apakah anda tahu tentang privatisasi atau swastanisasi?

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

 Aduh memang orang ini gak mau belajar dan ngeyel!
 Hanya mengkontraskan perusahaan pemerintah dengan perusahaan non pemerintah yg 
disebut swasta.
 Sedangkan kepemilikan atas suatu perusahaan itu sudah tidak 100% mutlak 
dimiliki oleh pemerintah dan atau non pemerintah lagi. Bisa gabungan 
pemerintah, non pemerintah baik non pemerintah dalam negeri maupun non 
pemerintah luar negeri/asing.
  
 Jelas sekali ente gak ngerti istilah BUMS. Kenapa? Karena otak ente hanya 
terpaku cetek ngeyel dalam BUMN.
 Sudah berulang2 kali ane ceritain BUMN yg ente sebut2 sebagai perusahaan 
pemerintah itu banyak yg sdh go public artinya rakyat Indonesia maupun orang 
asing sudah bisa menjadi pemilik perusahaan2 yg ente label sbg BUMN ini. INI 
SALAH! SALAH BESAR!
  
 Baca sana artinya BUMS = badan usaha milik swasta. BUMS adalah badan usaha 
yang didirikan dan dimodali oleh seseorang atau sekelompok orang. Gak 
dipersoalkan siapa pemegang sahamnya!


Contoh badan Usaha milik swasta :
PT Pupuk Kaltim
 PT. Asean Aceh Fertilizer sudah likwidasi
PT Krakatau Steel
PT Aneka Electrindo Nusantara
PT Holcim
PT Union Metal
PT XL. Axiata Tbk
PT djarum
PT Indosat Tbk
PT fastfood Indonesia Tbk (KFC), dll
  
 Coba lihat Krakatau steel, pupuk kaltim dan asean aceh fertilizer. Walaupun 
saham di 3 perusahaan ini mayoritas dimiliki oleh pemerintah Indonesia, 3 
perusahaan itu disebut BUMS dalam istilah hukum dagang di Indonesia. 
Perusahaan2 lain mungkin tidak ada masalah dalam diskusi ini karena saham2nya 
tidak dimiliki oleh pemerintah. Dulu ada PT. Asean Aceh Fertilizer yg sdh 
likwidasi. Dulu saham Indonesia adalah terbanyak 60%, sisanya dimiliki Malaysia 
13%, Filipina 13%, Thailand 13%, dan Singapura 1%. PT.AAF secara resmi 
mengumumkan rencana likuidasinya. Keputusan untuk membubarkan pabrik pupuk 
tersebut ini diambil dalam dua kali RUPSLB, yakni pada 17 September 2005 dan 14 
Januari 2006.



 Kenapa Krakatau steel, asean aceh fertilizer dan pupuk kaltim tidak disebut 
BUMN dan disebut BUMS? Ambil contoh pupuk kaltim itu mayoritas dimiliki oleh 
PT. Pupuk Indonesia yang adalah persero. Artinya pupuk kaltim adalah anak 
perusahaan PT pupuk Indonesia. Anak perusahaan yg lain: pupuk kujang, mega 
eltra, petro kimia gresik dll.
  
 Ini ane kasih jawabannya drpd berkepanjangan ambil contoh PT. pupuk kaltim. 
Bayangkan pemegang saham PT Pupuk Indonesia (Persero) sebesar 99,999% dan 
Yayasan Tabungan Hari Tua Karyawan PT Pupuk Kalimantan Timur sebesar 0,001%. 
SAHAMNYA HANYA 0,001% dimiliki oleh non pemerintah yaitu: yayasan tabungan hari 
tua karyawan! TETAPI PT. PUPUK KALTIM DISEBUT BUMS!!!!!!
  
 Sudah ane ulang2in ente gak ngerti bisnis. Cuplik referensi dari sana sini 
tetapi salah dan gak ngerti konteksnya!
 Ini kalau bukan goblok apa namanya?
  
 Nesare
  
  
 From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, September 25, 2016 11:04 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)


  
  
 Saya mau mempertegas bagian yg ini, menurut Kamus Bahasa Indonesia jelas 
sekali perusahaan swasta itu adalah non-pemerintah.

