Pada Kamis, 7 September 2017 15:27, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> menulis:
 

     Iya ini yg dia tidak sadari.Saya bilang dia radikal, subjektif dan 
personal dll walaupun saya tidak bilang dia bela sesama ideologinya.Jelas 
tatyana ini personal subjektif. Wong dia bilang sendiri “Sedangkan Jonathan, 
ngapain saya harus mencerca dia seperti saya mencerca Chan?? Wong saya tidak 
pernah diserang Jonathan, komentar saya tidak mendapat bantahannya, saya tidak 
diejek atau dikatain atau diberi topi. Lha kan gila saya mencerca dan membenci 
orang yang tidak pernah menyinggung saya. Seandainya dia pura-pura atau musuh 
dalam selimut, atau orang demokrat, ya itu urusan dia.  Saya tidak merasa 
dirugikan oleh komentarnya di milis ini”.  Disini kan tatyana mau bilang kalau 
orang gak mau ribut sama dia, dia gak gubris. Ini personal. Dia double 
standard. Sama bung, dia caci maki krn:   
   - Bung juga caci maki/teriak2 sama dia.
   - Ideologi beda. Ini juga dia labelkan ke saya krn saya bilang saya 
kapitalis.
  Lucu kan?  Makanya saya sudah saya tulis sebelumnya bahwa radikalisme bisa 
bikin buta seseorang. Jelas dia buta bahwa jonathan yg salah (salahnya banyak 
sekali dari ngeyel ttg private vs public companies sampai2 bilang semua 
interest rate itu sama dll) masih dibela2 sama dia? Sekarang tatyana bilang 
sijonathan gak pernah menyerang dia, ngapain dia harus mencerca sijonathan?! 
Personal kan?!Wong jelas2 sijonathan itu hanyalah democrat ala USA yg kapitalis 
dibaik2i tetapi sama bung chan dimaki2 krn beda ideologi.Begitu juga sama saya, 
dan yg lain2, tatyana teriak2 “saya sudah tahu kamu berada dimana; antek2 
nekolim; pro imperialisme”.  Aneh gak?! Jadi bingung saya sekarang ini kenapa 
dia suka caci maki, apakah masalah ideologi, personal, subjektif, pribadi atau 
apa?Tapi saya tidak bingung utk mencari jawabannya. Kami tidak kenal satu sama 
lain dan tujuan saya hanya mau berdiskusi saja. Tidak lebih dari itu.  Nesare   
 From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, September 6, 2017 8:05 PM
To: Tatiana Lukman <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung    Eeeiiih, ... kok nenek yang satu ini jadi sentimen dan beeenciii 
banget sama gue, ya!!! Tapi awaaaas, lho, begitu kebablasan kebencian itu bisa 
berubah menjadi cintaaa, dan,... kalau nenek jatuh cintaaa gak akan bisa 
kecabut lagi! Hehehee, ... Salam-benci,ChanCT   From: Tatiana Lukman 
[email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, September 7, 2017 12:44 
AMTo: [email protected] ; [email protected] Subject: Re: AW: [GELORA45] 
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung   Ini orang bencinya 
setengah mati kepada Jonathan. Yang jelas itu bukan urusan saya! Tapi Ngatain 
orang lain subjektif, padahal dari komentarnya, orang bisa lihat bagaimana 
jalan pikirannya yang penuh dengan subjektivisme. Membantah bahwa dirinya TIDAK 
ingin orang lain menganggap Jonathan kiri. Tapi orang kan tidak goblok! Dari 
komentarnya, orang bisa tahu apa yang diinginkan. Dia ingin juga supaya saya 
mencerca Jonathan. Dia tidak ngerti kenapa saya mencerca Chan tapi tidak 
mencerna Jonathan. Ngatain orang lain buta tapi dirinya sendiri buta tidak bisa 
mengikuti diskusi dengan baik. Sudah bertahun-tahun saya berdebat dengan Chan, 
dan Chan selalu debat kusir, karena tidak bisa membantah argumentasi yang 
selalu kena ulu hatinya, maka dia selalu mengalihkan perhatian dari masalah 
pokok dan menyeret ke masalah-masalah lain. Chan jelas seorang remo pendukung 
Deng, pendukung kapitalisme dan penghisapan, oportunis dan renegad yang 
meninggalkan pikiran dan cita-citanya sendiri. Saya tidak pernah bilang Chan 
orang tengah. Saya memberi reaksi dan komentar atau bantahan karena tulisannya 
yang sangat menyesatkan. Sedangkan Jonathan, ngapain saya harus mencerca dia 
seperti saya mencerca Chan?? Wong saya tidak pernah diserang Jonathan, komentar 
saya tidak mendapat bantahannya, saya tidak diejek atau dikatain atau diberi 
topi. Lha kan gila saya mencerca dan membenci orang yang tidak pernah 
