Saya baca di salah satu posting di milis ini ttg. "mental poskolonial minder"
di Indonesia.. Padahal di negara2 yg. maju, mereka tidak takut dgn.
mendatangkan orang2 LN utk. bekerja di negara mereka. Di Indonesia, mau
mendatangkan dosen2 dari LN, sudah pada ribut, sudah takut akan mendapat
saingan dan kehilangan tempat kerjanya. Kalau tidak bisa bersaing berdasarkan
merit atau meritocrazy, ya harus turun jabatan. Kalau orang2 dalam negeri
maunya di lindungi kerjanya, ya, mereka mau enak2 an kerjanya.
Tindakan Deng yg. berani dan genius boleh ditiru oleh negara2 lain yg. mau
maju. Tanpa Deng, RRT tidak bisa maju seperti sekarang ini.
Salam, BH Jo
On Monday, May 7, 2018, 7:55:17 PM CST, Chan CT <[email protected]>
wrote:
Sebenarnya saja dunia sedang berebutan orang PINTAR utk meningkatkan
tekonologi negeri masing-masing, ... saya tertarik dengan KEBERANIAN Deng
membuka PINTU kirimkan mahasiswa Tiongkok utk belajar diluarnegeri, khususnya
AS, gak tanggung-tanggung dalam hitungan jutaan! Baik yang dikirim pemerintah
dengan beasiswa, maupun yg menempuh jalan sendiri, biaya orang-tuanya sendiri,
... diawal mula banyak yang tidak kembali berangsur-angsur berputar balik,
lebih banyak yang pulang setelah selesai belajar. Situasi Tiongkok terus
berkembang membaik, menyedot kuat ahli2 nya diluar negeri, sedang diluarnegeri,
Eropah-AS sendiri karena mkerosotnya ekonomi8 sudah sulit dapatkan kerja,
bahkan AS jadi menempuh jalan proteksionisme, TAKUT pemuda-pemudi Tiongkok
mencuri teknologi-canggih yag masih dirahasiakan, jadi tidak hendak pelajar
Tiongkok ikut diberbagai bidang penelitian. Perubahan situasi ini membuat
pelajar-pelajar TIongkok pulang setelah selesai pelajarannya, ... bahkan tidak
sedikit yg sudah dapatkan tugas prof. mengajar di berbagai univ di AS juga
memilih pulang kembali ketanahairnya, ... membuat AS terbelalak dan makin
kuatir gunakan orang Tionghoa. Hahaa, ... barusan terbaca berita, ditahun 2017
RRT telah mencetak lebih 8,2juta SARJANA lulusan berbagai univ. di TIongkok!
Satu lonjakkan tertinggi dibanding tahun 2001 hanya 1 juta lebih, ... sedang
kondisi ekonomi ketika itu sedang menanjak jadi butuhkan banyak sarjana, sedang
sekarang perkembangan ekonomi melambat, dengan sendirinya menjadi kesulitan
bagi sarjana-sarjana itu mendapatkan pekerjaan sesuai keahliannya! Persaingan
dan perebutan lowongan kerja dirasakan sangat serius, ... satu2nya jalan tentu
pemerintah harus mendorong dan beri tunjangan bagi mereka yang siap ikut TUGAS
mengentaskan kemiskinan didesa-desa terbelakang! Entah sampai dimana
keberhasilannya. Salam,ChanCT From: [email protected] [GELORA45] Sent: Tuesday,
May 8, 2018 7:35 AMTo: [email protected] Subject: [GELORA45] Re:
Education
Tulisan dari Bung Djie, sudah betul bahwa Amerika tidak bisa maju dalam bidang
teknologi kalau tidak ada mengambil orang2 pintar dati India, RRT, Rusia dgn.
H1B visa program nya (setelah Perang Dunis ke II). Dulu AS dan Rusia berebutan
mengambil orang2 pintar keturunan Jahudi dari Jerman setelah Jerman kalah
Perang Dunia ke II. Maka dari itu AS dan Rusia, sangat maju, misalnya, dalam
dunia peroketan. Seperti di ketahui, orang Jahudi golongan Ashkenasi adalah
ras yg. mempunyai IQ tertinggi di dunia yg. lebih tinggi sedikit dari ras
Oriental. Dan IQ orang kulit putih/White masih dibawah IQ dari Ashkenasi Jahudi
dan ras Oriental.
---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :
Tulisan ini seperti bertolak belakang, paragraph pertama seakan pendidikan di
US lacking dalam technology, sedang paragraph kedua menyinggung H1B Visas
padahal visa itu diberikan utk mereka yg lulus dari sekolah US.
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
Tulisan dari milis lain, dari orang yang tinggal di Amerika .
It is easy to see, how America is losing in technology. Just look at the
Education system, where Math and Science are not the most popular subject
matters from Middle School to College. If a nation produces mostly talking
heads, one cannot expect they "create anything technologically new" , except
new unsolved or never to be solved problems, that will create more discussions
and talks forever.
That is also one of the reasons, that Silicon Valley insist in getting more H1B
Visas, so they can fill in the lack of American engineers or scientists with
people from other countries (India, China, Russia, etc). Solving the
Educational system would be too long and too complicated.