triliun. Jumlah ini lebih besar daripada 
jumlah obligasi yang default selama 20 tahun sebelumnya jika seluruhnya 
diakumulasikan. Kompas (16/01/2003) memberitakan, US$ 277 miliar obligasi di 
Amerika tidak bisa dibayar. Ini baru dari aspek surat berharga obligasi yang 
berbasis bunga (interest based) (Harahap, 2003).

Dari aspek kredit bank juga dapat diketahui, bahwa kualitas aktiva produktif 
(kredit) di Amerika semakin lama semakin turun. Menurut data Moody's Ratio of 
Credit Downgrades to Upgrades, terlihat bahwa kredit bank di Amerika semakin 
menurun sejak tahun 1995 hingga tahun 2003. Ini membuktikan, bahwa pola kredit 
perbankan berbasis bunga dapat membahayakan kelangsungan perbankan itu sendiri, 
dan pada akhirnya dapat membahayakan sektor real dan perekonomian secara umum 
(Harahap, 2003).

Islam berbeda dengan Kapitalisme. Islam tidak mengakui keberadaan sektor 
non-real berbasis bunga, karena Islam telah mengharamkan riba, termasuk bunga 
(QS 2: 275). Dengan kata lain, dalam Islam, uang bukanlah komoditi yang 
karenanya mempunyai harga. Harga uang inilah yang dalam teori-teori Kapitalisme 
disebut bunga. Menurut buku UK Budget Red Books 1990, "Suku bunga merupakan 
harga dari uang dan kredit." (El-Diwany, 2003). Uang dalam Islam hanyalah 
sebagai alat tukar saja, bukan sebagai komoditi sebagaimana dalam Kapitalisme.

Dengan kata lain, ekonomi Islam adalah real based economy (ekonomi berbasis 
sektor real). Ini merupakan kebalikan total dari ekonomi Kapitalisme yang 
dibangun dengan monetary based economy. Keuntungan hanya diperoleh melalui 
jerih payah nyata (real) dalam produksi barang atau jasa. 


Ekonomi Berbasis Uang Kertas (Fiat Money)

Fiat money adalah uang kertas yang secara legal diakui pemerintah melalui 
dekrit sebagai uang resmi, namun tidak ditopang dengan logam mulia seperti emas 
dan perak (Hamidi, 2007). Uang kertas itulah yang sekarang digunakan oleh 
negara-negara kapitalis seperti Amerika Serikat. Sejak berakhirnya sistem 
Bretton Woods yang mengaitkan dolar dengan emas (1 ons/28,35 gram emas=35 dolar 
AS) pada tahun 1970-an, dolar AS tidak ditopang lagi dengan emas dan dapat 
berlaku hanya karena kepercayaan (trust) orang pada dolar. Seiring dengan 
dominasi Kapitalisme AS, mata uang dolar kini menjadi salah satu mata uang kuat 
(hard currency) dunia yang digunakan sebagai standar nilai dan alat pembayaran 
dalam perdagangan internasional.

Sistem uang kertas ini merupakan salah satu akar kerapuhan Kapitalisme. Betapa 
tidak. Pasalnya, jika dibandingkan dengan mata uang Islam (dinar dan dirham), 
uang kertas sesungguhnya mempunyai kelemahan mendasar, antara lain selalu 
terkena inflasi permanen (Hamidi, 2007). Di samping itu, uang kertas jauh dari 
nilai keadilan (fairness) lantaran nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai 
nominalnya. 

Mengenai inflasi permanen, perhatikan ilustrasi berikut. Misal: Anda 
meminjamkan uang kepada teman Anda tahun ini sebesar Rp 100 juta rupiah. Teman 
Anda akan mengembalikan sejumlah Rp 100 juta juga, namun 10 tahun lagi. Samakah 
nilai Rp 100 juta sekarang dengan Rp 100 juta untuk 10 tahun lagi? Jelas tidak 
sama. Uang kertas rupiah ini akan mengalami depresiasi (penurunan nilai) karena 
inflasi permanen. Inilah kelemahan mendasar uang kertas.

Mata uang Islam (dinar dan dirham) berbeda dengan mata uang dalam Kapitalisme. 
Dinar dan dirham terbukti dalam sejarah sangat kecil sekali inflasinya. Pada 
masa Rasulullah saw., dengan uang 1 dinar (4,25 gram emas) orang dapat membeli 
seekor kambing, dan dengan uang 1 dirham (2,975 gram perak) dapat dibeli seekor 
ayam. Pada masa sekarang ini, tahun 2007, dengan uang senilai 1 dinar orang 
masih dapat membeli seekor kambing; dan dengan uang senilai 1 dirham orang 
sekarang masih dapat membeli seekor ayam. Luar biasa, bukan?

