Pada Senin, 26 September 2016 5:04, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> menulis:
 

     Saya mau mempertegas bagian yg ini, menurut Kamus Bahasa Indonesia jelas 
sekali perusahaan swasta itu adalah non-pemerintah.
per.u.sa.ha.an swasta
perusahaan yang modalnya berasal dari orang-orang atau badan-badan nonpemerintah
http://edefinisi.com/perusahaan-swasta.html


perusahaan » perusahaan swasta
   
   - perusahaan yang modalnya berasal dari orang-orang atau badan-badan 
nonpemerintah
http://kbbi4.portalbahasa.com/entri/perusahaan%20swasta

per.u.sa.ha.an swasta
perusahaan yang modalnya berasal dari orang-orang atau badan-badan nonpemerintah
http://www.kamuskbbi.web.id/arti-kata-perusahaan-swasta-kamus-bahasa-indonesia-kbbi.html


semoga membantu.

Nesare:Ente itu kan gak ngerti bisnis. Pakai logika umum bikin definisi sendiri 
bahwa: lawan dari perusahaan pemerintah (BUMN) itu adalah swasta. Swasta itu 
ente samakan dengan perusahaan non pemerintah. Ini kan ngaco.

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Oh sekarang mundur lagi ya dari menuduh ane kesurupan menjadi saraf otak. 
Semakin nulis semakin salah ente ini!Nah sekarang bilang  ane saraf otak. Ane 
sarafnya dimana?Ente mentertawakan ketika ane bilang ada “BUMN = private 
company”.  Argument ane jelas sekali dari ilmu bisnis yang mengatakan private 
company itu adalah perusahaan yang saham2nya dimiliki oleh seseorang, kumpulan 
orang2, perusahaan, group perusahaan atau siapa dan apa saja dll dan 
kepemilikan yang diukur dari saham yg dimiliki itu tidak dijual di bursa saham 
(go public). Ini arti private company dari ilmu bisnis. Gak masalah siapa 
shareholders nya…bisa pemerintah, individu, investment groups, private 
investors dll.Demikian juga sebaliknya kalau saham2 kepemilikan atas suatu 
perusahaan dijual dibursa artinya melewati IPO itu namanya perusahaan public 
lawan dari perusahaan swasta/private company.  Ente itu kan gak ngerti bisnis. 
Pakai logika umum bikin definisi sendiri bahwa: lawan dari perusahaan 
pemerintah (BUMN) itu adalah swasta. Swasta itu ente samakan dengan perusahaan 
non pemerintah. Ini kan ngaco.  Sudah ane kasih contoh banyak BUMN yg sudah go 
public seperti: garuda, Telkom, semen Indonesia dll. Perusahaan ini disebut 
perusahaan public bukan perusahaan swasta atau perusahaan negara. Moso’ Telkom 
disebut perusahaan milik negara? Gimana bisa? Sedangkan kepemilikannya  Telkom 
sudah mencakup: rakyat Indonesia, rakyat amerika, rakyat seluruh dunia yang 
memiliki saham Telkom krn sudah diperdagangkan di bursa NYSE. Begitu banyak ADR 
perusahaan public Indonesia yg sdh diperjual belikan dibursa OTC dll.  
Pengetahuan ente itu cetek, ketika ada pengetahuan bisnis seperti ini ya otak 
ente gak menerima krn malu lalu ya berlaru2 kaya’ gini. Ini menunjukkan ente 
itu sombong. Anak SMA yang belajar ilmu ekonomi saja tahu pengetahuan yang 
sangat mendasar dan simple ini.  Ente ini lain orangnya. Sok pinter sedangkan 
tidak. ditambah kesombongannya ya jadi bahan tertawaan orang banyak.  Nesare    
  From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, September 25, 2016 3:26 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)     kalau anda tidak kesurupan mungkin ada 
saraf otak yg nggak beres makanya lebih baik ke neurologist khan ber-jaga2 itu 
lebih baik.