menyinggung saya. Seandainya dia pura-pura atau musuh dalam selimut, atau orang 
demokrat, ya itu urusan dia.  Saya tidak merasa dirugikan oleh komentarnya di 
milis ini.Kalau Chan jelas sekali di mana dia berdiri. Dalam soal Freeport 
saja, dia menyinggung, kalau kita menasionalisasi tanpa bayar, kan itu 
melanggar hukum WTO, ....Nah, padahal WTO adalah musuh rakyat!! WTO adalah alat 
kaum imperialis!! Kalau kita ikuti "logika" borjuis dan kapitalis Chan, maka 
rakyat tidak boleh bergerak dan melawan imperialisme serta semua lembaga 
internasionalnya seperti WTO, IMF, Bank Dunia dan segala macam Perjanjian 
Dagang Bebas baik bilateral maupun multilateral. Padahal ormas=ormas progresif 
bahkan pada tingkat internsional justru terus melakukan pendidikan dan gerakan 
penyadaran untuk membelejeti semua kebijakan dan kelicikan lembaga-lembaga 
imperialis tersebut... "Logika" revisionis dan kapitalis Chan menyuruh rakyat 
sabar, karena masih kecil dan tidak kuat melawan Imperialisme dengan semua 
lembaga yang sangat mahakuasa itu, maka harus menerima dulu penghisapan karena 
masih belum bisa dihapuskan...kasarnya jangan neko-neko!!Lantas bagaimana kita 
menilai semua pengorbanan rakyat sejak pemberontakan 1926!! Jutaan nyawa sudah 
melayang, penderitaan dan siksaan sudah diderita, apakah itu sia-sia dan 
mengajarkan kita untuk diam, sabar, menunggu rejeki dan belas kasihan tuan-tuan 
kapitalis dan imperialis!!! Go to hell with your logic!  Soal ideologi. Adalah 
kenyataan ideologi kita berbeda. Bagi saya, semua soal politik dan ekonomi 
punya dasar ideologi. Anda tidak setuju. Itu urusan anda. Bukan urusan saya, 
emangnya gue pikirin!! Sudah saya katakan, saya pengikut dan berusaha terus 
mempelajari Marxisme-Leninisme dan fikiran Mao Tsetung. Kalau anda ingin 
mengerti pandangan saya, maka seharusnyalah anda juga mempelajari dulu ilmu 
yang menjadi dasar pemikiran saya. Karena anda merasa sudah pinter dan tidak 
membutuhkan ilmu itu, maka tidak perlu mempelajarinya. Oleh karena itu anda 
tidak akan pernah mengerti apa lagi setuju dengan pikiran dan pendapat saya. 
Justru karena titik tolak kita sudah bertolak belakang, makanya saya sering 
katakan tidak perlu diteruskan diskusinya. Buat anda, saya buta, punya masalah 
dan sifat personal, subjektif, etc. Silahkan!  Contoh lain di mana pengertian 
kita juga berbeda. anda bilang nasionalisasi hanya dilakukan dalam saat 
revolusi, atau komunisme. Sama sekali tidak! Pengertian kita tentang revolusi 
juga berbeda Mosadekh adalah PM hasil pilihan yang syah dan dia juga melakukan 
landreform, dan menasionalisasi minyak. apakah ketika itu ada revolusi di 
Iran!! Sama sekali tidak!! Tidak ada revolusi tapi ada kontra-revolusi oleh 
CIA. Maka digulingkanlah Mosadekh! Ketika BK melakukan nasionalisasi, bagi saya 
ketika itu juga tidak ada Revolusi. Ada sebuah situasi revolusioner!! tapi 
bukan revolusi!!  Dan mengapa BK digulingkan? Juga karena dia dicap KOMUNIS 
karena politiknya yang anti nekolim. BK bukan komunis, tapi bagi kaum 
imperialis kebijakan politik BK sudah cukup bahkan terlalu "kiri" sehingga 
mereka sudah mengaggap dia "komunis". Ada beberapa penulis Amerika yang justru 
mengkritik analisa dan stempel "komunis" yang dijatuhkan pada BK...  Buat anda 
pengetahuan ekonomi saya cetek... Memang saya bukan seroang ahli ekonomi 
seperti Menkeu..Saya berusaha mempelajari  ekonomi politik Marxis yang saya 
anggap cukup untuk memberi saya kemampuan  melihat dari tulisan dan komentar 
anda, dimana anda berdiri dan kepada siapa berpihak. Semakin kelihatan dan anda 
sendiri menyatakan pendapat positif terhadap Chan. Nah, itu semakin membuktikan 
bahwa pendapat saya tentang anda betul!!   On Tuesday, September 5, 2017 12:58 
AM, "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:    
Bukan!Saya bukan mau orang lain tidak melihat sijonathan sbg orang kiri.Bagi 
saya jelas dia bukan orang kiri. Dia itu orang democrat. Ini sosialisme 
ditengah yg bung benci. Sadar tidak? chan juga ditengah bung cerca setengah 
mati. Sijonathan juga ditengah bung anggap temen. Ini yg saya ingin katakan. 