Pada mata uang kertas, nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai nominalnya. 
Ini jelas tidak adil. Misal: untuk mencetak uang dengan nilai nominal 1 dolar 
AS diperlukan biaya yang besarnya hanya 4 sen dolar AS. Jadi, nilai intrinsik 
uang 1 dolar sebenarnya hanya 4 sen dolar. Kalau kurs 1 dolar AS, misalnya, 
senilai Rp 10.000, berarti 4 sen dolar hanya sebesar Rp 400. Nah, sekarang 
kalau mau mencetak uang 100 dolar AS, berapa biaya produksi yang diperlukan? 
Jelas sekali tidak akan jauh berbeda dengan biaya mencetak uang 1 dolar AS 
(Hamidi, 2007).

Berbeda dengan uang kertas, pada dinar dan dirham nilai intrinsik dan 
nominalnya menyatu, tidak bakal ada perbedaan. Mengapa? Sebab, nilai nominal 
dinar atau dirham ditentukan semata oleh berat logamnya itu sendiri yang 
sekaligus menjadi nilai intrinsiknya, bukan ditentukan oleh dekrit atau 
pengumuman bank sentral. Kalau kita menyimpan uang Rp 100 ribu sebanyak satu 
karung, lalu Bank Indonesia mengumumkan uang itu tidak berlaku lagi dan tidak 
bisa ditukar dengan uang baru, kita tak bisa berbuat apa-apa. Sekarung uang itu 
hanya menjadi sampah tak bernilai. Berbeda halnya kalau kita mempunyai dinar 
emas seberat 100 gram, misalnya. Dinar emas akan tetap berlaku sebagai alat 
tukar di mana pun dan kapan pun, tidak bergantung pada dekrit pemerintah atau 
bank sentral.

Keunggulan dinar dan dirham Islam itu tidak dimiliki oleh dolar AS yang dominan 
sekarang. Jika dinar dan dirham memperkokoh ekonomi karena tahan inflasi, dolar 
AS justru akan merapuhkan ekonomi lantaran rentan inflasi. Pasalnya, ketika 
dolar tidak ditopang dengan emas lagi, pemerintah AS akan gampang tergoda 
mencetak dolar dalam jumlah tak terbatas (unlimited). Penciptaan dolar yang 
terus-menerus oleh Federal Reserve (Bank Sentral) AS inilah yang dianggap para 
pakar seperti Friedman dan Schwartz (1983) sebagai biang keladi di balik 
depresi terburuk sepanjang sejarah Amerika. Mereka mengatakan, Federal 
Reserve-lah yang menyebabkan inflasi terus-menerus karena mencetak dolar yang 
melebihi nilai barang dan jasa yang ada (Hamidi, 2007).


Ekonomi Berbasis Utang 

Utang, baik yang dilakukan negara-negara kapitalis maupun negara-negara Dunia 
Ketiga, terbukti sama-sama membahayakan. Total out standing utang AS 
(pemerintah dan swasta) dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 1998 
jumlahnya 'baru' 5,5 triliun dolar AS, dan pada tahun 2002 jumlahnya menjadi 
6,2 triliun dolar AS. Jelas ini jumlah yang luar biasa besar kalau dibandingkan 
dengan utang Indonesia yang 'hanya' 120 miliar dolar AS pada tahun 1998 dan 
turun menjadi 98 miliar dolar AS pada tahun 2002. Bagaimana AS mengatasi 
masalah ini? Gampang, AS tinggal mencetak dolar sebanyak-banyaknya, lalu 
mengalihkan beban inflasinya ke segala pihak yang memegang uang dolar di 
seluruh dunia (Hamidi, 2007). Dampaknya, pertumbuhan ekonomi yang muncul akan 
bersifat semu (bubble economy) dan ancaman kolapsnya pun tinggal menunggu waktu.

Bagi negara-negara Dunia Ketiga yang ikut-ikutan menerapkan Kapitalisme, utang 
telah menjadi alternatif andalan dalam pembiayaan pembangunan mereka sejak 
berakhirnya Perang Dunia II (1945). Namun, para penguasa Dunia Ketiga itu tidak 
sadar, bahwa utang luar negeri sebenarnya lebih bermotif ideologi-politik 
daripada motif ekonomi. John F. Kennedy tahun 1962 pernah menegaskan, bahwa 
utang luar negeri merupakan metode AS untuk mempertahankan kedudukannya yang 
berpengaruh dan memiliki pengawasan di seluruh dunia (Beaud, 1987). Dengan 
demikian, utang luar negeri bagi negara-negara Dunia Ketiga bukan saja 
menimbulkan masalah ekonomi (beban utang yang berat), namun juga masalah 
ideologi dan politik, yaitu hegemoni ideologi Kapitalisme di negeri-negeri 
Islam. 

