mungkin yg anda katakan ini "Mungkin hanya proyek2 yang langsung mendatangkan keuntungan yang dipilih?" benar2 sedang dilakukan, sebagai contoh SMA yg tidak langsung mendatangkan keuntungan tidak lagi gratis. ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
Buat saya yang perlu perencanaan yang baik, bisa bayar utangnya dengan mudah,inflasi kecil, uang tidak dikorupsi, dipakai betul2 untuk memajukakan ekonomi danmemakmurkan penduduk.Hasilnya lihat nanti, kalau jelek ya Jokowi jatuh. Kalau bagus ya terpilih lagi.Sebelum ekonomi memburuk betul2, kita amati tindakan Sri Mulyani.Mungkin hanya proyek2 yang langsung mendatangkan keuntungan yang dipilih? 2017-08-15 19:08 GMT+02:00 Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] <[email protected]>: Bukankah itu namanya Fisher Paradox. Sebenarnya apa bedanya yg dikemukakan Sri Mulyani dan Bung Roeslan? Yg pertama di angguk2in yg kedua disanggah mati2an. Tetapi penekanan utang dalam negeri yg anda kemukakan itu kurang tepat, buat bayar utang dalam negeri tinggal cetak rupiah, yg memakan devisa dan harus utang lagi buat bayar utang itu utang luar negeri. Anda perhatikan saja angka surplus dgn posisi utang, yg dgn gampang bisa terlihat "keharusan" bikin utang baru buat bayar bunga utang (dan cicilan kalau ada). (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan II-2017 sebesar US$ 335,3 miliar ---In [email protected], <djiekh@...> wrote : Kan pernah dijelaskan oleh Sri Mulyani : Kalau penghasilan pajak dan surplus perdagangan tidak cukup membeayai APBN, maka perlu utang. Utang Indonesia diatur dia porsi terbesarnya utang dari dalam negeri (model Jepang) dengan menerbitkan surat utang, dan jaminan "bunga". Lha, bunganya dipajaki, dan yang ngutangi ( orang dalam negeri) dapat untung. 2017-08-15 17:55 GMT+02:00 Jonathan Goeij jonathangoeij@... [ GELORA45] <GELORA45@ yahoogroups.com>: Jadi bulan Juli barusan penurunan devisa jauh lebih tinggi dari 270 juta dollar?Jika ada surplus 4,76 millar dollar dibanding tahun lalu, apakah artinya tidak akan utang lagi, atau tetap saja utang? ---In [email protected] , <djiekh@...> wrote : Yang deficit 270 juta dolar itu neraca perdagangan dalam bulan juli 2017.Sedangkan kumulatif dari bulan januari hingga sampai dengan juli 2017, neraca perdagangannya surplus 7.39 miliar dolar(Expor 93.59 miliar dolar - Impor 86.2 milliar dolar = surplus 7.39 miliar dollar) Kutipan :Tercatat secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2017 neraca perdagangan mengantongi surplus sebesar 7,39 miliar dolar AS. Ekspor tercatat sebanyak 93,59 miliar dolar AS dan impor 86,20 miliar dolar AS. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016, neraca perdagangan tercatat mengalami kenaikan dimana saat itu surplus sebesar 4,76 miliar dolar AS. 2017-08-15 16:29 GMT+02:00 Jonathan Goeij jonathangoeij@... [ GELORA45] <GELORA45@ yahoogroups.com>: terus gimana bayar utangnya? utang lagi? ---In [email protected] , <djiekh@...> wrote : Defisit 270 juta dollar, artinya importnya 270 juta dollar lebih banyak dari exportnya.Kutipan : Dilihat dari total ekspor, pada Juli 2017 tercatat sebesar 13,61 miliar dolar AS, sementara impor sebesar 13,88 miliar dolar AS.Dari sini dapat dihitung defisitnya = (13.88 - 13.61) miliar = 0.27 miliar = 270 juta dollar 2017-08-15 11:47 GMT+02:00 Sunny ambon ilmesengero@... [ GELORA45] <GELORA45@ yahoogroups.com>: Apakah neraca perdagangan defisit artinya pemasukan devisa merosot 270 juta dolar USA? http://www.antaranews.com/ berita/646810/neraca- perdagangan-defisit-270-juta- dolar-as Neraca perdagangan defisit 270 juta dolar AS Selasa, 15 Agustus 2017 15:04 WIB | 585 ViewsPewarta: Vicki Febrianto Jakarta (ANTARA News) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Juli 2017 mengalami defisit sebesar 270 juta dolar AS yang dipicu oleh defisit sektor migas sebesar 600 juta dolar AS. Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers, Selasa, mengatakan bahwa defisit sektor migas yang cukup dalam itu menekan surplus sektor nonmigas yang sebesar 330 juta dolar AS. "Neraca perdagangan Juli 2017 defisit, tekanan migas cukup jauh. Sementara surplus nonmigas tipis sebesar 332,9 juta dolar AS," kata Suhariyanto, di Jakarta, Selasa. Dilihat dari total ekspor, pada Juli 2017 tercatat sebesar 13,61 miliar dolar AS, sementara impor sebesar 13,88 miliar dolar AS. Dari sisi volume perdagangan, neraca volume perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar 31,83 juta ton. Hal tersebut didorong oleh surplus neraca sektor nonmigas sebesar 32,70 juta tton sementara sektor migas defisit 860 ribu ton. Tercatat secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2017 neraca perdagangan mengantongi surplus sebesar 7,39 miliar dolar AS. Ekspor tercatat sebanyak 93,59 miliar dolar AS dan impor 86,20 miliar dolar AS. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016, neraca perdagangan tercatat mengalami kenaikan dimana saat itu surplus sebesar 4,76 miliar dolar AS. "Untuk tahun ke tahun, surplus meningkat. Diharapkan akan meningkat sampai akhir tahun nanti. Selama ini surplus masih berasal dari sektor nonmigas," kata Suhariyanto. Pada periode tersebut, negara penyumbang surplus neraca perdagangan adalah India yang mencapai 5,87 miliar dolar AS, diikuti Amerika Serikat sebesar 5,37 miliar dolar AS dan Belanda sebesar 1,84 miliar dolar AS. Sementara untuk negara penyumbang defisit neraca perdagangan adalah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang mencapai 8,08 miliar dolar AS, Thailand 2,22 miliar dolar AS dan Australia sebesar 1,85 miliar dolar AS.Editor: Unggul Tri RatomoCOPYRIGHT © ANTARA 2017