Jelas roeslan tidak tahu itu. Ini terbukti dari diskusi yg dulu dan saya cuplik 
belum lama ini. Apakah saya salah mengatakan bung punya masalah pribadi dan 
subjektif? Saya yakin tidak. Asumsi saya jelas bung anti chan ttp manggut2 dgn 
sijonathan. Bung bilang tidak tahu sijonathan kiri atau kanan. Lah selama ini 
memangnya bung bukannya mengiyakan setiap tulisannya sijonathan? Sudah banyak 
yg saya kupas. Kalau saya tanya dan ajak diskusi bung kabur. Setiap yg saya 
tulis itu adalah benar krn membuka kesalahan sijonathan terutama lagi ngomong 
bisnis ekonomi. Kan bung bawa2 semua diskusi itu ke ranah ideologi. Ini kan 
trade mark bung!  Sedikit2 masalah bisnis ekonomi bung bawa ke ideologi. Saya 
dengan sabar membeberkan artinya bisnis ekonomi yg fundamental saja sijonathan 
banyak salahnya. Jelas sekali pengatahuan bung dan roeslan ttg bisnis ekonomi 
itu cetek. Sayangnya bung bela2 dia dan menggeneralkan dgn kalimat2 seperti 
ini: “saya sudah tahu nesare dipihak mana” dll. Seakan2 bung tahu saya itu 
dikanan dan lebih lucu lagi oligarki. Dari mana bung bisa tahu saya itu setuju 
dgn oligarki dan dikanan? Mana ada tulisan/ide saya yg mengarah kesitu? Saya 
sudah diskusi panjang lebar dengan jeffry winters ttg oligarchy. Bung gak tahu 
saya. Jangan meraba2. Coba diskusi. Lihat pendapat lawan diskusan bung. Jangan 
langsung melabrak orang lain terutama yg berlawanan ideologi. Ini juga yg bikin 
bung buta. Bung tidak sadar dan tidak mengerti ketika saya mengkritik bung 
bahwa bung buta. Disinila juga butanya bung atas sijonathan. Sekarang bung lari 
dgn menulis “Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada 
Jonathan sebagai orang kiri atau kanan”. Coba pikir baek2 klaim bung thd chan 
dan sijonathan! Lalu simak baek2 dgn ide2 bung dalam mengkaitkan bisnis ekonomi 
dan membela rakyat dengan ideologi. Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, September 4, 2017 3:36 PM
To: [email protected]; [email protected]; Roeslan 
<[email protected]>
Cc: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>
Subject: Re: AW: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung Nesare ini ingin supaya orang TIDAK melihat Jonathan sebagai orang kiri. 
Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada Jonathan sebagai 
orang kiri atau kanan. Kualifikasi yang jelas hanya saya kasih kepada Chan 
sebagai remo, yang memang saya kenal lama dan saya tahu isi kepalanya sejak 
lama dan saya saksikan sekarang bagaimana perubahan isi kepalanya. Hanya dalam 
diskusi sering kali Jonathan mengerti dan menyetujui berita yang saya 
postingkan. Saya dapat topi juga dari Nesare: kiri radikal, ekstrim kiri. 
Sekarang ditambah lagi, saya punya masalah dengan sifat pribadi yang membuat 
saya subjektif!! Ooo, malah saya eprnah dituduh "fundamentalis"!!! 
