Jelang Aksi 212 Jurnalis Tirto.id Dipukul
By RedaksiPosted on 01/12/20167 min read Serikat Jurnalis untuk Keberagaman 
(SEJUK) mengecam keras pemukulan dan pengusiran salah seorang anggota Front 
Pembela Islam (FPI) terhadap jurnalis Tirto.id Reja Hidayat, Rabu, 30 November 
2016, pukul 14.15 WIB di sebuah rumah warga dekat markas FPI Petamburan 
Jakarta. Padahal, kepada pelaku pemukulan dan pengusiran tersebut Reja Hidayat 
sudah memberitahukan bahwa dirinya dari media (seorang jurnalis).Karena itu, 
kekerasan anggota FPI yang menghalangi kerja-kerja jurnalistik terhadap 
jurnalis Tirto.id yang sedang menjalankan tugasnya untuk meliput rapat Gerakan 
Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) ini merupakan 
tindakan melawan hukum. Padahal, UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers Pasal 4 ayat 
1, 2 dan 3 menegaskan bahwa kemerdekaan pers dijamin negara, sehingga tidak 
dikenakan pelarangan penyiaran sebab pers mempunyai hak mencari, memperoleh, 
dan menyebarluaskan informasi.Selain itu, Pasal 18 ayat 1 UU No. 40 Tahun 1999 
Tentang Pers dapat menjerat pelaku pemukulan terhadap jurnalis Tirto.id Reja 
Hidayat. Pasal itu menyatakan, “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan 
sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi 
pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana 
penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 
(Lima ratus juta rupiah).”Untuk itulah Serikat Jurnalis untuk Keberagaman 
(SEJUK) sangat menyesalkan terjadinya kekerasan terhadap jurnalis Tirto.id Reja 
Hidayat yang sedang menjalankan tugasnya sebagai jurnalis. Kami juga mengecam 
pengusiran terhadap jurnalis Gatra dan JPNN pada waktu dan lokasi yang sama 
dengan kejadian yang menimpa Reja Hidayat. Selain itu, kami menuntut kepolisian 
untuk mengusut kejadian pemukulan dan pengusiran ini dan memprosesnya sesuai 
dengan aturan hukum yang berlaku, yakni UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers Pasal 
18 ayat 1.Maka dari itu, kami mendorong masyarakat secara umum dan peserta aksi 
2 Desember 2016 untuk menghormati kerja-kerja pers dalam usahanya menyampaikan 
kebenaran kepada publik. Sehingga kekerasan, penyerangan, pengusiran maupun 
intimidasi yang menimpa jurnalis Tirto.id, Gatra dan JPNN Rabu kemarin atau 
Metro TV, Kompas TV dan BeritaSatu pada aksi 4 September 2016 lalu, demikianpun 
jurnalis-jurnalis lainnya dalam kasus-kasus kekerasan yang telah lewat agar 
tidak terulang lagi.Dan karena itu pula kami mengajak rekan-rekan media dan 
jurnalis untuk tidak pernah menganggap enteng dan mentoleransi apa yang 
dilakukan kelompok pro kekerasan seperti ini. Karena pada dasarnya, mereka 
memang tidak pernah suka dengan kebebasan berpendapat dan berupaya 
memberangusnya.Berikut Kronologi pemukulan jurnalis Tirto.id Reja Hidayat oleh 
anggota FPI yang SEJUK peroleh pagi ini dari broadcast salah satu jurnalis 
Tirto.id di sebuah Whatsapp Group.Waktu kejadian: Rabu, 30 November 2016, pukul 
14.15 WIBTempat: Salah satu rumah warga di dekat kantor FPI 
PetamburanKronologi:Reja tiba di markas FPI sekitar pukul 13.00 WIB untuk 
meliput rapat persiapan aksi 212. Di markas FPI Reja tidak bisa masuk dan hanya 
berdiri di depan gerbang sambil mencari informasi. Usai shalat ashar berjamaah, 
Reja kemudian disambangi seorang lelaki berbadan tambun yang mengenakan seragam 
laskar FPI.Laskar: Dari mana ente?Reja: Media pak.Laskar: Apa?Reja: Media 
online Tirto.id.Laskar: Ngapain ente ke sini? Hapus berita kamu tulis! 
(hardiknya lagi).Reja: Saya enggak buat berita.Lelaki tersebut tak percaya, 
malah marah tanpa jelas dan memukul bahu Reja.Laskar: Masuk ente ke sana (rumah 
warga, sembari mendorong), kamu tulis apa td? Hapus! (Hardiknya lagi).Reja: 
Tidak ada (jawab Reja sekaligus menampakkan isi hp. Tanpa dengar penjelasan dia 
kembali memukul kepala bagian belakang lalu menampar muka lagi.) Saya tidak ada 
buat berita. Hanya berdiri menunggu habib di depan pintu gerbang acara rapat 
GNPF MUI. Lillahi ta’ala, saya enggak buat berita.Laskar: Ente keluar (rumah) 
sana (sekaligus mendorong Reja keluar dari gang tersebut)Lalu di ujung gang ada 
dua wartawan. Satu dari Gatra, satu dari JPNN. Mereka pun ikut diusir untuk 
menjauh dari lokasi rapat. Reja pun mencari tahu nama lelaki memukulnya, 
sembari menyodorkan tangan kanan untuk bersalaman dengan lelaki Arab tersebut. 
Bukannya menyambut baik, tetapi menghardik lebih keras.Laskar: Saya tidak 
percaya sama media.Reja pun mundur beberapa langkah dan menjauh dari lokasi 
dengan dua wartawan lainnya.Demikian sikap ini kami sampaikan, sebagai upaya 
mendorong publik memberikan penghormatan kepada kerja-kerja jurnalistik 
sekaligus menuntut ditempuhnya penegakan hukum sesuai aturan yang berlaku 
kepada setiap pihak yang menghalang-halangi pers dalam mendapatkan dan 
menyampaikan informasi.
  • [GELORA45] Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]
  • [GELORA45] kh djie dji...@gmail.com [GELORA45]
  • [GELORA45] Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]
  • [GELORA45] kh djie dji...@gmail.com [GELORA45]
  • [GELORA45] Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]
  • [GELORA45] Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]
  • [GELORA45] Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]
  • [GELORA45] Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]
  • [GELORA45] Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]
  • [GELORA45] Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]

Kirim email ke