Gatot Nurmantyo Siswa Kopassus Paling Tua, Lulus Pada Usia 55 Tahun
Wednesday, October 7th, 2015
*http://forumkeadilan.co/politik/gatot-nurmantyo-siswa-kopassus-paling-tua-lulus-pada-usia-55-tahun/
<http://forumkeadilan.co/politik/gatot-nurmantyo-siswa-kopassus-paling-tua-lulus-pada-usia-55-tahun/>*

*Gatot lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada 13 Maret 1960. Tapi sejatinya
ayahnya berasal dari Solo dan ibunya dari Cilacap. Gatot dibesarkan dari
keluarga yang berlatar militer pejuang sangat kental. Ayah Gatot, bernama
Suwantyo, seorang pejuang kemerdekaan yang pernah menjadi Tentara Pelajar.
Di masa perang kemerdekaan ayahnya bertugas di bawah komando Jenderal Gatot
Subroto. Dari nama tokoh militer kharismatik itulah, ayahnya kemudian
memberi nama anaknya “Gatot”.*
*Ayah Gatot pensiun dengan pangkat terakhir Letnal Kolonel Infanteri dan
tugas terakhir sebagai Kepala Kesehatan Jasmani di Kodam XIII/Merdeka,
Sulawesi Utara. Sedangkan ibunda Gatot, anak seorang Kepala Pertamina di
Cilacap, memiliki tiga orang kakak kandung yang mengabdi sebagai prajurit
TNI AD, TNI-AL dan TNI-AU.*
*Karena anak tentara, sejak kecil Gatot hidup berpindah-pindah. Setelah
dari Tegal, ia pindah ke Cimahi, Jawa Barat, hingga kelas 1 Sekolah Dasar.
Setelah itu ia pindah Cilacap sampai kelas 2 SMP. Lalu ia pindah ke Solo
hingga tamat SMA.*
*Sebenarnya Gatot ingin menjadi arsitek. Makanya ia mendaftar ke
Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi mengetahui anaknya mau masuk UGM,
ibundanya berpesan: “Ayahmu hanya seorang pensiunan. Kalau  kamu masuk UGM,
maka adik-adikmu bisa tidak sekolah.” Mendengar hal tersebut, Gatot berubah
haluan.*
*Diam-diam dia berangkat ke Semarang, mendaftar Akabri melalui Kodam
Diponegoro. Sekembalinya dari Semarang, ia memberitahu ibunya bahwa ia
sudah mendaftar ke Akabri. Ibunya langsung mengizinkan dengan pesan, “Jika
kamu menjadi tentara, kamu harus menjadi anggota RPKAD.” Menurut Gatot,
ibunya terobsesi anaknya menjadi anggota RPKAD karena rumah orang tua
ibunya dekat dengan markas RPKAD di Cilacap.*
*Setelah lulus Akabri 1982, Gatot berusaha masuk menjadi anggota Kopassus
(nama baru RPKAD). Tapi dalam usaha pertama ia tidak diterima. Pada
kesempatan berikutnya, setelah berpangkat Kapten, saat bertugas di Pusat
Latihan Tempur di Baturaja, Sumsel, ia kembali mendaftar masuk Kopassus.
Kembali tidak diterima. Sebenarnya kesempatan tersebut sudah habis. Tapi
Gatot tidak pernah menyerah. Ia terus berdoa kepada Allah SWT agar suatu
hari bisa diterima menjadi prajurit Kopassus.*
*Kesempatan itu akhirnya datang setelah ia menjabat KSAD (25 Juli 2014–15
Juli 2015). Tak lama setelah pelantikan, Gatot memanggil Danjen Kopassus
Mayjen TNI Agus Sutomo dan menyampaikan maksudnya ingin mendaftar
pendidikan Kopassus. Tapi Agus Sutomo menyampaikan, “Tidak usah ikut
pendidikan Pak, nanti Bapak saya kasih brevet kehormatan saja”. Tapi Gatot
menolak. Ia bersikukuh mau mendapat baret merah melalui jalur normal.*
*Maka masuklah Gatot menjadi siswa Kopassus. Ia mengikuti semua prosedur
normal, mulai dari pendaftaran, ujian, hingga penyematan brevet komando dan
baret di pantai Cilacap. Untuk itu, ia harus melalui ujian yang keras,
antara lain senam jam 2 pagi, lalu direndam di kolam suci Kopassus di
Batujajar. Kemudian *longmarch*, hingga berenang militer selama lebih 2 jam
dari pantai Cilacap ke pulau Nusakambangan. Bahkan Gatot juga mengikuti
pendidikan Sandi Yudha yang salah satu ujiannya harus menyusup masuk ke
suatu tempat yang terkunci dan dikawal ketat oleh prajurit Kopassus. Ia
lolos mulus.*
*Gatot akhirnya diyatakan lulus semua tahapan dan resmi diangkat menjadi
keluarga besar Korps Baret Merah di pantai Permisan Cilacap,  Jawa Tengah,
pada 2 September 2014. Tidak seperti “brevet kehormatan” Kopassus yang
disematkan di dada sebelah kiri penerimanya, brevet pasukan komando
tersebut disematkan di dada sebelah kanan Gatot, sebagai tanda ia
menerimanya melalui prosedur selayaknya yang harus dilalui setiap prajurit
Kopassus.*
*Setelah resmi menjadi prajurit Kopassus, Gatot naik helikopter dari
Cilacap ke Kartosuro (Markas Grup 2 Kopassus). Masih berbaret merah, pakai
loreng, darah mengalir, masih pakai hitam-hitam samaran dan masih bau
lumpur, ia langsung menuju makam kedua orang tuanya di Solo. Di depan makam
kedua orang tuanya itu ia memberi hormat dan menyampaikan,”Ibu saya sudah
menunaikan tugas.” *
*Dan itu terjadi saat Gatot berusia 55 tahun*

Kirim email ke