  

 per.u.sa.ha.an swasta
perusahaan yang modalnya berasal dari orang-orang atau badan-badan nonpemerintah

 http://edefinisi.com/perusahaan-swasta.html 
http://edefinisi.com/perusahaan-swasta.html

  

 perusahaan http://kbbi4.portalbahasa.com/entri/perusahaan » perusahaan swasta 
perusahaan yang modalnya berasal dari orang-orang atau badan-badan nonpemerintah
 http://kbbi4.portalbahasa.com/entri/perusahaan%20swasta 
http://kbbi4.portalbahasa.com/entri/perusahaan%20swasta

  

 per.u.sa.ha.an swasta
perusahaan yang modalnya berasal dari orang-orang atau badan-badan nonpemerintah

 
http://www.kamuskbbi.web.id/arti-kata-perusahaan-swasta-kamus-bahasa-indonesia-kbbi.html
 
http://www.kamuskbbi.web.id/arti-kata-perusahaan-swasta-kamus-bahasa-indonesia-kbbi.html

  

  

 semoga membantu.

  

  

 Nesare:

 Ente itu kan gak ngerti bisnis. Pakai logika umum bikin definisi sendiri 
bahwa: lawan dari perusahaan pemerintah (BUMN) itu adalah swasta. Swasta itu 
ente samakan dengan perusahaan non pemerintah. Ini kan ngaco.

 

---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... 
mailto:nesare1@...> wrote :
 Oh sekarang mundur lagi ya dari menuduh ane kesurupan menjadi saraf otak. 
Semakin nulis semakin salah ente ini!
 Nah sekarang bilang  ane saraf otak. Ane sarafnya dimana?
 Ente mentertawakan ketika ane bilang ada “BUMN = private company”.
  
 Argument ane jelas sekali dari ilmu bisnis yang mengatakan private company itu 
adalah perusahaan yang saham2nya dimiliki oleh seseorang, kumpulan orang2, 
perusahaan, group perusahaan atau siapa dan apa saja dll dan kepemilikan yang 
diukur dari saham yg dimiliki itu tidak dijual di bursa saham (go public). Ini 
arti private company dari ilmu bisnis. Gak masalah siapa shareholders nya…bisa 
pemerintah, individu, investment groups, private investors dll.
 Demikian juga sebaliknya kalau saham2 kepemilikan atas suatu perusahaan dijual 
dibursa artinya melewati IPO itu namanya perusahaan public lawan dari 
perusahaan swasta/private company.
  
 Ente itu kan gak ngerti bisnis. Pakai logika umum bikin definisi sendiri 
bahwa: lawan dari perusahaan pemerintah (BUMN) itu adalah swasta. Swasta itu 
ente samakan dengan perusahaan non pemerintah. Ini kan ngaco.
  
 Sudah ane kasih contoh banyak BUMN yg sudah go public seperti: garuda, Telkom, 
semen Indonesia dll. Perusahaan ini disebut perusahaan public bukan perusahaan 
swasta atau perusahaan negara. Moso’ Telkom disebut perusahaan milik negara? 
Gimana bisa? Sedangkan kepemilikannya  Telkom sudah mencakup: rakyat Indonesia, 
rakyat amerika, rakyat seluruh dunia yang memiliki saham Telkom krn sudah 
diperdagangkan di bursa NYSE. Begitu banyak ADR perusahaan public Indonesia yg 
sdh diperjual belikan dibursa OTC dll.
  
 Pengetahuan ente itu cetek, ketika ada pengetahuan bisnis seperti ini ya otak 
ente gak menerima krn malu lalu ya berlaru2 kaya’ gini. Ini menunjukkan ente 
itu sombong. Anak SMA yang belajar ilmu ekonomi saja tahu pengetahuan yang 
sangat mendasar dan simple ini.
  
 Ente ini lain orangnya. Sok pinter sedangkan tidak. ditambah kesombongannya ya 
jadi bahan tertawaan orang banyak.
  
 Nesare
  
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, September 25, 2016 3:26 PM
To: [email protected] mailto:[email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)


  
  
  
 kalau anda tidak kesurupan mungkin ada saraf otak yg nggak beres makanya lebih 
baik ke neurologist khan ber-jaga2 itu lebih baik.

---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... 
mailto:nesare1@...> wrote :
 Koq lucu neurologis saja belum tahu ane kesurupan, ente sudah ultimatum ane 
kesurupan.
 Lagi pula koq orang kesurupan disuruh lihat neurologis?
 Jangan2 ente ini yang sudah gila dan perlu pergi lihat dokter jiwa!
  
