Ada baiknya juga anda baca tulisan di bawah. Mengapa begitu agresif Tiongkok 
mencari dan membangun pangkalan militer (yang sering diselubungi dengan 
berbagai "selimut")?.  Dulu, pada jaman Mao, Tiongkok, tidak saja menjalin 
hubungan diplomatis- kenegaraan dengan negara lain, tapi juga aktif menggalang 
hubungan dan persatuan dengan organisasi rakyat progresif anti-imperialis di 
berbagai negeri. Perubahan besar terjadi ketika Deng xiaoping naik tahta. 
Organisasi dan orang-orang progresif-komunis diusir dari Tiongkok (boleh 
tinggal di Tiongkok dengan syarat tidak melakukan kegiatan politik!).. Dan pada 
Kongres PKT (tidak ingat nomer dan tahun berapa) partai yang diundang termasuk 
partai GOLKAR. Yang memberitakan ini adalah almarhum Suar Suroso. Betul sebelum 
pembebasan Tiongkok dihina, dibully oleh kekuatan imperialis. Tapi perhatikan 
sekarang bagaimana sikap Tiongkok terhadap negeri tetangganya yang bersengketa 
atas pulau-pulau di Laut Tiongkok Selatan. Tentu anda tahu bahwa di daerah yang 
masih jadi sengketa, Tiongkok sudah membangun pangkalan militer. Lihat juga 
video di bawah ini.
Laos: On the Borders of the Empire - People and Power

  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Laos: On the Borders of the Empire - People and Power
 Laos: On the Borders of the Empire - People and Power Mandarin is the language 
of choice among its residents and...  |   |

  |

  |

 


| China eyes 18 overseas naval bases |

 
| These developments are in sync with China’s much pronounced Maritime Silk 
Route strategy. |

 
|  |
|  | With the recent challenging of the notion of the Indian Ocean Region (IOR) 
being India's "strategic backyard", China is gradually upping the ante in the 
maritime realm around India — a traditional strategic nerve centre for New 
Delhi.. Beijing is sending a tacit signal, wherein it "recognises India's 
special role in stabilising the strategic Indian Ocean Region, but the 
perception that it is India's 'backyard' may result in clashes...."The caution 
thrown in by China needs to be read in conjunction with the cumulative maritime 
activity of the PLA Navy (PLAN) and its mounting forays into the Indian Ocean — 
the third largest water body in the world. The expanding strategic naval 
footprint in the Indian Ocean by means of acquiring more maritime bases and 
berthing facilities is a core pillar of China's ports Policy. The PLAN's 
presence and deployment in the IOR have been on the rise since 2014, when a 
Song-class conventional submarine docked in the Colombo harbour along with a 
Ming-class diesel-electric nuclear submarine. Striking, was the fact, that the 
submarine docked at Colombo's South Container Terminal that is built, run, and 
controlled by China Merchants Holdings — thereby raising queries as to why did 
it not choose to dock at the Sri Lanka port Authority in Colombo, which is 
mandated to accommodate foreign military vessels? The emphasis to dock at a 
minuscule "Chinese facility" well within a Sri Lankan administered harbour, 
merits careful analysis.Given its strategic placement, Sri Lanka is fast 
becoming the pivot of rising Chinese naval presence in the IOR, in that, China 
also has a substantial controlling stake in the Hambantota port, with Colombo 
agreeing to grant Chinese state-owned companies operating rights to as many as 
four berths in exchange for an easing of loan conditions. Besides, there are 
unconfirmed reports of construction of a Chinese-run aircraft maintenance 
facility near Hambantota in order to service PLAAF assets based in Sri Lanka. 
In neighbouring Pakistan, the docking of a Chinese submarine in Karachi, 
following the handing over of the port's operational control to China Overseas 
port Holdings is another step towards consolidating Chinese permanent naval 
presence in South Asia.These developments, significantly, are in sync with 
China's much pronounced Maritime Silk Route strategy — a prominent feature of 
the upcoming 13th Five-Year Plan (2016-2020). The maritime route is a proposed 
sea network of ports, coastal infrastructure projects beginning in Quanzhou in 
the Fujian province and culminating in the northern Mediterranean Sea. By 
virtue of this fresh strategy, Beijing seeks to gain greater access to the 
strategic pathways of the Indian Ocean, alleviated access to the Gulf oil — 
which consequently shall reduce its dependence on the passage through the 
Straits of Malacca — a key potential vulnerability for China in the event of a 
future conflict.China recognises fully well that in order to boost its naval 
power projection capability, it will have to gain greater access to ports and 
berthing facilities. This is being increasingly reflected with China's covert 
strategy of granting huge loans to smaller coastal island nations that are in 
dire need for developmental funds to improve infrastructure. The pattern that 
China is following, almost unvaryingly for handing out these loans, is that 
there are "no conditions and/or transparency measures" while issuing the loan. 
As soon as the island nation in question reaches the stage where it is unable 
to repay the loan on time, China thereafter "offers" to "waive off/relax" loan 
conditions in exchange for a "few berths" for that particular naval facility. 
The Maldivian project is a case in point, in which China is developing the 
iHavan Integrated Development Project in the northernmost main sea line of 
communication joining Southeast Asia and China to West Asia and Europe. The 
iHavan project is riding on huge concessional loans/aid financing from China 
and it is being forecast that Maldives shall almost certainly default on 
payments, thereby allowing China to seize a few berthing facilities there.This 
pattern could well be adopted in the future with many other countries, 
especially since official Chinese publications including Xinhua have advocated 
and "advised" the PLA Navy to build as many as 18 overseas naval military bases 
in the greater Indian Ocean area, possibly including: Chongjin port (North 
Korea), Moresby port (Papua New Guinea), Sihanoukville port (Cambodia), Koh 
Lanta port (Thailand), Sittwe port (Myanmar), Dhaka port (Bangladesh), Gwadar 
port (Pakistan), Hambantota port (Sri Lanka), Maldives, Seychelles, Djibouti 
port (Djibouti), Lagos port (Nigeria), Mombasa port (Kenya), Dar-es-Salaam port 
(Tanzania), Luanda port (Angola) and the Walvis Bay port (Namibia).The long 
shadow of China's ports policy in the Indian Ocean being currently driven and 
characterised by both, state- and private-sponsored "infrastructure 
investment", foretells strategic ramifications militarily as these facilities 
shall end up becoming communication and surveillance facilities, in addition to 
being repair and replenishment centres for the Chinese Navy — underscoring the 
intransigent course of Beijing's influence in South Asia and the Indian Ocean. |