Ha...ha...Sedangkan Nesare sendiri mengaku pendukung nasakom Tapi melihat 
selama ini pendapat yang ia tampilkan dalam diskusi langsung dan tak langsung, 
saya bertanya-tanya sendiri di mana sifatnya yang mendukung Nasakom. Yang jelas 
sangat menonjol caranya untuk "membantu" rakyat, yaitu dengan mendukung 
kebijakan Jokowi: dukung penanaman modal asing, "pembangunan" yang sebetulnya 
mengabdi kelas menengah keatas dan para oligarki yang berkuasa dan para pemodal 
asing dan swasta.  Itu sudah cukup bagi saya untuk mengetahui jalan pikiran si 
Nesare. Jadi Nesare merasa dirinya kiri, dan kiri yang benar. sedangkan orang 
lain seperti saya adalah kiri radikal yang mau menerapkan sekarang "komunisme" 
di Indonesia. Makanya dia juga menuduh Roeslan mau "menasionalisasi a la 
komunis"!!!! Ha...ha..ha On Monday, September 4, 2017 9:11 PM, "Roeslan 
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:   
Nampaknya bung Nesare ini telah menjadi murit setianya Orde baru  Suharto, 
sehingga kejangkitan penyakit Komunistophobi, ini tercermin dalam tulisannya 
yang menyatakan bahwa Nasionalissi roeslan ala komunis.  Wah hebat betul cuci 
otak yang telah dilakukan oleh rezim militerfasis suharto, sampai sampai 
seorsng terpelajar seperti  Nesare tak bisa  membedakan antara nasionalisasi 
dengan komunisme.Setiap orang bilang Nasionalisasi lalu distempel Komunis. Ini 
membutikan bahwa nesara itu sejatinya adalah murit yang paling setia pada Rezim 
milkiter fasis Suharto. Saya tidak yakin bahwa Nesare  bisa memahami apa yang 
dutulis  di Wikipedia Indonesia, bahwa NASIONALISASI ADALAH PROSES DI MANA 
NEGARA MENGAMBIL ALIH KEPEMILIKAN SUATU PERUSAHAAN MILIK SWASTA ATAU ASUNG.  
Mengambil alih itu artinya seluruh perusahaan (100%) disita tanpa bayar 
sepeserpun. Kutipan Wikipedia Indonesia dibawah ini saya ambil dari Google 
(bukan karangan saya). Sekarang ganti bung harus menjelaskan apa yang bung 
maksud Nasionalisasi ala komunis harap bung jelaskan secara ilmiah!!! Ini 
penting buat kita semua.  Semoga bung bisa sembuh dari penyakit komunistophobi. 
Roeslan.  WIKIPEDIA INDONESISA 
Nasionalisasi 
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasNasionalisasi adalah proses 
di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu perusahaan milik swasta atau 
asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negara yang bertindak sebagai 
pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya menjadi pegawai negeri. Lawan 
dari nasionalisasi adalah privatisasi.  Von: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 3. September 2017 17:02
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   Hehehehehe dulu dengan sombongnya bilang nasionalisasi (eh 
nasionalisasi yg ente maksud = beli saham) freeport. Sekarang rejim Jokowi 
sudah setuju beli 51% saham yg duitnya gak tahu dari mana, eh ente ngomong ini 
seperti menyuntik duit.Sombongnya (baca: gobloknya) minta ampun. Persoalan 
freeport itu bukan hanya persoalan bisnis saja. Itu persoalan “Corporate 
America” yg menjadi soko guru negara ente. Disinggung sedikit saja bisa ngamuk 
negara ente. Kenapa ngamuk? Karena “Corporate America” itu adalah alat yg 
digunakan utk menjajah dalam sejarah modern dunia ini terutama setelah menang 
PD2.Baca tulisan chan yg gak sok tahu. Teknis main saham nya saja ente ngak 
ngerti (mana ngerti ente kalau jual beli saham pakai blok blokan?!!). Belum 
lagi isi perut dalamnya freeport. Begitu juga: kemampuan teknis Indonesia dalam 
mengelola; apakah masih feasible utk dikelola; USA kalau marah akan ganggu RI 
tidak plus serangan2 baik langsung maupun pre emptive dll. SUDAH DIAM KAN?!!! 
KABUR KEMANA ENTE?!!!  Ni baca tulisan ente yg dulu: 12/6/2015Oon, 
nasionalisasi itu perlu biaya baik itu di BUMN-kan ataupun di provatisasi, 
terkecuali Indonesia mau menjadi negara "tirai rotan".

