Masyarakat Adat Dakota Menang, Rembang Berjuang
5 Desember 2016Presiden Barrack Obama menghentikan sementara pembangunan pipa 
minyak di Dakota [Foto: istimewa] Koran Sulindo – Perjuangan itu membutuhkan 
pengorbanan. Tidak sekadar pengorbanan tenaga dan harta, tapi terkadang 
menuntut pengorbanan nyawa. Akan tetapi, perjuangan tampaknya tidak ada yang 
sia-sia.Kegigihan dan keteguhan masyarakat adat Amerika Serikat (AS) di Dakota 
menjadi bukti bahwa sebuah perjuangan tidak ada yang sia-sia. Berawal dari 
penolakan mereka terhadap pemasangan pipa sepanjang  1.200 mil (1.931 
kilometer) yang akan menyalurkan minyak dari North Dakota ke titik pengiriman 
di Illinois.Masyarakat adat melihat pipa-pipa ini akan menyebabkan kebocoran 
dan bisa mencemari air minum suku Standing Rock Sioux. Juga dianggap mengancam 
tempat suci dan kuburan keramat. Suku ini lalu mendirikan “kemah spiritual” di 
tepi Sungai Missouri sejak bulan April 2016.Pihak pengembang Energy Transfer 
Partners lantas dengan jumawa memastikan tidak akan ada situs yang terganggu 
dengan pemasangan pipa. Terlebih pipa disebut memiliki perlindungan terhadap 
kebocoran dan lebih aman ketimbang menggunakan pengiriman minyak dengan kereta 
api atau truk.Pro dan kontra ini kemudian berujung bentrokan. Pengusaha yang 
mendapat dukungan dari aparat polisi dan tentara AS lantas melakukan kekerasan 
terhadap masyarakat adat Dakota. Mereka menembaki masyarakat dengan berbagai 
senjata mulai dari gas air mata hingga peluru karet. Masyarakat bertahan dan 
terus melawan.Perjuangan masyarakat ini nampaknya menemui titik terang setelah 
sebelumnya pada 4 Desember 2016, pemerintah federal AS menghentikan pembangunan 
pipa Dakota itu setelah meningkatnya protes masyarakat adat dalam sebulan 
terakhir. Masyarakat juga mendesak pemerintah agar menarik sekitar dua ribu 
pasukan militer AS yang ditempatkan di sana.Korps Insinyur Angkatan Darat AS 
membantah penghentian proyek yang menelan biaya hingga US$ 3,8 miliar itu. 
Asisten Sekretaris Angkatan Darat unutuk Pekerjaan Sipil Jo-Ellen Darcy 
mengatakan, pihaknya saat ini sedang berdialog dengan masyarakat adatStanding 
Rock Sioux. Dialog itu untuk mencari jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan 
masalah dalam pembangunan pipa minyak di Dakota. Ia juga mengindikasikan 
pemerintah akan mempertimbangkan hasil dialog tersebut.Ketua masyarakat adat 
Standing Rock Sioux Dave Archambault II mengatakan, pihaknya mendukung sepenuh 
hati keputusan pemerintah dan memuji keberanian Presiden Barrack Obama dan 
semua pihak terkait dalam masalah tersebut. Keputusan tersebut akan memperbaiki 
jalannya sejarah menuju ke arah yang benar.“Kami juga berterima kasih kepada 
dukungan suku bangsa lainnya yang telah mendukung kami. Hal yang sama juga akan 
kami lakukan kepada suku-suku bangsa lainnya,” kata Archambault seperti dikutip 
democracynow.org pada Minggu 4 Desember 2016.Rembang
Seperti masyarakat adat Dakota, ratusan kaum tani Kabupaten Rembang, Pati, 
Blora, Kudus hari ini juga tengah berjuang untuk tanah kelahiran dan sumber 
penghidupan mereka. Kaum tani itu akan longmarch sejauh sekitar 150 kilometer 
ke Semarang untuk menemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo agar segera 
mencabut izin lingkungan PT Semen Indonesia Tbk.Kaum tani meminta agar para 
pihak yang bersengketa dalam pendirian pabrik semen di kawasan tersebut menaati 
dan menjalankan putusan Mahkamah Agung. Amar putusan Peninjauan Kembali MA 
mengabulkan gugatan kaum tani seluruhnya antara lain membatalkan surat 
keputusan Gubernur Jawa Tengah tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan 
oleh PT Semen Indonesia.Kaum tani ini berjuang sejak Juni 2014 dengan 
mendirikan tenda perjuangan di jalan pintu masuk pabrik PT Semen Indonesia di 
Rembang, Jawa Tengah. Itu sebagai bentuk perlawanan dan penolakan mereka atas 
pendirian pabrik semen di Rembang. Pendirian pabrik semen dianggap mengancam 
ketersediaan air yang merupakan sumber bahan utama kehidupan mahluk. Mereka 
berjanji akan terus berjuang hingga cita-cita tercapai.Kendati sudah menang di 
MA, tak lalu pemerintah tunduk pada putusan tersebut. Karena itu, mereka 
memilih untuk longmarch ke Semarang. Sebelum berangkat, kaum tani itu terlebih 
dulu bertemu ulama Rembang KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Pondok 
Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh asuhan Gus Mus akan menjadi titik tolak 
perjalanan kaum tani itu. Akankah perjuangan kaum tani Rembang akan senasib 
dengan kemenangan yang diraih masyarakat adat Dakota itu? [KRG]

Kirim email ke