Saya rasa masalahnya bukan karena kwalitas pendidikan karena pd kenyataannya 
para H1B itu lulusan sekolah US, masalahnya lebih pada para pemegang H1B itu 
lebih strugle dan bekerja lebih keras bekerja lebih smart karena mempunyai risk 
bila dikeluarkan ya habislah harus pulang. Jadi berusaha extra keras demi 
survival.
    On Monday, May 7, 2018, 4:35:16 PM PDT, [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> wrote:  
 
 Tulisan dari Bung Djie, sudah betul bahwa Amerika tidak bisa maju dalam bidang 
teknologi kalau tidak ada mengambil orang2 pintar dati India, RRT, Rusia dgn. 
H1B visa program nya (setelah Perang Dunis ke II). 
Dulu AS dan Rusia berebutan mengambil orang2 pintar keturunan Jahudi dari 
Jerman setelah Jerman kalah Perang Dunia ke II. Maka dari itu AS dan Rusia, 
sangat maju, misalnya, dalam dunia peroketan. Seperti  di ketahui, orang Jahudi 
golongan Ashkenasi adalah ras yg. mempunyai IQ tertinggi di dunia yg. lebih 
tinggi sedikit dari ras Oriental. Dan IQ orang kulit putih/White masih dibawah 
IQ dari Ashkenasi Jahudi dan ras Oriental.


---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :


Tulisan ini seperti bertolak belakang, paragraph pertama seakan pendidikan di 
US lacking dalam technology, sedang paragraph kedua menyinggung H1B Visas 
padahal visa itu diberikan utk mereka yg lulus dari sekolah US.

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

Tulisan dari milis lain, dari orang yang tinggal di Amerika .
It is easy to see, how America is losing in technology. Just look at the 
Education system, where Math and Science are not the most popular subject 
matters from Middle School to College. If a nation produces mostly talking 
heads, one cannot expect they "create anything technologically new", except new 
unsolved or never to be solved problems, that will create more discussions and 
talks forever.

That is also one of the reasons, that Silicon Valley insist in getting more H1B 
Visas, so they can fill in the lack of American engineers or scientists with 
people from other countries (India, China, Russia, etc). Solving the 
Educational system would be too long and too complicated.

  

Kirim email ke