 

    On Wednesday, February 14, 2018 5:34 AM, "Chalik Hamid 
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

      

   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: kh djie [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Terkirim: Rabu, 14 Februari 2018 02.44.31 GMT+1Judul: 
[GELORA45] 
     Dari milis lain :Anda benar.  Tiongkok sepanjang sejarahnya boleh dibilang 
tidak pernah menyerang negara orang lain seperti apa yang Ameika lakukan 
sesudah PD II, dam yang diserang bahkan ribuan kilometer jauhnya dari 
perbatasannya sendiri.  Ini sangatlah ironis, karena Amerika selalu menakuti 
bahaya Komunis, tapi behaya itu hanya momok belaka, karena tidak ada negara2 
Komunis yang menyerang negara lain dan bahkan Amerika sendiri yang malah 
menyerang baik negara Komunis maupun tidak.  Jadi fenomana apa ini?  Inilah 
yang disebut fenoena maling teriak maling.  Juga fenomena musang berbulu ayam.  
Jadi dibalik tindak tanduk Amerika sesudah PD II ini sebenarnya adalah suatu 
niat untuk memperoleh hegemony.  Mula2 dengan dikipasin Amerika, memang cukup 
banyak negara2 yang takut bahaya Komunis.  Akan tetapi sesadah sekian lama 
hantu Komunis itu tidak datang2, dan bahkan yang ada adalah serangan hantu 
bermerek “Amerika”, maka dunia menjadi sadar bahwa ini adalah hantu yang teriak 
hantu.  Sebab yang bereriak kumunis itu malah yang menyerang negara2 yang 
komunis maupun tidak.   Itulah sebabnya aku katakan NATO sudah tidak lagi 
relevant, karena tujuan semula dari NATO adalah untuk membendung bahaya Komunis 
dan ternyata bahaya itu adalah “made in USA”. Relevansi NATO sudah tidak ada 
lagi.  Tetapi sekarang NATO mau dibelokkan untuk membasmi terrorisme dan 
diseret oleh Amerika untuk menyerang negara2 Timur Tengah dengan alsan bohong 
yang di-cari2 padahal hanya untuk mengamankan kepentingan Amerika atas minyak 
bumi.  Pendek kata untuk memperjuangkan American hegemony.  Sekutu2 Amerika di 
Eropah Barat tidak dapat apa2 selain banjirnya pengungsi.  Semua alasan yang 
dikemukakan Amerika, termasuk juga untuk membasmi terrorisme adalah bohong 
belaka, karena kenyataannya Amerika malah kerjasama dengan terrorists seperti 
ISIS di Syria dan Al Khaeda di Afghanistan, lalu sekarang terrorist Kurdi.  
Lalu juga berusaha untuk melindungi terrorist Uighur yang lari dari Thailand 
dan ditangkap di Malaysia.  Ini sudah nyata2 memang terjadi dan sudah tidak 
bisa lagi dibantah dengan cara apapun juga.  Seperti juga apa yang aku katakan: 
 Orang tidak bisa menyembunyikan sebuah gunung dengan selembar sapu tangan. 
Soal kemajuan terknologi termasuk teknologi persenjataan Tiongkok seperti 
sekarang ini adalah juga suatu kenyataan.  Walaupun Tiongkok gembar gembor, 
tidak gembar gembor juga Amwerika dengan jaringan spionasenya yang kuat, 
pastilah juga sudah tahu.  Yang belum tahu mungkin negara2 lain diluar Amerika, 
katakanlah seperti negara2 Asia yang lain dan Afrika.  Jelas sekali tidak perlu 
di-tutup2i bahwa itu juga adalah propaganda Tiongkok agar negara2 lain juga 
menjadi tahu bahwa Tiongkok yang sekarang bukan lagi Tiongkok yang dulu dihina 
dan di bully ol;eh negara2 Barat, sampai ada papan pengumuman di Taman Huangpu 
ditepi sungai Huangpu di Shanghai yang bertuliskan: “Anjing dan orang Cina 
dilarang masuk!”.  Coba kita bayanglkan betapa kurang ajarnya dan betapa 
menghinanya serta betapa rasa sakit hati yang ditimbulkannya.  Dorang lupa 
bahwa sakit hati seperti itu bisa memicu suatu tindakan nyata untuk mencegah 
terjadinya lagi kekurang ajaran seperti itu.  Ternyata juga embargo, terutama 
embargo teknologi tinggi terjhadap Tiongkok sudah menjadi backfire yang 
menimbulkan kesadaran di Tiongkok bahwa dorang harus tolong diri sendiri.  
Sekarang baru dorang lihat hasil dari embargo itu.  Tiongkok sudah bangun dan 
menghasilkan barang2 dengan teknologi yang jauh lebih tinggi dari yang 
diembargo.  Antara lain, komputer tercepat  di  dunia.  Quantum technoligy dan 
lain2.  Lalu Amerika menuduh Tiongkok mengcopy technology Amerika, melakukan 
mata2 terchnologi terhadap Amerika.  Ini logikanya dimana?  Negara yang 
computernya paling cepat didunia mau curi teknology komputer yang lebaih rendah 
kecepatannya?  Negara yang sudah punya quangtum technology mau curi quantum 
technology dari Amerika, padahal di Amerika sendiri belum punya?   Kalo ini mau 
dibilang propaganda, ini adalah propaganda yang paling bodoh di seluruh dunia, 
karena disini logika di-balik2 tidak karu2an..  Kalo ada yang mau bantah, coba 
saja, kalo tidak ditertawakan orang. Dunia sekarang sudah berubah, Tiongkok 
tidak bisa dibully lagi tapi dorang di negara2 Barat masih belum bangun2 juga, 
mentality Perang Dingin masih tetap hidup.   Ide kolonialisme & imperilaisme 
masih tetap hidup, Amerika bertujuan bahwa denga kekuatan persenjataan, akan 
bisa mengkololialisasi seluruh dunia dan membuat seluruh dunia menjadi 
vasalnya.  Itulah sebabnya Amerika selalu ingin menjadi super power number one 
dan tidak pernah sadar bahwa ini hanyalah semacam apa yang dikatakan orang 
“mimpi pagi” yang akan segera buyar karena seharusnya akan segera bangun.  Ikan 
besar yang mau makan ikan2 yang lebih kecil harusnya bisa melihat kenyataan 
bahwa ikan2 yang tadinya kecil sekarang sudah besar dan tidak lagi gampang 
ditelan. Sekarang kita bisa bertanya:1..     Setelah Polisi Dunis melakukan 
kejahatan perang.2.    Setelah Kampiun Demokrasi, mengahancurkan demokrasi (di 
Iran, Indonesia dll.)3.    Setelah Pelindung Hak Azasi Manusia dan Tukang 
Kritik negara2 yang melanggar Hak Azasi Manusia melakukan sendiri Human Rights 
abuse (di Guantanamo, Abu Ghraib)4.    Setelah Tukang Kritik negara2 yang 
melanggar Hukum dengan membunuh orang2 yang bahkan belum diadili, juna 
melakukan sendiri pembunuhan orang2 yang belum diadili dengan drone (di 
Pakistan & Afghanistan)5.    Setelah Amerika yang kasi takut negara2 dengan 
bahaya Komunis, malah menyerang negara komunis (Vietnam & Korea Utara), bahkan 
negara2 Islam di Timur Tengah yang ribuan kilometer jauhnya dari negaranya.  
Termasuk penyerangan Iraq dengan alasan yang 100% bohong6.    Setelah Amerika 
ver-kaok2 mau melakukan pembasmian terrorisme, lalu malah terang2an menlakukan 
senditi kerjasama dengan tererorist dan membiayai terrorisme (di Aghanistan dan 
Syria).  Lalu malah membela terrorists Uighur uang lari dari penjara 
Thailand7..    Setelah Amerika menyiapkan mesin2 perang yang nilainya lebih 
dari 6 kali dari total persenjataan negara2 dibawahnya.8.    Setelah Amerika 
membangun basis2 miloiter yang jumlahnya ratusan di seluruh dunia.9.    Setelah 
Amerika melakukan intervensi politik di negara2 bekas Uni Siovyet (Ukraina & 
Krimea)10. Setelah Amerika menuduh negara2 lain pakai senjata kimia & senjata 
pemusnah massal, lalu Amerika sendiri pakai senjata kimia (agent orange di 
Vietnam)11. Setelah Amerika menuduh negara2 lain (Tiongkok & Rusia) melakukan 
hacking, penyadapan dan spionase terhadap mAmerika, lalu ternyata Amerika 
sendirti yang me-mata2i banyak negara termasuk konco2nya sendiri di Eropah.12. 
Setelah Gen. Wesley Clark memberikan testimony bahwa jauh sebelum perang Irak, 
ia mendengan di Pentagon bahwa Amerika sudah biukin planning untuk menyerang 7 
negara dalam jangka waktu 5 tahun13. Setelah anda membaca di websites berikut 
negara mana yang merupakan ancaman paling besar terhadap perdamaian dunia:      
   https://www.google. com/search?q=hich+counr%3Dtry+ 
is+r%3Dthe+biggest++threat+to+ world+peace%      3F&ie=utf-8&oe=utf-8&client= 
firefox-b 
      #yiv5026582130 #yiv5026582130 -- #yiv5026582130ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-mkp #yiv5026582130hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-mkp #yiv5026582130ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-mkp .yiv5026582130ad 
{padding:0 0;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-mkp .yiv5026582130ad p 
