Paling pokok adalah memaksimalkan manfaat dari jutaan hektar alam berupa kebun
sawit jika hasilnya yang berlimpah ruah itu tidak laku / terolah secara
ekonomis. Plus, menyelamatkan jutaan manusia yang terlibat industri sawit dari
hulu ke hilir.
--- jonathangoeij@... wrote:
Saya kira ada alternatif baru, saya sering terima tawaran dari Toyota suruh
beli mobil bahan bakar hidrogen (H2) yang hanya menghilangkan unsur O dari H2O
(air). H2 ini dalam proses pembakaran akan bersenyawa dengan Oksigen (O2) dari
udara sehingga hasil buangnya justru air (H2O). Dus untuk bikin hidrogen itu
bahannya cuman air dan hasil pembakaran juga air.
Sayangnya pom bensin yg jual hidrogen itu sedikit dan jaraknya cukup jauh,
seandainya bisa banyak seperti yg jual bensin tentu menarik sekali.
Ini contoh mobilnya:Toyota Mirai – The Turning Point
--- ajegilelu@... wrote :
Biodiesel B100 itu juga omongkosong seperti biasa. Sebab, mustahil menggusur
kendaraan bermotor di seluruh Indonesia untuk diganti dengan yang bermesin
diesel. Mana mungkin Sommer atau Naender misalnya (produsen sepedamotor
bermesin diesel) mengisi kebutuhan sepedamotor murah yang angka penjualan tahun
lalu kabarnya mencapai 15 ribu unit / hari. Kalau dipaksakan juga memakai
sepedamotor tidak murah itu, berarti Jokowi menggorok unicorn kebanggaannya
yaitu ojek online.
Masalah sawit ini tidak bisa dilihat cuma sejauh ujung hidung pinokio,
akibatnya masalah ditangani dengan bikin masalah baru.
--- jonathangoeij@... wrote:
GOBLOKnya orang ini, darimana ada arahnya didunia gunakan mobil listrik. Mobil
listrik itu baru berapa persen benar2 otak dengkul Chan GOBLOK. Coba buktikan
arah perkembangan dunia mobil/truk listrik. Omongan goblok gedabrus!
--- SADAR@... wrote :
Tapi, ... melihat ARAH perkembangan yang terjadi didunia, gunakan mobil/truk
listrik, ... Jadi, yang benar, saya SETUJUUU kiritik wacana Jokowi yg
menggenjot B20 jadi B100, gunakan sawit itu! Sedang pembangkit listrik juga
untuk kebaikan lingkungan, harus lebih utamakan gunakan tenaga air, aingin dan
matahari, ...! Jadi, sedapat mungkin kurangi, tinggalkan dan tidak gunakan lagi
minyak, batubara bahkan gas-alam, ...
Bukankah secara besar-besaran bangun perkebunan SAWIT itu, hakekatnya juga
merusak lingkungan! Hutan-hutan lebat hilang menjadi perkebunan sawit, ternyata
perkebunan sawit yg begitu luas, bukan saja merusak kesuburan tanah secara
drastis, tapi juga menghilangkan banyak jenis hewan dan serangga yg hidup
dihutan lebat itu!!! Katanya tidak boleh menanamkan SEJENIS tanaman diareal yg
cukup luas dibumi ini, harus TETAP pertahankan aneka ragam jenis tanaman tumbuh
saling menopang kesuburan tanah dan keharmonisan lingkungan.
Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, jangan coba apalagi berusaha keras
meniadakan keberagaman yang ada dalam masyarakat dimana kita hidup menjadi
sesuatu yang TUNGGAL! Baik itu sehubungan dengan ras, etnis, suku, Agama maupun
ideologi-politik! Yang MUTLAK harus dipertahankan adalah Bhineka Tunggal Ika!
Dimana kita semua yang BERBEDA-BEDA, ya beda ras, beda etnis, beda suku, beda
Agama dan juga beda ideologi-politik itu bisa tetap BERSATU TEGUH! Bukan
berusaha keras menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada, apalagi dengan
kekerasan memaksa orang yang berbeda menjadi sama dengan dirinya sendiri!
Jangan lakukan itu!
bhjo@... 於 19/2/2019 4:25 寫道:
Bung Djie bilang tanamnya di Papua Nuigini, ya tidak apa2.
--- jonathangoeij@... wrote:
hutan berubah jadi perkebunan kelapa sawit
--- djiekh@... wrote :
Kalau Indonesia sudah berhasil menjadikan minyak kelapa sawit jadi bermacam
fuel,maka Indonesia bisa terlepas dari ketergantungan export minyak kelapa
sawitnya,yangdengan berbagai cara dari luar harganya bisa dirusak. Dengan itu
juga bisa mengurangiimport BBM. Kalau perlu Indonesia bisa tiru Malaysia, tanam
kelapa sawit misalnya di Papua Nugini.
