Cantik betul kemasannya, bukan? Economic Parnership! Kerjasama ekonomi! Siapa 
yang akan menang dengan "Kerjasama ekonomi" itu??? Siapa lagi kalau bukan kaum 
imperialis yang sedang sekarat dihantam krisis dan Tiongkok, imperialis yang 
sedang mengembangkan sayapnya, juga melalui "jalan suteranya". Ingat Tiongkok 
sekarang adalah Tiongkok yang sudah mengkhianati Mao dan Sosialisme!!!!




Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Dampaknya Bagi Buruh di 
Indonesia

Pengantar 
Dua bulan terakhir, kita telah melalui proses panjang perjuangan Upah 2017 yang 
tidak mudah sejak hadirnya PP No.78/2015 tentang Pengupahan. Kenaikan upah bagi 
klas buruh semakin merosot dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2015 kenaikan 
upah masih diangka 18,5%, tahun 2016 paska disahkan PP 79/2015 kenaikan upah 
hanya sebesar 11,5%, dan pada 2017 kemungkinan besar hanya diangka 8,25%. Dari 
data yang berhasil dihimpun, hampir seluruh provinsi telah menetapkan besaran 
upah diangka 8,25%, sesuai dengan PP 78/2015.

Organisasi kita telah memaparkan analisanya bahwa kebijakan pengupahan di 
Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kepentingan kapitalisme monopoli 
(imperialisme), untuk terus menancapkan dominasinya di Indonesia. Imperialisme 
dalam usahanya melipatgandakan keuntungannya membutuhkan sumber daya alam 
sebanyak mungkin sebagai sumber bahan baku bagi industri mereka, buruh atau 
tenaga kerja yang murah, serta pasar yang tidak terbatas untuk mendistribusikan 
dan menjual hasil produksi industri mereka. Untuk mensukseskan hal ini, mereka 
membuat kerjasama-kerjasama dengan label Perjanjian Perdagangan Bebas dan 
Investasi/Free Trade Agreement and Investment Agreements (FTAs).

WTO adalah salah satu skema perjanjian yang dibentuk saat itu. Namun, dalam 
beberapa tahun terakhir negosiasi di WTO mengalami kebuntuan sebagai akibat 
kuatnya perlawanan Gerakan Rakyat di berbagai negara, termasuk perlawanan di 
Bali pada Desember 2013 dimana GSBI juga terlibat aktif bersama rakyat dari 
berbagai negara saat itu.

Kebuntuan di WTO kemudian berusaha dipecahkan melalui kerjasama yang bersifat 
bilateral maupun regional. Salah satunya adalah Trans Pacific Partnership 
Agreement (TPPA) yang dipimpin AS melibatkan 11 negara; Jepang, Australia, 
Peru, Malaysia, Vietnam, New Zealand, Chili, Singapura, Kanada, Meksiko, 
Brunei). Kesepakatan dagang ini mewakili 40% GDP global atau 25,5% dari total 
perdagangan dunia. Negosiasi di TPPA sudah selesai pada Oktober 2015 dan 
ditandatangani pada Februari 2016.

Skema regional lain yang saat ini sedang dibahas adalah Kerjasama Ekonomi 
Regional Menyeluruh/Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dengan 
China sebagai motor yang memimpin di dalam skema kerjasama ini. RCEP melibatkan 
10 negara ASEAN ditambah negara mitra utama Cina, yakni; Australia, Jepang, 
India, Korsel dan New Zealand, total 16 negara. Dengan China dan India ada 
didalamnya, maka skema ini akan melampaui cakupan TPPA, penduduk di dua negara 
ini lebih dari separuh total penduduk dunia, dengan hampir 30% GDP global dan 
lebih dari seperempat total perdagangan dunia.

Mulai 6 sd 10 Desember 2016, Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan RCEP 
yang akan melanjutkan proses perundingan. Selama ini, sulit untuk mendapatkan 
draft teks yang sedang dibahas, namun dari beberapa bocoran yang diterima, 
isinya tidak jauh berbeda dengan TPPA. International Convention Exhibition 
(ICE) BSD Serpong, Tangerang Selatan rencananya akan menjadi venue putaran 
perundingan untuk RCEP kali ini.

Apa Dampaknya Bagi Buruh?
Skema perjanjian regional yang demikian, akan membuat negara-negara seperti 
Indonesia berlomba-lomba menarik investasi dari negara maju. Konsekuensinya, 
negeri ini akan semakin kehilangan kekayaan alamnya, karena masuknya korporasi 
imperialisme untuk menjarah, menguasai dan mengeksploitasi seluruh sumber daya 
alam Indonesia. Upah buruh akan dibatasi agar dapat menarik investasi masuk. 
Hal ini dikarenakan, RCEP akan mengatur secara ketat tentang perlindungan 
investasi dan keuntungan korporasi, bahkan korporasi dibolehkan untuk menggugat 
pemerintah di suatu negara karena menerapkan regulasi dan kebijakan yang 
merugikan pihak korporasi.

Pada tahun 2013, pemerintah Mesir digugat oleh sebuah perusahaan TNC dari 
Perancis  (Veolia Proprete) sebesar US$ 110 juta karena meningkatkan upah 
minimum nasional dinegaranya, sehingga mengurangi keuntungan dari perusahaan. 
Hal demikian terjadi karena di dalam skema ekonomi dan perdagangan regional 
diatur mekanisme penyelesaian sengketa yang memungkinkan negara digugat oleh 
perusahaan-perusahaan besar milik imperialis. Tentu saja, buruh akan kembali 
terbebani karena pajak yang mereka hasilkan akan dipakai oleh negara untuk 
membayarkan gugatan apabila terjadi sengketa. Bukan itu saja, jika RCEP 
disahkan dan diimplementasikan, maka kenaikan upah bagi klas buruh di Indonesia 
akan semakin sulit direalisasikan.

Atas situasi demikian, GSBI memandang penting bagi organisasi untuk memiliki 
sikap terhadap skema-skema kerjasama bilateral maupun regional yang didominasi 
oleh imperialisme. Kerjasama regional seperti TPPA maupun RCEP tidak lebih 
sebagai sebuah upaya imperialisme untuk terus membuka pasar seluas-luasnya bagi 
ekspor kapital serta barang produksi mereka, dengan menghilangkan 
hambatan-hambatan investasi maupun perdagangan. Sebagai organisasi buruh yang 
patriotik, anti imperialisme, GSBI akan menjadi barisan terdepan untuk menolak 
RCEP karena tidak akan pernah berguna bagi klas buruh, rakyat Indonesia serta 
mengancam kedaulatan bangsa.

Untuk itu Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) menyatakan sikap Tolak RCEP 
dan hentikan proses negosiasi RCEP. Kaum buruh Indonesia tidak butuh RCEP serta 
kerjasama-kerjasama dengan label Perjanjian Perdagangan Bebas dan 
Investasi/Free Trade Agreement and Investment Agreements (FTAs) lainnya yang 
merugikan kaum buruh dan rakyat luas serta mengancam kedaulatan bangsa, tapi 
yang kami butuhkan adalah  kerjasama ekonomi yang didasarkan pada solidaritas, 
saling menguntungkan dan menguatkan, serta kerjasama memenuhi kebutuhan buruh 
dan rakyat Indonesia.
Imperialisme, Hancurkan!

Kirim email ke