 Ngaco aja. Sok berlogika tetapi dijawab begitu gak ngerti lalu muter2 pake’ 
kesurupan segala.
 Pointnya you don’t understand the points!
  
 Nesare
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, September 25, 2016 1:59 PM
To: [email protected] mailto:[email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)


  
  
  
 nggak kesurupan tapi nulisnya begini, mungkin sebaiknya anda periksa ke 
neurologist kalau2 ada saraf otak yg kurang beres. lebih baik preventive lho 
daripada nanti kalau sudah kebablasan nggak bisa diobatin lagi.

 

---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... 
mailto:nesare1@...> wrote :
 Tidak!
 Moso’ kalau ane kesurupan bisa nulis begini. Ane kan menjawab concern nya ente 
tentang BUMN vs swasta dan private vs. public?!
 Koq sudah dijawab, ente melabel ane kesurupan?
  
 Nesare
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, September 25, 2016 3:24 AM
To: [email protected] mailto:[email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)


  
  
  
 anda lagi kesurupan ya?

---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... 
mailto:nesare1@...> wrote :
 Koq BUMN = swasta dibilang ngawur?
 Kalau BUMN = public company ngawur enggak?
 Kalau jawabannya ngawur juga, jadi BUMN itu perusahaan apa? Bukan 
swasta/private, juga bukan perusahaan public. Apakah ente mau bilang BUMN itu 
perusahaan abal2 hahahaha.
  
 Kalau jawabannya tidak ngawur alias benar, artinya BUMN itu = perusahaan yang 
sudah go public artinya saham2nya sudah dijual di pasar alias diperdagangkan di 
bursa saham. Kalau begini artinya apa? Kan artinya hanya 1: BUMN = public 
company dan bukan private company. Gimana ceritanya ente koq BUMN bisa jadi 
public company????!!!!!!
  
 Ane mau lihat gimana logika umumnya berjalan? Berjalan kekiri, kesamping masuk 
jurang atau jalan terus. Kalau jalan terus ane mau lihat gimana argumennya: 
BUMN itu perusahaan apa? Perusahaan swasta atau public? Hehehehe
  
  
 Sudah dijelaskan kaya’ anak kecil artinya private company vs. public company.
 Masih enggak mudeng juga.
  
 Nesare
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, September 23, 2016 11:35 AM
To: yahoogroups <[email protected] mailto:[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)


  
  
 Bung Chan, hakekat state capitalism itu ya industri dipegang negara bukannya 
tidak ada industri besar sama sekali, adanya industri pertambangan besar 
ditangan BUMN itu jelas bagian dari state capitalism, rupanya anda terkecoh 
atau kacau dgn pendapat ngawur yg mengatakan BUMN itu swasta ha ha ha. Saya 
setuju dgn yg dikemukakan Tatiana NEP itu hanya "temporary retreat" tujuan 
utamanya sebenarnya mengembalikan pertanian, didalam NEP ini yg ditolerir 
Stalin para petani gurem, industri ringan skala kecil, perdagangan eceran kelas 
mom and dad pokoknya hanya UKM sedang industri skala besar, perbankan, 
transportasi, ekspor impor ditangani negara. Dan ingat ini hanyalah sementara 
saja. Sedang investment asing pada industri minyak joint venture dgn BUMN yg 
anda sebutkan itu selain hanya utk ekspor juga tujuan utamanya cuman ahli 
tehnologi.

  

 Sedang tentang Tiongkok dewasa ini bung Chan bagaimana bisa bilang "Tapi, 
kenyataan yang saya lihat, tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang kuat 
oleh NEGARA!" kalau billioner dan millioner itu bejibun menguasai parlemen yg 
mengeluarkan kebijakan negara?

  

  

 ---In [email protected] mailto:[email protected], <SADAR@... 
mailto:SADAR@...> wrote :

 Tidak, bung Goei! Lenin justru pegang kuat industri besar, spt. pertambangan 
tetap milik Negara, hanya memperkenankan UKM, borjuis kecil tumbuh berkembang 
dengan kebijakan NEP nya di tahun 1921. Tapi, kemudian  Lenin juga berani 
membuka modal asing masuk kerjakan tambang dan kehutanan, dalam bentuk 
kerjasama dengan Negara dan bentuk sewa. Yaa, bagaimana kalau teknologi dan 
ahli-ahli dalam negeri belum bisa mengerjakan, untuk mengejar 
ketertinggalannya, ya harus berani membuka pintu, mempersilahkan modal asing 
masuk dan dari situ BELAJAR.