Pada tanggal Sen, 18 Feb 2019 pukul 05 .20 jonathangoeij@... menulis:
"Jangka panjang itu akan menimbulkan masalah kebutuhan akan lahan untuk program
B100, atau B30 pun, dalam 50 tahun ke depan dengan seiring meningkatnya
kebutuhan akan energi, tentu akan
juga meningkatkan kebutuhan bahan bakunya yaitu sawit, sawit juga butuh lahan
untuk berkembang," kata Yuyun saat ditemui di kantor WALHI, Minggu (17/2/2019)
malam.
"Ketika butuh lahan tentu akan menimbulkan persoalan baru, misalnya alih fungsi
hutan untuk sawit, konflik dengan masyarakat, land grabbing (perampasan tanah),
konflik agraria. Itu akan lebih masif terjadi," lanjutnya.
....
WALHI Kritik Wacana Jokowi yang Akan Jalankan B100 dari Sawit
Capres nomor urut 01 Joko Widodo menyampaikan pendapatnya saat debat capres
2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Haris Prabowo - 18 Februari 2019Dibaca Normal 1 menit
WALHI mengkritik wacana capres nomo urut 01 Joko Widodo yang mengandalkan
sawit sebagai sumber energi dan memungkinkan menaikkan B20 hingga B100 dalam
debat kedua capres Pilpres 2019.
tirto.id - Manajer Kampanye Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)
Yuyun Harmono mengkritik wacana capres 01 Joko Widodo yang ingin tetap
mengandalkan sawit sebagai sumber energi dan memungkinkan menaikkan B20 hingga
B100.
"Kita telah memulai B20 dan sudah berproduksi 98 persen yang kita harapkan...
Kita ini menuju ke B100 sehingga kita harapkan total produksi biofuel," kata
Jokowi saat debat capres kedua Pilpres 2019 yang digelar di Hotel Sultan,
Jakarta pada Minggu (17/2/2019) malam .
Namun, Yuyun menilai Jokowi tak melihat hal tersebut secara komprehensif. Ia
menilai pemakaian energi B20 hanya efektif solusi jangka pendek, bukan jangka
panjang.
"Jangka panjang itu akan menimbulkan masalah kebutuhan akan lahan untuk program
B100, atau B30 pun, dalam 50 tahun ke depan dengan seiring meningkatnya
kebutuhan akan energi, tentu akan juga meningkatkan kebutuhan bahan bakunya
yaitu sawit, sawit juga butuh lahan untuk berkembang," kata Yuyun saat ditemui
di kantor WALHI, Minggu (17/2/2019) malam.
"Ketika butuh lahan tentu akan menimbulkan persoalan baru, misalnya alih fungsi
hutan untuk sawit, konflik dengan masyarakat, land grabbing (perampasan tanah),
konflik agraria. Itu akan lebih masif terjadi," lanjutnya.Selain itu, Yuyu n
juga mengkritisi moratorium sawit yang hanya berlaku tiga tahun saja. Ia
menilai setelah tiga tahun berarti
akan diperbolehkan melakukan ekspansi perkebunan sawit kembali.
"Ada moratorium sawit, tapi itu hanya tiga tahun, tuntutan kita adalah 25
tahun.. Supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi ketika mereka punya strategi
untuk mengganti bahan bakar fosil menjadi B20. Jadi kalau Cuma tiga moratorium
sawit, berarti setelah tiga tahun boleh ada ekspansi dong?" katanya.
Debat capres kedua mengambil tema energi dan pangan, sumber daya alam dan
lingkungan hidup, serta infrastruktur.
Debat tersebut dipandu oleh Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki sebagai moderator,
sementara tujuh panelis berasal dari kalangan akademisi dan para pakar dari
berbagai bidang.
Tujuh panelis tersebut, yakni Rektor ITS Profesor Joni Hermana, Direktur
Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati, Rektor IPB
Arif Satria, juga ahli pertambangan ITB Profesor Irwandy Arif.
Lalu ada Pakar Energi Ahmad Agustiawan, Pakar Lingkungan Undip Sudharto P.
Hadi, dan Sekretaris Jenderal Konsorsium Pengembangan Agraria Dewi Kartika juga
terlibat sebagai panelis.
Debat disiarkan secara langsung oleh sejumlah stasiun televisi yaitu RCTI, GTV,
MNC TV, dan INews TV, serta bisa disaksikan secara ;live streaming.
Baca juga artikel te rkait DEBAT KEDUA CAPRES 2019 atau tulisan menarik
lainnyaHaris Prabowo
(tirto.id - Ekonomi)
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno