Pada Kamis, 7 September 2017 15:27, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> menulis:
Iya ini yg dia tidak sadari.Saya bilang dia radikal, subjektif dan
personal dll walaupun saya tidak bilang dia bela sesama ideologinya.Jelas
tatyana ini personal subjektif. Wong dia bilang sendiri “Sedangkan Jonathan,
ngapain saya harus mencerca dia seperti saya mencerca Chan?? Wong saya tidak
pernah diserang Jonathan, komentar saya tidak mendapat bantahannya, saya tidak
diejek atau dikatain atau diberi topi. Lha kan gila saya mencerca dan membenci
orang yang tidak pernah menyinggung saya. Seandainya dia pura-pura atau musuh
dalam selimut, atau orang demokrat, ya itu urusan dia. Saya tidak merasa
dirugikan oleh komentarnya di milis ini”. Disini kan tatyana mau bilang kalau
orang gak mau ribut sama dia, dia gak gubris. Ini personal. Dia double
standard. Sama bung, dia caci maki krn:
- Bung juga caci maki/teriak2 sama dia.
- Ideologi beda. Ini juga dia labelkan ke saya krn saya bilang saya
kapitalis.
Lucu kan? Makanya saya sudah saya tulis sebelumnya bahwa radikalisme bisa
bikin buta seseorang. Jelas dia buta bahwa jonathan yg salah (salahnya banyak
sekali dari ngeyel ttg private vs public companies sampai2 bilang semua
interest rate itu sama dll) masih dibela2 sama dia? Sekarang tatyana bilang
sijonathan gak pernah menyerang dia, ngapain dia harus mencerca sijonathan?!
Personal kan?!Wong jelas2 sijonathan itu hanyalah democrat ala USA yg kapitalis
dibaik2i tetapi sama bung chan dimaki2 krn beda ideologi.Begitu juga sama saya,
dan yg lain2, tatyana teriak2 “saya sudah tahu kamu berada dimana; antek2
nekolim; pro imperialisme”. Aneh gak?! Jadi bingung saya sekarang ini kenapa
dia suka caci maki, apakah masalah ideologi, personal, subjektif, pribadi atau
apa?Tapi saya tidak bingung utk mencari jawabannya. Kami tidak kenal satu sama
lain dan tujuan saya hanya mau berdiskusi saja. Tidak lebih dari itu. Nesare
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, September 6, 2017 8:05 PM
To: Tatiana Lukman <[email protected]>; [email protected];
[email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki
Untung Eeeiiih, ... kok nenek yang satu ini jadi sentimen dan beeenciii
banget sama gue, ya!!! Tapi awaaaas, lho, begitu kebablasan kebencian itu bisa
berubah menjadi cintaaa, dan,... kalau nenek jatuh cintaaa gak akan bisa
kecabut lagi! Hehehee, ... Salam-benci,ChanCT From: Tatiana Lukman
[email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, September 7, 2017 12:44
AMTo: [email protected] ; [email protected] Subject: Re: AW: [GELORA45]
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung Ini orang bencinya
setengah mati kepada Jonathan. Yang jelas itu bukan urusan saya! Tapi Ngatain
orang lain subjektif, padahal dari komentarnya, orang bisa lihat bagaimana
jalan pikirannya yang penuh dengan subjektivisme. Membantah bahwa dirinya TIDAK
ingin orang lain menganggap Jonathan kiri. Tapi orang kan tidak goblok! Dari
komentarnya, orang bisa tahu apa yang diinginkan. Dia ingin juga supaya saya
mencerca Jonathan. Dia tidak ngerti kenapa saya mencerca Chan tapi tidak
mencerna Jonathan. Ngatain orang lain buta tapi dirinya sendiri buta tidak bisa
mengikuti diskusi dengan baik. Sudah bertahun-tahun saya berdebat dengan Chan,
dan Chan selalu debat kusir, karena tidak bisa membantah argumentasi yang
selalu kena ulu hatinya, maka dia selalu mengalihkan perhatian dari masalah
pokok dan menyeret ke masalah-masalah lain. Chan jelas seorang remo pendukung
Deng, pendukung kapitalisme dan penghisapan, oportunis dan renegad yang
meninggalkan pikiran dan cita-citanya sendiri. Saya tidak pernah bilang Chan
orang tengah. Saya memberi reaksi dan komentar atau bantahan karena tulisannya
yang sangat menyesatkan. Sedangkan Jonathan, ngapain saya harus mencerca dia
seperti saya mencerca Chan?? Wong saya tidak pernah diserang Jonathan, komentar
saya tidak mendapat bantahannya, saya tidak diejek atau dikatain atau diberi
topi. Lha kan gila saya mencerca dan membenci orang yang tidak pernah