  

 Dari tulisan kisah Lenin menentukan NEP (bhs. Tionghoa), merubah pikiran 
semula sama sekali menentang yang berbau kapitalis, Lenin sampai juga pada 
kesimpulan dengan menyatakan: “Masyarakat Rusia yang mayoritas mutlak adalah 
petani, tenaga produksi sangat terbelakang dan tingkat budaya masih sangat 
rendah, tanpa mengembangkan kapitalisme khususnya kapitalisme negara, adalah 
sulit bisa dibayangkan negara sosialis bisa mengejar ketertinggalan dari negara 
maju kapitalis bahkan sulit untuk melewati transisi menjadi negara murni 
sosialisme dengan sistim pembagian sosialis. Adalah sesuatu yang berada diluar 
kemampuan kita sendiri.” Hanya saja sayang, dari tulisan Lenin yang mana dan 
dimana diambil kata-kata Lenin itu.

  

 Dari penangkapan dan pengertian saya, tidak seharusnya diambil secara ekstrim 
atau dimutlakkan antara sosialisme dan kapitalisme itu! Baiknya justru 
memadukan keunggulan kedua sistem itu dengan bijaksana, banyak masalah praktis 
jadi berlawanan dengan prinsip sosialisme itu sendiri kalau dilakukan dengan 
ektrim. Prinsip mengembangkan/membebaskan TENAGA Produksi misalnya, dengan cara 
pembagian kerja Komune Rakyat yang begitu ketatnya, setiap petani tidak lagi 
berhak mengerjakan ditanah-sendiri, itu dalam kenyataan memukul atau mengekang 
petani yang giat kerja. Mestinya boleh saja setiap petani mengerjakan tanah-nya 
sendiri diluar jam kerja kolektif, bahkan harus didorong begitu. Begitu juga 
hasil produksi kelebihan ditanahnya sendiri itu, boleh-boleh saja dia jual pada 
orang lain yang butuh. Kenapa pula harus dilarang? Sekalipun dengan 
dibiarkannya jual-beli bebas, menjadi muncul pasar bebas. Uaa, akhirnya akan 
berkembang dan tumbuh kapitalis. Tapi, itu sikap dan cara merangsang setiap 
orang lebih giat bekerja untuk meningkatkan taraf hidupnya. Bukan dilarang, 
tapi ditertipkan saja, jangan sampai terjadi penipuan, dan kecurangan, ...

  

 Yang terjadi di Tiongkok, perkembangan cepat di masa Jiang, kemudian 
dilanjutkan oleh Hu harus dikatakan sedikit kebablasan, pertumbuhan ekonomi 
begitu dahsyat dicapai dengan munculnya kapitalis-kapitalis miliuner bahkan 
billiuner dengan tertinggalnya sistem/ketentuan yang mengontrol, dengan 
maraknya koruptor sampai pucuk pimpinan pusat. Tapi, kenyataan yang saya lihat, 
tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang kuat oleh NEGARA! Baru setelah 
Xi-Li bisa ada ketegasan memngendalikan dan memberantas koruptor dan gang mafia 
yang sudah menyusup dahsyat itu, ... banyak orang, khususnya kader-kader tua 
yang bisa bernafas lega melihat ketegasan Xi-Li. PKT bisa diselamatkan dari 
keruntuhan.

  

 Salam,

 ChanCT

  

  

 From: mailto:[email protected] mailto:[email protected]

 Sent: Friday, September 23, 2016 12:13 PM

 To: [email protected] mailto:[email protected]

 Subject: Re: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)



  


 hampir bung Chan tetapi masih kurang tepat, Lenin menentang "petty-bourgeois" 
dan "private capitalism" yg menurut beliau akan membawa ke capital imperialism, 
ekonomi pasar yg dimaksud beliau pada level UKM. Yg terjadi di Tiongkok justru 
petty-bourgeois dan private capitalism inilah yg merajalela, ditambah dgn 
dominasi billioner dan millioner ini diparlemen sukar disangkal Tiongkok 
dibawah cengkeraman capitalist imperialist seperti yg dimaksud Lenin. 