Islam dengan tegas mengharamkan utang luar negeri dengan dua alasan utama. 
Pertama: karena utang itu pasti disertai syarat bunga, padahal Islam 
mengharamkan bunga (QS 2: 275). Kedua: karena utang itu telah menghancurkan 
kedaulatan negeri penerima utang dan hanya menjadi jalan hegemoni penjajah 
kafir. Padahal hegemoni kafir atas umat Islam juga diharamkan (QS 4: 141). 


Ekonomi Berbasis Investasi Asing

Investasi asing yang dilakukan negeri-negeri Islam terbukti lebih menguntungkan 
negara-negara investor dan malah merugikan ekonomi lokal. Ekonom Sritua Arief 
pernah menghitung, untuk 1 dolar AS investasi asing yang masuk ke Indonesia, 
ternyata yang balik lagi keluar dari Indonesia adalah sepuluh kali lipatnya, 
alias 10 dolar AS.

Investasi asing yang dilakukan ternyata lebih sebagai penghisapan dan 
eksploitasi yang kejam. Sebanyak 70% sumberdaya alam di Indonesia telah 
dikuasai asing. Indonesia hanya mendapat bagian sedikit, ditambah 'bonus' 
mengerikan berupa kerusakan lingkungan dan konflik sosial. Emas Papua yang 
dieksploitasi PT Freeport, misalnya, pertahun menghasilkan Rp 40 triliun. 
Namun, Pemerintah Indonesia hanya mendapat bagian 9,4 % ditambah pajak dan 
royalti, serta itu tadi, bonus kerusakan lingkungan yang dahsyat dan konflik 
sosial antara penduduk lokal dengan PT Freeport karena ketidakadilan. 

Islam memberikan ketentuan syariah yang jelas mengenai investasi asing. Dalam 
investasi asing untuk SDA, misalnya, Islam telah menetapkan bahwa SDA seperti 
emas, minyak, dan gas, adalah milik umum, bukan milik individu atau milik 
negara. Jadi, tambang tidak boleh diserahkan kepada investor untuk dieksplorasi 
dengan sistem bagi hasil. Yang benar, 100% hasil tambang adalah milik umum yang 
dikelola negara. Jika ada pihak swasta yang dilibatkan, itu sebatas kontrak 
tenaga kerja atau kontrak sewa peralatan yang dibayar sesuai dengan jasa 
mereka. Wallâhu a'lam. * [KH M Shiddiq al-Jawi]


Daftar Pustaka

Beaud, Michel, "Lompatan Kapitalisme Jauh ke Depan (1945-1980)," dalam M. Dawam 
Rahardjo (Ed.), Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES), 1987. 

Dillard, Dudley, "Kapitalisme", dalam M. Dawam Rahardjo (Ed.), Kapitalisme Dulu 
dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES), 1987.

Ebenstein, William & Fogelman, Edwin, Isme-Isme Dewasa Ini (Today's Isms), 
Penerjemah Alex Jemadu, (Jakarta: Penerbit Erlangga), 1994,

El-Diwany, Tarek, The Problem With Interest (Sistem Bunga dan Permasalahannya), 
Penerjemah Amdiar Amir, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana), 2003,

Gilpin, Robert & Gilpin, Jean Millis, Tantangan Kapitalisme Global (The 
Chalenge of Global Capitalism), Penerjemah Haris Munandar & Dudy Priatna, 
(Jakarta: PT RajaGrafindo Perkasa), 2002,

Hamidi, M. Luthfi, Gold Dinar Sistem Moneter Global yang Stabil dan 
Berkeadilan, (Jakarta: Senayan Publishing House), 2007,

Harahap, Sofyan S., Pelajaran Dari Krisis Asia, (Jakarta: Pustaka Kuantum), 
2003,

Mander, Jerry dkk, "Globalisasi Membantu Kaum Miskin?" dalam International 
Forum on Globalization, Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan (Does 
Globalization Help the Poor?), Penerjemah A. Widyamartaya & AB. Widyanta, 
(Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2004, 

Shutt, Harry, Runtuhnya Kapitalisme (The Decline of Capitalism), Penerjemah 
Hikmat Gumilar, (Jakarta: Penerbit TERAJU), 2005,

Spilanne, James J., "Industri Ringan Kaki: Neoliberalisme dan Investasi 
Global", dalam I. Wibowo & Francis Wahono (Ed), Neoliberalisme, (Yogyakarta: 
Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2003,

Winardi, Ilmu Ekonomi (Aspek-Aspek Sejarahnya), (Bandung: PT Citra Aditya 
Bakti), 1990.

 

<<winmail.dat>>

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke