Menelusuri Jejak Perjuangan Dua Garis di Partai Komunis Tiongkok
Perjuangan dua garis tak dapat dihindarkan dan akan selalu terjadi selama
partai hidup dalam masyarakat berkelas. Karena setiap anggota dan kader selalu
membawa masuk ideologi borjuis kecilnya. Belajar Marxisme-Leninisme menjadi
kebutuhan dan keharusan bagi setiap anggota dan kader partai4 Juni 2018
Mao Zedong dan Deng Xiaoping [Foto: Istimewa]Koran Sulindo – Presiden Xi
Jinping mengklaim “sosialisme berkepribadian” Tiongkok sebagai sistem yang
berlaku sekarang di negerinya. Padahal, setelah Mao Zedong meninggal pada 1976
dan klik revisionis berhasil melakukan kudeta dengan menangkap “Gang of Four”,
ekonomi terbuka yang diterapkan Deng Xiaoping serta reformasi-reformasinya
telah merestorasi kapitalisme.Salah satu ucapan Deng yang terkenal ketika itu
“Tidak penting kucing hitam atau kucing putih, yang penting bisa menangkap
tikus”. Artinya, apapun sistem ekonomi yang diterapkan, sekalipun itu sistem
kapitalisme, yang penting pertumbuhan ekonomi Tiongkok meningkat pesat. Walau
kebijakan tersebut berdampak luas terhadap rakyatnya, seperti kesenjangan
sosial-ekonomi yang makin melebar di masyarakat Tiongkok.Klik revisionis
pimpinan Deng telah memenangi perjuangan antara garis Marxis-Leninis yang
diwakili Mao dengan garis revisionis modern pimpinan Liu shao-qi dan Deng.
Untuk mengetahui tentang perjuangan garis proletar Mao dengan garis oportunis
“kiri” maupun kanan, kita perlu kembali mempelajari sejarah berdirinya Partai
Komunis Tiongkok hingga perkembangannya hari ini.Pada mulanya, PKT berdiri pada
1921 di tengah-tengah lautan borjuis kecil yang merupakan kelas mayoritas dalam
masyarakat setengah jajahan setengah feodal. Sepanjang perjalanan yang berliku
mengabdi usaha pembebasan nasional, perjuangan antara garis Marxis-Leninis dan
garis oportunis “kiri” maupun kanan membawa gerakan rakyat maju ketika dalam
partai berdominasi garis yang benar. Ketika garis oportunis kiri atau kanan
berdominasi dalam partai, gerakan mengalami kemunduran dan kegagalan yang
sering kali minta korban dan pengorbanan partai dan rakyat yang luar biasa
besarnya.Perjuangan dua garis tak dapat dihindarkan dan akan selalu terjadi
selama partai hidup dalam masyarakat berkelas. Karena setiap anggota dan kader
partai selalu membawa masuk ideologi borjuis kecilnya. Itu sebabnya, belajar
Marxisme-Leninisme menjadi kebutuhan dan keharusan bagi setiap anggota dan
kader partai. Dalam proses menerapkan teori revolusioner dengan kreatif dalam
praktik perjuangan kelas itulah mereka berusaha mengubah dengan sadar pandangan
dunia borjuis kecilnya menjadi pandangan dunia proletar. Dalam bahasa Tionghoa
proses itu dikenal dengan nama gai cao si xiang.Tidak semua partai komunis di
dunia mengerti dan sadar akan adanya perjuangan dua garis dalam partainya.
Perjuangan dua garis dalam partai tidak menghalangi persatuan. Persatuan yang
dicapai melalui perjuangan pikiran dan ide yang tepat melawan yang salah justru
akan memperkokoh partai. Untuk itu diperlukan menjalankan dengan baik langgam
kritik-otokritik dan menjaga keseimbangan antara sentralisme dan
demokrasi.Sudah tentu selalu akan ada anggota dan kader yang tidak jujur dalam
melakukan kritik-otokritik. Deng Xiaoping, misalnya, yang sudah dipecat dari
partai, tapi dengan otokritiknya akhirnya diterima kembali.. Itulah kesalahan
terbesar Mao: memercayai otokritik Deng. Ketika Mao meninggal, Deng
meninggalkan kedoknya dan melaksanakan garis revisionis yang sejak lama
dianutnya untuk merestorasi kapitalisme.Setiap gerakan yang ingin
memperjuangkan pembebasan nasional dan mendirikan pe-merintahan rakyat yang
berdaulat harus mengetahui dengan jelas siapa musuh dan siapa kawan. Salah satu
sumber kegagalan pemberontakan dan gerakan revolusioner di masa lalu di
Tiongkok, menurut Mao, adalah tidak tahu kekuatan mana saja yang harus
dipersatukan untuk bersama-sama memukul dan menghancurkan musuh pokok.