---In [email protected] mailto:[email protected], <SADAR@... 
mailto:SADAR@...> wrote :
 Baguuuslah, ternyata masalah aktual yang dihadapi untuk menjernihkan hubungan 
ekonomi sosialis dan ekonomi pasar bisa mendapatkan tanggapan dari banyak 
kawan, ...!

  

 Terkadang memang agak sulit berdiskusi dengan sementara orang, khususnya mbak 
Tatiana yang TIDAK BERANI menggunakan otak sendiri untuk berpikir, maunya apa 
yang dikatakan Lenin secara tertulis bagaimana. Apa benar seperti dikatakan 
Fuwa Tetsiro, Ketua PKJepang itu, Lenin PERNAH memadukan ekonomi sosialis dan 
ekonomi pasar? Satu kata Lenin juga tidak ada! Tandas Tatiana. Terus terang 
saja, saya sendiri tidak banyak membaca karya Lenin, semalam juga jadi ribet 
dimana saya harus mencari kata-kata Lenin sehubungan ekonomi pasar itu? 
Ternyata baru tahu pagi ini dari tanggapan beberapa kw, yang digunakan Lenin 
malah “Kapitalisme Negara” bukan ekonomi pasar! Sungguh menarik, di Tiongkok, 
Deng juga menggunakan sebutan ekonomi pasar, tidak meenggunakan “kapitalisme 
negara”.

  

 Padahal pengertian saya selama ini, kalau sudah menyatakan “Kapitalisme 
Negara” itu berarti negara dikuasai kapitalisme! Bagaimana bisa tetap 
dikendalikan oleh diktatur Proletariat, 2 sistem yang bertolak belakang? Entah 
bagaimana sesungguhnya Lenin ketika itu menggunakan istilahnya. Barangkali ada 
kw yang bisa memberi pencerahan. Kalau gak salah ingat, bung Tjaniago pernah 
mengulas masalah ini, ya? Coba nanti saya aduk-aduk kumpulan email lama di 
GELORA45. 

  

 Lenin dengan berani menyebutkan “kapitalisme negara” masih dibawah diktatur 
proletariat, karena tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang oleh NEGARA, 
dengan menggunakan BUMN-BUMN nya. Sedang Deng, menyatakan ekonomi sosialis 
mempunyai ekonomi pasar nya sendiri, dengan tetap mempertahankan keunggulan 
ekonomi sosialis dengan mengambil keunggulan ekonomi pasar! Membuag 
bagian-bagian ekonomi sosialis berencana yang terlalu tersentralisasi, artinya 
berikan kebebasan daerah juga ikut menentukan sendiri pengembangan ekonomi 
daerah sesuai kebutuhan dan kondisi konkritnya. Sedang ekonomi pasar juga 
dijalankan secara terbatas saja, tidak dibiarkan berkeembang liar apalagi 
menjadi neolibralisme! Dan kenyataan yang dijalan RRT, tali kendali ekonomi 
nasional TETAP dipegak erat-erat oleh NEGARA! Tidak bedanya dengan pemikiran 
Lenin.

  

 Jadi, nampak jelas, yang SALAH adalah Stalin, yang kata Fuwa Tetsiro, setelah 
5 tahun Lenin meninggal, keputusan Lenin NEP nya itu dicabut, membatalkan 
meneruskan “kepitalisme negara” dibawah diktatur propletariat! Dan itulah yang 
kemudian juga diikuti oleh Mao setelah tahun 1956 di Tiongkok. Jadi ikutan 
SALAH! TENTU, menyatakan Stalin dan Mao salah dalam hal membabat kapitalis, 
jangan kebablasan menjadi menghujat bahkan menegasi jasa-jasanya yang luar 
biasa besarnya bagi RAKYAT Rusia dan RAKYAT Tiongkok! Begitu sikap Deng 
terhadap kesalahan Mao dan dengan TEGAS menyalahkan sikap Krushchove yang 
menghujat Stalin dan anti-Stalin!

