Nimbrung,
Pengalamanku lain. Tidak sedikit teman-teman lulusan S3 pada nganggur. Jadi
masalah education tidaklah selalu berbanding lurus dengan gampang atau
susahnya cari pekerjaan ( yang dimaksud legal formal). Pengangguran itulah
masalah yang penting dan pokok, lebih-lebih lagi  setelah masyarakat sistem
Sosialis yang lalu sudah pada berantakan hancur, inilah jaman globalisasi
sekarang. 

salam,

Titiek Maslam  

 
 
 
-------Oorspronkelijk bericht-------
 
Van: 'Karma, I Nengah [PT. BI-POS]' [email protected] [GELORA45]
Datum: 05/08/18 05:15:32
Aan: '[email protected]';  'B.H. Jo'
Onderwerp: [GELORA45] Education
 
  
Orang yang punya skil tak pernah takut akan masalah pekerjaan, karena
perusahaan pasti mencarinya.
Hanya orang yang tak mau berusahalah yang takut akan dipecat.
Makanya anak-anak saya saya bekali denan ilmu yang tinggi agar mereka bisa
bersaing dijaman globalisasi.
 
Kadang saya sering mendengar omongan yang nyeleneh dari teman-teman, untuk
apa kuliah pakai biaya banyak toh juga tidak menjadi apa-apa. 
Lantas saya jawab dengan kata humor sudah menjadi manusia mau jadi apa lagi,
apa maksudmu supaya bisa mengeluarkan api dari mulut setelah tamat kuliah.
Kalau mau keluar api dari mulut beli saja korek Rp. 1000
 
From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, May 08, 2018 10:30 AM
To: [email protected]; Chan CT <[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Re: Education
 
  
Saya baca di salah satu posting di milis ini ttg.  "mental poskolonial
minder" di Indonesia.. Padahal di negara2 yg. maju, mereka tidak takut dgn.
mendatangkan orang2 LN utk. bekerja di negara mereka. Di Indonesia, mau
mendatangkan dosen2 dari LN, sudah pada ribut, sudah takut akan mendapat
saingan dan kehilangan tempat kerjanya. Kalau tidak bisa bersaing
berdasarkan merit atau meritocrazy, ya harus turun jabatan. Kalau  orang2
dalam negeri maunya di lindungi kerjanya, ya, mereka mau enak2 an kerjanya.
 
Tindakan Deng yg. berani dan genius boleh ditiru oleh negara2 lain yg. mau
maju. Tanpa Deng, RRT tidak bisa maju seperti sekarang ini.
 
Salam, 
BH Jo
 
 
On Monday, May 7, 2018, 7:55:17 PM CST, Chan CT <[email protected]>
wrote: 
 
 
Sebenarnya saja dunia sedang berebutan orang PINTAR utk meningkatkan
tekonologi negeri masing-masing, ... saya tertarik dengan KEBERANIAN Deng
membuka PINTU kirimkan mahasiswa Tiongkok utk belajar diluarnegeri,
khususnya AS, gak tanggung-tanggung dalam hitungan jutaan! Baik yang dikirim
pemerintah dengan beasiswa, maupun yg menempuh jalan sendiri, biaya
orang-tuanya sendiri, ... diawal mula banyak yang tidak kembali
berangsur-angsur berputar balik, lebih banyak yang pulang setelah selesai
belajar. Situasi Tiongkok terus berkembang membaik, menyedot kuat ahli2 nya
diluar negeri, sedang diluarnegeri, Eropah-AS sendiri karena mkerosotnya
ekonomi8 sudah sulit dapatkan kerja, bahkan AS jadi menempuh jalan
proteksionisme, TAKUT pemuda-pemudi Tiongkok mencuri teknologi-canggih yag
masih dirahasiakan, jadi tidak hendak pelajar Tiongkok ikut diberbagai
bidang penelitian. Perubahan situasi ini membuat pelajar-pelajar TIongkok
pulang setelah selesai pelajarannya, ... bahkan tidak sedikit yg sudah
dapatkan tugas prof. mengajar di berbagai univ di AS juga memilih pulang
kembali ketanahairnya, ... membuat AS terbelalak dan makin kuatir gunakan
orang Tionghoa.
 
Hahaa, ... barusan terbaca berita, ditahun 2017 RRT telah mencetak lebih 8
2juta SARJANA lulusan berbagai univ. di TIongkok! Satu lonjakkan tertinggi
dibanding tahun 2001 hanya 1 juta lebih, ... sedang kondisi ekonomi ketika
itu sedang menanjak jadi butuhkan banyak sarjana, sedang sekarang
perkembangan ekonomi melambat, dengan sendirinya menjadi kesulitan bagi
sarjana-sarjana itu mendapatkan pekerjaan sesuai keahliannya! Persaingan dan
perebutan lowongan kerja dirasakan sangat serius, ... satu2nya jalan tentu
pemerintah harus mendorong dan beri tunjangan bagi mereka yang siap ikut
TUGAS mengentaskan kemiskinan didesa-desa terbelakang! Entah sampai dimana
keberhasilannya.
 
Salam,
ChanCT
 
 
From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Tuesday, May 8, 2018 7:35 AM
To: [email protected] 
Subject: [GELORA45] Re: Education
 
  
Tulisan dari Bung Djie, sudah betul bahwa Amerika tidak bisa maju dalam
bidang teknologi kalau tidak ada mengambil orang2 pintar dati India, RRT,
Rusia dgn. H1B visa program nya (setelah Perang Dunis ke II). 
 
Dulu AS dan Rusia berebutan mengambil orang2 pintar keturunan Jahudi dari
Jerman setelah Jerman kalah Perang Dunia ke II. Maka dari itu AS dan Rusia,
sangat maju, misalnya, dalam dunia peroketan. Seperti  di ketahui, orang
Jahudi golongan Ashkenasi adalah ras yg. mempunyai IQ tertinggi di dunia yg..
lebih tinggi sedikit dari ras Oriental. Dan IQ orang kulit putih/White masih
dibawah IQ dari Ashkenasi Jahudi dan ras Oriental.
 
 

---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :
 
Tulisan ini seperti bertolak belakang, paragraph pertama seakan pendidikan
di US lacking dalam technology, sedang paragraph kedua menyinggung H1B Visas
padahal visa itu diberikan utk mereka yg lulus dari sekolah US.

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
Tulisan dari milis lain, dari orang yang tinggal di Amerika . 
It is easy to see, how America is losing in technology. Just look at the
Education system, where Math and Science are not the most popular subject
matters from Middle School to College. If a nation produces mostly talking
heads, one cannot expect they "create anything technologically new" , except
new unsolved or never to be solved problems, that will create more
discussions and talks forever.
That is also one of the reasons, that Silicon Valley insist in getting more
H1B Visas, so they can fill in the lack of American engineers or scientists
with people from other countries (India, China, Russia, etc). Solving the
Educational system would be too long and too complicated.
 

 

Kirim email ke