- Megapolitan
   - Umum
   - Daerah
Home > Nasional > MegapolitanPembangunan DKI Jakarta Dinilai Utamakan 
Kepentingan PemodalSabtu, 22 Oktober 2016 | 01:14 WIBBasuki Tjahaja Purnama 
(Ahok) - [deni hardimansyah/skalanews]Skalanews - Ketua Badan Relawan Nusantara 
(BRN) Edysa Tarigan menilai pembangunan di Jakarta di masa kepemimpinan 
Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) cenderung mengutamakan kepentingan kaum 
pemodal, pengusaha besar, dan pengembang. 

Jakarta, lanjutnya, merupakan Ibukota Negara sekaligus sebagai tempat 
berkumpulnya segala suku bangsa dan tolok ukur kesejahteraan masyarakat 
Indonesia di mata dunia, ternyata belum menunjukkan keberpihakkannya terhadap 
golongan sosial masyarakat di tingkat ekonomi rendah.

"Ini keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesianya dimana?" kata Edysa dalam 
Diskusi di Kawasan Jakarta Pusat, Jumat (21/10).

Menurutnya, pembangunan Jakarta dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini hanya 
menjadi ajang berbagi proyek antara pemerintah dengan perusahaan properti 
raksasa.

Edysa mencontohkan, mega proyek reklamasi teluk Jakarta adalah hasil dari 
keputusan Pemprov DKI dengan dalih akan menciptakan kawasan strategis 
pariwisata dan pemukiman berupa apartemen berharga miliaran rupiah. Bahkan, 
Ahok merekomendasikan penggusuran demi pembangunan tanpa memerhatikan nasib 
warga.

"Selain reklamasi teluk Jakarta yang hanya menguntungkan bagi para pengembang 
properti dan masyarakat golongan atas, Pemprov Jakarta juga kerap melakukan 
penggusuran pemukiman warga khususnya di bantaran kali dan pemukiman warga di 
daerah Kalijodo," ujar Edysa yang akrab disapa Eki ini.

Dia menambahkan, tapi cara-cara yang dilakukan Pemprov DKI sangat jauh dari 
kaidah berbangsa bernegara yang telah diamanatkan oleh pembukaan Undang-Undang 
dan Pancasila.

"Maka, ini membuktikan bahwa pemerintahan saat ini telah menunjukkan wujudnya 
sebagai pemerintahan yang anti sosio demokrasi, anti musyawarah-mufakat dan 
anti Pancasila," tegasnya.

Terkait pernyataan Ahok terkait tafsirnya terhadap kitab suci Alquran dalam 
surat Al Maidah ayat 51, Edysa mengatakan, sebagai umat non muslim dan kaum 
minoritas, Ahok tak selayaknya mengomentari ajaran agama yang bukan 
keyakinannya. Apalagi, lanjutnya, komentarnya itu bertendensi politik.   

"Dan paling akhir pernyataannya yang membuat Diskursus muslim dan non muslim 
membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila dalam sila pertama tak dihormati. 
Dimana Pancasila tak bercerita lagi minoritas dan mayoritas," tuturnya.(Deddi 
Bayu/bus)

Kirim email ke