  

 Begitu juga dengan Deng membubarkan komune rakyat ditahun 1980 itu, dia tidak 
anti-komune rakyat secara prinsip. Tidak! Yang disalahkan, dilaksanakan terlalu 
cepat, karena KESADARAN petani di TIongkok belum sampai kekesadaran sepenuhnya 
kerja kolektif, usaha meningkatkan KESADARAN rakyat itu TIDAK bisa dipaksakan 
apalagi gunakan KEKERASAN! Harus dilakukan dengan SABAR melalui proses 
kehidupan dan kerja yang cukup panjang, agar mereka sendiri mencapai 
kekesadaran KERJA KOLEKTIF sebagai KEHARUSAN! Itulah yang saya perhatikan 
mengapa desa Xiao Gang yang dipilih dan diangkat menjadi model desa reformasi 
yang BERHASIL, merubah desa miskin terbelakang menjadi desa yang maju sekarang 
ini. Karena desa Xiao Gang itulah yang menempuh jalan wajar sebagaimana proses 
kesadaran PETANI yang terjadi. Setelah hak-guna tanah diserahkan kembali pada 
setiap keluarga petani, kembali terjadi kerja petani secara individual, 
sendiri-sendiri yang ternyata sulit untuk berkembang. Muncullah 18 petani 
bertekad mensukseskan produksi pertaniannya, menyatukan diri bekerjasama, dan 
kemudian membentuk koperasi kerja dan kemudian ditingkatkan menjadi koperasi 
tingkat tinggi, yang mengolah kebutuhan dan kepentingan warga desa Xiao Gang. 
Kalau diperhatikan lebih lanjut, sekalipun belum menyebutkan diri komune 
rakyat, hakekat koperasi-tingkat tinggi di Xiao Gang itu ya sudah komune 
rakyat! Mengapa? Karena hak-guna tanah yang semula dibagikan pada petani itu, 
semua sudah tergabung kembali dalam SAHAM koperasi yang mereka bentuk, dan 
pembagian pekerjaan juga dilakukan oleh barisan produksi yang mereka tentukan 
sendiri.

  

  

  

 From: mailto:[email protected] mailto:[email protected]

 Sent: Friday, September 23, 2016 3:40 AM

 To: yahoogroups mailto:[email protected]

 Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan 
Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)



  


  
  

 Saya rubah sedikit highlight anda utk meliputi "Large businesses would still 
be nationalized" disini terlihat ekonomi pasar yg dimaksud Lenin itu pada level 
UKM yg dijalankan masyarakat kebanyakan bukannya ekonomi pasar yg dijalankan 
perusahaan2 besar, atau dalam istilah Indonesia mungkin mirip2 dgn istilah 
ekonomi kerakyatan walaupun tidak sepenuhnya sama. Kita juga bisa lihat 
penekanan Lenin pada State Capitalism yg disebut beliau sebagai aspek penting 
yg prinsipal "The state capitalism, which is one of the principal aspects of 
the New Economic Policy...". Pengertian ekonomi pasar Lenin ini adalah jauh 
berbeda dgn pemahaman ekonomi pasar bung Chan yg diterapkan di Tiongkok yg 
lebih cenderung kearah ekonomi pasar-nya capital imperialist.

  

 "As stated by Lenin, “economically and politically speaking the New Economic 
Policy completely ensures to us the possibility of building the foundation of a 
socialist economy.” It was meant to be based off of the existence of 
capitalism. Basically it would be a combination of the capitalist economy and 
the communist politics. Large businesses would still be nationalized, in order 
to ensure that the “petty bourgeoisie,” or the capitalist Imperialists, would 
not gain too much power over or get in the way of the growing Socialist 
society. Lenin believed that capitalism would lead to Imperialism, which is the 
entity which they had only just eliminated."

  

 ---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... 
mailto:nesare1@...> wrote :

 Jelas ente gak ngerti NEP nya lenin. Baca dulu sebelum sesumbar!

 Bagi ane: NEP itu resep Lenin untuk menanggulangi masalah ekonomi setelah 
revolusi. Karena ingin mempertahankan politik sosialismenya, ekonominya 
“dibebaskan” kepasar.

 Lenin yang anti imperialism dan takut kapitalisme itu menjadi imperialism (ini 
salah satu ide utamanya lenin bahwa imperialism is the highest stake of 
capitalism. Ini juga ide bung Karno dan para pemimpin negara2 dunia setelah 
PD2).

 NEP itu adalah cara memanipulasi kapitalisme utk meyakinkan bahwa capital itu 
adalah hasil dari labor, sehingga imperialism tidak bisa masuk infiltrasi dan 
menang/berkuasa.

  

 














































Kirim email ke