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Koq lucu neurologis saja 
belum tahu ane kesurupan, ente sudah ultimatum ane kesurupan.Lagi pula koq 
orang kesurupan disuruh lihat neurologis?Jangan2 ente ini yang sudah gila dan 
perlu pergi lihat dokter jiwa! Ngaco aja. Sok berlogika tetapi dijawab begitu 
gak ngerti lalu muter2 pake’ kesurupan segala.Pointnya you don’t understand the 
points! Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, September 25, 2016 1:59 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)   nggak kesurupan tapi nulisnya begini, 
mungkin sebaiknya anda periksa ke neurologist kalau2 ada saraf otak yg kurang 
beres. lebih baik preventive lho daripada nanti kalau sudah kebablasan nggak 
bisa diobatin lagi.

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Tidak!Moso’ kalau ane 
kesurupan bisa nulis begini. Ane kan menjawab concern nya ente tentang BUMN vs 
swasta dan private vs. public?!Koq sudah dijawab, ente melabel ane kesurupan? 
Nesare  From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, September 25, 2016 3:24 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)   anda lagi kesurupan ya?

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Koq BUMN = swasta dibilang 
ngawur?Kalau BUMN = public company ngawur enggak?Kalau jawabannya ngawur juga, 
jadi BUMN itu perusahaan apa? Bukan swasta/private, juga bukan perusahaan 
public. Apakah ente mau bilang BUMN itu perusahaan abal2 hahahaha. Kalau 
jawabannya tidak ngawur alias benar, artinya BUMN itu = perusahaan yang sudah 
go public artinya saham2nya sudah dijual di pasar alias diperdagangkan di bursa 
saham. Kalau begini artinya apa? Kan artinya hanya 1: BUMN = public company dan 
bukan private company. Gimana ceritanya ente koq BUMN bisa jadi public 
company????!!!!!! Ane mau lihat gimana logika umumnya berjalan? Berjalan 
kekiri, kesamping masuk jurang atau jalan terus. Kalau jalan terus ane mau 
lihat gimana argumennya: BUMN itu perusahaan apa? Perusahaan swasta atau 
public? Hehehehe  Sudah dijelaskan kaya’ anak kecil artinya private company vs. 
public company.Masih enggak mudeng juga. Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, September 23, 2016 11:35 AM
To: yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)  Bung Chan, hakekat state capitalism itu 
ya industri dipegang negara bukannya tidak ada industri besar sama sekali, 
adanya industri pertambangan besar ditangan BUMN itu jelas bagian dari state 
capitalism, rupanya anda terkecoh atau kacau dgn pendapat ngawur yg mengatakan 
BUMN itu swasta ha ha ha. Saya setuju dgn yg dikemukakan Tatiana NEP itu hanya 
"temporary retreat" tujuan utamanya sebenarnya mengembalikan pertanian, didalam 
NEP ini yg ditolerir Stalin para petani gurem, industri ringan skala kecil, 
perdagangan eceran kelas mom and dad pokoknya hanya UKM sedang industri skala 
besar, perbankan, transportasi, ekspor impor ditangani negara. Dan ingat ini 
hanyalah sementara saja. Sedang investment asing pada industri minyak joint 
venture dgn BUMN yg anda sebutkan itu selain hanya utk ekspor juga tujuan 
utamanya cuman ahli tehnologi. Sedang tentang Tiongkok dewasa ini bung Chan 
bagaimana bisa bilang "Tapi, kenyataan yang saya lihat, tali kendali ekonomi 
nasional tetap dipegang kuat oleh NEGARA!" kalau billioner dan millioner itu 
bejibun menguasai parlemen yg mengeluarkan kebijakan negara?  ---In 
[email protected], <SADAR@...> wrote :Tidak, bung Goei! Lenin justru 
pegang kuat industri besar, spt. pertambangan tetap milik Negara, hanya 
memperkenankan UKM, borjuis kecil tumbuh berkembang dengan kebijakan NEP nya di 