menyinggung saya. Seandainya dia pura-pura atau musuh dalam selimut, atau orang
demokrat, ya itu urusan dia. Saya tidak merasa dirugikan oleh komentarnya di
milis ini.Kalau Chan jelas sekali di mana dia berdiri. Dalam soal Freeport
saja, dia menyinggung, kalau kita menasionalisasi tanpa bayar, kan itu
melanggar hukum WTO, ....Nah, padahal WTO adalah musuh rakyat!! WTO adalah alat
kaum imperialis!! Kalau kita ikuti "logika" borjuis dan kapitalis Chan, maka
rakyat tidak boleh bergerak dan melawan imperialisme serta semua lembaga
internasionalnya seperti WTO, IMF, Bank Dunia dan segala macam Perjanjian
Dagang Bebas baik bilateral maupun multilateral. Padahal ormas=ormas progresif
bahkan pada tingkat internsional justru terus melakukan pendidikan dan gerakan
penyadaran untuk membelejeti semua kebijakan dan kelicikan lembaga-lembaga
imperialis tersebut... "Logika" revisionis dan kapitalis Chan menyuruh rakyat
sabar, karena masih kecil dan tidak kuat melawan Imperialisme dengan semua
lembaga yang sangat mahakuasa itu, maka harus menerima dulu penghisapan karena
masih belum bisa dihapuskan...kasarnya jangan neko-neko!!Lantas bagaimana kita
menilai semua pengorbanan rakyat sejak pemberontakan 1926!! Jutaan nyawa sudah
melayang, penderitaan dan siksaan sudah diderita, apakah itu sia-sia dan
mengajarkan kita untuk diam, sabar, menunggu rejeki dan belas kasihan tuan-tuan
kapitalis dan imperialis!!! Go to hell with your logic! Soal ideologi. Adalah
kenyataan ideologi kita berbeda. Bagi saya, semua soal politik dan ekonomi
punya dasar ideologi. Anda tidak setuju. Itu urusan anda. Bukan urusan saya,
emangnya gue pikirin!! Sudah saya katakan, saya pengikut dan berusaha terus
mempelajari Marxisme-Leninisme dan fikiran Mao Tsetung. Kalau anda ingin
mengerti pandangan saya, maka seharusnyalah anda juga mempelajari dulu ilmu
yang menjadi dasar pemikiran saya. Karena anda merasa sudah pinter dan tidak
membutuhkan ilmu itu, maka tidak perlu mempelajarinya. Oleh karena itu anda
tidak akan pernah mengerti apa lagi setuju dengan pikiran dan pendapat saya.
Justru karena titik tolak kita sudah bertolak belakang, makanya saya sering
katakan tidak perlu diteruskan diskusinya. Buat anda, saya buta, punya masalah
dan sifat personal, subjektif, etc. Silahkan! Contoh lain di mana pengertian
kita juga berbeda. anda bilang nasionalisasi hanya dilakukan dalam saat
revolusi, atau komunisme. Sama sekali tidak! Pengertian kita tentang revolusi
juga berbeda Mosadekh adalah PM hasil pilihan yang syah dan dia juga melakukan
landreform, dan menasionalisasi minyak. apakah ketika itu ada revolusi di
Iran!! Sama sekali tidak!! Tidak ada revolusi tapi ada kontra-revolusi oleh
CIA. Maka digulingkanlah Mosadekh! Ketika BK melakukan nasionalisasi, bagi saya
ketika itu juga tidak ada Revolusi. Ada sebuah situasi revolusioner!! tapi
bukan revolusi!! Dan mengapa BK digulingkan? Juga karena dia dicap KOMUNIS
karena politiknya yang anti nekolim. BK bukan komunis, tapi bagi kaum
imperialis kebijakan politik BK sudah cukup bahkan terlalu "kiri" sehingga
mereka sudah mengaggap dia "komunis". Ada beberapa penulis Amerika yang justru
mengkritik analisa dan stempel "komunis" yang dijatuhkan pada BK... Buat anda
pengetahuan ekonomi saya cetek... Memang saya bukan seroang ahli ekonomi
seperti Menkeu..Saya berusaha mempelajari ekonomi politik Marxis yang saya
anggap cukup untuk memberi saya kemampuan melihat dari tulisan dan komentar
anda, dimana anda berdiri dan kepada siapa berpihak. Semakin kelihatan dan anda
sendiri menyatakan pendapat positif terhadap Chan. Nah, itu semakin membuktikan
bahwa pendapat saya tentang anda betul!! On Tuesday, September 5, 2017 12:58
AM, "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Bukan!Saya bukan mau orang lain tidak melihat sijonathan sbg orang kiri.Bagi
saya jelas dia bukan orang kiri. Dia itu orang democrat. Ini sosialisme
ditengah yg bung benci. Sadar tidak? chan juga ditengah bung cerca setengah
mati. Sijonathan juga ditengah bung anggap temen. Ini yg saya ingin katakan.
Jelas roeslan tidak tahu itu. Ini terbukti dari diskusi yg dulu dan saya cuplik
belum lama ini. Apakah saya salah mengatakan bung punya masalah pribadi dan
subjektif? Saya yakin tidak. Asumsi saya jelas bung anti chan ttp manggut2 dgn
sijonathan. Bung bilang tidak tahu sijonathan kiri atau kanan. Lah selama ini
memangnya bung bukannya mengiyakan setiap tulisannya sijonathan? Sudah banyak
yg saya kupas. Kalau saya tanya dan ajak diskusi bung kabur. Setiap yg saya
tulis itu adalah benar krn membuka kesalahan sijonathan terutama lagi ngomong
bisnis ekonomi. Kan bung bawa2 semua diskusi itu ke ranah ideologi. Ini kan
trade mark bung! Sedikit2 masalah bisnis ekonomi bung bawa ke ideologi. Saya
dengan sabar membeberkan artinya bisnis ekonomi yg fundamental saja sijonathan
banyak salahnya. Jelas sekali pengatahuan bung dan roeslan ttg bisnis ekonomi
itu cetek. Sayangnya bung bela2 dia dan menggeneralkan dgn kalimat2 seperti
ini: “saya sudah tahu nesare dipihak mana” dll. Seakan2 bung tahu saya itu
dikanan dan lebih lucu lagi oligarki. Dari mana bung bisa tahu saya itu setuju
dgn oligarki dan dikanan? Mana ada tulisan/ide saya yg mengarah kesitu? Saya
sudah diskusi panjang lebar dengan jeffry winters ttg oligarchy. Bung gak tahu
saya. Jangan meraba2. Coba diskusi. Lihat pendapat lawan diskusan bung. Jangan
langsung melabrak orang lain terutama yg berlawanan ideologi. Ini juga yg bikin
bung buta. Bung tidak sadar dan tidak mengerti ketika saya mengkritik bung
bahwa bung buta. Disinila juga butanya bung atas sijonathan. Sekarang bung lari
dgn menulis “Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada
Jonathan sebagai orang kiri atau kanan”. Coba pikir baek2 klaim bung thd chan
dan sijonathan! Lalu simak baek2 dgn ide2 bung dalam mengkaitkan bisnis ekonomi
dan membela rakyat dengan ideologi. Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Monday, September 4, 2017 3:36 PM
To: [email protected]; [email protected]; Roeslan
<[email protected]>
Cc: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD
<[email protected]>
Subject: Re: AW: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki
Untung Nesare ini ingin supaya orang TIDAK melihat Jonathan sebagai orang kiri.
Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada Jonathan sebagai
orang kiri atau kanan. Kualifikasi yang jelas hanya saya kasih kepada Chan
sebagai remo, yang memang saya kenal lama dan saya tahu isi kepalanya sejak
lama dan saya saksikan sekarang bagaimana perubahan isi kepalanya. Hanya dalam
diskusi sering kali Jonathan mengerti dan menyetujui berita yang saya
postingkan. Saya dapat topi juga dari Nesare: kiri radikal, ekstrim kiri.
Sekarang ditambah lagi, saya punya masalah dengan sifat pribadi yang membuat
saya subjektif!! Ooo, malah saya eprnah dituduh "fundamentalis"!!!
Ha...ha...Sedangkan Nesare sendiri mengaku pendukung nasakom Tapi melihat
selama ini pendapat yang ia tampilkan dalam diskusi langsung dan tak langsung,
saya bertanya-tanya sendiri di mana sifatnya yang mendukung Nasakom. Yang jelas
sangat menonjol caranya untuk "membantu" rakyat, yaitu dengan mendukung
kebijakan Jokowi: dukung penanaman modal asing, "pembangunan" yang sebetulnya
mengabdi kelas menengah keatas dan para oligarki yang berkuasa dan para pemodal
asing dan swasta. Itu sudah cukup bagi saya untuk mengetahui jalan pikiran si
Nesare. Jadi Nesare merasa dirinya kiri, dan kiri yang benar. sedangkan orang
lain seperti saya adalah kiri radikal yang mau menerapkan sekarang "komunisme"
di Indonesia. Makanya dia juga menuduh Roeslan mau "menasionalisasi a la
komunis"!!!! Ha...ha..ha On Monday, September 4, 2017 9:11 PM, "Roeslan
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Nampaknya bung Nesare ini telah menjadi murit setianya Orde baru Suharto,
sehingga kejangkitan penyakit Komunistophobi, ini tercermin dalam tulisannya
yang menyatakan bahwa Nasionalissi roeslan ala komunis. Wah hebat betul cuci
otak yang telah dilakukan oleh rezim militerfasis suharto, sampai sampai
seorsng terpelajar seperti Nesare tak bisa membedakan antara nasionalisasi
dengan komunisme.Setiap orang bilang Nasionalisasi lalu distempel Komunis. Ini
membutikan bahwa nesara itu sejatinya adalah murit yang paling setia pada Rezim
milkiter fasis Suharto. Saya tidak yakin bahwa Nesare bisa memahami apa yang
dutulis di Wikipedia Indonesia, bahwa NASIONALISASI ADALAH PROSES DI MANA
NEGARA MENGAMBIL ALIH KEPEMILIKAN SUATU PERUSAHAAN MILIK SWASTA ATAU ASUNG.
Mengambil alih itu artinya seluruh perusahaan (100%) disita tanpa bayar
sepeserpun. Kutipan Wikipedia Indonesia dibawah ini saya ambil dari Google
(bukan karangan saya). Sekarang ganti bung harus menjelaskan apa yang bung
maksud Nasionalisasi ala komunis harap bung jelaskan secara ilmiah!!! Ini
penting buat kita semua. Semoga bung bisa sembuh dari penyakit komunistophobi.
Roeslan. WIKIPEDIA INDONESISA
Nasionalisasi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasNasionalisasi adalah proses
di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu perusahaan milik swasta atau
asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negara yang bertindak sebagai
pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya menjadi pegawai negeri. Lawan
dari nasionalisasi adalah privatisasi. Von: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Gesendet: Sonntag, 3. September 2017 17:02
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki
Untung Hehehehehe dulu dengan sombongnya bilang nasionalisasi (eh
nasionalisasi yg ente maksud = beli saham) freeport. Sekarang rejim Jokowi
sudah setuju beli 51% saham yg duitnya gak tahu dari mana, eh ente ngomong ini
seperti menyuntik duit.Sombongnya (baca: gobloknya) minta ampun. Persoalan
freeport itu bukan hanya persoalan bisnis saja. Itu persoalan “Corporate
America” yg menjadi soko guru negara ente. Disinggung sedikit saja bisa ngamuk
negara ente. Kenapa ngamuk? Karena “Corporate America” itu adalah alat yg
digunakan utk menjajah dalam sejarah modern dunia ini terutama setelah menang
PD2.Baca tulisan chan yg gak sok tahu. Teknis main saham nya saja ente ngak
ngerti (mana ngerti ente kalau jual beli saham pakai blok blokan?!!). Belum
lagi isi perut dalamnya freeport. Begitu juga: kemampuan teknis Indonesia dalam
mengelola; apakah masih feasible utk dikelola; USA kalau marah akan ganggu RI
tidak plus serangan2 baik langsung maupun pre emptive dll. SUDAH DIAM KAN?!!!
KABUR KEMANA ENTE?!!! Ni baca tulisan ente yg dulu: 12/6/2015Oon,
nasionalisasi itu perlu biaya baik itu di BUMN-kan ataupun di provatisasi,
terkecuali Indonesia mau menjadi negara "tirai rotan".
---In [email protected], <nesare@...> wrote :Bung Roeslan ngerti tidak
apa yang dimaksud oleh jonathan dengan nasionalisasi Freeport itu? Ini tulisan
jonathan selanjutnya: Harga saham Freeport saat ini lagi murah2nya, ditambah
berita licensing tidak akan diperpanjang harganya bisa "dirt-cheap". Saat yang
tepat sekali untuk nasionalisasi. Nasionalisasi Freeport versi jonathan itu
adalah beli saham Freeport yang sedang murah.Dia ini lagi ngomong dalam konteks
neoliberal.Dari dulu jonathan ini sudah saya telanjangi bahwa dia itu bukan
democrat. Dia ngomongnya adalah registered democratic party di USA. Tetapi isi
sebetulnya, dia itu adalah anggota partai democrat krn unsur pragmatisme saja,
tetapi bukan idealisme. Jadi jonathan itu bukan orang kiri. Beda dengan bung
Roeslan yang memang orang kiri. Hati2 kalau menyetujui ide seseorang. Memangnya
ini yang dimaksud nasionalisasi bung Roeslan? SalamNesare From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, December 04, 2015 2:53 PM
To: [email protected]; 'Jonathan Goeij'
Subject: AW: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke
Persoalan Pokok: Neokolonialisme! Usulan yang bagus bung JG, saya juga
setuju, karena menasionalisasi Freeport itu sejalan dengan Pasal 33 UUD45.
Salam, Roeslan Von: [email protected] [mailto:[email protected]]
Gesendet: Freitag, 4. Dezember 2015 21:31
An: [email protected]
Betreff: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke
Persoalan Pokok: Neokolonialisme! Saya kok setuju Freeport di nasionalisasi,
dengan demikian kepentingan US di Papua akan berkurang banyak bahkan mungkin
tidak ada lagi, resolusi PBB agar diadakan referendum penentuan nasib sendiri
bisa gol karena tidak ada lagi negara besar yg menghalangi.
---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :
Karakter penguasa pemerintahan Indonesia sekarang ini komprador atau
bukan? Apa mungkin komprador mensita milik tuannya? From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Saturday, September 2, 2017 10:22 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki
Untung
Melihat apa yg akan dilakukan dgn divestasi 51% ini, kok sepertinya pihak
Indonesia jadinya kayak menyuntik dana. Freeport Indonesia go public di BEJ dan
telah terjamin ada yg beli 51% sahamnya.
---In [email protected], <SADAR@...> wrote :Dilihat sepintas apa yang
bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, apakah masalah Freeport,
tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu sederhana? Kalau begitu sederhana
kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan Freeport saling ngotot bertahan pada
pendapat masing-masing, dan diahri terakhir pihak Freeport baru ngalah dan
bersedia devestasi untuk bisa memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana
masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa?
RI atau Freeport yang lebih diuntungkan, ..? Saya melihat KESALAHAN pihak RI,
dari penandatanganan menyerahkan Freeport membuka tambang emas ini di tahun
1967! Dimana Suharto sepenuhnya menyerahkan pada Freeport tanpa ada usaha
memperjuangkan keuntungan/kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia sebagai
PEMILIK HARTA BUMI kekayaan Nusantara ini! Disini perbedaan PRINSIP antara
Suharto dan Deng saat jalankan politik buka-pintu, mengundang masuk
MODAL-ASING! Deng b erusaha dengan masuk modal-asing, rakyat TIongkok bisa
diuntungkan, belajar dan akhirnya menguasai usaha yang dijalankan itu! Tidak
lebih dari 20 tahun, rakyat Tiongkok bisa menguasai dan bikin sendiri segala
produksi yang dikerjakan modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip BERDIKARI,
KREATIF, rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan prinsip-prinsip teknologi yang
berhasil dikuasai itu! Sedang Suharto, TIDAK! Yang diperhitungkan berapa besar
KOMISI yang bisa masuk kantong sendiri, bagaimana kesejahteraan rakyat tidak
peduli, ... begitulah akhirnya rakyat banyak tetap menderita kemiskinan,
ekonomi nasional belum berhasil keluar dari lembah keterpurukkan sampai
sekarang. Yang menjadi problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021,
sudah bisa dan mampukah RI meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus
diperhitungkan serius oleh pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh
Freeport yang jumlahnya belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu,
tentu ada 2 cara, melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain.
Nampaknya RI memilih Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan
LEBIH BESAR pada RI! Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil
cara minta 51% saham dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport
sebagai jalan yang dianggap paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan
usaha sampai 2041. Dan jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai
kemana-mana! Dan sangat saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK
itu, kemungkinan juga tidak menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper
teknologi penampangan pada pihak pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa
menjalani sendiri usaha tambang emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS!
Salam,ChanCT From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] Sent: Saturday,
September 2, 2017 2:59 AMTo: Yahoogroups Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham
Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung Kelihatannya banyak yang bermata
jernih bisa melihat hal simple seperti ini. ---Ketiga, Redhi menilai pembelian
saham divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan
yang sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham
divestasi pun maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT
Freeport menjadi milik Pemerintah Indonesia....30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung
Editor: Adil Patawai AnarRAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam
Universitas Tarumanegara, Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan
melalui perundingan antara PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan
keuntungan bagi Pemerintah Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan
perundingan mengandung masalah. Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport
tidak sesuai dengan UU Minerba. Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui
penetapan WPN yang harus disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan
kepada BUMN. Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport
yang di waktu yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun.
Namun hingga saat ini belum ada progres terkait hal tersebut. "Toh hingga detik
ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah strategis untuk bisa
menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," ujar Redhi, dilansir
republika.co.id, Rabu (29/8/2017). Ketiga, Redhi menilai pembelian saham
divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang
sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun
maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport
menjadi milik Pemerintah Indonesia. Terkait divestasi saham oleh PT Freeport,
sesungguhnya dalam KK perpanjangan 1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT
Freeport yang harusnya pada tahun 2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah,
namun faktanya hingga detik ini kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga
direalisasikan PT Freeport. Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk
mengukuhkan kembali PT Freeport untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang
kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia sangat rendah.
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport
kepada generasi saat ini," ujar Redhi. #yiv9710945047 #yiv9710945047 --
#yiv9710945047ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp #yiv9710945047hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp #yiv9710945047ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp .yiv9710945047ad
{padding:0 0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp .yiv9710945047ad p
{margin:0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp .yiv9710945047ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-sponsor
#yiv9710945047ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-sponsor #yiv9710945047ygrp-lc #yiv9710945047hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-sponsor #yiv9710945047ygrp-lc .yiv9710945047ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9710945047
#yiv9710945047activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9710945047
#yiv9710945047activity span {font-weight:700;}#yiv9710945047
#yiv9710945047activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9710945047 #yiv9710945047activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9710945047 #yiv9710945047activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9710945047 #yiv9710945047activity span
.yiv9710945047underline {text-decoration:underline;}#yiv9710945047
.yiv9710945047attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9710945047 .yiv9710945047attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9710945047 .yiv9710945047attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9710945047 .yiv9710945047attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9710945047 .yiv9710945047attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9710945047 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9710945047 .yiv9710945047bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9710945047
.yiv9710945047bold a {text-decoration:none;}#yiv9710945047 dd.yiv9710945047last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9710945047 dd.yiv9710945047last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9710945047
dd.yiv9710945047last p span.yiv9710945047yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9710945047 div.yiv9710945047attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9710945047 div.yiv9710945047attach-table
{width:400px;}#yiv9710945047 div.yiv9710945047file-title a, #yiv9710945047
div.yiv9710945047file-title a:active, #yiv9710945047
div.yiv9710945047file-title a:hover, #yiv9710945047 div.yiv9710945047file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9710945047 div.yiv9710945047photo-title a,
#yiv9710945047 div.yiv9710945047photo-title a:active, #yiv9710945047
div.yiv9710945047photo-title a:hover, #yiv9710945047
div.yiv9710945047photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9710945047
div#yiv9710945047ygrp-mlmsg #yiv9710945047ygrp-msg p a
span.yiv9710945047yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9710945047
.yiv9710945047green {color:#628c2a;}#yiv9710945047 .yiv9710945047MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9710945047 o {font-size:0;}#yiv9710945047
#yiv9710945047photos div {float:left;width:72px;}#yiv9710945047
#yiv9710945047photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9710945047
#yiv9710945047photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9710945047
#yiv9710945047reco-category {font-size:77%;}#yiv9710945047
#yiv9710945047reco-desc {font-size:77%;}#yiv9710945047 .yiv9710945047replbq
{margin:4px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-mlmsg select, #yiv9710945047 input, #yiv9710945047 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-mlmsg pre, #yiv9710945047 code {font:115%
monospace;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mlmsg #yiv9710945047logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-msg
p#yiv9710945047attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-reco #yiv9710945047reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-sponsor
#yiv9710945047ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-sponsor #yiv9710945047ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-sponsor #yiv9710945047ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9710945047
#yiv9710945047ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9710945047