---In [email protected], <nesare@...> wrote :Bung Roeslan ngerti tidak 
apa yang dimaksud oleh jonathan dengan nasionalisasi Freeport itu? Ini tulisan 
jonathan selanjutnya: Harga saham Freeport saat ini lagi murah2nya, ditambah 
berita licensing tidak akan diperpanjang harganya bisa "dirt-cheap". Saat yang 
tepat sekali untuk nasionalisasi. Nasionalisasi Freeport versi jonathan itu 
adalah beli saham Freeport yang sedang murah.Dia ini lagi ngomong dalam konteks 
neoliberal.Dari dulu jonathan ini sudah saya telanjangi bahwa dia itu bukan 
democrat. Dia ngomongnya adalah registered democratic party di USA. Tetapi isi 
sebetulnya, dia itu adalah anggota partai democrat krn unsur pragmatisme saja, 
tetapi bukan idealisme. Jadi jonathan itu bukan orang kiri. Beda dengan bung 
Roeslan yang memang orang kiri. Hati2 kalau menyetujui ide seseorang. Memangnya 
ini yang dimaksud nasionalisasi bung Roeslan? SalamNesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, December 04, 2015 2:53 PM
To: [email protected]; 'Jonathan Goeij'
Subject: AW: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!   Usulan yang bagus bung JG, saya juga 
setuju, karena menasionalisasi Freeport itu sejalan dengan Pasal 33 UUD45. 
Salam,  Roeslan Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Freitag, 4. Dezember 2015 21:31
An: [email protected]
Betreff: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke 
Persoalan Pokok: Neokolonialisme!  Saya kok setuju Freeport di nasionalisasi, 
dengan demikian kepentingan US di Papua akan berkurang banyak bahkan mungkin 
tidak ada lagi, resolusi PBB agar diadakan referendum penentuan nasib sendiri 
bisa gol karena tidak ada lagi negara besar yg menghalangi.

---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :

Karakter penguasa pemerintahan Indonesia sekarang ini komprador atau
bukan? Apa mungkin komprador mensita milik tuannya? From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, September 2, 2017 10:22 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   
Melihat apa yg akan dilakukan dgn divestasi 51% ini, kok sepertinya pihak 
Indonesia jadinya kayak menyuntik dana. Freeport Indonesia go public di BEJ dan 
telah terjamin ada yg beli 51% sahamnya.

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :Dilihat sepintas apa yang 
bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, apakah masalah Freeport, 
tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu sederhana? Kalau begitu sederhana 
kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan Freeport saling ngotot bertahan pada 
pendapat masing-masing, dan diahri terakhir pihak Freeport baru ngalah dan 
bersedia devestasi untuk bisa memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana 
masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa? 
RI atau Freeport yang lebih diuntungkan, ..? Saya melihat KESALAHAN pihak RI, 
dari penandatanganan menyerahkan Freeport membuka tambang emas ini di tahun 
1967! Dimana Suharto sepenuhnya menyerahkan pada Freeport tanpa ada usaha 
memperjuangkan keuntungan/kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia sebagai 
PEMILIK HARTA BUMI kekayaan Nusantara ini! Disini perbedaan PRINSIP antara 
Suharto dan Deng saat jalankan politik buka-pintu, mengundang masuk 
MODAL-ASING! Deng b erusaha dengan masuk modal-asing, rakyat TIongkok bisa 
diuntungkan, belajar dan akhirnya menguasai usaha yang dijalankan itu! Tidak 
lebih dari 20 tahun, rakyat Tiongkok bisa menguasai dan bikin sendiri segala 
produksi yang dikerjakan modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip BERDIKARI, 
KREATIF, rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan prinsip-prinsip teknologi yang 
berhasil dikuasai itu! Sedang Suharto, TIDAK! Yang diperhitungkan berapa besar 
KOMISI yang bisa masuk kantong sendiri, bagaimana kesejahteraan rakyat tidak 
peduli, ... begitulah akhirnya rakyat banyak tetap menderita kemiskinan, 
ekonomi nasional belum berhasil keluar dari lembah keterpurukkan sampai 
sekarang.  Yang menjadi problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021, 
sudah bisa dan mampukah RI meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus 
diperhitungkan serius oleh pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh 
Freeport yang jumlahnya belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu, 
tentu ada 2 cara, melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain. 
Nampaknya RI memilih Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan 
LEBIH BESAR pada RI! Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil 
cara minta 51% saham dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport 
sebagai jalan yang dianggap paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan 
usaha sampai 2041. Dan jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai 
kemana-mana! Dan sangat saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK 
itu, kemungkinan juga tidak menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper 
teknologi penampangan pada pihak pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa 
menjalani sendiri usaha tambang emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS! 