tahun 1921. Tapi, kemudian  Lenin juga berani membuka modal asing masuk 
kerjakan tambang dan kehutanan, dalam bentuk kerjasama dengan Negara dan bentuk 
sewa. Yaa, bagaimana kalau teknologi dan ahli-ahli dalam negeri belum bisa 
mengerjakan, untuk mengejar ketertinggalannya, ya harus berani membuka pintu, 
mempersilahkan modal asing masuk dan dari situ BELAJAR. Dari tulisan kisah 
Lenin menentukan NEP (bhs. Tionghoa), merubah pikiran semula sama sekali 
menentang yang berbau kapitalis, Lenin sampai juga pada kesimpulan dengan 
menyatakan: “Masyarakat Rusia yang mayoritas mutlak adalah petani, tenaga 
produksi sangat terbelakang dan tingkat budaya masih sangat rendah, tanpa 
mengembangkan kapitalisme khususnya kapitalisme negara, adalah sulit bisa 
dibayangkan negara sosialis bisa mengejar ketertinggalan dari negara maju 
kapitalis bahkan sulit untuk melewati transisi menjadi negara murni sosialisme 
dengan sistim pembagian sosialis. Adalah sesuatu yang berada diluar kemampuan 
kita sendiri.” Hanya saja sayang, dari tulisan Lenin yang mana dan dimana 
diambil kata-kata Lenin itu. Dari penangkapan dan pengertian saya, tidak 
seharusnya diambil secara ekstrim atau dimutlakkan antara sosialisme dan 
kapitalisme itu! Baiknya justru memadukan keunggulan kedua sistem itu dengan 
bijaksana, banyak masalah praktis jadi berlawanan dengan prinsip sosialisme itu 
sendiri kalau dilakukan dengan ektrim. Prinsip mengembangkan/membebaskan TENAGA 
Produksi misalnya, dengan cara pembagian kerja Komune Rakyat yang begitu 
ketatnya, setiap petani tidak lagi berhak mengerjakan ditanah-sendiri, itu 
dalam kenyataan memukul atau mengekang petani yang giat kerja. Mestinya boleh 
saja setiap petani mengerjakan tanah-nya sendiri diluar jam kerja kolektif, 
bahkan harus didorong begitu. Begitu juga hasil produksi kelebihan ditanahnya 
sendiri itu, boleh-boleh saja dia jual pada orang lain yang butuh. Kenapa pula 
harus dilarang? Sekalipun dengan dibiarkannya jual-beli bebas, menjadi muncul 
pasar bebas. Uaa, akhirnya akan berkembang dan tumbuh kapitalis. Tapi, itu 
sikap dan cara merangsang setiap orang lebih giat bekerja untuk meningkatkan 
taraf hidupnya. Bukan dilarang, tapi ditertipkan saja, jangan sampai terjadi 
penipuan, dan kecurangan, ... Yang terjadi di Tiongkok, perkembangan cepat di 
masa Jiang, kemudian dilanjutkan oleh Hu harus dikatakan sedikit kebablasan, 
pertumbuhan ekonomi begitu dahsyat dicapai dengan munculnya kapitalis-kapitalis 
miliuner bahkan billiuner dengan tertinggalnya sistem/ketentuan yang 
mengontrol, dengan maraknya koruptor sampai pucuk pimpinan pusat. Tapi, 
kenyataan yang saya lihat, tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang kuat 
oleh NEGARA! Baru setelah Xi-Li bisa ada ketegasan memngendalikan dan 
memberantas koruptor dan gang mafia yang sudah menyusup dahsyat itu, ... banyak 
orang, khususnya kader-kader tua yang bisa bernafas lega melihat ketegasan 
Xi-Li. PKT bisa diselamatkan dari keruntuhan. Salam,ChanCT  From: 
mailto:[email protected]: Friday, September 23, 2016 12:13 PMTo: 
[email protected]: Re: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> 
Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) hampir bung Chan 
tetapi masih kurang tepat, Lenin menentang "petty-bourgeois" dan "private 
capitalism" yg menurut beliau akan membawa ke capital imperialism, ekonomi 
pasar yg dimaksud beliau pada level UKM. Yg terjadi di Tiongkok justru 
petty-bourgeois dan private capitalism inilah yg merajalela, ditambah dgn 
dominasi billioner dan millioner ini diparlemen sukar disangkal Tiongkok 
dibawah cengkeraman capitalist imperialist seperti yg dimaksud Lenin. 

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :Baguuuslah, ternyata masalah 
aktual yang dihadapi untuk menjernihkan hubungan ekonomi sosialis dan ekonomi 
pasar bisa mendapatkan tanggapan dari banyak kawan, ...! Terkadang memang agak 
sulit berdiskusi dengan sementara orang, khususnya mbak Tatiana yang TIDAK 
BERANI menggunakan otak sendiri untuk berpikir, maunya apa yang dikatakan Lenin 
secara tertulis bagaimana. Apa benar seperti dikatakan Fuwa Tetsiro, Ketua 
PKJepang itu, Lenin PERNAH memadukan ekonomi sosialis dan ekonomi pasar? Satu 
kata Lenin juga tidak ada! Tandas Tatiana. Terus terang saja, saya sendiri 
tidak banyak membaca karya Lenin, semalam juga jadi ribet dimana saya harus 
mencari kata-kata Lenin sehubungan ekonomi pasar itu? Ternyata baru tahu pagi 
ini dari tanggapan beberapa kw, yang digunakan Lenin malah “Kapitalisme Negara” 
bukan ekonomi pasar! Sungguh menarik, di Tiongkok, Deng juga menggunakan 
sebutan ekonomi pasar, tidak meenggunakan “kapitalisme negara”. Padahal 
pengertian saya selama ini, kalau sudah menyatakan “Kapitalisme Negara” itu 
berarti negara dikuasai kapitalisme! Bagaimana bisa tetap dikendalikan oleh 
diktatur Proletariat, 2 sistem yang bertolak belakang? Entah bagaimana 
sesungguhnya Lenin ketika itu menggunakan istilahnya. Barangkali ada kw yang 
bisa memberi pencerahan. Kalau gak salah ingat, bung Tjaniago pernah mengulas 
masalah ini, ya? Coba nanti saya aduk-aduk kumpulan email lama di GELORA45.  
Lenin dengan berani menyebutkan “kapitalisme negara” masih dibawah diktatur 
proletariat, karena tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang oleh NEGARA, 
dengan menggunakan BUMN-BUMN nya. Sedang Deng, menyatakan ekonomi sosialis 
mempunyai ekonomi pasar nya sendiri, dengan tetap mempertahankan keunggulan 
ekonomi sosialis dengan mengambil keunggulan ekonomi pasar! Membuag 
bagian-bagian ekonomi sosialis berencana yang terlalu tersentralisasi, artinya 
berikan kebebasan daerah juga ikut menentukan sendiri pengembangan ekonomi 
daerah sesuai kebutuhan dan kondisi konkritnya. Sedang ekonomi pasar juga 
dijalankan secara terbatas saja, tidak dibiarkan berkeembang liar apalagi 
menjadi neolibralisme! Dan kenyataan yang dijalan RRT, tali kendali ekonomi 
nasional TETAP dipegak erat-erat oleh NEGARA! Tidak bedanya dengan pemikiran 
Lenin. Jadi, nampak jelas, yang SALAH adalah Stalin, yang kata Fuwa Tetsiro, 
setelah 5 tahun Lenin meninggal, keputusan Lenin NEP nya itu dicabut, 
membatalkan meneruskan “kepitalisme negara” dibawah diktatur propletariat! Dan 
itulah yang kemudian juga diikuti oleh Mao setelah tahun 1956 di Tiongkok. Jadi 
ikutan SALAH! TENTU, menyatakan Stalin dan Mao salah dalam hal membabat 
kapitalis, jangan kebablasan menjadi menghujat bahkan menegasi jasa-jasanya 
yang luar biasa besarnya bagi RAKYAT Rusia dan RAKYAT Tiongkok! Begitu sikap 
Deng terhadap kesalahan Mao dan dengan TEGAS menyalahkan sikap Krushchove yang 
menghujat Stalin dan anti-Stalin! Begitu juga dengan Deng membubarkan komune 
rakyat ditahun 1980 itu, dia tidak anti-komune rakyat secara prinsip. Tidak! 
Yang disalahkan, dilaksanakan terlalu cepat, karena KESADARAN petani di 
TIongkok belum sampai kekesadaran sepenuhnya kerja kolektif, usaha meningkatkan 
KESADARAN rakyat itu TIDAK bisa dipaksakan apalagi gunakan KEKERASAN! Harus 
dilakukan dengan SABAR melalui proses kehidupan dan kerja yang cukup panjang, 
agar mereka sendiri mencapai kekesadaran KERJA KOLEKTIF sebagai KEHARUSAN! 
Itulah yang saya perhatikan mengapa desa Xiao Gang yang dipilih dan diangkat 
menjadi model desa reformasi yang BERHASIL, merubah desa miskin terbelakang 
menjadi desa yang maju sekarang ini. Karena desa Xiao Gang itulah yang menempuh 
jalan wajar sebagaimana proses kesadaran PETANI yang terjadi. Setelah hak-guna 
tanah diserahkan kembali pada setiap keluarga petani, kembali terjadi kerja 
petani secara individual, sendiri-sendiri yang ternyata sulit untuk berkembang. 
Muncullah 18 petani bertekad mensukseskan produksi pertaniannya, menyatukan 
diri bekerjasama, dan kemudian membentuk koperasi kerja dan kemudian 
ditingkatkan menjadi koperasi tingkat tinggi, yang mengolah kebutuhan dan 
kepentingan warga desa Xiao Gang. Kalau diperhatikan lebih lanjut, sekalipun 
belum menyebutkan diri komune rakyat, hakekat koperasi-tingkat tinggi di Xiao 
Gang itu ya sudah komune rakyat! Mengapa? Karena hak-guna tanah yang semula 
dibagikan pada petani itu, semua sudah tergabung kembali dalam SAHAM koperasi 
yang mereka bentuk, dan pembagian pekerjaan juga dilakukan oleh barisan 
produksi yang mereka tentukan sendiri.   From: 
mailto:[email protected]: Friday, September 23, 2016 3:40 AMTo: 
yahoogroupsSubject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN 
dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)   Saya rubah sedikit highlight anda 
utk meliputi "Large businesses would still be nationalized" disini terlihat 
ekonomi pasar yg dimaksud Lenin itu pada level UKM yg dijalankan masyarakat 
kebanyakan bukannya ekonomi pasar yg dijalankan perusahaan2 besar, atau dalam 
istilah Indonesia mungkin mirip2 dgn istilah ekonomi kerakyatan walaupun tidak 
sepenuhnya sama. Kita juga bisa lihat penekanan Lenin pada State Capitalism yg 
disebut beliau sebagai aspek penting yg prinsipal "The state capitalism, which 
is one of the principal aspects of the New Economic Policy...". Pengertian 
ekonomi pasar Lenin ini adalah jauh berbeda dgn pemahaman ekonomi pasar bung 
Chan yg diterapkan di Tiongkok yg lebih cenderung kearah ekonomi pasar-nya 
capital imperialist. "As stated by Lenin, “economically and politically 
speaking the New Economic Policy completely ensures to us the possibility of 
building the foundation of a socialist economy.” It was meant to be based off 
of the existence of capitalism. Basically it would be a combination of the 
capitalist economy and the communist politics. Large businesses would still be 
nationalized, in order to ensure that the “petty bourgeoisie,” or the 
capitalist Imperialists, would not gain too much power over or get in the way 
of the growing Socialist society. Lenin believed that capitalism would lead to 
Imperialism, which is the entity which they had only just eliminated." ---In 
[email protected], <nesare1@...> wrote :Jelas ente gak ngerti NEP nya 
lenin. Baca dulu sebelum sesumbar!Bagi ane: NEP itu resep Lenin untuk 
menanggulangi masalah ekonomi setelah revolusi. Karena ingin mempertahankan 
politik sosialismenya, ekonominya “dibebaskan” kepasar.Lenin yang anti 
imperialism dan takut kapitalisme itu menjadi imperialism (ini salah satu ide 
utamanya lenin bahwa imperialism is the highest stake of capitalism. Ini juga 
ide bung Karno dan para pemimpin negara2 dunia setelah PD2).NEP itu adalah cara 
memanipulasi kapitalisme utk meyakinkan bahwa capital itu adalah hasil dari 
labor, sehingga imperialism tidak bisa masuk infiltrasi dan menang/berkuasa. As 
stated by Lenin, “economically and politically speaking the New Economic Policy 
completely ensures to us the possibility of building the foundation of a 
socialist economy.” It was meant to be based off of the existence of 
capitalism. Basically it would be a combination of the capitalist economy and 
the communist politics. Large businesses would still be nationalized, in order 
to ensure that the “petty bourgeoisie,” or the capitalist Imperialists, would 
not gain too much power over or get in the way of the growing Socialist 
society. Lenin believed that capitalism would lead to Imperialism, which is the 
entity which they had only just eliminated.  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]
Sent: Thursday, September 22, 2016 11:17 AM
To: yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)  Masyaallah! masak uraian Lenin tentang 
State Capitalism dianggap sebagai bukti Lenin memadukan ekonomi sosialis dan 
ekonomi pasar.  ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Lenin 
wrote:State capitalism would be a step forward as compared with the present 
state of affairs in our Soviet Republic. If in approximately six months’ time 
state capitalism became established in our Republic, this would be a great 
success and a sure guarantee that within a year socialism will have gained a 
permanently firm hold and will have become invincible in this country.Source: 
http://www.marxists.org/archive/lenin/works/1921/apr/21.htm - this writing also 
has much more on state capitalism. Lenin wrote:The state capitalism, which is 
one of the principal aspects of the New Economic Policy, is, under Soviet 
power, a form of capitalism that is deliberately permitted and restricted by 
the working class. Our state capitalism differs essentially from the state 
capitalism in countries that have bourgeois governments in that the state with 
us is represented not by the bourgeoisie, but by the proletariat, who has 
succeeded in winning the full confidence of the peasantry.
Unfortunately, the introduction of state capitalism with us is not proceeding 
as quickly as we would like it. For example, so far we have not had a single 
