Sebenarnya saja, pemuda-pemudi yang mengejar ilmu harus juga pelajari/mengamati 
kebutuhan PASAR ilmu yang sedang dibutuhkan atau sangat dibutuhkan karena 
kurang ahlinya. Sesaat dipasar sedang tumbuh b erkembang IT, perhitungkanlah 
nanti setelah lulus apa masih sangat dibutuhkan keahliannya? Kalau ternyata 
sudah terlalu banyak lulusan IT, tentu lebih baik kejar ilmu lain, katakanlah 
biologi atau Kimia-industri, misalnya.

Masalah S3, lain lagi. Saya perhatikan cara berpikir pengusaha HK yang saya 
kenal, kebutuhan sampai S3 cukup seorang dua saja, karena bayarannya mahal.. 
Masalah-masalah teknis biarlah dia yang menentukan ambil keputusan dan 
memecahkan kalau terjadi persoalan, ... yang banyak dibutuhkan orang-orang yang 
mampu bekerja S2 bahkan S1 saja sudah cukup. Jadi, kalau di Ind. ekonomi kurang 
berkembang, pengusaha tentu tidak perlu gunakan S3 yg bayarannya sangat tinggi, 
... ya dengan sendirinya malah jadi sulit dapat kerja. Mesti kenegara yang 
ekonomi sedang berkembang pesat, lebih banyak lowong kerja keahlian jadi lebih 
banyak, ... seperti di Tiongkok sekarang ini, menyedot banyak teknokrat! 
Sebaliknya AS sudah menutup pintu, ...

Salam,
ChanCT


From: 'Titiek Maslam' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Tuesday, May 8, 2018 2:47 PM
To: [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] 
Subject: Re: [GELORA45] Education

  

      Nimbrung,
      Pengalamanku lain. Tidak sedikit teman-teman lulusan S3 pada nganggur.. 
Jadi masalah education tidaklah selalu berbanding lurus dengan gampang atau 
susahnya cari pekerjaan ( yang dimaksud legal formal). Pengangguran itulah 
masalah yang penting dan pokok, lebih-lebih lagi  setelah masyarakat sistem 
Sosialis yang lalu sudah pada berantakan hancur, inilah jaman globalisasi 
sekarang. 

      salam,

      Titiek Maslam  




      -------Oorspronkelijk bericht-------

      Van: mailto:[email protected]
      Datum: 05/08/18 05:15:32
      Aan: mailto:[email protected];  'B.H. Jo'
      Onderwerp: [GELORA45] Education

        

      Orang yang punya skil tak pernah takut akan masalah pekerjaan, karena 
perusahaan pasti mencarinya.

      Hanya orang yang tak mau berusahalah yang takut akan dipecat.

      Makanya anak-anak saya saya bekali denan ilmu yang tinggi agar mereka 
bisa bersaing dijaman globalisasi.


      Kadang saya sering mendengar omongan yang nyeleneh dari teman-teman, 
untuk apa kuliah pakai biaya banyak toh juga tidak menjadi apa-apa. 

      Lantas saya jawab dengan kata humor sudah menjadi manusia mau jadi apa 
lagi, apa maksudmu supaya bisa mengeluarkan api dari mulut setelah tamat 
kuliah. Kalau mau keluar api dari mulut beli saja korek Rp. 1000


      From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
      Sent: Tuesday, May 08, 2018 10:30 AM
      To: [email protected]; Chan CT <[email protected]>
      Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Re: Education


        

      Saya baca di salah satu posting di milis ini ttg.  "mental poskolonial 
minder" di Indonesia.. Padahal di negara2 yg. maju, mereka tidak takut dgn. 
mendatangkan orang2 LN utk. bekerja di negara mereka. Di Indonesia, mau 
mendatangkan dosen2 dari LN, sudah pada ribut, sudah takut akan mendapat 
saingan dan kehilangan tempat kerjanya. Kalau tidak bisa bersaing berdasarkan 
merit atau meritocrazy, ya harus turun jabatan. Kalau  orang2 dalam negeri 
maunya di lindungi kerjanya, ya, mereka mau enak2 an kerjanya.


      Tindakan Deng yg. berani dan genius boleh ditiru oleh negara2 lain yg.. 
mau maju. Tanpa Deng, RRT tidak bisa maju seperti sekarang ini.


      Salam, 

      BH Jo



      On Monday, May 7, 2018, 7:55:17 PM CST, Chan CT <[email protected]> 
wrote: 



      Sebenarnya saja dunia sedang berebutan orang PINTAR utk meningkatkan 
tekonologi negeri masing-masing, ... saya tertarik dengan KEBERANIAN Deng 
membuka PINTU kirimkan mahasiswa Tiongkok utk belajar diluarnegeri, khususnya 
AS, gak tanggung-tanggung dalam hitungan jutaan! Baik yang dikirim pemerintah 
dengan beasiswa, maupun yg menempuh jalan sendiri, biaya orang-tuanya sendiri, 
... diawal mula banyak yang tidak kembali berangsur-angsur berputar balik, 
lebih banyak yang pulang setelah selesai belajar. Situasi Tiongkok terus 
berkembang membaik, menyedot kuat ahli2 nya diluar negeri, sedang diluarnegeri, 
Eropah-AS sendiri karena mkerosotnya ekonomi8 sudah sulit dapatkan kerja, 
bahkan AS jadi menempuh jalan proteksionisme, TAKUT pemuda-pemudi Tiongkok 
mencuri teknologi-canggih yag masih dirahasiakan, jadi tidak hendak pelajar 
Tiongkok ikut diberbagai bidang penelitian. Perubahan situasi ini membuat 
pelajar-pelajar TIongkok pulang setelah selesai pelajarannya, .... bahkan tidak 
sedikit yg sudah dapatkan tugas prof. mengajar di berbagai univ di AS juga 
memilih pulang kembali ketanahairnya, ... membuat AS terbelalak dan makin 
kuatir gunakan orang Tionghoa.


      Hahaa, ... barusan terbaca berita, ditahun 2017 RRT telah mencetak lebih 
8,2juta SARJANA lulusan berbagai univ. di TIongkok! Satu lonjakkan tertinggi 
dibanding tahun 2001 hanya 1 juta lebih, ... sedang kondisi ekonomi ketika itu 
sedang menanjak jadi butuhkan banyak sarjana, sedang sekarang perkembangan 
ekonomi melambat, dengan sendirinya menjadi kesulitan bagi sarjana-sarjana itu 
mendapatkan pekerjaan sesuai keahliannya! Persaingan dan perebutan lowongan 
kerja dirasakan sangat serius, ... satu2nya jalan tentu pemerintah harus 
mendorong dan beri tunjangan bagi mereka yang siap ikut TUGAS mengentaskan 
kemiskinan didesa-desa terbelakang! Entah sampai dimana keberhasilannya.


      Salam,

      ChanCT



      From: [email protected] [GELORA45] 

      Sent: Tuesday, May 8, 2018 7:35 AM

      To: [email protected] 

      Subject: [GELORA45] Re: Education


        

      Tulisan dari Bung Djie, sudah betul bahwa Amerika tidak bisa maju dalam 
bidang teknologi kalau tidak ada mengambil orang2 pintar dati India, RRT, Rusia 
dgn. H1B visa program nya (setelah Perang Dunis ke II). 


      Dulu AS dan Rusia berebutan mengambil orang2 pintar keturunan Jahudi dari 
Jerman setelah Jerman kalah Perang Dunia ke II. Maka dari itu AS dan Rusia, 
sangat maju, misalnya, dalam dunia peroketan. Seperti  di ketahui, orang Jahudi 
golongan Ashkenasi adalah ras yg. mempunyai IQ tertinggi di dunia yg. lebih 
tinggi sedikit dari ras Oriental. Dan IQ orang kulit putih/White masih dibawah 
IQ dari Ashkenasi Jahudi dan ras Oriental.




      ---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :


      Tulisan ini seperti bertolak belakang, paragraph pertama seakan 
pendidikan di US lacking dalam technology, sedang paragraph kedua menyinggung 
H1B Visas padahal visa itu diberikan utk mereka yg lulus dari sekolah US.

      ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

      Tulisan dari milis lain, dari orang yang tinggal di Amerika . 

      It is easy to see, how America is losing in technology. Just look at the 
Education system, where Math and Science are not the most popular subject 
matters from Middle School to College. If a nation produces mostly talking 
heads, one cannot expect they "create anything technologically new" , except 
new unsolved or never to be solved problems, that will create more discussions 
and talks forever.

      That is also one of the reasons, that Silicon Valley insist in getting 
more H1B Visas, so they can fill in the lack of American engineers or 
scientists with people from other countries (India, China, Russia, etc). 
Solving the Educational system would be too long and too complicated.



     
            
     


Kirim email ke