Satu-satunya alat untuk menentukan siapa lawan dan siapa sekutu adalah analisa
kelas dalam masyarakat. Asal kelas seseorang tidak menentukan, tapi sangat
memengaruhi sikapnya terhadap gerakan politik dan sosial.Analisa Kelas
Analisa kelas yang tepat menentukan watak atau sifat pergerakan dan revolusi di
negeri itu. Di bawah pimpinan Partai Komunis, rakyat Tiongkok melancarkan
revolusi borjuis demokratis, sebagai tahap transisi menuju tahap pembangunan
sosialis. Persekutuan antara kaum komunis dengan kaum nasionalis Kuomintang
(KMT) pimpinan Sun Yatsen adalah salah satu penerapan dari garis revolusi
borjuis demokratis. Sun Yatsen mewakili kelas borjuasi nasional. Tanpa kerja
sama dengan kaum komunis, ia tak akan bisa memimpin dan melancarkan perjuangan
yang konsekuen melawan kelas tuan tanah besar, kelas borjuasi komprador dan
kapitalisme birokrat.Kaum komunis dan nasionalis sukses melancarkan perang
ekspedisi melawan kekuasaan raja-raja perang di Tiongkok Utara.. Namun, ketika
Sun Yatsen meninggal pada 1925, Chiang Kai Shek berhasil mengalahkan
tokoh-tokoh yang menyainginya dan mengambil alih kepemimpinan KMT.. Chiang Kai
Shek mewakili kepentingan kaum borjuasi komprador di perkotaan dan tuan tanah
jahat di pedesaan. Pada 1927, Chiang Kai Shek mengkhianati persekutuan dengan
kaum komunis dan melakukan pembunuhan serta penangkapan besar-besaran terhadap
kaum komunis terutama di kota-kota besar seperti Shanghai.PKT kehilangan ribuan
anggota dan kadernya. Untung, di beberapa daerah pedesaan di Provinsi Hunan,
sudah berdiri kekuasaan rakyat dimana jutaan kaum tani yang sadar dan
terorganisasi di bawah pimpinan PKT dan Mao melancarkan revolusi agraria
melawan kekuasaan tuan tanah jahat. Daerah basis di pedesaan menjadi tempat
berlindung mereka yang berhasil menyelamatkan diri. Pengalaman ini menunjukkan
PKT harus mempertahankan kepemimpinan dalam revolusi dan waspada akan watak
ganda kaum borjuasi nasional.Ketika itu, pimpinan PKT ada di tangan Chen Duxiu
yang tidak percaya pada peran kaum tani dan menolak mendukung gerakan tani yang
sedang berkembang di pedesaan. Kegagalan revolusi 1927 membuktikan kesalahan
garis oportunis kanan Chen Duxiu dan membenarkan pendapat Mao yang bersandar
kepada kaum tani dan menitik beratkan pekerjaan partai di pedesaan. Setelah
kegagalan itu, Chen Duxiu bukannya melakukan otokritik, tapi menjadi pengikut
Trotsky. Tidak aneh, mengingat sikap Trotsky terhadap peran kaum tani dalam
revolusi di Rusia.Kepemimpinan PKT beralih ke Li Lisan. Di bawah
kepemimpinannya, keluar resolusi “Gelombang pasang revolusioner baru dan
mencapai kemenangan pertama di satu provinsi atau beberapa provinsi”. Resolusi
itu menganjurkan agar dilakukan persiapan untuk segera melancarkan
pemberontakan bersenjata di seluruh negeri. Ia menyusun sebuah rencana
pemberontakan di kota-kota utama dan mengumpulkan semua kekuatan Tentara Merah
untuk menyerang kota-kota itu. Kesalahan “kiri” itu dikenal dengan nama “garis
Li Lisan”.PKT masih harus melalui tiga pimpinan lagi sebelum akhirnya pada
Konferensi Tsunyi, 1935 mengakui kepemimpinan Mao yang berusaha menerapkan
Marxisme-Leninisme sesuai dengan kondisi konkret Tiongkok. Praktik telah
membuktikan ketepatan strategi dan taktik yang diajukan dan diperjuangkan Mao.
Namun tidak berarti perjuangan internal antara dua garis selesai dan juga tidak
berarti Mao selalu mendapat dukungan mayoritas anggota pimpinan partai.Selama
perang melawan agresi Jepang, Wang Ming, anggota Politbiro, menentang pendapat
Mao dalam menerapkan politik front persatuan dengan KMT. Wang Ming ingin supaya
PKT melebur kekuatannya menjadi bagian dari kekuatan KMT sehingga dapat melawan
Jepang dalam satu rencana operasi di bawah satu komando, satu disiplin, dengan
persenjataan dan perlengkapan yang disatukan. Sedangkan Mao berpendapat,
meninggalkan kebebasan dan kemandirian kekuatan bersenjata PKT berarti
menyerahkan basis kekuasaannya. Baik Wang maupun Mao tidak berhasil mendapat
dukungan mayoritas. Mao terpaksa berkompromi dan menerima Wang sebagai pimpinan
delegasi PKT dalam perundingan dengan KMT di Wuhan.Kemudian Mao terpaksa
menyetujui Wang yang menunjuk dirinya sendiri sebagai Sekretaris Biro Yangtse.
Dengan begitu Wang berhak mengontrol organisasi-organisasi partai dan Tentara
Baru Keempat di Tiongkok tengah-selatan. Ini menunjukkan batas-batas dari
kekuasaan Mao. Ia tidak dapat menjalankan kebijakan yang dianggapnya tepat
tanpa persetujuan mayoritas anggota Politbiro.Wang Ming selalu berusaha
menyabot kebijakan Mao dan menjalankan kebijakannya sendiri tanpa memberitahu
Mao, sebagai Ketua PKT, yang ketika itu berada di Yenan. Wang Ming memuat
tulisannya sendiri di Xinhua Daily, koran penyambung lidah PKT di daerah yang
dikuasai KMT. Tanpa persetujuan Mao, Wang membuat judul tulisannya Mr. Mao
Ze-dong’s Conversation with New China Reporter Qi Guang.Komite Sentral mengirim
tulisan Mao On Protracted War ke Biro Yangtse dengan harapan dapat dimuat di
Xinhua Daily. Dengan dalih terlalu panjang, Wang menolak. Masalahnya adalah ide
“Perang Tahan Lama” Mao bertentangan dengan ide Wang yang mengharapkan
kemenangan cepat dalam perang melawan Jepang.Perlawanan Wang Ming terhadap
garis Mao baru berakhir pada 1938, ketika Wuhan yang berada di bawah kontrol
KMT jatuh. Ini membuktikan kebenaran ide perang tahan lama Mao. Ditambah lagi
Dimitrov, Sekjen Komintern ketika itu, mengeluarkan instruksi yang menyatakan
garis politik PKT tepat; perbedaan pendapat internal diselesaikan di bawah
pimpinan Mao; Wang harus mengakui bahwa Mao adalah pemimpin yang lahir dari
perjuangan konkret revolusi Tiongkok.Perjuangan Dua Garis
Setelah Jepang dan kemudian KMT dikalahkan dan diusir dari daratan Tiongkok,
lahirlah Republik Rakyat Tiongkok, pada September 1949. Akhirnya rakyat
Tiongkok berhasil mendirikan sebuah republik dan mengatasi perpecahan,
penjajahan dan penghinaan kolonial. Tugas membangun sebuah negeri dan
masyarakat baru terbentang di hadapan rakyat dan partai yang memimpinnya. Tapi,
jangan dikira tugas pembangunan ini lebih mudah dan perjuangan internal antara
dua garis selesai.Dalam landreform muncul dua kubu yang memperjuangkan dua
perspektif pembangunan yang bertentangan. Dalam bukunya Fanshen, William Hinton
menulis, kubu yang dipimpin Mao memihak pada bentuk kolektivisasi maksimum yang
konsisten dengan tujuan produksi dan pemberian pelayanan sosial yang terus
meningkat kepada kaum tani. Dalam proses ini akan teratasi secara bertahap dan
permanen semua pembagian kelas dalam masyarakat. Tujuan akhir sistem sosialis
adalah melenyapkan kelas dalam masyarakat dan penghisapan manusia oleh
manusia.Kubu pimpinan Liu Shaoqi dan kemudian Deng Xiaoping memandang tiap
petani dengan sebidang tanah pribadinya sebagai sarana untuk menciptakan
ekonomi pasar desa yang justru akan mempertahankan dan mengembangkan pembagian
kelas. Konflik antara dua kubu ini mendasari setiap tahap dan peristiwa besar
dalam reformasi tanah. Kecenderungan sifat borjuis kecil kaum tani yang
memiliki tanah adalah terus mengembangkan produksi dan meluaskan kepemilikannya
guna mencapai kemakmuran keluarganya.Pengembangan watak borjuis kecil melalui
ekonomi pasar desa jelas bertentangan dengan tujuan membangun masyarakat
sosialis dimana dipupuk nilai-nilai solidaritas dan kehidupan kolektif. Mao
karena itu melancarkan pendidikan sosialis di kalangan kaum tani melalui
gerakan yang bertahap. Mula-mula dengan pembentukan grup saling bantu, kemudian
koperasi sampai akhirnya komune rakyat. Secara bertahap kaum tani memupuk
perasaan kolektif dan setiakawan guna mengatasi individualisme melalui
partisipasi sukarela dalam gerakan pembentukan koperasi dan komune rakyat.
Proses pembentukan itu sendiri merupakan kancah perjuangan dua garis.Dalam
laporannya di konferensi sekretaris komite partai tingkat provinsi, kabupaten
dan daerah otonomi pada Juli 1955, Mao mengkritik mereka, yang
“terhuyung-huyung bagaikan wanita yang kakinya terikat” dan mengeluh “kalian
terlalu cepat, sangat cepat sekali”. Ketika itu, gerakan massa sosialis sedang
berkembang pesat di pedesaan Tiongkok. Mao menganggap keluh kesah, kegelisahan
dan tabu yang tak terhitung banyaknya itu tidak beralasan.Tahun berikutnya,
dalam pidato di sidang pleno kedua Komite Sentral PKT VIII, Mao langsung
mengkritik Deng Xiaoping yang ada di belakang rencana pembangunan lapangan
terbang di Provinsi Hunan tanpa konsultasi dengan penduduk yang menjadi korban
penggusuran. Kaum tani langsung berdemo menentang pembangunan lapangan terbang
tersebut dan menolak pindah. Mao membenarkan dan mendukung perlawanan kaum
tani. Mao berkata kepada Deng Xiaoping, “Anda juga punya sarang, jika saya
hancurkan, Anda juga akan bikin keributan, bukan?”Pidato dan tulisan Mao banyak
mencerminkan adanya perjuangan dua garis dalam PKT. Mao harus berhadapan dengan
mereka yang menentang pendapatnya. Kebijakan yang sudah disetujui mayoritas pun
bisa diboikot dan diselewengkan oleh anggota pimpinan PKT lainnya. Itulah
perjuangan dua garis dalam partai yang merupakan pencerminan perjuangan kelas
dalam masyarakat.Perjuangan dua garis dalam Partai terus berlangsung sampai
dilancarkannya Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP). Tesis meneruskan
revolusi di bawah kondisi kediktaturan proletariat dalam bentuk RBKP merupakan
sumbangan besar Mao kepada Marxisme-Leninisme. Tesis itu berdasarkan pada
kenyataan pembangunan sosialisme adalah sebuah periode sejarah yang panjang
dimana masih terdapat kontradiksi kelas dan perjuangan kelas antara kekuatan
revolusioner yang ingin terus mengkonsolidasi sosialisme melawan kekuatan
revisionis pengambil jalan kapitalis.Runtuhnya Uni Soviet dan restorasi
kapitalis di Tiongkok telah membuktikan musuh sosialisme terdapat di dalam
Partai Komunis itu sendiri. Juga membuktikan mereka yang menjadi anggota Partai
Komunis tidak otomatis berideologi komunis, tak peduli berapa lamanya mereka
telah menjadi anggota partai. Sosialisme lahir dari sebuah masyarakat berkelas.
Tiap manusia membawa ideologi, kebiasaan, mentalitas dan kebudayaan yang
diwarisinya dari masyarakat lama.Begitu juga anggota partai. Oleh karena itu
sangat logis timbulnya tokoh-tokoh revisionis Khrushchov, Liu Shaoqi dan Deng
Xiaoping yang mewakili ideologi borjuis dan kapitalisme. Begitu mereka berhasil
merebut kekuasaan, watak kelas partai berubah. Pembongkaran struktur ekonomi,
politik dan sosial sosialis dengan sendirinya mengakibatkan berubahnya
kediktaturan proletariat menjadi kediktaturan borjuis yang melemparkan kaum
buruh kembali ke pengisapan dan penindasan. [Tatiana Lukman]