important concession, and without foreign capital to help develop our economy, 
the latter’s quick rehabilitation is inconceivable.Source: 
https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1922/nov/14b.htm  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]
Sent: Thursday, September 22, 2016 10:26 AM
  #yiv9974050970 #yiv9974050970 -- #yiv9974050970ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-mkp #yiv9974050970hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-mkp #yiv9974050970ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-mkp .yiv9974050970ad 
{padding:0 0;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-mkp .yiv9974050970ad p 
{margin:0;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-mkp .yiv9974050970ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-sponsor 
#yiv9974050970ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-sponsor #yiv9974050970ygrp-lc #yiv9974050970hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-sponsor #yiv9974050970ygrp-lc .yiv9974050970ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9974050970 #yiv9974050970actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9974050970
 #yiv9974050970activity span {font-weight:700;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9974050970 #yiv9974050970activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9974050970 #yiv9974050970activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9974050970 #yiv9974050970activity span 
.yiv9974050970underline {text-decoration:underline;}#yiv9974050970 
.yiv9974050970attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9974050970 .yiv9974050970attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9974050970 .yiv9974050970attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9974050970 .yiv9974050970attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9974050970 .yiv9974050970attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9974050970 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9974050970 .yiv9974050970bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9974050970 
.yiv9974050970bold a {text-decoration:none;}#yiv9974050970 dd.yiv9974050970last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9974050970 dd.yiv9974050970last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9974050970 
dd.yiv9974050970last p span.yiv9974050970yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9974050970 div.yiv9974050970attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9974050970 div.yiv9974050970attach-table 
{width:400px;}#yiv9974050970 div.yiv9974050970file-title a, #yiv9974050970 
div.yiv9974050970file-title a:active, #yiv9974050970 
div.yiv9974050970file-title a:hover, #yiv9974050970 div.yiv9974050970file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9974050970 div.yiv9974050970photo-title a, 
#yiv9974050970 div.yiv9974050970photo-title a:active, #yiv9974050970 
div.yiv9974050970photo-title a:hover, #yiv9974050970 
div.yiv9974050970photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9974050970 
div#yiv9974050970ygrp-mlmsg #yiv9974050970ygrp-msg p a 
span.yiv9974050970yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9974050970 
.yiv9974050970green {color:#628c2a;}#yiv9974050970 .yiv9974050970MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9974050970 o {font-size:0;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970photos div {float:left;width:72px;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9974050970
 #yiv9974050970reco-category {font-size:77%;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970reco-desc {font-size:77%;}#yiv9974050970 .yiv9974050970replbq 
{margin:4px;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-mlmsg select, #yiv9974050970 input, #yiv9974050970 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-mlmsg pre, #yiv9974050970 code {font:115% 
monospace;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-mlmsg #yiv9974050970logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-msg 
p#yiv9974050970attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-reco #yiv9974050970reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-sponsor 
#yiv9974050970ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-sponsor #yiv9974050970ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-sponsor #yiv9974050970ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9974050970 #yiv9974050970ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9974050970 
#yiv9974050970ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9974050970 

   

Kirim email ke