Salam,ChanCT  From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] Sent: Saturday, 
September 2, 2017 2:59 AMTo: Yahoogroups Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham 
Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung   Kelihatannya banyak yang bermata 
jernih bisa melihat hal simple seperti ini. ---Ketiga, Redhi menilai pembelian 
saham divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan 
yang sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham 
divestasi pun maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT 
Freeport menjadi milik Pemerintah Indonesia....30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung
Editor: Adil Patawai AnarRAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam 
Universitas Tarumanegara, Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan 
melalui perundingan antara PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan 
keuntungan bagi Pemerintah Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan 
perundingan mengandung masalah. Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport 
tidak sesuai dengan UU Minerba. Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui 
penetapan WPN yang harus disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan 
kepada BUMN. Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport 
yang di waktu yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun. 
Namun hingga saat ini belum ada progres terkait hal tersebut. "Toh hingga detik 
ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah strategis untuk bisa 
menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," ujar Redhi, dilansir 
republika.co.id, Rabu (29/8/2017). Ketiga, Redhi menilai pembelian saham 
divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang 
sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun 
maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport 
menjadi milik Pemerintah Indonesia. Terkait divestasi saham oleh PT Freeport, 
sesungguhnya dalam KK perpanjangan 1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT 
Freeport yang harusnya pada tahun 2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah, 
namun faktanya hingga detik ini kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga 
direalisasikan PT Freeport. Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk 
mengukuhkan kembali PT Freeport untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang 
kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia sangat rendah. 
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport 
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport 
kepada generasi saat ini," ujar Redhi.     #yiv9710945047 #yiv9710945047 -- 
#yiv9710945047ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 
0;padding:0 10px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp #yiv9710945047hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp #yiv9710945047ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp .yiv9710945047ad 
{padding:0 0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp .yiv9710945047ad p 
{margin:0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mkp .yiv9710945047ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-sponsor 
#yiv9710945047ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-sponsor #yiv9710945047ygrp-lc #yiv9710945047hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-sponsor #yiv9710945047ygrp-lc .yiv9710945047ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9710945047
 #yiv9710945047activity span {font-weight:700;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9710945047 #yiv9710945047activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9710945047 #yiv9710945047activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9710945047 #yiv9710945047activity span 
.yiv9710945047underline {text-decoration:underline;}#yiv9710945047 
.yiv9710945047attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9710945047 .yiv9710945047attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9710945047 .yiv9710945047attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9710945047 .yiv9710945047attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9710945047 .yiv9710945047attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9710945047 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9710945047 .yiv9710945047bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9710945047 
.yiv9710945047bold a {text-decoration:none;}#yiv9710945047 dd.yiv9710945047last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9710945047 dd.yiv9710945047last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9710945047 
dd.yiv9710945047last p span.yiv9710945047yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9710945047 div.yiv9710945047attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9710945047 div.yiv9710945047attach-table 
{width:400px;}#yiv9710945047 div.yiv9710945047file-title a, #yiv9710945047 
div.yiv9710945047file-title a:active, #yiv9710945047 
div.yiv9710945047file-title a:hover, #yiv9710945047 div.yiv9710945047file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9710945047 div.yiv9710945047photo-title a, 
#yiv9710945047 div.yiv9710945047photo-title a:active, #yiv9710945047 
div.yiv9710945047photo-title a:hover, #yiv9710945047 
div.yiv9710945047photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9710945047 
div#yiv9710945047ygrp-mlmsg #yiv9710945047ygrp-msg p a 
span.yiv9710945047yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9710945047 
.yiv9710945047green {color:#628c2a;}#yiv9710945047 .yiv9710945047MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9710945047 o {font-size:0;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047photos div {float:left;width:72px;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9710945047
 #yiv9710945047reco-category {font-size:77%;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047reco-desc {font-size:77%;}#yiv9710945047 .yiv9710945047replbq 
{margin:4px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-mlmsg select, #yiv9710945047 input, #yiv9710945047 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-mlmsg pre, #yiv9710945047 code {font:115% 
monospace;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-mlmsg #yiv9710945047logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-msg 
p#yiv9710945047attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-reco #yiv9710945047reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-sponsor 
#yiv9710945047ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-sponsor #yiv9710945047ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-sponsor #yiv9710945047ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9710945047 #yiv9710945047ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9710945047 
#yiv9710945047ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9710945047 

   

Kirim email ke