{margin:0;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-mkp .yiv5026582130ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-sponsor 
#yiv5026582130ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-sponsor #yiv5026582130ygrp-lc #yiv5026582130hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-sponsor #yiv5026582130ygrp-lc .yiv5026582130ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5026582130 #yiv5026582130actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5026582130
 #yiv5026582130activity span {font-weight:700;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv5026582130 #yiv5026582130activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5026582130 #yiv5026582130activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv5026582130 #yiv5026582130activity span 
.yiv5026582130underline {text-decoration:underline;}#yiv5026582130 
.yiv5026582130attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv5026582130 .yiv5026582130attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv5026582130 .yiv5026582130attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5026582130 .yiv5026582130attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5026582130 .yiv5026582130attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv5026582130 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv5026582130 .yiv5026582130bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5026582130 
.yiv5026582130bold a {text-decoration:none;}#yiv5026582130 dd.yiv5026582130last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5026582130 dd.yiv5026582130last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5026582130 
dd.yiv5026582130last p span.yiv5026582130yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv5026582130 div.yiv5026582130attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv5026582130 div.yiv5026582130attach-table 
{width:400px;}#yiv5026582130 div.yiv5026582130file-title a, #yiv5026582130 
div.yiv5026582130file-title a:active, #yiv5026582130 
div.yiv5026582130file-title a:hover, #yiv5026582130 div.yiv5026582130file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5026582130 div.yiv5026582130photo-title a, 
#yiv5026582130 div.yiv5026582130photo-title a:active, #yiv5026582130 
div.yiv5026582130photo-title a:hover, #yiv5026582130 
div.yiv5026582130photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5026582130 
div#yiv5026582130ygrp-mlmsg #yiv5026582130ygrp-msg p a 
span.yiv5026582130yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5026582130 
.yiv5026582130green {color:#628c2a;}#yiv5026582130 .yiv5026582130MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv5026582130 o {font-size:0;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130photos div {float:left;width:72px;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5026582130
 #yiv5026582130reco-category {font-size:77%;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130reco-desc {font-size:77%;}#yiv5026582130 .yiv5026582130replbq 
{margin:4px;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-mlmsg select, #yiv5026582130 input, #yiv5026582130 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-mlmsg pre, #yiv5026582130 code {font:115% 
monospace;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-mlmsg #yiv5026582130logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-msg 
p#yiv5026582130attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-reco #yiv5026582130reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-sponsor 
#yiv5026582130ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-sponsor #yiv5026582130ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-sponsor #yiv5026582130ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv5026582130 #yiv5026582130ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5026582130 
#yiv5026582130ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv5026582130 

   

Kirim email ke